Referensi

RESENSI BUKU

Jalan Seni Jalanan Yogyakarta
Penulis : Syamsul Barry
Penerbit : Studium, yogyakarta 2008

lores.adit001


Mengamati ungkapan ekspresi estetis kelompok marjinal melalui coretan liar / grafiti

Sudah menjadi naluri manusia untuk berkomunikasi dan ingin apa yang disampaikannya dimengerti oleh orang lain melalui berbagai cara dan media. Visual menjadi salah satu media komunikasi sejak zaman purba. Walaupun terkadang pesan disampaikan masih menimbulkan banyak variabel interpretasi. Begitu pula dengan coretan-coretan liar yang tertangkap di dinding-dinding kota besar. Kota Yogyakarta seperti kota-kota besar di Indonesia lainnya sama-sama mempunyai dinding-dinding kota yang penuh visualisasi ekspresi liar ditulis, dicat semprot/spray. Namun ada hal-hal lain yang unik dan khas ketika kita perhatikan lebih dalam dan dianalisis secara detail dalam buku yang ditulis oleh Syamsul Barry ini.
Sebagai subjek kajian penulis memasukkan seni jalanan (stiker, poster, stensil, grafiti) yang diposisikan sebagai karya seni. Hal yang menarik ditemukan pada seni jalanan di kota Yogyakarta adalah ketika seni jalanan ini bersentuhan dengan interaksi berbagai kultur dan fenomena global namun tetap memelihara tradisi budaya yang ada dengan baik. Namun demikian di antara kehidupan tradisi yang masih berlaku ternyata masyarakat Yogyakarta mempunyai sifat terbuka terhadap kebaruan-kebaruan pemikiran.

Seni Jalanan (Street Art) sebagai Medium Komunikasi dari masa ke masa
Salah satu yang menarik dalam buku ini diuraikan sejarah grafiti di Yogyakarta dan sekitarnya, sebagai contoh disebutkan grafiti tertua ditemukan di goa Jatijajar berangka tahun 1926 ditulis oleh para wisatawan yang berkunjung saat itu. Grafiti di masa perjuangan sekitar tahun 1945-an menjadi sarana ekspresi para pejuang. Kemudian di masa Orde baru seni jalanan berupa baliho banyak menghiasi kota Yogyakarta, bahkan banyak baliho-baliho di Jakarta pun dikerjakan oleh seniman Yogyakarta, saat itu terkenal kelompok-kelompok pembuat baliho seperti Samsul grup atau Seniman Merdeka. Di zaman Orde baru kuantitas acara-acara propoganda seperti festival dan pekan dibuat secara kolosal sehingga banyak kelompok pembuat baliho sering kebanjiran order. Seni jalanan pun marak di Yogyakarta tahun 1980-an dengan kehadiran anak-anak geng yang menggunakan grafiti sebagai medium unjuk gigi (nama-nama geng terkenal saat itu JOXZIN, QZR, TRB).
Secara visual dapat diidentifikasi grafiti yang muncul di Yogyakarta hingga akhir 1990 dominan visual berbasis huruf (tag), seperti modifikasi tipografi yang diberi dimensi dan warna. Teknis penggambaran pun masih relatif sederhana. Baru pada tahun 2000 seni jalanan mulai beralih dari tren modifikasi huruf (tag) ke arah visualisasi yang lebih beragam. Teknis visualisasi pun menggunakan media beragam pula, mulai dari cat secara manual dengan kwas dan cat, kemudian menggunakan spray painting, bahkan sudah menggunakan digital print. Tahun 2000-an juga menandai era kelompok seni jalanan, pada saat itu tak kurang dari 25 kelompok street art secara progresif beraktifitas secara sporadis dan ilegal, dengan pembagian wialayah kerja masing-masing komunitas. Komunitas yang eksis di antaranya Jogja Hip-Hop Foundation.
Seni jalanan pun tak luput dari sejarah pergerakan mahasiswa di Yogyakarta sejak tahun 1989 menggunakan medium dinding dan aspal sebagai penyampai aspirasi dan tuntutan. Lalu Desember 1999 para seniman progresif yang dipimpin Yustoni Vollunterro mendeklarasikan berdirinya Lembaga Budaya Kerakyatan Taring Padi (LBK TP) yang konsentrasi pada pendidikan politik kepada seluruh masyarakat melalui media seni. Kelompok-kelompok lain yang juga yang mempelopori perkembangan seni jalanan seperti misalnya kelompok Apotik Komik, Jogya Mural Forum dengan Samuel Indratma sebagai dedengkotnya.
Sampai akhirnya kota Yogyakarta banjir dengan sampah visual ketika diperparah dengan kekuasaan kapitalisme yang memanfaatkan media publik sebagai sarana propaganda komersial. Lalu seni jalanan terus berjalan secara sporadis mencari ruang-ruang kosong untuk “dibom” dengan kejutan-kejutan mural atau serial poster yang dicetak dengan woodcut (cungkil kayu). Namun ironisnya seni jalanan lalu dianggap liar dan mengotori lingkungan (meskipun pihak pemerintah merasa perlu untuk mengatur seni jalanan yang lebih sopan, terarah, terkontrol). Sedangkan iklan-iklan dengan baliho dan billboard besar terpasang secara permanen untuk menggoda masyarakat menjadi konsumtif mendapat perlakuan sangat istimewa karena penghasil devisa besar untuk kas daerah. Seni jalanan yang menyuarakan keadilan, penindasan, hak azasi manusia dapat saja dianggap hanya sampah yang mengotori kota.
Secara gamblang dan ringan fenomena seni jalanan dijelaskan dalam buku ini dari angle yang cukup beragam. Angle pembeda seni jalanan dengan seni mapan/seni yang diakui secara umum adalah munculnya gaya dan ekspresi ungkap yang tanpa aturan mainstream. Lepas dari aturan-aturan baku seni rupa akademis. Juga merupakan refleksi dari konstruksi sosial budaya serta dapat pula dianggap sebagai manifestasi spontan akibat absurditas kehidupan para senimannya. Dari gambaran tersebut di atas cukup memberikan insight tersendiri. (Toto M. Mukmin – Grafisosial).

