Dua Hajatan Penting Bulan Agustus: OK Video dan IVAA

OK Video keempat: Komedi

OK Video keempat: Komedi


Bulan Agustus lalu di Galeri Nasional Jakarta berlangsung dua acara sangat penting dalam dinamika dunia seni rupa: OK Video – 4th Jakarta International Video Festival dan peluncuran arsip digital IVAA Indonesian Visual Art Archive. Keduanya menjadi penting karena berjalan di jalur lambat diantara arus lalu lintas jalur cepat dari Seni Rupa kontemporer yang laris manis dikalangan kolektor. Video art sebagai lahan utama dalam OK Video yang diadakan oleh Ruangrupa ini nyaris tidak dilirik oleh kolektor Indonesia. Nasib yang sama juga terjadi pada pengarsipan, penelitian dan pengembangan studi seni rupa yang ditelantarkan oleh banyak pihak di dalam negeri sendiri.

Kedua kegiatan tersebut berhasil tampil mandiri berhadapan dengan sistem pasar dalam dunia seni rupa indonesia – kecuali penampilan logo sponsor pada display TV dalam OK Video Festival. Kedua acara ini menjadi penting karena sangat bermanfaat bagi gerak dunia seni rupa kontemporer di Indonesia yang kini nampak melulu berkutat pada nilai investasi bagi kolektor. Tidak berarti bahwa nilai jual sebuah karya seni adalah masalah tabu ataupun remeh, karena itu berarti tingginya apresiasi sehingga menambah enerji berkarya bagi para pegiat seni rupa. Namun dunia seni rupa pastinya akan berkembang lebih dinamis bila mampu menyerap kepentingan-kepentingan lain yang lebih beragam diluar kepentingan para kolektor dan kolekdol.


OK VIDEO – 4th Jakarta International Video Festival

OK Video Festival adalah sebuah festival internasional di Indonesia yang diadakan oleh Ruangrupa (akrab disebut Ruru), sebuah komunitas seni rupa yang mengusung secara konsisten penggunaan video sebagai medium dan teknik berkarya seni rupa. Acara dua tahunan ini – dimulai pertama kali tahun 2003 makin menyadarkan publik pada umumnya – maupun dunia seni rupa khususnya bahwa, seperti ditulis oleh kurator Aminudin TH. Siregar, seni rupa dapat dicapai melalui medium video. Lebih jauh dalam pernyataan kuratorialnya, ‘Ucok’ sang kurator menyatakan bahwa “…secara militan OK Video tidak saja berhasil menularkan sikap yang terbuka di dalam memahami arena baru bagi praktik seni rupa, dia juga mampu mengakomodasi jenis seni yang kemunculannya pada akhir 1990an ke awal 2000an terbilang jarang kita jumpai di galeri-galeri”.

OK Video berhasil menciptakan karya seni paling kreatif yang pernah dipamerkan di Galeri Nasional - Facade polkadot

OK Video berhasil menciptakan karya seni paling kreatif yang pernah dipamerkan di Galeri Nasional - Facade polkadot

Video sebagai sebuah medium seni rupa nampaknya makin populer diantara kaum muda urban, mengingat teknologi dijital video makin murah-meriah. Peran kamera video bagi seni rupa sama dengan peran kamera foto pada awal kelahirannya terhadap dunia seni lukis, memberi aura keterbukaan melawan elitisme seni. Sifat alamiah dari teknologi media audio visual yang mempermudah proses pembuatan maupun proses reproduksinya membuat nilai tukarnya tidak setinggi karya seni rupa berbasis kanvas yang kuno – namun memiliki aura keaslian yang tinggi. Menurut Direktur Ruangrupa Ade Darmawan, walaupun seni video di luar negeri – yang memiliki sejarah seni video lebih lama – sudah mencapai harga yang cukup mahal, namun tetap dibawah harga tertinggi dari seni lukis.

