Monthly Archives: July 2008

Selamat Hari Anak (Tembakau) Indonesia!

 

 


Kepada para anak di seluruh Indonesia, selamat hari anak! Maafkan kami para orang tua dan orang dewasa di negeri ini yang belum mampu melindungi kalian dari paparan bahaya tembakau. Kami belum juga sanggup mendesak pemerintahan negeri ini untuk mengambil tindakan-tindakan yang perlu dalam rangka melindungi kesehatan rakyatnya – khususnya anak – dari bahaya tembakau. Kami malu bila mengajak anak-anak bepergian – entah itu ke stasiun, atau ke berbagai pertunjukan, pasti dipenuhsesaki oleh iklan rokok. Bahkan iklan rokok di stasiun-stasiun demikian merajalela tidak kepalang tanggung. Sebagai contoh, foto di atas di ambil di stasiun Tanah Abang Jakarta, dimana terlihat billboard yang sangat besar dipasang di peron, dekat kursi duduk.

 

Demikian besarnya billboard itu hingga anak kecil pun kepalanya akan mudah terantuk billboard tersebut. jangan-jangan inilah mungkin yang disebut di dalam wacana periklanan dengan “menyasar target audience secara tepat”. Sungguh disayangkan pihak biro iklan dan produsen tidak memikirkan pemasangan seperti apa yang “aman” bagi lingkungan. Sunguh disayangkan pula kecerobohan pihak stasiun yang menyetujui pemasangan iklan rokok demikian. Di stasiun Tanah Abang, seperti juga stasiun lainnya, iklan dipasang mendampingi sign system (penunjuk arah stasiun). Demikian miskinnya kah pemerintah sehingga untuk membuat sistem penunjuk arah harus dibuatkan oleh perusahaan rokok? Akibatnya tulisan “Kepala Stasiun” di muka ruang kantornya, tidak terbaca sejelas iklan rokoknya. Padahal Pemda DKI memiliki aturan perundangan yang melarang masyarakat merokok di ruang publik.

Bahkan iklan rokok kini berhasil menembus lingkungan kampus-kampus melalui pertunjukan film atau musik “goes to campus”. Industri rokok memanfaatkan model iklan yang semakin muda – atau berkesan muda. Dalam hal media placement, titik-titik pemasangan billboard iklan rokok semakin mendekati lokasi sekolah dan kampus.

Tampak nyata bahwa anak-anak dan remaja adalah target iklan terbaik, untuk melanggengkan bisnis tembakau. Usia tersebut adalah usia anak senang mencoba hal baru, serta giat mencari identitas. Identitas didapat dari idola. Masalahnya idola didapat melalui tokoh-tokoh macho dalam iklan rokok. Tentunya ini juga jadi refleksi bagi para orang tua yang kalah bersaing dari iklan – sehinga tidak dipilih jadi idola. Remaja (dan anak) jadi penting bagi industri rokok karena begitu para dewasa tutup usia – sebagian tentu akibat masalah penyakit pernapasan – maka tidak bisa tidak harus ada generasi penerus pencinta tembakau. Kalaupun iklan rokok ditujukan untuk orang dewasa, maka itu hanyalah upaya untuk menjaga brand loyalty dari para perokok.  Tidak percaya? tanyakanlah pada para perokok dewasa: pada usia berapa mereka pertama kali mencoba untuk merokok. Oleh karena itu, wahai anak Indonesia, bersikap kritislah pada iklan rokok. Karena iklan (rokok) itu akan mudah menyesatkan anak dan remaja.

 

 

Baca artikel di Kompas:

Selamatkan Anak Indonesia! 

……….

Komnas Perlindungan Anak Aris Merdeka Sirait mengatakan, kekerasan pada anak ibarat fenomena gunung es yang susah mencair. Pada momentum peringatan Hari Anak yang akan berlangsung di Taman Mini Indonesia Indah, sejumlah perwakilan anak dari seluruh Indonesia akan menyerahkan hasil suara mereka kepada Presiden SBY.

“Tujuannya agar ada perhatian dari pemerintah pusat untuk membuat kebijakan, baik di pusat maupun daerah, yang ramah terhadap hak anak. Isu ini sudah kita angkat setiap tahun, tapi ternyata belum punya efek jera. Bahkan kasusnya lebih besar,” kata Aris saat dihubungi Kompas.com, Selasa (22/7). Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Masnah Sari pun mengungkapkan keprihatinan yang sama. Menurutnya, kondisi anak Indonesia tak menunjukkan sesuatu yang lebih baik, meskipun ada anak-anak yang berprestasi di level nasional dan internasional.

“Tapi jauh lebih banyak anak-anak yang terpapar hal-hal negatif seperti narkoba, mengalami kekerasan sebagai dampak kemajuan teknologi, gangguan kesehatan akibat rokok, dan kurang gizi,” ujar Masnah kepada Kompas.comkemarin.