Komik Indonesia

Bonneff, Marcel., Komik Indonesia
Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 1998
236hlm: 17 X 24.5 cm.
ISBN 979-902-323-2
Penerjemah Rahayu S. Hidayat
Editor: Yul Hamiyati
Tata Letak+ Desain Sampul: Rully Susanto

McQuiston-lores

McQuiston, Liz., Graphic Agitation, Social and Political Graphics since the Sixties.
London: Phaidon Press, 1993
240hlm; 26 X 30 cm
ISBN 0 7148 2878 5

Daftar Isi
Introduction: Three decades of graphic agitation
Propaganda and protest graphics: A brief historical outlines
I.National politics: Political parties, governments and leaders
II.Global issues: Struggles for power, struggles for peace\
III.Shocks to the systems: Alternative, anti-establishment and liberation movements
IV.The caring society: Health, education and welfare
V.Saving the earth: Ecology and the Green movement
Selected bibliography
Index
Photographic acknowledgments

Persuasive-lores

Paret, Peter; Lewis, Beth Irwin; Paret, Paul., Persuasive Images, Posters of War and Revolution
New Jersey: Princeton University Press, 1992
xviii + 233hlm; 23 X30 cm
ISBN 0-691-03204-1

Daftar isi:
Introduction: Posters and Modern History
Note on the Posters
Prolouge: Before 1914

I.The First World War
1. The Outbreak of War
2. The Enemy
3. Combat
4. Self-Images
5. Appeals to Serve
6. War Loans
7. Food and Industry
8. The End of War

II.The Interwar Years
9. Revolutions
10. The Soviet Union
11. Germany and National Socialism
12. The Spanish Civil War

III.The Second World War
13. Early Stages
14. The Air War
15. The Invasion of Rusia
16. The New Order
17. Home Fronts
18. The United States at War
19. The Last Year

Epilogue: After 1945
Editorial Note and Acknowledgments
Bibliographical Note
List of Posters
Index of Artists

Shirer-lores

Shirer, William., The Rise and Fall of the Third Reich, A History of Nazi Germany (Illustrated and abridged)
New Jersey: Crescent Books, 1994
256 hlm; 25 X 32 cm
ISBN: 0-517-10294-3

Daftar isi
Introduction by SL Mayer
1.How Hitler Rose to Power
2.Hitler on the March: The Years of Triumph
3.Reaping the Whirlwind: The Last Days of the Third Reich
Index
Acknowledgments

Karikatur Politik

Sibarani, Agustin., Karikatur dan Politik, Jakarta: Garba Budaya dan ISAI, Jakarta: …..
ukuran: 24.5 X 19 Cm
422 halaman

Oom Pasikom

Sudarta, GM., 4O thn Oom Pasikom
Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2007 (Juni)
xxiv + 272 hlm; 23 X 21 cm
ISBN: 978-979-709-315-0

Opini Pri.S

Priyanto S., Opini Pri.S, Kartun Opini Priyanto S. di Majalah Tempo tahun 1977 – 1994. Jakarta: PDAT, …..
Ukuran: 22 X 15 Cm.
311 halaman.

Panji Koming

Setiawan, Muhammad Nashir., Menakar Panji Koming, Tafsir Komik Karya Dwi Koendoro pada Masa Reformasi Tahun 1998., Jakarta: Kompas,
Ukuran:
halaman

One response to “Referensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s