jurnal grafisosial

Meninjau ulang Strategi Kampanye Anti-Korupsi oleh KPK

February 6, 2010 · Leave a Comment

Iklan KPK pertama setelah Bibit-Chandra dibebaskan

Isu Cicak yang mendukung Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah versus si-Buaya telah lama usai. Kita masih ingat saat rekaman yang berbau kolusi antara ‘markus’ dan oknum Kepolisian dan Kejaksaan membuat masyarakat berang. masyarakat meradang ketika terlihat ada upaya-upaya melemahkan KPK – sebagai benteng terakhir bangsa ini melawan kanker korupsi. kemudian sempat muncul mural-mural di jalan raya yang mengkritik upaya kriminalisasi KPK. Di berbagai media kini sedang hot isu Bank Century dan siapa yang akan dijadikan tumbal oleh SBY.

Dukungan masyarakat sipil yang kuat menjadi salah satu faktor penting yang membuat upaya kriminalisasi KPK melemah – paling tidak untuk saat ini. Pembebasan Bibit dan Chandra menjadi sebuah klimaks yang menggembirakan kita semua. Kekuatan anti korupsi dari berbagai pihak dan lapisan bersatu melawan para koruptor. Bersatunya kekuatan anti-korupsi untuk membebaskan kedua pimpinan KPK yang jujur dan penuh dedikasi itu tak tertandingi dan tak mungkin ditandingi oleh kasus Bank Century sekalipun. Bila dalam kasus Bibit dan Chandra, hitam dan putih terlihat jelas. Sedangkan dalam kasus Bank Century pihak-pihak yang mengklaim diri bersih dan putih pun ditengarai memiliki kepentingan politik. Tak jelas siapa putih dan siapa hitam.

Sayangnya KPK sebagai sebuah institusi anti-korupsi tidak memanfaatkan klimaks dukungan masyarakat terhadap dirinya sebagai momentum untuk memperkuat benteng perlawanan serta mengorganisir pasukan infanteri untuk memberantas korupsi – meminjam perumpamaan klasik dalam Marketing Warfare. Dalam strategi periklanan kondisi ini adalah saat ketika awareness dari khalayak sedang berada pada titik tertinggi. Hingga hari ini KPK tidak memelihara kesetiaan terhadap brand (brand loyalty) yang terbangun di masyarakat.

Seingat dan sepengetahuan penulis, KPK hanya mengeluarkan satu seri iklan yang ditampilkan di berbagai media, tidak lama setelah Bibit-Chandra dibebaskan. Iklan itu berbunyi: “Pemberantasan Korupsi Jalan Terus!”. Iklan tersebut terasa berbau sloganistik dan redundant. Bahkan bila dicermati lebih dalam, iklan tersebut tidak menyebutkan satupun kalimat yang bernada ucapan terima kasih atas dukungan masyarakat – kecuali kalimat “bersama rakyat KPK siap berantas korupsi hingga tuntas!”. Sesungguhnya sebuah iklan yang khusus bertema sebuah ucapan terima kasih akan tampak lebih rendah-hati, yang akan memperkuat empati khalayak. Setelah ucapan terima kasih yang tulus diiklankan, segera kampanye yang bertujuan untuk konsolidasi pasukan gabungan anti-korupsi ditampilkan.

Kini, upaya membangun brand loyalty terhadap KPK pasti lebih alot. Namun bukannya berarti tidak mungkin dan tidak dibutuhkan. Karena ancaman terhadap KPK masih berlangsung. Niatan Tifatul Sembiring sebagai Menkominfo yang ingin melucuti hak KPK dalam penyadapan nampaknya masih akan berlanjut. Masyarakat harus disiagakan, jangan sampai larut dalam gorengan isu Bank Century yang sarat kepentingan politik berbagai pihak. Pasukan Koruptor terus-menerus berkoordinasi, antara koruptor berbaju pengusaha, birokrat, maupun wakil-rakyat saling perkuat barisan. Karena itu KPK harus menyiapkan pasukan gabungan untuk terjun dalam medan pertempuran melawan para koruptor, awareness harus ditingkatkan kembali.

→ Leave a CommentCategories: Ulasan
Tagged: , , , ,

Awal dari sebuah kampanye sosial Masyarakat Bebas-Bising

February 2, 2010 · 2 Comments

Logo dan tag-line Masyarakat Bebas-Bising

Menurut penelitian kedokteran, gaya hidup masyarakat di berbagai kota besar di Indonesia, khususnya Jakarta, sangat rawan bila dilihat dari tingkat kebisingannya. Contoh: di mal, banyak pusat permainan yang ditujukan bagi anak-anak dengan bising yang seharusnya tidak boleh didengar lebih dari 15 menit. Atau music player yang harusnya punya batas aman tertentu, namun di Indonesia dibiarkan dipakai konsumen remaja tanpa aturan pemerintah yang menjaga kesehatan telinga. Selain itu kebisingan di tempat kerja, terkait dengan pengoperasian mesin dengan bising tinggi harus menjadi perhatian pemilik perusahaan bersama karyawan. Demikian pula dengan bising yang ditimbulkan oleh suara moda transportasi seperti knalpot motor, kendaraan umum, dan lain sebagainya. Termasuk pula penggunaan alat pengeras suara secara tidak tepat di rumah-rumah ibadah.

Memang membicarakan bising, pada akhirnya harus dikaitkan dengan masalah peraturan dan penegakkan UU atau Perda. Namun hal yang lebih penting adalah bagaimana meningkatkan kesadaran warga utk lebih bijaksana dan kritis dalam menjaga kesehatan pendengaran dirinya, ataupun keluarga terdekat mereka.

T-Shirt Masyarakat Bebas-Bising, dijual untuk pengumpulan dana.

Untuk itulah Masyarakat Bebas-Bising yang diketuai oleh Slamet Abdul Syukur, berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat melalui kampanye anti-bising. Komunitas ini didirikan pada tanggal 23 Januari 2010 baru lalu oleh berbagai kalangan masyarakat sipil yang peduli. Kampanye ini dimulai dari perancangan logo bersama-sama, dimana M. Sigit Budi S. dari komunitas Serrum membantu mendesain hingga logo itu mewujud. Logo komunitas yang ingin membentuk sebuah gerakan ini sederhana dan jelas: ikon pengeras suara dengan gelombang suara yang terlihat maksimum, diberikan tanda atau rambu larangan merah. Sesungguhnya tidak tertutup kemungkinan menciptakan garis-garis yang lebih ekspresif untuk ciptakan kesan darurat dan penting. Namun dengan logo yang ada pun sesungguhnya telah memenuhi fungsinya. Terlebih bila logo ini ditempatkan pada latar belakang berwarna putih, akan memberi kekuatan kontras yang tinggi.

Sigit pula yang kemudian merancang t-shirt putih Masyarakat Bebas-Bising – yang rencananya akan dijual sebagai salah-satu merchandize untuk pengumpulan dana. Selanjutnya komunitas itu membuka sebuah grup di jejaring sosial Facebook dengan nama\"Dukung Masyarakat Bebas-Bising\" Tahap Berikutnya kita semua sebaiknya bersiap-siap menerima edukasi berupa kampanye sosial tentang pentingnya menjaga telinga dari bising yang mengganggu kesehatan. Tidak tertutup kemungkinan bila ada insan periklanan yang berminat menjadi sukarelawan membantu perancangan kampanye sosial melawan kebisingan tersebut. Ayo kita dukung Masyarakat Bebas-Bising!

