Obrolan Santai dengan Seorang Street Artist – Robo Wobo

Robo Wobo dan karyanya (foto oleh Arip Hidayat)

Nama lengkapnya RM. Herwibowo atau Bowo. ‘Nama jalanan’ dia dalam berkarya di ruang publik adalah Robo Wobo. Icon yang sering dia gunakan dalam berkarya, nampaknya terkait dengan nama itu – bentuknya seperti sebuah robot – berwajah dari besi, kadang bermata satu atau dua, sering mengeluarkan asap. Nama ini pula yang dia gunakan di jejaring sosial Facebook.

Dia adalah mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Jurusan Pendidikan Seni Rupa – Universitas Negeri Jakarta. Walau dia masuk ke UNJ tahun 2000, namun hingga kini masih tercatat sebagai mahasiswa setelah melalui proses pemutihan tahun 2007. Nampaknya, aktivitas seni rupa jalanan yang dia tekuni bersama kawan-kawannya cukup menyita waktu kuliahnya. Hingga kini dia sangat aktif, malang-melintang sebagai perupa di ruang publik, bersama komunitas seni rupa Propagraphic dan Serrum.

Di bawah ini adalah obrolan ringan Arief Adityawan S. (AAS) dengan Robo Wobo (RW) pada suatu malam larut, melalui jejaring sosial Facebook.

AAS
Hai bow

Robo Wobo (RW):
Yo

AAS:
Itu teknik yang pakai kertas elo tempel terus dikasih kanji sebagai pelapis (betul ya?) tekniknya disebut apa bow?

RW:
Wheatpaste. Teknisnya sama aja kaya maen poster yang ditempel – wheatpaste lebih bebas, ga tergantung format kertas seperti poster dan secara teknis penggarapnnya bisa lebih variatif fotokopi, print out, stencil, lukis, dll

AAS:
Tapi kan elo gambar dulu di kertas kan? bukannya itu jadi tergantung format kertas?

RW:
Kalo maen posterkan ada formatnya, minA3-A0, kalo maen wheatpaste terserah bisa segala macem ukuran, wheatpaste lebih deket ke karya stiker

AAS:
Ooh, kalo wheatpaste elo gambar biasanya di kertas jenis apa? kertas semen disambung2? atau apa?

RW:
Bedanya lemnya terpisah. untuk kertas bisa macem-macem jenisnya, pake kertas koran juga bisa, tapi gampang sobek. gw biasanya pake kertas hvs 100 gr. gak terlalu tipis biar gak gampang sobek pas penempelan

Lokasi: dekat jembatan Semanggi / bawah jembatan penyeberangan Polda (foto: Arief Adityawan)

AAS:
Ooh ya ya.. kalo karya karya elo di ruang publik itu elo anggap sebagai karya seni atau karya desain?

RW:
Karya seni / karya desain gw ga pernah mikirin itu. yang penting bikin dan menginformasikan apa yang gw cerna dari fenomena yang ada di sekitar gw ga pernah mencoba untuk melebih”kan sebagai suatu karya yang masterpiece.

AAS:
Karya elo selalu berpesan dengan eksplisit, artinya pesan mudah dicerna? pernah gak karyamu tanpa pesan pesan yang informatif, tapi lebih “sekedar” nilai estetik aja?

RW:
Mungkin udah jadi kebiasaan kali ya, bikin karya propaganda yang selalu berpesan, sebenernya pengen si bikin yang seperti itu yang lebih nampilin segi estetisnya aja, nanti deh gw coba. kadang suka kepikiran kalo karya yang gw bikin cuma gw doang yang ngerti terus gw tempelin di jalan, sayang aja ga ada hasilnya

AAS
Artinya unsur komunikasi, gimana si pelihat memahami dan terpengaruh oleh karya elo, jadi pertimbangan elo berkarya?

RW
Dalam proses penyampaian pesan biasanya gw selalu memperhatikan situs/tempat yang pengen gw tempelin. sama perkembangan pemberitaan yang di bahas di media dan gw coba memutar persepsi gw sebagai orang yang melihat. dan gw berusaha engga menjadi hakim terhadap suatu kondisi, gw cuma sebagai reminder untuk mereka yang melihat

AAS
Elo yakin gak orang akan terpengaruh oleh karya elo itu?

RW
Untuk mempengaruhi gw ga berharap banyak, karena publik punya persepsi sendiri terhadap karya gw. Biar mereka aja memutuskan menerima atau menolak, gw sebatas mengingatkan. Kalo mereka sependapat, baguslah…hehehe

AAS
Apa yang membuat kawan kawan Propagraphic memilih mural dan wheatpaste sebagai medium utama dalam berkarya?

salah-satu foto profil Robo Wobo di jejaring sosial facebook

RW
Untuk Propagraphic sebenernya ga pernah mengkhususkan medium berkarya, yang penting dalam berkarya temen-temen punya kesadaran ruang dan perkembangan informasi yang berkembang.

AAS
Pernah mencoba dan menikmati berkarya dengan media lain diluar mural/poster? misal yang lebih komersial spt kanvas? kan mural gak laku dijual?

RW
Kalo untuk produksi dikanvas gw rasa temen-temen pasti punya, kadang jenuh juga bikin karya yang bisa dipajang di rumah atau ikutan pameran bersama. untuk masalah karya mural laku ga laku gw rasa ga jadi permasalahan besar. Yang penting bisa menghilangkan penat

AAS
Jadi mural sebagai medium ekspresi sekaligus propaganda juga ya?

RW
Begitulah, yang penting suka sama suka. Ga ada paksaan dalam aksinya

AAS
Hahaha,..Satu lagi pertanyaan: kalo orang bilang Mural itu ngotorin pemandangan gimana?

RW
Gw rasa untuk mural yang merusak pemandangan gara-gara si artisnya ga punya kesadaran ruang dan kurang cerdas mengolah visual yang akan ditampilin di jalan.
….……
AAS
…. kalo nempel-nempel gitu pake ijin ga? atau hajar bleh…

RW
Selama ini Propagraphic ga pernh minta ijin. paling kita kerja sama komunitas / artis sekitar daerah yang mau kita bom.
Itung-itung berkarya bareng aja, sama akamsinya

AAS
Sedaap… ok bow. trims sekali lagi yee.. sampe ketemu di pameran… met malem

RW
Daagh

5 responses to “Obrolan Santai dengan Seorang Street Artist – Robo Wobo

  1. tulisan dan paparan yang baik..
    thx, Dit!

  2. cool…
    tetap berkarya..!!

  3. that’s my broww……

  4. Really great and interesting story. You do an excellent job. Keep it up and thanks for the post.

  5. Real good story you posted. Keep it up, you do an excellent job. Thanks for the post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s