Kita tahu ada beberapa seniman yang terus berkarya seni secara kolektif sebagai bentuk kegiatan pengembangan komunitas. Para seniman tersebut menempatkan seni rupa dalam fungsi profetiknya sebagai media penyadaran dan katarsis. Sekedar menyebut sebuah contoh, Jogja Mural Forum yang digerakkan oleh Samuel Indratma melakukan aktivisme seni rupa melibatkan warga kampung-kampung di kota Jogya untuk bersama-sama melukisi dinding dan mengubah’ kampung mereka sendiri menjadi “galeri hidup” (Indratma, 2008). Dalam konteks seni video Ruangrupa bersama forum Lenteng dalam OK Video ke-3 (Militia) mengajak berbagai komunitas masyarakat di berbagai daerah menggunakan kamera video sebagai medium berekspresi. Sayangnya sebagaimana kita tahu hasil karya seni video ataupun mural yang dikerjakan secara kolektif oleh seniman dan warga demikian tak dilirik oleh para kolektor seni rupa. Karena demand pasar rendah maka tidak heran kegiatan aktivisme seni rupa demikian sangat jarang dilakukan oleh para seniman.

Satu hal yang disayangkan dari OK Video Festival ke-4 ini adalah berkurangnya lokasi penayangan seni video di ruang publik. Dalam OK Video Festival tahun ini penayangan seni video di luar Galeri Nasional hanya ada pada TV terbatas di Bandara Soekarno-Hatta. Hal ini lebih disebabkan karena masalah biaya dan tenaga yang akan jauh membesar, demikian ungkap Ade Darmawan. Idealnya pola pameran atau pemutaran seni video yang menyebar di berbagai ruang publik Ibukota harus menjadi ciri penting dalam penyelenggaraan OK Video Festival di masa mendatang. Memang mengurus sebuah hajatan yang tersebar di banyak titik metropolitan jauh lebih rumit dibandingkan hajatan di satu tempat saja. Hal ini makin sulit bila pemerintah pusat maupun daerah punya prosedur yang amat birokratis dan rumit. Bagaimanapun OK VIDEO Festival ke-4 ini tetaplah menyegarkan dunia seni rupa kontemporer kita – terlebih ketika tema festival yang dipilih pun jauh dari kesan ingin memperberat “harga” sebuah hajatan seni video: Komedi.

iClick.IVAA


iClick.IVAA: Pusat Informasi Digital IVAA Online & Onstage

Acara berikutnya yang amat-sangat penting, walaupun diselenggarakan di sayap kanan yang sempit dari Galeri Nasional, adalah peluncuran arsip online http://www.ivaa-online.org/archive/ dan pameran multimedia. Di tengah budaya instan yang makin tersedot ke arus komodifikasi, tiba-tiba Indonesian Visual Art Archive seakan menyeruak seperti oase ditengah padang gurun. Pembukaan dan penyelenggaraan pameran IVAA ini nyaris bersamaan dengan Jogya Art Fair (JAF) #2, serta pameran ulang tahun Edwin’s Gallery – yang menempati ruang pameran utama dan ruang sayap kiri dari Galeri Nasional.

IVAA dulunya berdiri dengan nama Yayasan Seni Cemeti pada tahun 1995 di Yogyakarta dan beubah nama menjadi IVAA pada tahun 2007. Deskripsi IVAA sebagaimana tercantum dalam publikasi pameran adalah sebagai berikut: “…sebuah lembaga nirlaba yang berbasis di Yogyakarta, yang melakukan pemberdayaan infrastruktur seni visual di Indonesia. Bidang utamanya adalah dokumentasi, riset, perpustakaan serta penyelenggaraan program edukasi dan ekplorasi seni visual…. IVAA juga berfungsi sebagai sebuah think-tank atau laboratorium kreatif untuk menggagas berbagai pemikiran serta kegiatan yang mendukung perkembangan seni visual dan budaya kontemporer, baik secara praktek maupun wacana.”

