Desain Grafis Memperebutkan Ruang Publik: Sebuah Refleksi usai Pilpres 2009

Di ruang publik individu berkegiatan dan berinteraksi secara fisik, bersendiri maupun berkelompok. Karena itu ruang publik selalu dijadikan ruang untuk menempatkan berbagai jenis media komunikasi untuk mempengaruhi publik. Dalam Pemilu legislatif 2009 kita telah menyaksikan betapa ruang publik menjadi arena perebutan pengaruh. Mulai dari billboard, bendera, spanduk, baliho, poster, pamflet, selebaran, sticker, hingga t-shirt. Media media ini bekerja dalam ruang publik yang bersifat fisik, untuk mendapat pesan pesan dalam media itu seseorang harus hadir secara fisik. Sementara itu di ruang publik yang bersifat maya, dengan menggunakan media digital internet pun perhatian publik diperebutkan. Setelah Pemilihan Presiden 2009 usai kita sekali lagi menyaksikan bagaimana ruang publik – baik ruang fisik maupun maya – menjadi medan pertarungan ide dan ideologi.

MEDIA DESAIN GRAFIS MEDIA KAMPANYE CAPRES/CAWAPRES NOMOR URUT 1: MEGAWATI-PRABOWO

L100_2307

Poster Megawati Prabowo

Poster Megawati Prabowo

Baliho Megawati Prabowo

Baliho Megawati Prabowo

Mobil iklan keliling Megawati dan Prabowo (tampak samping)

Mobil iklan keliling Megawati dan Prabowo (tampak samping)


Ruang Nyata

Pihak yang berebut pengaruh politis di ruang publik adalah caleg dari partai politik, lembaga swadaya masyarakat, hingga individu ataupun kelompok yang memiliki kepedulian dan sikap kritis. Pihak paling banyak membanjiri ruang publik dengan media kampanye pemilu tentu saja adalah caleg parpol, karena terdapat lebih dari empat puluh partai peserta pemilu 2009. Di seluruh Indonesai partai partai tersebut memperebutkan kursi Wakil rakyat di tingkat DPR Pusat, DPRD Tingkat I dan DPRD Tingkat II. Sayang tidak semua calon legislatif (caleg) mampu merumuskan keunggulan diri – bila dia memilikinya – dan dikemas menjadi sebuah media kampanye yang mampu mempengaruhi calon pemilih. Media desain grafis untuk propaganda Pemilu yang tersebar di ruang publik secara fisik, sudah mulai menampakkan kehadirannya pada Pemilu 2004 yang lalu. Sebagaimana kita tahu, dalam skala yang lebih masif – baik karena pemahaman, keuangan, maupun teknologi, hal ini muncul kembali di Pemilu 2009 yang lalu – bahkan hingga Pilpres yang baru saja usai. Sayangnya kekuatan modal dari tiap partai atau pasangan Capres dan Cawapres tidak diimbangi dengan strategi kreatif yang memadai dan mencerdaskan konstituen. Dalam merancang grafis untuk media kampanyenya, ketiga pasangan masih berkutat diseputar figur, bendera merah-putih, dan simbol keagamaan. Bahkan yang paling parah adalah ketika isu jilbab dari isteri Jusuf Kalla dan Wiranto dianggap memiliki daya juali tinggi, maka muncullah desain baliho dimana gambar pasangan JK-Wiranto berada disamping gambar pasangan isteri mereka yang berjilbab. Bahkan gambar pasangan isteri mereka itu memiliki proporsi yang lebih besar dari gambar JK-Wiranto. Bagaimana mungkin mendidik masyarakat bila kampanye pasangan itu hanya didasarkan argumentasi bahwa isteri-isteri dari para kandidat berjilbab, sehingga JK-Wiranto pantas dipilih..

MEDIA KAMPANYE CAPRES/CAWAPRES NOMOR URUT 2: SBY-BOEDIONO

Baliho SBY-Boediono

Baliho SBY-Boediono

Baliho SBY Boediono, dengan tampilan logo di kiri atas

Baliho SBY Boediono, dengan tampilan logo di kiri atas

Menonjolkan sikap sederhana (dari cawapres Boediyono)

Menonjolkan sikap sederhana (dari cawapres Boediyono)

Menonjolkan pemerintahan bersih, sebagai antitesa dari pemerintahan penuh kolusi

Menonjolkan pemerintahan bersih, sebagai antitesa dari pemerintahan penuh kolusi

MEDIA KAMPANYE CAPRES/CAWAPRES NOMOR URUT 3: JUSUF KALLA DAN WIRANTO

Iklancetak (koran) Jusuf Kalla-Wiranto

Iklancetak (koran) Jusuf Kalla-Wiranto

Billboard JK-Wiranto

Billboard JK-Wiranto

Baliho JK Wiranto untuk segmen pemilih muda

Baliho JK Wiranto untuk segmen pemilih muda

Baliho JK-Wiranto: foto kedua perempuan berjilbab dianggap sebagai nilai tambah, sedemikian rupa sehingga ditampilkan lebih besar

