Monthly Archives: October 2009

Lintasan Saujana Jiwa: Keberpihakan pada penderitaan

KAKI LANGIT BUMI YANG MIRING_Lampase - Aceh (Oscar Motuloh)

KAKI LANGIT BUMI YANG MIRING_Lampase - Aceh (Oscar Motuloh)

Sebuah judul yang unik dan puitis untuk sebuah pameran foto jurnalistik. Menurut sang fotografer, Oscar Motuloh, ”Panorama, saujana, dalam hal ini, sesungguhnya adalah petualangan mata dari segala sudut subyektivitasnya. Nan menelisik setiap perlambang alam sekaligus menjadi pertanda dan metafora bagi peradaban kita….Saujana nestapa, kemudian, menjadi visi yang lebih dari sekadar penglihatan. Dia menghubungkan noktah-noktah lintang dan bujur di peta bumi. ”

Atlantis Van Java #2 (Oscar Motuloh)

Atlantis Van Java #2 (Oscar Motuloh)

Atlantis Van Java #4 (Oscar Motuloh)

Atlantis Van Java #4 (Oscar Motuloh)

Pameran diadakan di Galeri Salihara – Pasar Minggu pada 2-9 Oktober yang lalu. Salihara adalah kompleks bangunan yang mempunyai desain khas, berseni dan menampilkan kejujuran material. Ruang pameran foto berbentuk bundar tanpa dekorasi, sunyi dan sepi dengan jejeran foto hitam putih di sekeliling dinding. Aura mistis dan reflektif masuk melalui foto – foto bencana di Indonesia hasil bidikan jeli Oscar Motuloh, didukung oleh setting ruang pameran.

Ruang Galeri Salihara (Foto oleh Kurnia Setiawan)

Ruang Galeri Salihara (Foto oleh Kurnia Setiawan)

Penyusunan foto yang apik (Foto oleh Kurnia Setiawan)

Penyusunan foto yang apik (Foto oleh Kurnia Setiawan)

Semua foto ditampilkan hitam-putih, tanpa warna, bahkan cenderung muram (banyak warna hitam dan abu – abu, hanya sedikit warna putih/ cerah). Penataan foto teratur di dinding sekeliling ruang dengan ukuran besar. Ada 2 buah foto yang diatur (seolah dibiarkan tergeletak) di lantai tengah pameran sebagai aksen, merupakan upaya yang jeli karena sesuai dengan isi foto di dalamnya (seolah ada barang yang rusak, tergeletak di dalam bingkai).

Oscar Motuloh sekali lagi menyihir para pengunjung, berbicara melalui medium fotografi untuk menyampaikan suatu narasi tentang bencana alam yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Pameran ini, tidak bisa tidak akan membuat pengunjungnya melakukan refleksi tentang kehidupan dan kematian manusia, beserta lingkungan hidupnya. Pameran ini juga menunjukkan keberpihakannya pada penderitaan para korban

Ada sederetan foto yang berjejer berdampingan, seolah menampilkan perwakilan 3 agama di Indonesia. Foto pertama menampilkan pengeras suara dari mesjid menghadap ke tanah kosong, foto kedua menampilkan patung – patung Budha yang sebagian rusak terbakar, dan foto ketiga menampilkan foto patung Yesus yang tergeletak/ jatuh. Manusia yang dipisahkan oleh sekat – sekat ideologi, kepercayaan, agama, etnis, suku/ daerah, menjadi satu kembali ke Sang Pencipta berhadapan dengan alam yang murka.
Ada pula foto Atlantis Van Java, yang pernah dipamerkan di Galeri Nasional bersama karya – karya para seniman se-Indonesia tahun 2008. Foto tersebut menampilkan secara grafis bencana (bukan alam) lumpur Lapindo.
Salut kepada Bang Oscar, mari kita tunggu bersama pameran berikutnya.
Teks dan Foto oleh Kurnia Setiawan, Grafisosial

RIWAYAT HIDUP OSCAR MOTULOH
Dilahirkan pada 17 Agustus 1959 di Surabaya, Indonesia. Memulai karir di bidang jurnalistik sebagai reporter di Kantor Berita Antara pada 1988. Dua tahun kemudian dia memperkuat divisi pemberitaan foto Kantor Berita Antara sebagai pewarta foto. Belajar fotografi secara otodidak. Selain masih aktif sebgai pewarta foto, yang bersangkutan dewasa ini juga memimpin Kantor Berita Foto Antara, mengepalai Museum Jurnalistik Antara serta Galeri Foto Jurnalistik Antara. Ikut mendirikan Pewarta Foto Indonesia, suatu organisasi profesi yang menghimpun seluruh pewarta foto di tanah air. Mengajar di FFTV Institut Kesenian Jakarta, dan menjadi dosen terbang disejumlah perguruan tinggi di tanah air. Aktif menyelenggarakan pameran, seminar dan workshop fotografi, pameran fotografi, serta menerbitkan sejumlah buku fotografi. Menjadi juri dan kurator disejumlah event fotografi di dalam dan luar negeri.