SIARAN PERS MASYARAKAT BEBAS-BISING

Kebisingan kota-kota besar di Indonesia sudah melewati ambang batas, sehingga tidak hanya menyebabkan gangguan pendengaran dan ketulian, tetapi juga membahayakan kesehatan fisik dan psikis masyarakat maupun lingkungan secara umum, terlihat dari fakta-fakta sebagai berikut:
Angka gangguan pendengaran telah mencapai 16,8 % dari jumlah penduduk Indonesia.
10,7 % anggota masyarakat yang melakukan aktivitas di sekitar jalan raya di Jakarta (pedagang kaki lima, polisi lalu lintas, tukang parkir, tukang koran, dan lain-lain) mengalami gangguan pendengaran akibat bising.
Pekerja pabrik baja usia 30-46 tahun, 61,8 % mengalami gangguan pendengaran akibat bising.
Kebisingan di jalan raya kota-kota besar Indonesia telah mencapai 80 dB (desibel), sementara ambang batas yang diperkenankan hanya 70 dB.
Kebisingan di banyak mal dan fasilitas rekreasi keluarga telah mencapai 90-97 dB, sementara ambang batas yang diperkenankan hanya 70 dB.
Perubahan perilaku menjadi mudah marah dan agresif, sehingga menjadi pemicu tindak kekerasan yang kerap terjadi di ruang-ruang publik ditengarai sebagai akibat dari kebisingan.
Hal tersebut diakibatkan oleh makin meningkatnya sumber-sumber polusi kebisingan di sekitar kita, antara lain:
Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor di kota-kota besar (di Jakarta saat ini jumlah kendaraan bermotor hampir sama dengan jumlah penduduknya).
Penggunaan perangkat pengeras suara di ruang-ruang publik (mal, tempat rekreasi keluarga, tempat-tempat ibadah, bandara, terminal bis dan kereta api yang tidak mengindahkan ambang batas kebisingan serta penataan akustik dari bangunan yang tidak memenuhi syarat.
Gaya hidup masa kini (penggunaan alat-alat teknologi yang menghasilkan kebisingan) yang tidak bijaksana dan tidak memperhitungkan risiko gangguan pendengaran, seperti stereo system, knalpot modifikasi, balap motor liar, pemutar rekaman digital, telpon genggam, peralatan rumah tangga elektronik, dan lain-lain.
Aktivitas masyarakat yang meningkat dari waktu ke waktu di berbagai bidang, sehingga tingkat kebisingan lingkungan juga meningkat, misalnya pada malam hari sekalipun, saat ini sulit menemukan kawasan yang hening.
Kegiatan konstruksi di kawasan-kawasan tertentu (pemukiman, sekolah, rumah sakit, dan lain-lain) yang tidak mengindahkan peraturan yang berlaku.
Kegiatan industri (kecil, menengah maupun besar) yang berada di sekitar kawasan pemukiman dan tidak mengindahkan peraturan yang berlaku.
Bencana besar sudah dapat dibayangkan di masa depan:
Rendahnya kualitas hidup masyarakat karena kebisingan yang makin menggila.
Masyarakat yang kacau batinnya sehingga menimbulkan sikap agresif dan kekerasan di mana-mana.
Manusia Indonesia yang sehat lahir, batin dan sejahtera seperti dicita-citakan tidak akan pernah tercapai.
Oleh karena itu dibutuhkan upaya-upaya intensif oleh berbagai pihak untuk menanggulanginya segera dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Untuk itu Masyarakat Bebas-Bising didirikan, sebuah kelompok masyarakat yang terdiri dari individu, organisasi dari berbagai disiplin, yang seluruh kegiatannya ditujukan untuk meningkatkan kesadaran dan prakarsa masyarakat serta kepedulian pihak pengambil keputusan untuk bersama-sama menanggulangi masalah tersebut.
Beberapa kegiatan yang segera akan dilakukan oleh Masyarakat Bebas-Bising antara lain:
1.Kampanye publik mengenai bahaya dari polusi kebisingan, baik bagi individu maupun masyarakat dan lingkungan secara umum.
2.Mendesak pemerintah untuk segera melengkapi kebijakan atau regulasi serta meningkatkan pengawasan pelaksanaan peraturan yang sudah ada, dalam rangka mewujudkan lingkungan bebas bising dan perlindungan masyarakat.
3.Menggerakkan keterlibatan masyarakat secara luas untuk bersama-sama mewujudkan lingkungan bebas bising, kesehatan dan kenyamanan masyarakat.
Masyarakat Bebas-Bising percaya bila ada kemauan dan kerja akan ditemukan solusi, sebab ada cukup pengetahuan dan pengalaman yang dapat dimanfaatkan.

Jakarta, 23 Januari 2010

Ahmad Syafii Maarif – Akademi Jakarta
Nh. Dini – Akademi Jakarta
Slamet Abdul Sjukur – Akademi Jakarta
Marco Kusumawijaya – Dewan Kesenian Jakarta
Luthfi Assyaukanie – Freedom Institute
Bulantrisna Djelantik – SE Asia Society for Sound Hearing
Damayanti Soetjipto – Komnas PGPKT
Abduh Aziz – Dewan Kesenian Jakarta
Ronny Suwento – THT Komunitas FKUI-RSCM
Soegijanto – Teknik Fisika ITB
Soe Tjen Marching – Majalah Bhinneka
Upik Rukmini – praktisi
Bayu Wardhana – Penggiat Peta Hijau Jakarta
Sigit – SERRUM
Arief Adityawan/Genep Sukendro – Grafisosial
Atieq SS Listyowati – AppreRoom
Rizal Abdulhadi – Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat
Dyah Okty Moerpratiwi/Agnes Elita Anne/David Imanuel Sihombing – Garuda Youth Community

Alamat kontak: Ati-Nefa. Dewan Kesenian Jakarta. Komplek Taman Ismail Marzuki Jakarta. Jl. Cikini Raya No. 73. Telp: 021 – 3162780. Fax: 021 – 31924616. Email: bebas-bising@yahoo.com

→ 2 CommentsCategories: Liputan
Tagged: , ,

Sebuah catatan tentang komik rada lucu “Guru Berdiri Murid Berlari”

February 2, 2010 · Leave a Comment

Sampul muka Komik Rada Lucu karya Eko

Buku KRL edisi Guru Berdiri Murid Berlari adalah sebuah “Glitik sosial dunia pendidikan sekitar kita” sebagaimana deskripsi di sampul depan buku Eko. Buku ini berukuran 20cm X 14cm dan berisi 96 halaman. Isinya sangat menarik, lucu, dan juga Satir, sebagaimana deskripsi di buku itu. Pada pengantar Eko menulis bahwa sedikit-banyak perilaku pendidik akan mempengaruhi pula tindak-tanduk dan hasil-belajar peserta didik. Itulah yang membuat guru dan tenaga pendidik menjadi pekerjaan atau profesi yang tidak mudah. Walaupun Eko mencoba sedikit merendah dengan mengatakan bahwa “komik ini hanya humor hiburan semata, suatu kondisi yang disajikan secara lebay” namun Eko sebagai komikus “percaya bahwa satu hal yang benar-benar sangat perlu dibenahi paling awal di negara kita ini adalah dunia pendidikan”. Sebuah pernyataan lugas dan kritis yang sangat serius, bukan lagi sebuah humor.

Bagian dalam (halaman 15), mengabadikan gambaran nyata kondisi sekolah kita

Komik empat panel yang disebut sebagai satir ini bukan lagi “rada lucu” namun boleh dibilang sangat lucu. Karakter-karakter dalam komik di gambar oleh Eko dengan ciri khas mata yang memanjang hingga keluar dari garis wajahnya. Memotret fenomena-fenomena ringan yang banyak kita jumpai di dunia sekolah kita, mulai dari guru galak, guru suka memukul, guru yang genit, dan perilaku siswa mencontek.

Namun selain tema-tema ringan, Eko juga memotret fenomena bangunan sekolah yang bocor (hal 15), tentang murid mau bunuh diri karena tidak lulus Ujian Nasional (hal 61) – namun gagal karena tidak mengerti pelajaran Fisika (mengukur ketinggian ruang untuk menentukan panjang tali yang akan digunakan). Bahkan buku ini ditutup oleh komik yang menjelaskan tentang banyaknya anak Indonesia yang belum mengenyam pendidikan (hal 94). Pada panel terakhir Eko menulis bahwa “11 juga anak usia 7-8 tahun tak terdaftar sekolah di 33 provinsi se-Indonesia”, dikutip Eko dari Komnas Perlindungan Anak.

Sebuah penutup yang sangat menggugah

Sayangnya Eko ‘terpeleset’ pada halaman 85, ketika memasukkan sebuah tema sensitif – tentang siswa dengan orientasi seks yang berbeda dari kebanyakan orang – sebagai banyolan. Selain dari satu halaman tersebut, secara keseluruhan buku KRL Guru Berdiri Murid Berlari mampu menyuguhkan humor-humor lawas, yang sudah umum kita dengar dengan tampilan satir dan lebay yang sangat lucu, dikombinasikan pula dengan sindiran dan pernyataan keprihatinan komikus akan kondisi pendidikan di Indonesia. Sungguh sebuah buku yang penting untuk dibeli dan dibaca.

