Monthly Archives: March 2010

Lawan pelarangan buku: membangun opini publik terus-menerus

Malam hari, di awal bulan Maret – mereka bergerak di ruang-ruang publik ibu kota mengendarai sepeda-motor. Diam-diam mereka melakukan ‘aksi pemboman’ di berbagai sudut kota Jakarta. Untungnya kelompok perupa itu melakukan aksi-nya tidak menggunakan bom sungguhan. Mereka menggunakan karya seni rupa, mulai dari mural, poster, sticker, stencil dan cat semprot, dan sebagainya. ‘nge-bom’ adalah istilah di antara para perupa-perupa tersebut, untuk menyebut kegiatan berkarya di ruang publik.

'Nge-bom' di terowongan Dukuh-Atas (foto: Arip Hidayat).

Ranggalawe beraksi di Semanggi (foto: Arip Hidayat)

Syaiful Ardiyanto dan karyanya (Foto: Arip Hidayat)

Wildigda Sunu dan karyanya (Foto: Arip Hidayat)

Street Art membutuhkan kreativitas dalam pemasangan. Nampak Isrol Triono dengan bantuan kawan-kawan sedang beraksi (foto: Arip Hidayat)

Lawan Pelarangan Buku: Iqra

Pelarangan buku pakai UU jaman dahulu kala (tahun 1963) - Sticker di lantai karya Toni Malakian

Di depan ruang pameran ada sablon kaos gratis oleh komunitas Atap Alis

Beberapa perupa muda menggunakan cat tembok, langsung menggambari dinding. Beberapa lagi menempeli poster. Beberapa lagi, membantu seorang perupa menempel kertas HVS 100 gram yang telah digambar-tulisi. Pertama lem kanji diratakan ke bagian belakang kertas menggunakan rol. Setelah kertas ditempel ke dinding, permukaan gambar dilapisi pula oleh lem kanji itu sebagai pelapis yang melindungi gambar dari hujan. Robowobo demikian ‘nama jalanan’ salah satu perupa itu, menyebut teknik tersebut wheatpaste (baca: “Obrolan Ringan dengan Robowobo”). Mereka adalah para perupa-aktivis yang tergabung dalam beberapa komunitas seni rupa, diantaranya adalah komunitas Atap Alis, Propagraphic, Sakit Kuning, Semur-Jengkol. Kelompok-kelompok perupa ini terkenal aktif berkarya di ruang-ruang publik menggunakan berbagai media komunikasi luar-ruang. Karya-karya yang mereka tempelkan, semua memiliki tema yang sama: Memprotes pelarangan buku oleh Kejaksaan Agung.

Infografik karya Alit Ambara

Pesan dari kampanye ini sederhana saja: Pelarangan buku yang semena-mena oleh aparat negara merupakan sebuah kemunduran peradaban di jaman reformasi. Masyarakat sipil di negeri ini harus aktif untuk terlibat mengendalikan negara secara kolektif, agar negara tak menjadi berkuasa berlebihan – mengkooptasi warga.

Aktivitas berkarya dari para perupa-aktivis tersebut di atas adalah bagian dari tahap Pra-kondisional dalam program kampanye bertajuk : “Pelarangan Buku – menutup jendela dunia” – dimana pameran merupakan salah satu medium, sekaligus event pertanggungjawaban kepada publik. Pameran tersebut telah berlangsung di Taman Ismail Marzuki Jakarta, pada tanggal 14 – 17 Maret baru lalu. Dari Jakarta, pameran rencananya akan dilanjutkan ke Yogyakarta dan Surabaya. Tidak tertutup pula dilanjutkan di berbagai daerah dan kota lain, apabila ada permintaan.

Di bawah jembatan penyeberangan Polda - semanggi (foto: Arief Adityawan S).

Karya Nikasius - bawah jembatan penyeberangan Polda - Semanggi (foto: Arief Adityawan S)

karya isrol Triono - Atap Alis.