Poster “Kejebak mct, rusuh dmn2”: Aikon Untuk Bangsa Pelupa

gabsplg800x600

Poster ini karya Surianto Rustan untuk pameran Grafika Politika, yang diadakan dalam rangka FGD Expo 2009, pada tanggal 30 Juli – 2 Agustus 2009 yang lalu. Poster ini hanya salah satu dari banyak poster lain yang sangat menarik. Namun kami memuatnya disini, mengingat poster ini menyampaikan pesan yang bersifat memorial terhadap tragedi Mei ’98 secara sederhana dan gamblang. sangat unik.

Pada poster itu terlihat sebuah telpon genggam dengan layar berisi pesan pendek berbunyi: “Terjebak mct, rusuh dmn2, mhn doa, aku ga bs pulang – 13-05-1998”. Pada bagian bawah poster terdapat beberapa baris kalimat sebagai teks yang cukup membuat kita giris membacanya: “Mau dihapus dari ingatan tidak mungkin, mau bangun dari mimpi buruk tidak mampu, mau sembuh dari luka tidak akan, menjerit-jerit dalam kerangkeng, di kedalaman hati yang paling dalam”. Teks ini mungkin terasa sedikit terlalu panjang untuk sebuah poster. Namun tak apalah, sebuah “kelemahan” yang sangat dapat ditolerir.

Dari jarak jauh poster berukuran besar ini mendadak menarik perhatian karena warnanya yang kelam, dengan secercah warna putih ditengah poster – yang setelah didekati ternyata layar telpon genggam tersebut. Ikon layar ber-sms itu serta merta me- recall kita pada ingatan masa lalu, ketika huru hara rasis itu merebak di seantero jakarta. Kata kata dalam sms itu menggambarkan ketidakjelasan keadaan, kepanikan, yang menjangkiti warga jakarta secara kolektif.

Poster ini mengingatkan kita kembali adanya Pe-eR besar bangsa ini: mengembalikan pluralisme dan kebersamaan rasa dalam memiliki bangsa ini. Poster ini menjadi penting sehingga kami angkat kembali dalam jurnal grafisosial sebagai sebuah ikon pengingat bahwa kita sebagai bangsa masih harus menyelesaikan masalah Peraturan-peraturan Daerah (Perda) yang bersikap tidak adil terhadap agama yang secara jumlah penganut, bersifat minoritas, atau juga bangsa yang secara praksis bersikap tidak adil terhadap suku – yang secara jumlah dianggap minoritas di negeri ini. Hal ini mengkhawatirkan karena sebuah pemerintahan yang berdasarkan Pancasila seharusnya bersikap adil terhadap semua agama yang diakuinya sendiri dalam UUD – juga terhadap semua etnis. Dari sudut pandang hukum, tak perlulah negara mengatur ranah spiritual, mengingat Indonesia adalah negara Pancasila – bukan negara agama. Hal ini menjadi tantangan besar bagi pemerintahan SBY mendatang bersama para wakil rakyat yang baru dilantik – apakah akan membawa Indonesia dalam politik sektarian, atau politik bangsa kesatuan berdasar UUD dan Pancasila.

Oleh karena itu Poster Surianto Rustan tersebut di atas, sungguh merupakan sebuah karya grafis yang sangat berarti untuk diangkat kembali, atau bahkan dicetak dan disebarluaskan menjelang pembentukan pemerintahan baru SBY dan awal masa kerja wakil rakyat. Poster ini dapat jadi pengingat mereka untuk tuntaskan Pe-eR mengamankan hal mendasar dari negara ini: Bhinneka Tunggal Ika, selain juga pengingat bahwa banyak kasus pelanggaran HAM berat – termasuk Tragedi Mei ’98 – yang belum tuntas hingga kini.

(Arief Adityawan S.)

Catatan tambahan:
Surianto Rustan adalah seorang perancang grafis pendiri Rustan Grafis, selain juga penulis beberapa buku desain grafis, dan pengajar di beberapa perguruan tinggi DKV. Pada hari Jum’at 16 oktober 2009 dia akan meluncurkan sebuah buku terbarunya berjudul “The Power of Logo”.

The Power of Logo
Continue reading