→ Leave a CommentCategories: Resensi Buku

Pameran Komik Rada Lucu – Eko S. Bimantara

January 9, 2010 · 2 Comments

Sambutan Eko di depan Serrum Galeri

Akhir tahun 2009 yang lalu, kota Jakarta mendapat kehormatan karena menjadi tempat kelahiran sebuah galeri baru yang kecil dan relatif sederhana di bilangan Jakarta Timur. Serrum Galeri namanya, didirikan oleh sebuah organisasi seni rupa berbasis komunitas yang bernama sama, Serrum. “Serrum adalah sebuah organisasi nirlaba yang terdiri dari guru dan seniman yang bergerak dalam lingkup sosial-pendidikan melalui medium seni rupa”. Demikian penjelasan singkat pada bagian belakang katalog sederhana dari sebuah pameran tunggal Eko S. Bimantara, yang berlangsung dari tanggal 12 Desember hingga 27 Desember 2009 lalu di Serrum Galeri, jalan Kayu Manis II no. 12, Jakarta Timur.

Memasuki galeri Serrum yang baru diresmikan, jangan membayangkan kita memasuki sebuah galeri seni rupa yang gemerlap di bilangan Kemang ataupun galeri-galeri seni rupa komersial besar di kota metropolitan ini. Galeri Serrum terletak di pemukiman warga yang padat, di samping rel kereta api sekitar Pasar Burung daerah jalan Pramuka. Galeri itu berada di sebuah rumah yang dikontrak beramai-ramai oleh komunitas Serrum, sehingga galeri itu juga merangkap sebagai tempat tinggal dan kantor, selain juga sebuah kafe kecil di depannya. Hampir seluruh anggota Komunitas Serrum ini terdiri dari seniman dengan latar belakang mahasiswa dan lulusan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Namun dari pameran pertamanya, telah nampak idealisme dan semangat aktivisme yang tinggi – mengingatkan saya pada militansi galeri-galeri di kota Yogya.

Mural di salah satu sisi ruang galeri

Menempati ruang pamer kecil berukuran sekitar 3 X 5 meter, pameran komik Eko tampil dengan menarik. Dua sisi dinding pameran di jadikan tembok mural yang menghidupkan suasana pameran. Sedangkan dua sisi lainnya berisi beberapa kanvas putih yang digambari komik secara langsung – bukan cetak digital sebagaimana dugaan penulis. Pameran tunggal Eko S. Bimantara ini berjudul Komik Rada Lucu – Edisi Khusus “Baca Komik”. Isi pameran menguraikan berbagai sisi dalam praktik membaca komik di masyarakat. Mulai dari anggapan masyarakat bahwa komik tidak bermutu, bagaimana komik mempengaruhi perilaku pembacanya, komik dibandingkan dengan sinetron, hingga relasi komik dengan kegiatan yang dianggap bertentangan diametral – belajar.

Salah-satu karya Eko S. Bimantara

Salah-satu karya pameran Eko S. Bimantara

Salah-satu karya Eko S. Bimantara

Format komik yang dipamerkan dalam satu kanvas berisi sebuah strip komik terdiri dari empat frame atau bingkai gambar. Tiap kanvas menceritakan dengan lucu berbagai sisi praktik baca komik di masyarakat, mulai dari yang sering kita temui sehari-hari, hingga yang tidak pernah kita temui dalam kehidupan – karena di dramatisir oleh Eko. Format karya Eko yang dibuat di sebuah kanvas ini cukup unik. Di satu sisi memberi kesempatan pada komik untuk dikoleksi dan ditampilkan “setara” dengan lukisan, namun sayangnya, di sisi lain menggambarkan sikap submisif seniman komik terhadap dunia seni lukis.

Namun bagaimanapun format dan ukuran dari pameran di galeri Serrum ini, pameran tunggal Eko S. Bimantara ini tetaplah memberikan sebuah penyegaran bagi dunia seni rupa. Pameran perdana dari Serrum Galeri ini merupakan sebuah langkah awal yang sangat penting bagi berkembangnya sebuah komunitas seni rupa yang peduli terhadap berbagai permasalahan sosial di masyarakat. Selamat untuk Eko S. Bimantara untuk pameran tunggalnya, dan juga selamat untuk Serrum Galeri, agar terus memberi pencerahan pada publik di negeri ini.

Tentang Komik Rada Lucu.

Komik Rada Lucu adalah sebuah serial karya komik yang dibuat oleh Eko S. Bimantara, anggota komunitas Serrum. Serial Komik ini awalnya muncul sebagai sebuah karya seni rupa di ruang publik untuk mengedukasi masyarakat pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek (Jakarta – Bogor – Depok – Tanggerang – Bekasi) agar tidak menumpang kereta di atap KRL. Itu sebabnya komik ini dinamakan Komik Rada Lucu, sebagai nama plesetan dari Kereta Rel Listrik. Komik tersebut disebarkan gratis pada para penumpang KRL di stasiun-stasiun hingga di Stasiun Jakarta Kota pada awal tahun 2009. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari perhelatan seni rupa akbar Jakarta Biennale 2009 yang diadakan oleh Dewan Kesenian jakarta. Tanggapan masyarakat sangat antusias, penumpang senang membacanya. Serial KRL ini kemudian diterbitkan rutin dengan ukuran setengah A4 dengan teknik foto kopi. Kemudian Serrum membuat grup Komik Rada Lucu di jejaring sosial Facebook yang kini anggotanya telah mencapai 4.170 orang penggemar. KRL edisi khusus “Baca Komik” diterbitkan dalam bentuk pameran, sedangkan KRL edisi “Guru Berdiri Murid Berlari” diterbitkan dalam bentuk buku komik oleh sebuah penerbit di Yogyakarta pada tahun 2009 juga, bersamaan dengan pameran Eko di atas.

→ 2 CommentsCategories: Liputan
Tagged: , ,

The Erased Time – Pameran FX Harsono

November 8, 2009 · 3 Comments

FXH1

FX Harsono berpameran di Galeri Nasional hingga 14 November 2009

“Begitu menjelang magrib pukul enam, banyak sekali anak-anak dari kampung agak jauh, mereka pergi ke mesjid lewat kampung sini. Kalau kami masih duduk-duduk di situ, selalu dikata-katain, ‘Cina, Cina, Cina…. ayo pulang….’ Kadang-kadang dilempar batu kecil. Sehingga kami selalu merasa bahwa pukul enam sore itu sudah harus masuk rumah…” (lihat kata pengantar Hendro Wiyanto, dalam The Erased Time, hal 8).

Di keluarganya, anak yang sering diledek dan ditimpuki itu biasa dipanggil “Ong” – lengkapnya Oh Hong Boen, anak dari Oh Hok Tjoe. Karena peraturan pemerintah Republik ini, keduanya dipaksa ganti nama yang “lebih pribumi” – sang ayah jadi Hendro Subagyo, dan si anak jadi FX Harsono. Si Ayah juru foto di Blitar, memiliki sebuah studio foto “Atom” sekitar tahun 50an hingga 60an. Harsono kecil ingat ayahnya punya satu album foto berisi foto-foto dokumentasi penggalian kembali tulang belulang sebuah kuburan massal. Harsono kecil tak

FXKurnia

Penelitian sebelum berkarya (Foto: Kurnia Setiawan)

pernah diberi tahu apa konteks foto-foto dokumentasi tersebut. Saat besar Harsono baru tahu, tulang belulang dalam album foto itu terkait dengan pembunuhan massal sekitar tahun 47-48. Saat itu terjadi politik bumi-hangus oleh pihak Republik, menghadapi agresi militer Belanda. Harsono membaca dalam buku Benny G. Setiono (2008), bahwa politik bumi hangus pihak Republik berakibat terjadinya penjarahan, pembunuhan, dan pemerkosaan terhadap orang Tionghoa di sekitar Jawa Timur. (Wiyanto, hal. 12).

FXH2FXH2a

Setengah abad kemudian Harsono menelusuri kembali tempat tempat tulang-belulang dalam album foto ayahnya itu digali. Harsono meneliti, mewawancara dan merekam lokasi dan saksi mata, maupun korban yang selamat dari peristiwa pembantaian massal terhadap orang Tionghoa tahun 47-48 tersebut. Terdapat 191 nama yang jadi korban pembantaian massal, yang tulang tengkoraknya dimakamkan kembali di sebuah daerah di Blitar.

Pameran The Erased Time ini berlangsung di Galeri Nasional, jalan Medan Merdeka Timur no.14 Jakarta hingga tanggal 14 November 2009. Sebagian dari karya-karyanya ini kemungkinan akan dipamerkan di Singapura. Harsono dalam pameran ini memanfaatkan secara optimal foto-foto karya ayahnya dalam berbagai bentuk. Mulai dari lukisan (cat akrilik dan cat minyak di atas kanvas), neon box, instalasi, maupun seni video, dan video dokumenter.