Pameran ini hanya salah-satu medium dalam kampanye sosial melawan pelarangan buku. Sesungguhnya pameran dapat dibilang sebagai media komunikasi yang spesifik; target audience sangat terbatas, karena hanya kalangan tertentu yang mengunjungi galeri-galeri khusus seperti di Taman Ismail Marzuki. Kecuali berpameran di ruang-ruang yang lebih terbuka seperti mal, stasiun, atau perpustakaan umum. Oleh sebab itu untuk membangun opini publik, penyebaran media dan pelibatan berbagai komunitas lintas-disiplin, serta tiap individu yang peduli pada hak warga untuk mengelola informasi, adalah sebuah keniscayaan. Tidak saja melalui jejaring sosial di dunia maya, atau mural-mural di dinding kota, namun juga berbagai media cetak dan elektronik.

Langkah berikutnya adalah melibatkan para pemilik media pers untuk mau sumbangkan slot 15 detik atau satu halaman majalah atau surat kabarnya, demi kebebasan berpendapat serta hak mengelola informasi tanpa tekanan kekuasaan. Hal ini harus terus dilakukan untuk mengawal proses persidangan di Mahkamah Konstitusi, hingga wewenang Kejaksaan Agung melarang buku dapat dihapuskan.

BEBERAPA MEDIA UNTUK KAMPANYE “MELAWAN PELARANGAN BUKU”

Poster “Membumihanguskan Buku”, karya Arip Hidayat

Poster, “Konstitusi Dilanggar”, karya Yayak Yatmaka

Poster, “Bebaskan Buku”, karya Eka Sofyan Riza

Poster, “Stop Pelarangan Buku”, karya Yayak Yatmaka

Iklan Cetak, “Bebaskan Buku”, karya Agus Danarto

Poster, “Kemunduran Peradaban Manusia”, karya Yayak Yatmaka

Advertisements

Obrolan Santai dengan Seorang Street Artist – Robo Wobo

Robo Wobo dan karyanya (foto oleh Arip Hidayat)

Nama lengkapnya RM. Herwibowo atau Bowo. ‘Nama jalanan’ dia dalam berkarya di ruang publik adalah Robo Wobo. Icon yang sering dia gunakan dalam berkarya, nampaknya terkait dengan nama itu – bentuknya seperti sebuah robot – berwajah dari besi, kadang bermata satu atau dua, sering mengeluarkan asap. Nama ini pula yang dia gunakan di jejaring sosial Facebook.

Dia adalah mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Jurusan Pendidikan Seni Rupa – Universitas Negeri Jakarta. Walau dia masuk ke UNJ tahun 2000, namun hingga kini masih tercatat sebagai mahasiswa setelah melalui proses pemutihan tahun 2007. Nampaknya, aktivitas seni rupa jalanan yang dia tekuni bersama kawan-kawannya cukup menyita waktu kuliahnya. Hingga kini dia sangat aktif, malang-melintang sebagai perupa di ruang publik, bersama komunitas seni rupa Propagraphic dan Serrum.

Di bawah ini adalah obrolan ringan Arief Adityawan S. (AAS) dengan Robo Wobo (RW) pada suatu malam larut, melalui jejaring sosial Facebook.

AAS
Hai bow

Robo Wobo (RW):
Yo

AAS:
Itu teknik yang pakai kertas elo tempel terus dikasih kanji sebagai pelapis (betul ya?) tekniknya disebut apa bow?

RW:
Wheatpaste. Teknisnya sama aja kaya maen poster yang ditempel – wheatpaste lebih bebas, ga tergantung format kertas seperti poster dan secara teknis penggarapnnya bisa lebih variatif fotokopi, print out, stencil, lukis, dll

AAS:
Tapi kan elo gambar dulu di kertas kan? bukannya itu jadi tergantung format kertas?

RW:
Kalo maen posterkan ada formatnya, minA3-A0, kalo maen wheatpaste terserah bisa segala macem ukuran, wheatpaste lebih deket ke karya stiker

AAS:
Ooh, kalo wheatpaste elo gambar biasanya di kertas jenis apa? kertas semen disambung2? atau apa?