Ia memberikan contoh, pada tahun 2001 survei menunjukkan, perokok pemula di Indonesia berusia belasan tahun. Pada tahun 2007, survei yang dilakukan di Jabodetabek memperlihatkan hasil yang mencengangkan. “Perokok pemula itu usianya 5 sampai 7 tahun. Bayangkan, anak sekecil itu sudah merokok dan persentasenya 45 persen dari jumlah anak di Jabodetabek,” katanya.

……………..

Berita selengkapnya baca di: www.kompas.com

Advertisements

HARI TANPA TV 2008

Jangan lupa Matikan TV Sehari: Minggu, 20 Juli!

Hari Tanpa TV adalah hari di mana keluarga-keluarga di Indonesia tidak menyalakan TV selama sehari penuh. Hari Tanpa TV bukan berarti kita memusuhi TV, tapi sebagai ungkapan prihatin pada TV yang banyak menayangkan acara-acara tidak berkualitas.

Tujuan Gerakan Ini Adalah:

1. Mengurangi ketergantungan anak-anak pada TV.

2. Sarana ungkapan keprihatinan terhadap acara TV yang tidak berkualitas.

Makna hari tanpa TV:

1. Keluarga mendapatkan kesempatan berharga untuk melakukan aktivitas bersama tanpa gangguan TV.

2. Wujud nyata dari kesadaran pentingnya bermedia secara cerdas dan kritis.

 

Informasi dan Dukungan:

Fax: 021.8690.5680

Email: haritanpatv@ kidia.org

SMS DUKUNGAN : 0812.1002.4009

Dukungan Anda sangat penting bagi perlindungan anak Indonesia

 

Info lengkap:

http://www.kidia. org/news/ tahun/2008/ bulan/06/ tanggal/02/ id/71/

Antara fakta dan berita

Design: Jessica Lea Dunn 

The image of the hands was purchased from http://www.istockphoto.com

The distorted fonts were free from http://www.1001freefonts.com

 

Di sebuah jejaring sosial di internet, tiba-tiba muncul sebuah grup dengan nama: ASAP(Australian Sidoarjo Assistance Project). Pada halaman muka dari grup itu tertulis pengantar yang menarik, sebagaimana dikutip dibawah ini:

28th of May 2006

3 mining companies 

1 gas explosion 

100,000m3 of mud every day 

11 villages buried

33 factories destroyed

Up to 50,000 people left homeless… 

AND AUSTRALIA HAS MUD ON ITS HANDS.

How it happened, how Australia is involved and how YOU can help.

Brief Overview:

On the 28th of May 2006, a gas explosion occured at the site of drilling activities conducted by exploration company Lapindo Brantas in the densely populated district of Sidoarjo, East Java. The explosion caused over 100,000m3 (that’s 40 Olympic sized swimming pools) of mud to flow from the earth every day. Now, almost two years later, the mud-flow continues, displacing up to 50,000 people. The mud flow has left thousands unemployed with inadequate access to food and safe water and living in crowded refugee camps.

Lapindo Brantas, of which Australian mining company Santos has an 18% share, has denied liability in connection to the disaster. The victims of the mudflow have received little national or international assistance. They have fallen in the void between government and corporate responsibility… who is going to pull them out?

Join us at ASAP and help make a difference to the thousands of people affected by this disaster.

Join here… or at Google Groups: http://groups.google.com/group/helpsidoarjo/subscribe

Perjuangan masyarakat Sidoarjo melawan bencana yang diakibatkan kelalaian sebuah korporasi besar ini terus meluas dan berlanjut melalui dunia maya. Tentunya ini akibat efektif dan murahnya biaya publikasi melalui jaringan maya. Bandingkan dengan upaya public relations yang dilakukan secara gencar oleh Lapindo Brantas Inc. Akibat publikasi dari Lapindo, bahkan, dicurigai media pers di indonesia, semakin lama semakin terpengaruh – sehingga menurut seorang korban – banyak fakta yang tak terungkap oleh berita – seakan-akan urusan ganti rugi dan pemukiman kembali para korban telah beres. Bahkan menurut VHR Media, Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyayangkan rendahnya perhatian berbagai pihak terhadap nasib anak korban Lumpur Lapindo, yang tidak mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak.

 

Warga Australia seperti Jessica Dunn merasa resah dengan kondisi demikian, mengingat terdapat saham dari perusahaan Australia dalam kasus Lapindo tersebut. Sehingga dia berinisiatif untuk melakukan gerakan melalui berbagai cara. Poster di atas menggambarkan sebuah pengakuan, tentang lumpur (dosa) yang mengotori tangan warga Australia – sungguh mengguah. Bagaimana dengan kita di Indonesia?