FXH3

Memelihara Hidup, Menghentikan Hidup # 2 (Foto Katalog Pameran)

Dua karya di atas kanvas (200Cm X 350Cm – dua panel) menampilkan foto tua pernikahan ayah-ibu Harsono, disandingkan dengan foto penggalian tulang-belulang. Keduanya berjudul “Memelihara Hidup, Menghentikan Hidup #1” dan “Memelihara Hidup, Menghentikan Hidup #2”. Ditengah tengahnya ditulis dengan huruf merah: “Perkawinan meneruskan kehidupan/ kematian menghentikannya/ perkawinan bisa direncanakan/ tapi kematian tak seorangpun bisa menduga/ Blitar 1948”. Pada kanvas lain tertulis: “Perkawinan dibina dan membuahkan kehidupan dan terus berkembang/ Manusia tak seharusnya menghentikan kehidupannya sendiri atau orang lain/ Blitar, 1951”

FXKurnia2

Darkroom (foto: Kurnia Setiawan)


FXKurnia3

Darkroom (foto: Kurnia Setiawan)

Lukisan ini secara kreatif mengaitkan dua gambar dengan konteks berbeda menjadi sebuah kontradiksi yang dipertajam dengan kekuatan verbal. Hasilnya mengingatkan kita bahwa Harsono memang akrab dengan dunia grafis dan periklanan, sebuah karya seni rupa yang menggugah dan sangat komunikatif. Nampaknya tak ada hal baru secara visual yang diciptakan oleh Harsono, seakan karya karya yang diciptakan Harsono hanya bersifat “ilustratif” belaka – meminjam pendapat seorang kawan. Namun sesungguhnya penggabungan dua tanda tersebut – foto pernikahan dan foto pembongkaran makam – mampu memberi konteks baru – yang dipertajam dan ditekankan pada teks verbal yang digunakannya. Kuatnya teks teks visual yang dirangkai oleh Harsono dalam pameran ini tampaknya merupakan buah dari penelitian Harsono yang cukup mendalam mengenai kasus pembunuhan massal ini. Terlebih kedekatan Harsono dengan data data foto karya ayahnya itu.

Lebih lanjut, secara keseluruhan pameran ini cukup berhasil mengangkat dan menggugah perhatian dan ingatan orang akan adanya sepenggal waktu yang dihapus – atau setidaknya sengaja tidak diungkapkan kembali. Sepenggal waktu berisi kekerasan rasis yang mencoreng perjuangan kemerdekaan negeri ini.

Teks: Arief Adityawan S.
Foto: FX Harsono (katalog), Kurnia Setiawan

→ 3 CommentsCategories: Ulasan
Tagged: , ,

Sebuah Metafor: Cicak dan Buaya

November 3, 2009 · 3 Comments

Cicak022

Akhirnya Selasa menjelang tengah malam, dua pimpinan Komisi Pemerantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Riyanto dan Chandra M. Hamzah mendapat penangguhan penahanannya. Hal ini merupakan sebuah angin segar bagi upaya masyarakat sipil dalam memperjuangkan pemberantasan korupsi di negeri ini. Penangguhan penahanan ini tidak bisa dilepaskan dari aksi unjuk rasa pada Senin 2 November 2009 di Bundaran Tugu Selamat Datang Jakarta hingga ke depan Istana Negara. Warga masyarakat turun ke jalan dibawah terik matahari menuntut pembebasan Bibit dan Chandra. Hal ini disebabkan sikap arogansi lembaga kepolisian yang dianggap publik bersikap tidak adil karena memiliki conflict of interest.

Cicak9a

Spanduk unjuk rasa yang menggunakan metafor Cicak-Buaya

Cicak1

Media unjuk rasa menggunakan teknik manual namun efektif

Warga pengunjuk rasa terdiri dari berbagai kalangan, sebagian besar adalah mahasiswa dan aktivis HAM dan anti-korupsi, sebagian lagi pekerja kantor, dan lain sebagainya. Mereka mengenakan ikat kepala bertuliskan slogan dengan semangat melawan korupsi. Sebagian mengenakan t-shirt bertuliskan “Menuntut Keadilan”. Sebagian lagi membawa kertas karton yang dengan tulisan tangan mengekspresikan kegeraman melawan buaya korup.

Istilah cicak dan buaya pertama kali diangkat oleh Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Komisaris Jenderal Susno Duadji. Ungkapan ini tercetus olehnya sebagai bentuk kegusaran Susno setelah mengetahui bahwa KPK menyadap pembicaraan telpon dirinya. Setelah pernyataan itu muncul di media massa, maka para aktivis anti-korupsi memanfaatkan istilah cicak menjadi sebuah kependekan dari “Cinta Indonesia Cinta KPK”. Para aktivis itu memanfaatkan posisi sebagai pihak lemah yang tertindas oleh kekuatan besar yang arogan dan otoriter. Secara visual pun simbol cicak dan buaya sangat mudah untuk menggugah dan menumbuhkan empati untuk mendukung sosok yang ‘dilemahkan’ dan tertekan. Logo gerakan Cicak pun dibuat dengan sederhana namun ternyata cukup ampuh untuk mewakili semangat solidaritas mendukung KPK.

Cicak9

Desain yang kuat dan komunikatif pada t-shirt dan spanduk

Istilah yang digunakan Susno menempatkan lembaga kepolisian sebagai sebuah lembaga besar dan kuat, yang diwakilkan dengan sosok buaya. Sementara untuk perumpamaan KPK, yang dianggap lembaga kecil dan lemah, digunakanlah sosok cicak. Dalam ilmu bahasa istilah Cicak dan Buaya adalah sebuah metafora. Kata “metafora” berasal dari bahasa Yunani yang artinya “mentranfer” atau “membawa dari satu tempat ke tempat lain”. Metafora adalah sebuah upaya imajinatif untuk menciptakan hubungan antara dua hal yang berbeda, namun memiliki sebuah kesamaan. Secara fisik-anatomis, cicak dan buaya memang memiliki kesamaan, sebagaimana lembaga kepolisian dan KPK, keduanya adalah lembaga penegak hukum.

Cicak8

dua spanduk dijital yang dirancang dengan baik

Menggunakan cicak dan buaya sebagai metafora pembeda kekuatan memang sangat tepat. Namun Susno tampaknya tidak mampu memahami konten moral dari perumpamaan buaya, sebagai binatang buas yang mematikan, selain pemalas, pemakan segala, memangsa dengan cara mengendap-endap. Lebih jauh Susno tampaknya lupa dengan istilah buaya yang sering dipadankan dengan kata “darat” pada idiom “Buaya darat”. Menggunakan pendekatan Barthes, selain makna mitos di atas, sosok buaya sebagai sebuah penanda, memiliki makna ideologis yang negatif, sebagai sebuah sifat manipulatif. Atau jangan-jangan penggunaan metafor buaya, merupakan refleksi bawah-sadar dirinya yang merasa bahwa kepolisian memang memiliki kemiripan dengan sifat-sifat buaya? Tentu hanya Susno Duadji lah – sebagai pencipta, yang tahu.

Teks dan Foto: Arief Adityawan S.

→ 3 CommentsCategories: Ulasan
Tagged: , , , , , ,

Lintasan Saujana Jiwa: Keberpihakan pada penderitaan

October 23, 2009 · 1 Comment

KAKI LANGIT BUMI YANG MIRING_Lampase - Aceh (Oscar Motuloh)

KAKI LANGIT BUMI YANG MIRING_Lampase - Aceh (Oscar Motuloh)

Sebuah judul yang unik dan puitis untuk sebuah pameran foto jurnalistik. Menurut sang fotografer, Oscar Motuloh, ”Panorama, saujana, dalam hal ini, sesungguhnya adalah petualangan mata dari segala sudut subyektivitasnya. Nan menelisik setiap perlambang alam sekaligus menjadi pertanda dan metafora bagi peradaban kita….Saujana nestapa, kemudian, menjadi visi yang lebih dari sekadar penglihatan. Dia menghubungkan noktah-noktah lintang dan bujur di peta bumi. ”

Atlantis Van Java #2 (Oscar Motuloh)

Atlantis Van Java #2 (Oscar Motuloh)

Atlantis Van Java #4 (Oscar Motuloh)

Atlantis Van Java #4 (Oscar Motuloh)

Pameran diadakan di Galeri Salihara – Pasar Minggu pada 2-9 Oktober yang lalu. Salihara adalah kompleks bangunan yang mempunyai desain khas, berseni dan menampilkan kejujuran material. Ruang pameran foto berbentuk bundar tanpa dekorasi, sunyi dan sepi dengan jejeran foto hitam putih di sekeliling dinding. Aura mistis dan reflektif masuk melalui foto – foto bencana di Indonesia hasil bidikan jeli Oscar Motuloh, didukung oleh setting ruang pameran.