Lobby pameran IVAA Online

Lobby pameran IVAA Online

Sejak 2008 lembaga nirlaba pimpinan Farah Wardani ini membangun Pusat Informasi Digital IVAA yang menampung seluruh koleksi arsip IVAA dalam format digital. Menurut Tim Riset dan Pengembangan Arsip IVAA (Surat vol. 35, 2009), tujuan utamanya adalah untuk preservasi data tersebut, dan kemudian menyimpannya ke jaringan online, membuat sistem baru klasifikasi data IVAA serta meningkatkan kemudahan aksesibilitas dan pemanfaatan data IVAA bagi publik. Database IVAA kini memiliki 13.000 item data berisi khusus tentang seni rupa mencakup buku, majalah, jurnal, katalog, foto, slide, video, makalah, materi promosi, sampai kliping media massa yang terkumpul selama 12 tahun. Secara kronologis data yang tersedia mencakup kurun waktu tahun 1960 hingga kini. Secara tematis database itu dibingkai dalam konteks: 1) Seni Rupa Publik, 2) Isu Sosial, 3) Ruang Alternatif, 4) Budaya Anak Muda dan Industri Kreatif, 4) Multimedia, dan Identitas. Selain pencarian online, IVAA menyediakan sarana pencarian secara fisik (on stage) berupa perpustakaan di jalan Patehan Tengah No.37 Yogyakarta.

pojok lain dari ruang pameran iClick.IVAA

pojok lain dari ruang pameran iClick.IVAA

Keseriusan dan kedalaman pengarsipan informasi mengenai dunia seni di Indonesia yang dilakukan oleh IVAA nyaris tak tertandingi – setidaknya hingga saat ini. Upaya membangun infrastruktur senirupa sebagai pelengkap bagi pengembangan wacana seni rupa di indonesia yang pastinya juga akan berimbas pada pengembangan praktek seni rupa kontemporer Indonesia. Proses pengadaan infrastruktur seni rupa demikian, termasuk program program penelitian dan pengembangan kesenirupaan, adalah ranah yang nyaris luput dikerjakan oleh pemerintah. Untungnya Dewan Kesenian Jakarta telah melakukan proses dijitalisasi arsip arsip seni – mencakup seni rupa, teater, sastra, tari, musik dan film yang bertarikh sejak tahun 1963. Menurut Jabatin Bangun, sekretaris Pengurus Harian DKJ yang bertanggung jawab langsung pada pengelolaan arsip DKJ tersebut, koleksi data milik DKJ itu mencakup data audio, video, negtif film, foto, kliping, naskah drama, lukisan dan benda seni lainnya. Rencananya akhir tahun ini arsip tersebut akan dapat diakses secara online. Tentunya akan sangat ideal bila tiap-tiap Dewan Kesenian di seluruh Indonesi memiliki pusat arsip online, sebagaimana yang direncanakan oleh DKJ.

Upaya pengarsipan dan penyebaran yang dilakukan oleh lembaga nirlaba seperti IVAA akan memperkuat pertumbuhan dunia seni rupa di Indonesia. Langkah langkah pengarsipan yang terencana dan tertata baik pastinya dapat memperkuat mutu perkembangan seni dan budaya di negeri ini. Dalam konteks yang lebih aktual, langkah pengarsipan menghindarkan kita dari kekhawatiran penjiplakan serta pengakuan dan pencurian aset budaya bangsa oleh negeri jiran.

suasana ruang pamer iClick.IVAA

suasana ruang pamer iClick.IVAA

Penutup
Di dalam dinamika dunia seni rupa kontemporer yang kini dipenuhi dengan proses komodifikasi maka terselenggaranya peristiwa seni rupa OK VIDEO ke-4 dan peluncuran situs IVAA-online menjadi sangat signifikan. Perkembangan dunia seni rupa kontemporer yang masih didominasi oleh seni lukis membutuhkan upaya diversifikasi terus menerus, sejalan dengan teknologi komunikasi visual yang terus berkembang di luaran dunia seni rupa.

Perkembangan dunia seni rupa sebagaimana kita semua sadari, tidak dapat terlepas dari upaya upaya penelitian dan pengembangan, hal mana berarti dibutuhkan kesiapan infrastruktur dunia kesenian termasuk pendidikan dan pusat data yang lengkap dan mudah di akses. Apa yang telah dilakukan ruangrupa maupun IVAA merupakan sebuah kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan dunia seni rupa di Indonesia.

One response to “Dua Hajatan Penting Bulan Agustus: OK Video dan IVAA

  1. minal aidin wal faizin, semoga acara macam gini lebih banyak di negeri ini supaya kita bisa banyak mengapresiasi.

    btw… saya ada info menarik juga. barangkali mau ikut sketsa bareng. info lengkap bisa dikunjungi blog saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s