Sebuah Metafor: Cicak dan Buaya

Cicak022

Akhirnya Selasa menjelang tengah malam, dua pimpinan Komisi Pemerantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Riyanto dan Chandra M. Hamzah mendapat penangguhan penahanannya. Hal ini merupakan sebuah angin segar bagi upaya masyarakat sipil dalam memperjuangkan pemberantasan korupsi di negeri ini. Penangguhan penahanan ini tidak bisa dilepaskan dari aksi unjuk rasa pada Senin 2 November 2009 di Bundaran Tugu Selamat Datang Jakarta hingga ke depan Istana Negara. Warga masyarakat turun ke jalan dibawah terik matahari menuntut pembebasan Bibit dan Chandra. Hal ini disebabkan sikap arogansi lembaga kepolisian yang dianggap publik bersikap tidak adil karena memiliki conflict of interest.

Cicak9a

Spanduk unjuk rasa yang menggunakan metafor Cicak-Buaya

Cicak1

Media unjuk rasa menggunakan teknik manual namun efektif

Warga pengunjuk rasa terdiri dari berbagai kalangan, sebagian besar adalah mahasiswa dan aktivis HAM dan anti-korupsi, sebagian lagi pekerja kantor, dan lain sebagainya. Mereka mengenakan ikat kepala bertuliskan slogan dengan semangat melawan korupsi. Sebagian mengenakan t-shirt bertuliskan “Menuntut Keadilan”. Sebagian lagi membawa kertas karton yang dengan tulisan tangan mengekspresikan kegeraman melawan buaya korup.

Istilah cicak dan buaya pertama kali diangkat oleh Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Komisaris Jenderal Susno Duadji. Ungkapan ini tercetus olehnya sebagai bentuk kegusaran Susno setelah mengetahui bahwa KPK menyadap pembicaraan telpon dirinya. Setelah pernyataan itu muncul di media massa, maka para aktivis anti-korupsi memanfaatkan istilah cicak menjadi sebuah kependekan dari “Cinta Indonesia Cinta KPK”. Para aktivis itu memanfaatkan posisi sebagai pihak lemah yang tertindas oleh kekuatan besar yang arogan dan otoriter. Secara visual pun simbol cicak dan buaya sangat mudah untuk menggugah dan menumbuhkan empati untuk mendukung sosok yang ‘dilemahkan’ dan tertekan. Logo gerakan Cicak pun dibuat dengan sederhana namun ternyata cukup ampuh untuk mewakili semangat solidaritas mendukung KPK.

Cicak9

Desain yang kuat dan komunikatif pada t-shirt dan spanduk

Istilah yang digunakan Susno menempatkan lembaga kepolisian sebagai sebuah lembaga besar dan kuat, yang diwakilkan dengan sosok buaya. Sementara untuk perumpamaan KPK, yang dianggap lembaga kecil dan lemah, digunakanlah sosok cicak. Dalam ilmu bahasa istilah Cicak dan Buaya adalah sebuah metafora. Kata “metafora” berasal dari bahasa Yunani yang artinya “mentranfer” atau “membawa dari satu tempat ke tempat lain”. Metafora adalah sebuah upaya imajinatif untuk menciptakan hubungan antara dua hal yang berbeda, namun memiliki sebuah kesamaan. Secara fisik-anatomis, cicak dan buaya memang memiliki kesamaan, sebagaimana lembaga kepolisian dan KPK, keduanya adalah lembaga penegak hukum.

Cicak8

dua spanduk dijital yang dirancang dengan baik

Menggunakan cicak dan buaya sebagai metafora pembeda kekuatan memang sangat tepat. Namun Susno tampaknya tidak mampu memahami konten moral dari perumpamaan buaya, sebagai binatang buas yang mematikan, selain pemalas, pemakan segala, memangsa dengan cara mengendap-endap. Lebih jauh Susno tampaknya lupa dengan istilah buaya yang sering dipadankan dengan kata “darat” pada idiom “Buaya darat”. Menggunakan pendekatan Barthes, selain makna mitos di atas, sosok buaya sebagai sebuah penanda, memiliki makna ideologis yang negatif, sebagai sebuah sifat manipulatif. Atau jangan-jangan penggunaan metafor buaya, merupakan refleksi bawah-sadar dirinya yang merasa bahwa kepolisian memang memiliki kemiripan dengan sifat-sifat buaya? Tentu hanya Susno Duadji lah – sebagai pencipta, yang tahu.

Teks dan Foto: Arief Adityawan S.

3 responses to “Sebuah Metafor: Cicak dan Buaya

  1. dangelan cicak-buaya telah sampai pada anti klimaksnya. sang wayang menunggu eksekusi sang dalang. dangelan apa berikutnya?

  2. istilah cicak dan buaya yg dilontarkan oleh Susno malah menjadi sebuah metafora.. sebuah metafora yg justru meningkatkan solidaritas mendukung KPK dan melemahkan posisi kepolisian, oleh karena itu, harus berhati-hati dlm berucap klo tdk mau ucapan itu menjadi bumerang…

  3. slogan dan akronim di logo paling atas bagus. tapi gambar logonya kok rasanya mencerminkan “unity”, ya. ane inget logo klasik yin-yang tuh! tentu bukan persatuan hermeneutik antara cicak-buaya begini yang mau dikiaskan di sini, kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s