Ruang Galeri Salihara (Foto oleh Kurnia Setiawan)

Ruang Galeri Salihara (Foto oleh Kurnia Setiawan)

Penyusunan foto yang apik (Foto oleh Kurnia Setiawan)

Penyusunan foto yang apik (Foto oleh Kurnia Setiawan)

Semua foto ditampilkan hitam-putih, tanpa warna, bahkan cenderung muram (banyak warna hitam dan abu – abu, hanya sedikit warna putih/ cerah). Penataan foto teratur di dinding sekeliling ruang dengan ukuran besar. Ada 2 buah foto yang diatur (seolah dibiarkan tergeletak) di lantai tengah pameran sebagai aksen, merupakan upaya yang jeli karena sesuai dengan isi foto di dalamnya (seolah ada barang yang rusak, tergeletak di dalam bingkai).

Oscar Motuloh sekali lagi menyihir para pengunjung, berbicara melalui medium fotografi untuk menyampaikan suatu narasi tentang bencana alam yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Pameran ini, tidak bisa tidak akan membuat pengunjungnya melakukan refleksi tentang kehidupan dan kematian manusia, beserta lingkungan hidupnya. Pameran ini juga menunjukkan keberpihakannya pada penderitaan para korban

Ada sederetan foto yang berjejer berdampingan, seolah menampilkan perwakilan 3 agama di Indonesia. Foto pertama menampilkan pengeras suara dari mesjid menghadap ke tanah kosong, foto kedua menampilkan patung – patung Budha yang sebagian rusak terbakar, dan foto ketiga menampilkan foto patung Yesus yang tergeletak/ jatuh. Manusia yang dipisahkan oleh sekat – sekat ideologi, kepercayaan, agama, etnis, suku/ daerah, menjadi satu kembali ke Sang Pencipta berhadapan dengan alam yang murka.
Ada pula foto Atlantis Van Java, yang pernah dipamerkan di Galeri Nasional bersama karya – karya para seniman se-Indonesia tahun 2008. Foto tersebut menampilkan secara grafis bencana (bukan alam) lumpur Lapindo.
Salut kepada Bang Oscar, mari kita tunggu bersama pameran berikutnya.
Teks dan Foto oleh Kurnia Setiawan, Grafisosial

RIWAYAT HIDUP OSCAR MOTULOH
Dilahirkan pada 17 Agustus 1959 di Surabaya, Indonesia. Memulai karir di bidang jurnalistik sebagai reporter di Kantor Berita Antara pada 1988. Dua tahun kemudian dia memperkuat divisi pemberitaan foto Kantor Berita Antara sebagai pewarta foto. Belajar fotografi secara otodidak. Selain masih aktif sebgai pewarta foto, yang bersangkutan dewasa ini juga memimpin Kantor Berita Foto Antara, mengepalai Museum Jurnalistik Antara serta Galeri Foto Jurnalistik Antara. Ikut mendirikan Pewarta Foto Indonesia, suatu organisasi profesi yang menghimpun seluruh pewarta foto di tanah air. Mengajar di FFTV Institut Kesenian Jakarta, dan menjadi dosen terbang disejumlah perguruan tinggi di tanah air. Aktif menyelenggarakan pameran, seminar dan workshop fotografi, pameran fotografi, serta menerbitkan sejumlah buku fotografi. Menjadi juri dan kurator disejumlah event fotografi di dalam dan luar negeri.

→ 1 CommentCategories: Liputan
Tagged: , ,

Poster “Kejebak mct, rusuh dmn2″: Aikon Untuk Bangsa Pelupa

October 5, 2009 · 1 Comment

gabsplg800x600

Poster ini karya Surianto Rustan untuk pameran Grafika Politika, yang diadakan dalam rangka FGD Expo 2009, pada tanggal 30 Juli – 2 Agustus 2009 yang lalu. Poster ini hanya salah satu dari banyak poster lain yang sangat menarik. Namun kami memuatnya disini, mengingat poster ini menyampaikan pesan yang bersifat memorial terhadap tragedi Mei ‘98 secara sederhana dan gamblang. sangat unik.

Pada poster itu terlihat sebuah telpon genggam dengan layar berisi pesan pendek berbunyi: “Terjebak mct, rusuh dmn2, mhn doa, aku ga bs pulang – 13-05-1998″. Pada bagian bawah poster terdapat beberapa baris kalimat sebagai teks yang cukup membuat kita giris membacanya: “Mau dihapus dari ingatan tidak mungkin, mau bangun dari mimpi buruk tidak mampu, mau sembuh dari luka tidak akan, menjerit-jerit dalam kerangkeng, di kedalaman hati yang paling dalam”. Teks ini mungkin terasa sedikit terlalu panjang untuk sebuah poster. Namun tak apalah, sebuah “kelemahan” yang sangat dapat ditolerir.

Dari jarak jauh poster berukuran besar ini mendadak menarik perhatian karena warnanya yang kelam, dengan secercah warna putih ditengah poster – yang setelah didekati ternyata layar telpon genggam tersebut. Ikon layar ber-sms itu serta merta me- recall kita pada ingatan masa lalu, ketika huru hara rasis itu merebak di seantero jakarta. Kata kata dalam sms itu menggambarkan ketidakjelasan keadaan, kepanikan, yang menjangkiti warga jakarta secara kolektif.

Poster ini mengingatkan kita kembali adanya Pe-eR besar bangsa ini: mengembalikan pluralisme dan kebersamaan rasa dalam memiliki bangsa ini. Poster ini menjadi penting sehingga kami angkat kembali dalam jurnal grafisosial sebagai sebuah ikon pengingat bahwa kita sebagai bangsa masih harus menyelesaikan masalah Peraturan-peraturan Daerah (Perda) yang bersikap tidak adil terhadap agama yang secara jumlah penganut, bersifat minoritas, atau juga bangsa yang secara praksis bersikap tidak adil terhadap suku – yang secara jumlah dianggap minoritas di negeri ini. Hal ini mengkhawatirkan karena sebuah pemerintahan yang berdasarkan Pancasila seharusnya bersikap adil terhadap semua agama yang diakuinya sendiri dalam UUD – juga terhadap semua etnis. Dari sudut pandang hukum, tak perlulah negara mengatur ranah spiritual, mengingat Indonesia adalah negara Pancasila – bukan negara agama. Hal ini menjadi tantangan besar bagi pemerintahan SBY mendatang bersama para wakil rakyat yang baru dilantik – apakah akan membawa Indonesia dalam politik sektarian, atau politik bangsa kesatuan berdasar UUD dan Pancasila.

Oleh karena itu Poster Surianto Rustan tersebut di atas, sungguh merupakan sebuah karya grafis yang sangat berarti untuk diangkat kembali, atau bahkan dicetak dan disebarluaskan menjelang pembentukan pemerintahan baru SBY dan awal masa kerja wakil rakyat. Poster ini dapat jadi pengingat mereka untuk tuntaskan Pe-eR mengamankan hal mendasar dari negara ini: Bhinneka Tunggal Ika, selain juga pengingat bahwa banyak kasus pelanggaran HAM berat – termasuk Tragedi Mei ‘98 – yang belum tuntas hingga kini.

(Arief Adityawan S.)

Catatan tambahan:
Surianto Rustan adalah seorang perancang grafis pendiri Rustan Grafis, selain juga penulis beberapa buku desain grafis, dan pengajar di beberapa perguruan tinggi DKV. Pada hari Jum’at 16 oktober 2009 dia akan meluncurkan sebuah buku terbarunya berjudul “The Power of Logo”.

The Power of Logo
Keep reading →

→ 1 CommentCategories: design 4sale
Tagged: ,

Dua Hajatan Penting Bulan Agustus: OK Video dan IVAA

September 2, 2009 · 1 Comment

OK Video keempat: Komedi

OK Video keempat: Komedi


Bulan Agustus lalu di Galeri Nasional Jakarta berlangsung dua acara sangat penting dalam dinamika dunia seni rupa: OK Video – 4th Jakarta International Video Festival dan peluncuran arsip digital IVAA Indonesian Visual Art Archive. Keduanya menjadi penting karena berjalan di jalur lambat diantara arus lalu lintas jalur cepat dari Seni Rupa kontemporer yang laris manis dikalangan kolektor. Video art sebagai lahan utama dalam OK Video yang diadakan oleh Ruangrupa ini nyaris tidak dilirik oleh kolektor Indonesia. Nasib yang sama juga terjadi pada pengarsipan, penelitian dan pengembangan studi seni rupa yang ditelantarkan oleh banyak pihak di dalam negeri sendiri.