Baliho JK-Wiranto: foto kedua perempuan berjilbab dianggap sebagai nilai tambah, sedemikian rupa sehingga ditampilkan lebih besar

Baliho Jk-Wiranto dengan murid perempuan berjilbab

Baliho Jk-Wiranto dengan murid perempuan berjilbab

Baliho JK Wiranto

Baliho JK Wiranto

Beberapa fenomena menarik juga muncul ketika ada kelompok kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang atau kepekaan dalam bekerja dalam ranah budaya visual, juga memanfaatkan ruang publik untuk menyampaikan ekspresi dan sikap politiknya. Kelompok kelompok ini sangat beragam, mulai dari kelompok atau komunitas yang bersikap kritis, namun moderat – contohnya Propagraphic, hingga komunitas yang mengidealkan masyarakat tanpa pemerintahan. Kelompok terakhir ini bekerja secara mandiri (indie) dengan salah prinsip penting dalam hidup mereka: Do It Yourself (DIY). Dengan prinsip ini mereka mengidolakan adanya sebuah masyarakat tanpa pemerintahan. Ruang berekspresi mereka adalah ruang publik secara fisik – menghasilkan karya-karya mural yang menguasai ruang ruang kota. dan media berbiaya rendah, seperti foto copy, stensil, cetak saring, dan mural.

Ruang Maya
Fenomena baru yang tidak terdapat dalam Pemilu 2004 yang lalu adalah penggunaan media virtual internet untuk menyikapi Pemilu 2009. Media internet digunakan publik mengingat sifatnya yang mendalam sekaligus relatif meluas – dapat diakses di seluruh Indonesia atau seluruh dunia, sejauh orang tersebut memiliki akses intenet. Selain itu media ini dapat digunakan meluas karena sistem infrastruktur informasi dari media internet ini relatif berbiaya rendah. Kehadiran Facebook sebagai sebuah media komunikasi mampu menampilkan dan mengkomunikasikan pada kawan-kawannya setiap detik dari aktivitas seseorang. Facebook mampu berfungsi menampilkan diri, sebagaimana seseorang ingin dilihat dan dianggap oleh lingkungannya, Fungsi inilah yang dikritik oleh sebagian orang bahwa Facebook adalah media bagi orang-orang yang mencintai dirinya.

Namun ternyata Facebook memungkinkan setiap individu menulis dan berbagi dengan kawan- kawannya , atau kawan dari kawan-kawannya, dan seterusnya. Facebook, selain aplikasi permainan-permainannya, menggiatkan setiap individu menjadi penulis sekaligus penerbit media itu sendiri, sebuah kegiatan jurnalisme warga. Bahkan ternyata tidak saja jurnalisme warga, namun desain grafis warga – siapapun dapat menciptakan sebuah desain dan meng-upload nya di album masing-masing. Bahkan muncul kecenderungan menciptakan ikon-ikon untuk digunakan pada foto profil. Foto profil yang pada umumnya digunakan untuk menampilkan foto diri masing- masing orang, sering diganti dengan ikon bertema isu tertentu sebagai bentuk ekspresi diri.

Frances Polly1 Frances Polly2

Membawa spanduk Karya Frances Polly saat Tabur bunga di Klender dalam Peringatan Tragedi Mei 2009 (Foto: Koleksi KontraS)

Membawa spanduk Karya Frances Polly saat Tabur bunga di Klender dalam Peringatan Tragedi Mei 2009 (Foto: Koleksi KontraS)

sticker berasal dari ikon di Facebook

sticker berasal dari ikon di Facebook

Frances Poly misalnya, adalah salah seorang desainer yang cukup sering merancang ikon-ikon dengan isu sosial-politik serta menggunakannya sebagai foto profil. Foto profil hasil rancangannya inilah yang kemudian di gunakan dengan bebas oleh kawan, maupun kawan dari kawan, para pengguna facebook lainnya. Polly merancang sebuah ikon berjudul: Awas Pembunuh Disekitar Kita! Yang mengkritik dan mengingatkan warga pengguna Facebook, bahwa ada pembunuh-pembunuh politik yang masih belum dihukum (impunitas). Ikon tersebut berlatar belakang merah, menggunakan ikon siluet seseorang bertopi seorang perwira tentara sedang memegang pistol. Besar kemungkinan ikon yang digunakan adalah berasal dari foto Fidel Castro sedang menunjuk – namun belakangan siluet figur tentara dimodifikasi sehingga tidak lagi berdasarkan figur Castro. Ikon ini menyebar dengan cepat dan sempat digunakan secara meluas oleh beberapa kalangan pengguna Facebook. Demikian pula ketika peringatan 11 tahun terjadinya peristiwa Tragedi Mei ’98 berlangsung, juga terjadi hal yang sama.