RW:
Bedanya lemnya terpisah. untuk kertas bisa macem-macem jenisnya, pake kertas koran juga bisa, tapi gampang sobek. gw biasanya pake kertas hvs 100 gr. gak terlalu tipis biar gak gampang sobek pas penempelan

Lokasi: dekat jembatan Semanggi / bawah jembatan penyeberangan Polda (foto: Arief Adityawan)

AAS:
Ooh ya ya.. kalo karya karya elo di ruang publik itu elo anggap sebagai karya seni atau karya desain?

RW:
Karya seni / karya desain gw ga pernah mikirin itu. yang penting bikin dan menginformasikan apa yang gw cerna dari fenomena yang ada di sekitar gw ga pernah mencoba untuk melebih”kan sebagai suatu karya yang masterpiece.

AAS:
Karya elo selalu berpesan dengan eksplisit, artinya pesan mudah dicerna? pernah gak karyamu tanpa pesan pesan yang informatif, tapi lebih “sekedar” nilai estetik aja?

RW:
Mungkin udah jadi kebiasaan kali ya, bikin karya propaganda yang selalu berpesan, sebenernya pengen si bikin yang seperti itu yang lebih nampilin segi estetisnya aja, nanti deh gw coba. kadang suka kepikiran kalo karya yang gw bikin cuma gw doang yang ngerti terus gw tempelin di jalan, sayang aja ga ada hasilnya

AAS
Artinya unsur komunikasi, gimana si pelihat memahami dan terpengaruh oleh karya elo, jadi pertimbangan elo berkarya?

RW
Dalam proses penyampaian pesan biasanya gw selalu memperhatikan situs/tempat yang pengen gw tempelin. sama perkembangan pemberitaan yang di bahas di media dan gw coba memutar persepsi gw sebagai orang yang melihat. dan gw berusaha engga menjadi hakim terhadap suatu kondisi, gw cuma sebagai reminder untuk mereka yang melihat

AAS
Elo yakin gak orang akan terpengaruh oleh karya elo itu?

RW
Untuk mempengaruhi gw ga berharap banyak, karena publik punya persepsi sendiri terhadap karya gw. Biar mereka aja memutuskan menerima atau menolak, gw sebatas mengingatkan. Kalo mereka sependapat, baguslah…hehehe

AAS
Apa yang membuat kawan kawan Propagraphic memilih mural dan wheatpaste sebagai medium utama dalam berkarya?

salah-satu foto profil Robo Wobo di jejaring sosial facebook

RW
Untuk Propagraphic sebenernya ga pernah mengkhususkan medium berkarya, yang penting dalam berkarya temen-temen punya kesadaran ruang dan perkembangan informasi yang berkembang.

AAS
Pernah mencoba dan menikmati berkarya dengan media lain diluar mural/poster? misal yang lebih komersial spt kanvas? kan mural gak laku dijual?

RW
Kalo untuk produksi dikanvas gw rasa temen-temen pasti punya, kadang jenuh juga bikin karya yang bisa dipajang di rumah atau ikutan pameran bersama. untuk masalah karya mural laku ga laku gw rasa ga jadi permasalahan besar. Yang penting bisa menghilangkan penat

AAS
Jadi mural sebagai medium ekspresi sekaligus propaganda juga ya?

RW
Begitulah, yang penting suka sama suka. Ga ada paksaan dalam aksinya

AAS
Hahaha,..Satu lagi pertanyaan: kalo orang bilang Mural itu ngotorin pemandangan gimana?

RW
Gw rasa untuk mural yang merusak pemandangan gara-gara si artisnya ga punya kesadaran ruang dan kurang cerdas mengolah visual yang akan ditampilin di jalan.
….……
AAS
…. kalo nempel-nempel gitu pake ijin ga? atau hajar bleh…

RW
Selama ini Propagraphic ga pernh minta ijin. paling kita kerja sama komunitas / artis sekitar daerah yang mau kita bom.
Itung-itung berkarya bareng aja, sama akamsinya

AAS
Sedaap… ok bow. trims sekali lagi yee.. sampe ketemu di pameran… met malem

RW
Daagh