Kedua kegiatan tersebut berhasil tampil mandiri berhadapan dengan sistem pasar dalam dunia seni rupa indonesia – kecuali penampilan logo sponsor pada display TV dalam OK Video Festival. Kedua acara ini menjadi penting karena sangat bermanfaat bagi gerak dunia seni rupa kontemporer di Indonesia yang kini nampak melulu berkutat pada nilai investasi bagi kolektor. Tidak berarti bahwa nilai jual sebuah karya seni adalah masalah tabu ataupun remeh, karena itu berarti tingginya apresiasi sehingga menambah enerji berkarya bagi para pegiat seni rupa. Namun dunia seni rupa pastinya akan berkembang lebih dinamis bila mampu menyerap kepentingan-kepentingan lain yang lebih beragam diluar kepentingan para kolektor dan kolekdol.


OK VIDEO – 4th Jakarta International Video Festival

OK Video Festival adalah sebuah festival internasional di Indonesia yang diadakan oleh Ruangrupa (akrab disebut Ruru), sebuah komunitas seni rupa yang mengusung secara konsisten penggunaan video sebagai medium dan teknik berkarya seni rupa. Acara dua tahunan ini – dimulai pertama kali tahun 2003 makin menyadarkan publik pada umumnya – maupun dunia seni rupa khususnya bahwa, seperti ditulis oleh kurator Aminudin TH. Siregar, seni rupa dapat dicapai melalui medium video. Lebih jauh dalam pernyataan kuratorialnya, ‘Ucok’ sang kurator menyatakan bahwa “…secara militan OK Video tidak saja berhasil menularkan sikap yang terbuka di dalam memahami arena baru bagi praktik seni rupa, dia juga mampu mengakomodasi jenis seni yang kemunculannya pada akhir 1990an ke awal 2000an terbilang jarang kita jumpai di galeri-galeri”.

OK Video berhasil menciptakan karya seni paling kreatif yang pernah dipamerkan di Galeri Nasional - Facade polkadot

OK Video berhasil menciptakan karya seni paling kreatif yang pernah dipamerkan di Galeri Nasional - Facade polkadot

Video sebagai sebuah medium seni rupa nampaknya makin populer diantara kaum muda urban, mengingat teknologi dijital video makin murah-meriah. Peran kamera video bagi seni rupa sama dengan peran kamera foto pada awal kelahirannya terhadap dunia seni lukis, memberi aura keterbukaan melawan elitisme seni. Sifat alamiah dari teknologi media audio visual yang mempermudah proses pembuatan maupun proses reproduksinya membuat nilai tukarnya tidak setinggi karya seni rupa berbasis kanvas yang kuno – namun memiliki aura keaslian yang tinggi. Menurut Direktur Ruangrupa Ade Darmawan, walaupun seni video di luar negeri – yang memiliki sejarah seni video lebih lama – sudah mencapai harga yang cukup mahal, namun tetap dibawah harga tertinggi dari seni lukis.

Kita tahu ada beberapa seniman yang terus berkarya seni secara kolektif sebagai bentuk kegiatan pengembangan komunitas. Para seniman tersebut menempatkan seni rupa dalam fungsi profetiknya sebagai media penyadaran dan katarsis. Sekedar menyebut sebuah contoh, Jogja Mural Forum yang digerakkan oleh Samuel Indratma melakukan aktivisme seni rupa melibatkan warga kampung-kampung di kota Jogya untuk bersama-sama melukisi dinding dan mengubah’ kampung mereka sendiri menjadi “galeri hidup” (Indratma, 2008). Dalam konteks seni video Ruangrupa bersama forum Lenteng dalam OK Video ke-3 (Militia) mengajak berbagai komunitas masyarakat di berbagai daerah menggunakan kamera video sebagai medium berekspresi. Sayangnya sebagaimana kita tahu hasil karya seni video ataupun mural yang dikerjakan secara kolektif oleh seniman dan warga demikian tak dilirik oleh para kolektor seni rupa. Karena demand pasar rendah maka tidak heran kegiatan aktivisme seni rupa demikian sangat jarang dilakukan oleh para seniman.

Satu hal yang disayangkan dari OK Video Festival ke-4 ini adalah berkurangnya lokasi penayangan seni video di ruang publik. Dalam OK Video Festival tahun ini penayangan seni video di luar Galeri Nasional hanya ada pada TV terbatas di Bandara Soekarno-Hatta. Hal ini lebih disebabkan karena masalah biaya dan tenaga yang akan jauh membesar, demikian ungkap Ade Darmawan. Idealnya pola pameran atau pemutaran seni video yang menyebar di berbagai ruang publik Ibukota harus menjadi ciri penting dalam penyelenggaraan OK Video Festival di masa mendatang. Memang mengurus sebuah hajatan yang tersebar di banyak titik metropolitan jauh lebih rumit dibandingkan hajatan di satu tempat saja. Hal ini makin sulit bila pemerintah pusat maupun daerah punya prosedur yang amat birokratis dan rumit. Bagaimanapun OK VIDEO Festival ke-4 ini tetaplah menyegarkan dunia seni rupa kontemporer kita – terlebih ketika tema festival yang dipilih pun jauh dari kesan ingin memperberat “harga” sebuah hajatan seni video: Komedi.

iClick.IVAA


iClick.IVAA: Pusat Informasi Digital IVAA Online & Onstage

Acara berikutnya yang amat-sangat penting, walaupun diselenggarakan di sayap kanan yang sempit dari Galeri Nasional, adalah peluncuran arsip online http://www.ivaa-online.org/archive/ dan pameran multimedia. Di tengah budaya instan yang makin tersedot ke arus komodifikasi, tiba-tiba Indonesian Visual Art Archive seakan menyeruak seperti oase ditengah padang gurun. Pembukaan dan penyelenggaraan pameran IVAA ini nyaris bersamaan dengan Jogya Art Fair (JAF) #2, serta pameran ulang tahun Edwin’s Gallery – yang menempati ruang pameran utama dan ruang sayap kiri dari Galeri Nasional.

IVAA dulunya berdiri dengan nama Yayasan Seni Cemeti pada tahun 1995 di Yogyakarta dan beubah nama menjadi IVAA pada tahun 2007. Deskripsi IVAA sebagaimana tercantum dalam publikasi pameran adalah sebagai berikut: “…sebuah lembaga nirlaba yang berbasis di Yogyakarta, yang melakukan pemberdayaan infrastruktur seni visual di Indonesia. Bidang utamanya adalah dokumentasi, riset, perpustakaan serta penyelenggaraan program edukasi dan ekplorasi seni visual…. IVAA juga berfungsi sebagai sebuah think-tank atau laboratorium kreatif untuk menggagas berbagai pemikiran serta kegiatan yang mendukung perkembangan seni visual dan budaya kontemporer, baik secara praktek maupun wacana.”

Lobby pameran IVAA Online

Lobby pameran IVAA Online

Sejak 2008 lembaga nirlaba pimpinan Farah Wardani ini membangun Pusat Informasi Digital IVAA yang menampung seluruh koleksi arsip IVAA dalam format digital. Menurut Tim Riset dan Pengembangan Arsip IVAA (Surat vol. 35, 2009), tujuan utamanya adalah untuk preservasi data tersebut, dan kemudian menyimpannya ke jaringan online, membuat sistem baru klasifikasi data IVAA serta meningkatkan kemudahan aksesibilitas dan pemanfaatan data IVAA bagi publik. Database IVAA kini memiliki 13.000 item data berisi khusus tentang seni rupa mencakup buku, majalah, jurnal, katalog, foto, slide, video, makalah, materi promosi, sampai kliping media massa yang terkumpul selama 12 tahun. Secara kronologis data yang tersedia mencakup kurun waktu tahun 1960 hingga kini. Secara tematis database itu dibingkai dalam konteks: 1) Seni Rupa Publik, 2) Isu Sosial, 3) Ruang Alternatif, 4) Budaya Anak Muda dan Industri Kreatif, 4) Multimedia, dan Identitas. Selain pencarian online, IVAA menyediakan sarana pencarian secara fisik (on stage) berupa perpustakaan di jalan Patehan Tengah No.37 Yogyakarta.

pojok lain dari ruang pameran iClick.IVAA

pojok lain dari ruang pameran iClick.IVAA

Keseriusan dan kedalaman pengarsipan informasi mengenai dunia seni di Indonesia yang dilakukan oleh IVAA nyaris tak tertandingi – setidaknya hingga saat ini. Upaya membangun infrastruktur senirupa sebagai pelengkap bagi pengembangan wacana seni rupa di indonesia yang pastinya juga akan berimbas pada pengembangan praktek seni rupa kontemporer Indonesia. Proses pengadaan infrastruktur seni rupa demikian, termasuk program program penelitian dan pengembangan kesenirupaan, adalah ranah yang nyaris luput dikerjakan oleh pemerintah. Untungnya Dewan Kesenian Jakarta telah melakukan proses dijitalisasi arsip arsip seni – mencakup seni rupa, teater, sastra, tari, musik dan film yang bertarikh sejak tahun 1963. Menurut Jabatin Bangun, sekretaris Pengurus Harian DKJ yang bertanggung jawab langsung pada pengelolaan arsip DKJ tersebut, koleksi data milik DKJ itu mencakup data audio, video, negtif film, foto, kliping, naskah drama, lukisan dan benda seni lainnya. Rencananya akhir tahun ini arsip tersebut akan dapat diakses secara online. Tentunya akan sangat ideal bila tiap-tiap Dewan Kesenian di seluruh Indonesi memiliki pusat arsip online, sebagaimana yang direncanakan oleh DKJ.

