Monthly Archives: October 2010

Berita Duka Cita

Sumber foto asli: Priyambodo (Kompas)

Aktivis Hak Asasi Manusia, Asmara Nababan telah meninggal dunia pada hari Kamis 28 Oktober di Rumah Sakit Fuda, Guangzou, Cina. Asmara pernah menjabat sebagai Sekjen Komnas HAM, Anggota Tim Gabungan Pencari Fakta Tragedi Mei 1998, dan pendiri Elsam.
Kami, Grafisosial, berduka cita yang mendalam.

Merapi Meletus dan Tsunami di Mentawai

Senin lalu gempa berkekuatan 7.2 pada skala Richter mengguncang kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, dan mengakibatkan gelombang Tsunami setinggi 1.5 meter. Korban tewas 154 orang dan hilang 400 orang (Kompas.com, 27 Okt, pk 07.23). Sementara itu Selasa sore Gunung Merapi di Jawa Tengah meletus mengakibatkan 29 orang tewas hingga Rabu sore ini (Kompas.com, pk. 07.26).

Keputusan Mahkamah Konstitusi: Dilarang Melarang Buku

Siaran Pers Institut Sejarah Sosial Indonesia

Hari ini, Rabu, 13 Oktober 2010, Mahkamah Konstitusi memutuskan untuk mengabulkan permohonan uji materi atas UU No. 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-barang Cetakan yang Isinya dapat Mengganggu Ketertiban Umum, terhadap UUD 1945. Permohonan itu diajukan Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) serta sejumlah pemohon lain.

Selama hampir setengah abad, rezim-rezim yang memerintah negeri ini menggunakan UU tersebut sebagai dasar hukum untuk memberangus kebebasan berekpresi warga. Dalam kurun waktu tersebut lebih dari dua ribu judul buku yang diproduksi dengan tujuan menyampaikan informasi, hasil-hasil studi, pendapat, cita-cita, dan refleksi, dilarang dan dibakar oleh penguasa. Oleh karena itu, sungguh tepat keputusan Mahkamah Konstitusi hari ini untuk mengembalikan rel kehidupan bangsa di atas konstitusi.

Pelarangan buku karya John Roosa tahun 2009 dan beberapa buku lainnnya, menjadi momentum masyarakat sipil, khususnya Institut Sejarah Sosial Indonesia sebagai penerbit buku ini, untuk melawan kesewenangan Kejaksaan Agung

Keputusan ini disambut baik oleh semua pihak yang memperjuangkan kebenaran, keadilan dan hak-hak asasi manusia: para akademisi di universitas, praktisi pendidikan di berbagai jenjang, para penulis dan pekerja kreatif lainnya, penerbit buku, kelompok seniman, dan banyak lainnya. Hari ini adalah tonggak sejarah baru dalam perjuangan membela kebebasan berekspresi. Mengutip intelektual muda Dr. Yudi Latif yang tampil sebagai ahli dalam persidangan ini, “[Hari ini kita menarik] garis batas antara masa lalu dan masa depan, antara otoritarianisme dan demokrasi, antara masyarakat beradab dan masyarakat biadab.”

(Desain: Agus Danarto, Foto: Kurnia Setiawan)

Bagaimanapun kita perlu mengingat bahwa keberhasilan ini baru merupakan langkah pertama dalam perjuangan untuk menegakkan kebebasan berekspresi. Masih ada banyak UU dan aturan hukum lain yang menghalangi kebebasan, dan kemenangan hari ini harus mampu menjadi daya dorong untuk mengakhiri otoritarianisme dan kesewenangan dalam hukum.

Jakarta, 13 Oktober 2010
ttd.

Agung Ayu Ratih
Ketua Pengurus Institut Sejarah Sosial Indonesia

Hilmar Farid
Ketua Dewan Pembina Institut Sejarah Sosial Indonesia

Kuasa Hukum
Taufik Basari, S.H., S.Hum., LL.M
Nursyahbani Katjasungkana., SH
Nurkholis Hidayat, S.H
Febi Yonesta, S.H
Kiagus Ahmad, BSS.H
Wahyu Wagiman, S.H
Indriaswati Dyah S., S.H., LL.M
Tommy Albert Tobing, S.H.
Muhamad Isnur, S.H.I.
Answer C. Styannes, S.H
Hendrayana, S.H
Sholeh Ali, S.H
Sri Suparyati, S.H., LL.M
Rinto Tri Hasworo, S.H
Ali Nursahid, S.H.I
Al Ghiffari Aqsa, S.H.
Wahyudi Djafar, S.H
Yati Andriyani, S.H
Romi Leo Rinaldo, S.H.
Fransiska, S.H.
Fajri Partama, S.H
Nur Annissa Rizki S, S.H.
Chrisbiantoro, S.H.
Virza Roy Hizzal, S.H. M.H.
Restaria F. Hutabarat, S.H., M.A.
Ikhana Indah B., S.H.