Serial Sarkasme Pemilu 2009 - PDI-P (Karya Muhammad Amin)

Serial Sarkasme Pemilu 2009 - PDI-P (Karya Muhammad Amin)

Serial Sarkasme Pemilu 2009 - Partai Demokrat (Karya Muhammad Amin)

Serial Sarkasme Pemilu 2009 - Partai Demokrat (Karya Muhammad Amin)

Serial sarkasme Pemilu 2009) - Partai Golkar (Karya Muhammad Amin)

Serial sarkasme Pemilu 2009) - Partai Golkar (Karya Muhammad Amin)

Selain Frances Polly, masih terdapat seorang pengguna Facebook bernama Muhammad Amin. Dia adalah seorang Indonesia yang sedang menjalani kuliah di sebuah perguruan tinggi di negeri Belanda. Amin sering merancang ikon-ikon yang menjadi sindiran atau parodi terhadap logo-logo partai peserta Pemilu 2009 ini. Dia menyebutnya sebagai Serial Sarkasme Pemilu 2009. Sesuai dengan namanya, parodi-parodi yang diciptakan dalam rancangan Amin itu bernuansa sarkastik. Namun terlepas dari isi pesan yang dibawanya, hal tersebut merupakan bentuk dari sebuah kritik dan ekspresi ketidakpercayaan publik yang disuarakan oleh seorang perupa, serta dituangkan dalam sebuah media komunikasi (seni) rupa di ruang publik. Pada titik ini rancangan Muhammad Amin menjadi sebuah fenomena unik yang menggabungkan potensi teknologi informasi, khususnya struktur situs facebook, sikap kritis perupa sekaligus warga pengguna facebook.

ikon menyambut Pemilu (karya Enin Supriyanto)

ikon menyambut Pemilu (karya Enin Supriyanto)

Poster Pemilu versi Facebook, karya Enin Supriyanto

Poster Pemilu versi Facebook, karya Enin Supriyanto

Selain keduanya, Enin Supriyanto adalah salah sebuah fenomena lain dari sikap kritis dan desain grafis warga yang memanfaatkan laman Facebook. Enin adalah seorang aktivis ITB yang pernah mengalami penjara rezim Soeharto pada tahun 1989. Setelah bergelut dalam bidang periklanan, dia kemudian beralih menjadi seorang kurator seni rupa yang namanya berkibar di dalam dunia seni rupa kontemporer. Dalam beberapa rancangannya, dia menampilkan sikap politik pribadinya dengan merancang ikon untuk Golongan Oplos (oposisi polos), sebuah nama lain dari golongan putih, yang mungkin berkesan terlalu pasif. Beberapa rancangannya memberikan kesan sangat pop, ketika dia memanfaatkan gaya iklan dari sebuah produk minuman vodka yang cukup terkenal.

Secara umum Facebook telah menjadi sebuah galeri warga yang bersifat terbuka dan mudah untuk diakses para penggunanya di seluruh dunia. Facebook, selain mampu mengakomodasi potensi jurnalisme warga, juga mampu mengakomodasi potensi desain grafis warga. Facebook dengan prinsip nya Giving people the power to share and make the world more open and connected, kini telah digunakan oleh 3.675.111 penggemar.

Ruang publik fisik maupun maya, keduanya sama sama memberi kesempatan tiap orang untuk berbagi informasi dan saling mempengaruhi orang lain. Sebuah dunia paralel yang membuka berbagai kemungkinan berkomunikasi. Hal menarik terjadi, ketika sebuah ikon dari Frances Poly direproduksi oleh lembaga swadaya masyarakat KontraS dalam peringatan Tragedi Mei 98 baru lalu. Hal ini memberi sebuah peluang bagi media yang bersifat maya dapat direproduksi menjadi sebuah media kongkrit yang hadir secara fisik dalam bentuk cetak, baik spanduk, stiker, maupun t-shirt.

Apa yang telah dicapai oleh negeri ini dalam kebebasan berpendapat merupakan sebuah prestasi tersendiri. Demikian banyak ruang berkespresi dan berpendapat, yang pada jaman Orde Baru tidak akan terbayang dapat kita manfaatkan atau berani kita lakukan – kecuali dengan mengakibatkan pengorbanan kebebasan bahkan nyawa. Bagi pemerintahan baru yang akan memimpin negeri ini pada 2009 hingga 2014 ini, hal penting yang harus dilakukan adalah menjaga terus kebebasan berpendapat di ruang publik demi mekanisme kontrol yang akan membuat mesin pemerintahan tidak akan membusuk. Bilamana ada pihak yang dirugikan tentunya dapat menggunakan jalur hukum, sambil terus mereformasi hukum di negeri ini, agar menghilangkan seluruh pasal pasal peninggalan pemerintahan kolonial dahulu.

2 responses to “Desain Grafis Memperebutkan Ruang Publik: Sebuah Refleksi usai Pilpres 2009

  1. Saatnya praktisi media komunikasi menyadari, bahwa perubahan tidak bisa hanya mengandalkan pencitraan saja. Urusan sosial tidak seperti dagang shampo, atau pemutih kulit. Butuh kerja nyata, dan aktivitas di tingkat lapangan.

  2. menarik sekali pak ulasannya pak.. terjadi juga di daerah2 dengan Pilkada nya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s