Upaya pengarsipan dan penyebaran yang dilakukan oleh lembaga nirlaba seperti IVAA akan memperkuat pertumbuhan dunia seni rupa di Indonesia. Langkah langkah pengarsipan yang terencana dan tertata baik pastinya dapat memperkuat mutu perkembangan seni dan budaya di negeri ini. Dalam konteks yang lebih aktual, langkah pengarsipan menghindarkan kita dari kekhawatiran penjiplakan serta pengakuan dan pencurian aset budaya bangsa oleh negeri jiran.

suasana ruang pamer iClick.IVAA

suasana ruang pamer iClick.IVAA

Penutup
Di dalam dinamika dunia seni rupa kontemporer yang kini dipenuhi dengan proses komodifikasi maka terselenggaranya peristiwa seni rupa OK VIDEO ke-4 dan peluncuran situs IVAA-online menjadi sangat signifikan. Perkembangan dunia seni rupa kontemporer yang masih didominasi oleh seni lukis membutuhkan upaya diversifikasi terus menerus, sejalan dengan teknologi komunikasi visual yang terus berkembang di luaran dunia seni rupa.

Perkembangan dunia seni rupa sebagaimana kita semua sadari, tidak dapat terlepas dari upaya upaya penelitian dan pengembangan, hal mana berarti dibutuhkan kesiapan infrastruktur dunia kesenian termasuk pendidikan dan pusat data yang lengkap dan mudah di akses. Apa yang telah dilakukan ruangrupa maupun IVAA merupakan sebuah kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan dunia seni rupa di Indonesia.

→ 1 CommentCategories: Ulasan

Desain Grafis Memperebutkan Ruang Publik: Sebuah Refleksi usai Pilpres 2009

July 8, 2009 · 1 Comment

Di ruang publik individu berkegiatan dan berinteraksi secara fisik, bersendiri maupun berkelompok. Karena itu ruang publik selalu dijadikan ruang untuk menempatkan berbagai jenis media komunikasi untuk mempengaruhi publik. Dalam Pemilu legislatif 2009 kita telah menyaksikan betapa ruang publik menjadi arena perebutan pengaruh. Mulai dari billboard, bendera, spanduk, baliho, poster, pamflet, selebaran, sticker, hingga t-shirt. Media media ini bekerja dalam ruang publik yang bersifat fisik, untuk mendapat pesan pesan dalam media itu seseorang harus hadir secara fisik. Sementara itu di ruang publik yang bersifat maya, dengan menggunakan media digital internet pun perhatian publik diperebutkan. Setelah Pemilihan Presiden 2009 usai kita sekali lagi menyaksikan bagaimana ruang publik – baik ruang fisik maupun maya – menjadi medan pertarungan ide dan ideologi.

MEDIA DESAIN GRAFIS MEDIA KAMPANYE CAPRES/CAWAPRES NOMOR URUT 1: MEGAWATI-PRABOWO

L100_2307

Poster Megawati Prabowo

Poster Megawati Prabowo

Baliho Megawati Prabowo

Baliho Megawati Prabowo

Mobil iklan keliling Megawati dan Prabowo (tampak samping)

Mobil iklan keliling Megawati dan Prabowo (tampak samping)


Ruang Nyata

Pihak yang berebut pengaruh politis di ruang publik adalah caleg dari partai politik, lembaga swadaya masyarakat, hingga individu ataupun kelompok yang memiliki kepedulian dan sikap kritis. Pihak paling banyak membanjiri ruang publik dengan media kampanye pemilu tentu saja adalah caleg parpol, karena terdapat lebih dari empat puluh partai peserta pemilu 2009. Di seluruh Indonesai partai partai tersebut memperebutkan kursi Wakil rakyat di tingkat DPR Pusat, DPRD Tingkat I dan DPRD Tingkat II. Sayang tidak semua calon legislatif (caleg) mampu merumuskan keunggulan diri – bila dia memilikinya – dan dikemas menjadi sebuah media kampanye yang mampu mempengaruhi calon pemilih. Media desain grafis untuk propaganda Pemilu yang tersebar di ruang publik secara fisik, sudah mulai menampakkan kehadirannya pada Pemilu 2004 yang lalu. Sebagaimana kita tahu, dalam skala yang lebih masif – baik karena pemahaman, keuangan, maupun teknologi, hal ini muncul kembali di Pemilu 2009 yang lalu – bahkan hingga Pilpres yang baru saja usai. Sayangnya kekuatan modal dari tiap partai atau pasangan Capres dan Cawapres tidak diimbangi dengan strategi kreatif yang memadai dan mencerdaskan konstituen. Dalam merancang grafis untuk media kampanyenya, ketiga pasangan masih berkutat diseputar figur, bendera merah-putih, dan simbol keagamaan. Bahkan yang paling parah adalah ketika isu jilbab dari isteri Jusuf Kalla dan Wiranto dianggap memiliki daya juali tinggi, maka muncullah desain baliho dimana gambar pasangan JK-Wiranto berada disamping gambar pasangan isteri mereka yang berjilbab. Bahkan gambar pasangan isteri mereka itu memiliki proporsi yang lebih besar dari gambar JK-Wiranto. Bagaimana mungkin mendidik masyarakat bila kampanye pasangan itu hanya didasarkan argumentasi bahwa isteri-isteri dari para kandidat berjilbab, sehingga JK-Wiranto pantas dipilih..

MEDIA KAMPANYE CAPRES/CAWAPRES NOMOR URUT 2: SBY-BOEDIONO

Baliho SBY-Boediono

Baliho SBY-Boediono

Baliho SBY Boediono, dengan tampilan logo di kiri atas

Baliho SBY Boediono, dengan tampilan logo di kiri atas

Menonjolkan sikap sederhana (dari cawapres Boediyono)

Menonjolkan sikap sederhana (dari cawapres Boediyono)

Menonjolkan pemerintahan bersih, sebagai antitesa dari pemerintahan penuh kolusi

Menonjolkan pemerintahan bersih, sebagai antitesa dari pemerintahan penuh kolusi

MEDIA KAMPANYE CAPRES/CAWAPRES NOMOR URUT 3: JUSUF KALLA DAN WIRANTO

Iklancetak (koran) Jusuf Kalla-Wiranto

Iklancetak (koran) Jusuf Kalla-Wiranto

Billboard JK-Wiranto

Billboard JK-Wiranto

Baliho JK Wiranto untuk segmen pemilih muda

Baliho JK Wiranto untuk segmen pemilih muda

Baliho JK-Wiranto: foto kedua perempuan berjilbab dianggap sebagai nilai tambah, sedemikian rupa sehingga ditampilkan lebih besar

Baliho JK-Wiranto: foto kedua perempuan berjilbab dianggap sebagai nilai tambah, sedemikian rupa sehingga ditampilkan lebih besar

Baliho Jk-Wiranto dengan murid perempuan berjilbab

Baliho Jk-Wiranto dengan murid perempuan berjilbab

Baliho JK Wiranto

Baliho JK Wiranto

Beberapa fenomena menarik juga muncul ketika ada kelompok kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang atau kepekaan dalam bekerja dalam ranah budaya visual, juga memanfaatkan ruang publik untuk menyampaikan ekspresi dan sikap politiknya. Kelompok kelompok ini sangat beragam, mulai dari kelompok atau komunitas yang bersikap kritis, namun moderat – contohnya Propagraphic, hingga komunitas yang mengidealkan masyarakat tanpa pemerintahan. Kelompok terakhir ini bekerja secara mandiri (indie) dengan salah prinsip penting dalam hidup mereka: Do It Yourself (DIY). Dengan prinsip ini mereka mengidolakan adanya sebuah masyarakat tanpa pemerintahan. Ruang berekspresi mereka adalah ruang publik secara fisik – menghasilkan karya-karya mural yang menguasai ruang ruang kota. dan media berbiaya rendah, seperti foto copy, stensil, cetak saring, dan mural.

