Meninjau ulang Strategi Kampanye Anti-Korupsi oleh KPK

Iklan KPK pertama setelah Bibit-Chandra dibebaskan

Isu Cicak yang mendukung Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah versus si-Buaya telah lama usai. Kita masih ingat saat rekaman yang berbau kolusi antara ‘markus’ dan oknum Kepolisian dan Kejaksaan membuat masyarakat berang. masyarakat meradang ketika terlihat ada upaya-upaya melemahkan KPK – sebagai benteng terakhir bangsa ini melawan kanker korupsi. kemudian sempat muncul mural-mural di jalan raya yang mengkritik upaya kriminalisasi KPK. Di berbagai media kini sedang hot isu Bank Century dan siapa yang akan dijadikan tumbal oleh SBY.

Dukungan masyarakat sipil yang kuat menjadi salah satu faktor penting yang membuat upaya kriminalisasi KPK melemah – paling tidak untuk saat ini. Pembebasan Bibit dan Chandra menjadi sebuah klimaks yang menggembirakan kita semua. Kekuatan anti korupsi dari berbagai pihak dan lapisan bersatu melawan para koruptor. Bersatunya kekuatan anti-korupsi untuk membebaskan kedua pimpinan KPK yang jujur dan penuh dedikasi itu tak tertandingi dan tak mungkin ditandingi oleh kasus Bank Century sekalipun. Bila dalam kasus Bibit dan Chandra, hitam dan putih terlihat jelas. Sedangkan dalam kasus Bank Century pihak-pihak yang mengklaim diri bersih dan putih pun ditengarai memiliki kepentingan politik. Tak jelas siapa putih dan siapa hitam.

Sayangnya KPK sebagai sebuah institusi anti-korupsi tidak memanfaatkan klimaks dukungan masyarakat terhadap dirinya sebagai momentum untuk memperkuat benteng perlawanan serta mengorganisir pasukan infanteri untuk memberantas korupsi – meminjam perumpamaan klasik dalam Marketing Warfare. Dalam strategi periklanan kondisi ini adalah saat ketika awareness dari khalayak sedang berada pada titik tertinggi. Hingga hari ini KPK tidak memelihara kesetiaan terhadap brand (brand loyalty) yang terbangun di masyarakat.

Seingat dan sepengetahuan penulis, KPK hanya mengeluarkan satu seri iklan yang ditampilkan di berbagai media, tidak lama setelah Bibit-Chandra dibebaskan. Iklan itu berbunyi: “Pemberantasan Korupsi Jalan Terus!”. Iklan tersebut terasa berbau sloganistik dan redundant. Bahkan bila dicermati lebih dalam, iklan tersebut tidak menyebutkan satupun kalimat yang bernada ucapan terima kasih atas dukungan masyarakat – kecuali kalimat “bersama rakyat KPK siap berantas korupsi hingga tuntas!”. Sesungguhnya sebuah iklan yang khusus bertema sebuah ucapan terima kasih akan tampak lebih rendah-hati, yang akan memperkuat empati khalayak. Setelah ucapan terima kasih yang tulus diiklankan, segera kampanye yang bertujuan untuk konsolidasi pasukan gabungan anti-korupsi ditampilkan.

Kini, upaya membangun brand loyalty terhadap KPK pasti lebih alot. Namun bukannya berarti tidak mungkin dan tidak dibutuhkan. Karena ancaman terhadap KPK masih berlangsung. Niatan Tifatul Sembiring sebagai Menkominfo yang ingin melucuti hak KPK dalam penyadapan nampaknya masih akan berlanjut. Masyarakat harus disiagakan, jangan sampai larut dalam gorengan isu Bank Century yang sarat kepentingan politik berbagai pihak. Pasukan Koruptor terus-menerus berkoordinasi, antara koruptor berbaju pengusaha, birokrat, maupun wakil-rakyat saling perkuat barisan. Karena itu KPK harus menyiapkan pasukan gabungan untuk terjun dalam medan pertempuran melawan para koruptor, awareness harus ditingkatkan kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s