Ruang Maya
Fenomena baru yang tidak terdapat dalam Pemilu 2004 yang lalu adalah penggunaan media virtual internet untuk menyikapi Pemilu 2009. Media internet digunakan publik mengingat sifatnya yang mendalam sekaligus relatif meluas – dapat diakses di seluruh Indonesia atau seluruh dunia, sejauh orang tersebut memiliki akses intenet. Selain itu media ini dapat digunakan meluas karena sistem infrastruktur informasi dari media internet ini relatif berbiaya rendah. Kehadiran Facebook sebagai sebuah media komunikasi mampu menampilkan dan mengkomunikasikan pada kawan-kawannya setiap detik dari aktivitas seseorang. Facebook mampu berfungsi menampilkan diri, sebagaimana seseorang ingin dilihat dan dianggap oleh lingkungannya, Fungsi inilah yang dikritik oleh sebagian orang bahwa Facebook adalah media bagi orang-orang yang mencintai dirinya.

Namun ternyata Facebook memungkinkan setiap individu menulis dan berbagi dengan kawan- kawannya , atau kawan dari kawan-kawannya, dan seterusnya. Facebook, selain aplikasi permainan-permainannya, menggiatkan setiap individu menjadi penulis sekaligus penerbit media itu sendiri, sebuah kegiatan jurnalisme warga. Bahkan ternyata tidak saja jurnalisme warga, namun desain grafis warga – siapapun dapat menciptakan sebuah desain dan meng-upload nya di album masing-masing. Bahkan muncul kecenderungan menciptakan ikon-ikon untuk digunakan pada foto profil. Foto profil yang pada umumnya digunakan untuk menampilkan foto diri masing- masing orang, sering diganti dengan ikon bertema isu tertentu sebagai bentuk ekspresi diri.

Frances Polly1 Frances Polly2

Membawa spanduk Karya Frances Polly saat Tabur bunga di Klender dalam Peringatan Tragedi Mei 2009 (Foto: Koleksi KontraS)

Membawa spanduk Karya Frances Polly saat Tabur bunga di Klender dalam Peringatan Tragedi Mei 2009 (Foto: Koleksi KontraS)

sticker berasal dari ikon di Facebook

sticker berasal dari ikon di Facebook

Frances Poly misalnya, adalah salah seorang desainer yang cukup sering merancang ikon-ikon dengan isu sosial-politik serta menggunakannya sebagai foto profil. Foto profil hasil rancangannya inilah yang kemudian di gunakan dengan bebas oleh kawan, maupun kawan dari kawan, para pengguna facebook lainnya. Polly merancang sebuah ikon berjudul: Awas Pembunuh Disekitar Kita! Yang mengkritik dan mengingatkan warga pengguna Facebook, bahwa ada pembunuh-pembunuh politik yang masih belum dihukum (impunitas). Ikon tersebut berlatar belakang merah, menggunakan ikon siluet seseorang bertopi seorang perwira tentara sedang memegang pistol. Besar kemungkinan ikon yang digunakan adalah berasal dari foto Fidel Castro sedang menunjuk – namun belakangan siluet figur tentara dimodifikasi sehingga tidak lagi berdasarkan figur Castro. Ikon ini menyebar dengan cepat dan sempat digunakan secara meluas oleh beberapa kalangan pengguna Facebook. Demikian pula ketika peringatan 11 tahun terjadinya peristiwa Tragedi Mei ‘98 berlangsung, juga terjadi hal yang sama.

Serial Sarkasme Pemilu 2009 - PDI-P (Karya Muhammad Amin)

Serial Sarkasme Pemilu 2009 - PDI-P (Karya Muhammad Amin)

Serial Sarkasme Pemilu 2009 - Partai Demokrat (Karya Muhammad Amin)

Serial Sarkasme Pemilu 2009 - Partai Demokrat (Karya Muhammad Amin)

Serial sarkasme Pemilu 2009) - Partai Golkar (Karya Muhammad Amin)

Serial sarkasme Pemilu 2009) - Partai Golkar (Karya Muhammad Amin)

Selain Frances Polly, masih terdapat seorang pengguna Facebook bernama Muhammad Amin. Dia adalah seorang Indonesia yang sedang menjalani kuliah di sebuah perguruan tinggi di negeri Belanda. Amin sering merancang ikon-ikon yang menjadi sindiran atau parodi terhadap logo-logo partai peserta Pemilu 2009 ini. Dia menyebutnya sebagai Serial Sarkasme Pemilu 2009. Sesuai dengan namanya, parodi-parodi yang diciptakan dalam rancangan Amin itu bernuansa sarkastik. Namun terlepas dari isi pesan yang dibawanya, hal tersebut merupakan bentuk dari sebuah kritik dan ekspresi ketidakpercayaan publik yang disuarakan oleh seorang perupa, serta dituangkan dalam sebuah media komunikasi (seni) rupa di ruang publik. Pada titik ini rancangan Muhammad Amin menjadi sebuah fenomena unik yang menggabungkan potensi teknologi informasi, khususnya struktur situs facebook, sikap kritis perupa sekaligus warga pengguna facebook.

ikon menyambut Pemilu (karya Enin Supriyanto)

ikon menyambut Pemilu (karya Enin Supriyanto)

Poster Pemilu versi Facebook, karya Enin Supriyanto

Poster Pemilu versi Facebook, karya Enin Supriyanto

Selain keduanya, Enin Supriyanto adalah salah sebuah fenomena lain dari sikap kritis dan desain grafis warga yang memanfaatkan laman Facebook. Enin adalah seorang aktivis ITB yang pernah mengalami penjara rezim Soeharto pada tahun 1989. Setelah bergelut dalam bidang periklanan, dia kemudian beralih menjadi seorang kurator seni rupa yang namanya berkibar di dalam dunia seni rupa kontemporer. Dalam beberapa rancangannya, dia menampilkan sikap politik pribadinya dengan merancang ikon untuk Golongan Oplos (oposisi polos), sebuah nama lain dari golongan putih, yang mungkin berkesan terlalu pasif. Beberapa rancangannya memberikan kesan sangat pop, ketika dia memanfaatkan gaya iklan dari sebuah produk minuman vodka yang cukup terkenal.

Secara umum Facebook telah menjadi sebuah galeri warga yang bersifat terbuka dan mudah untuk diakses para penggunanya di seluruh dunia. Facebook, selain mampu mengakomodasi potensi jurnalisme warga, juga mampu mengakomodasi potensi desain grafis warga. Facebook dengan prinsip nya Giving people the power to share and make the world more open and connected, kini telah digunakan oleh 3.675.111 penggemar.

Ruang publik fisik maupun maya, keduanya sama sama memberi kesempatan tiap orang untuk berbagi informasi dan saling mempengaruhi orang lain. Sebuah dunia paralel yang membuka berbagai kemungkinan berkomunikasi. Hal menarik terjadi, ketika sebuah ikon dari Frances Poly direproduksi oleh lembaga swadaya masyarakat KontraS dalam peringatan Tragedi Mei 98 baru lalu. Hal ini memberi sebuah peluang bagi media yang bersifat maya dapat direproduksi menjadi sebuah media kongkrit yang hadir secara fisik dalam bentuk cetak, baik spanduk, stiker, maupun t-shirt.

Apa yang telah dicapai oleh negeri ini dalam kebebasan berpendapat merupakan sebuah prestasi tersendiri. Demikian banyak ruang berkespresi dan berpendapat, yang pada jaman Orde Baru tidak akan terbayang dapat kita manfaatkan atau berani kita lakukan – kecuali dengan mengakibatkan pengorbanan kebebasan bahkan nyawa. Bagi pemerintahan baru yang akan memimpin negeri ini pada 2009 hingga 2014 ini, hal penting yang harus dilakukan adalah menjaga terus kebebasan berpendapat di ruang publik demi mekanisme kontrol yang akan membuat mesin pemerintahan tidak akan membusuk. Bilamana ada pihak yang dirugikan tentunya dapat menggunakan jalur hukum, sambil terus mereformasi hukum di negeri ini, agar menghilangkan seluruh pasal pasal peninggalan pemerintahan kolonial dahulu.

→ 1 CommentCategories: Dokumen · Ulasan