GRAFIS MELAWAN LUPA: Pameran media kampanye masyarakat sipil tentang pelanggaran HAM masa lalu

Galeri Cipta III - Taman Ismail Marzuki (3-7 Juli 2009)

Galeri Cipta III - Taman Ismail Marzuki (3-7 Juli 2009)


SEBUAH PENGANTAR KURASI

Grafis atau gambar adalah alat ungkap pikiran dan perasaan manusia, yang mencakup – tidak saja garis, bidang, dan warna yang membawa pesan dan makna tertentu – termasuk bentuk-bentuk huruf yang mengekspresikan makna tertentu secara implisit, selain arti kata itu sendiri. Merancang grafis, atau desain grafis, makin berkembang sebagai alat penyebar pesan massal, setelah revolusi cetak Guttenberg di abad ke-15.

LoresIMG_2675 copy LoresIMG_2671 copy

Pameran ini bermaksud menampilkan potensi desain grafis – melalui keberagaman media – sebagai alat perjuangan untuk merespons berbagai peristiwa pelanggaran HAM di jaman Orde Baru dan beberapa isu yang terjadi sesudah Soeharto turun, namun masih terkait dengan sistem Orde Baru. Penggunaan desain grafis secara komprehensif dalam berbagai jenis media berperan penting dalam memperebutkan kesadaran publik. Ranah kesadaran publik inilah yang coba dipertahankan oleh jaringan kerja masyarakat sipil, terhadap kooptasi pemerintah maupun partai politik, serta juga korporasi besar.

LoresIMG_2651 LoresIMG_2647

Upaya perlawanan yang dirancang menggunakan rancang grafis sebagai alat perjuangan selama rejim Orde Baru pada umumnya dimulai dari basis kampus seperti koran kampus dan jurnal kemahasiswaan. Di luar kampus, desain grafis digunakan secara optimal melalui pemanfaatan desain grafis oleh jaringan lembaga swadaya masyarakat. Kaum muda terdidik tahun 70an dengan basis kampus, merancang media komunikasi cetak murah-meriah. Namun dalam kesederhanaan produksi dan pendistribusian itulah desain grafis yang muncul memanfaatkan simbol-simbol visual yang kreatif didukung oleh karya karya para seniman muda kritis. Hal ini sejalan dengan peran lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam mengembangkan desain grafis yang juga berkembang pesat. Eskalasi perlawanan yang dilakukan pun terus meningkat. Hal ini berpengaruh pada gaya-gaya desain yang diproduksi oleh berbagai lembaga tersebut. LSM dengan strategi perlawanan yang makin keras, memanfaatkan bahasa visual yang lebih eksplisit dan keras menyuarakan perlawanan.

Suara Independen2a

Teknologi media terkini berupa internet menjadi sarana penyadaran yang cukup efektif dan efisien. Media-media demikian menjadi sebuah demokratisasi dalam konteks penerbitan dan pers yang selama ini dikuasai oleh modal besar, sebuah jurnalisme publik, atau juga desain publik – dimana siapapun dapat menjadi desainer kritis yang karyanya dapat dinikmati oleh publik, tanpa rintangan modal besar. Namun penggunaan media baru berbasis teknologi dijital tidak serta merta menghilangkan peran media poster, atau bahkan spanduk dan payung, di jalanan. Fenomena menarik adalah ketika ikon yang menyebar luas di ranah internet direproduksi menjadi media-media fisik di jalanan, untuk kebutuhan unjuk rasa seperti spanduk, sticker, dan t-shirt. Sebaliknya desain grafis jalanan ini tidak berhenti dalam ruang-waktu lokal sebatas area demonstrasi, ketika diliput pers sehingga dapat direproduksi secara masif tanpa batas ruang dan waktu.

LoresIMG_2644 LoresIMG_2641

Dari materi pameran yang berhasil terkumpul dari berbagai LSM maupun individu, terlihat betapa penting proses pendokumentasian media-media penyadaran publik. Demikian penting namun nyatanya demikian sulit mengumpulkan materi desain grafis pameran ini menjadi satu. Hal ini juga berakibat pada kelemahan pendataan nama-nama desainer yang merancang media-media yang dipamerkan.

LoresIMG_2672 copy

LoresIMG_2674 copy

Upaya menembus represi informasi yang bersifat satu arah, demi kuasa terhadap ruang publik menjadi signifikan. Hal ini semakin terasa ketika Pemilu dengan sistem banyak partai berlangsung. Demikian banyak kandidat anggota legislatif maupun Presiden dan Wapres yang menyampaikan pesan penuh penanda, namun tanpa petanda atau makna kongkrit. Publik diguyur oleh simulakra yang menyilaukan, dengan jargon jargon besar yang memabukkan seperti: kesejahteraan, kemakmuran, kerakyatan, keadilan, dan lain sebagainya. Propaganda demikian harus dilawan dengan kontra propaganda dan pengawasan propaganda oleh setiap individu, dan jaringan-jaringan kerja masyarakat sipil. Termasuk komunitas-komunitas budaya visual di akar rumput, seperti Propagraphic Taring Padi, dan sebagainya. Dengan kekuatan media media publik inilah sebuah kesadaran kritis sebagai gerakan kebudayaan dapat terus digulirkan. Agar proses pelupaan sistematis terahadap pelanggaran HAM masa lalu dapat di lawan – demi menghindari pelanggaran HAM di masa depan.

Jakarta, Juli 2009
Ade Darmawan
Arief Adityawan S.

Catatan:
Pameran “Grafis Melawan Lupa” berlangsung dari tanggal 3-7 Juli 2009 di Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Terselenggara atas kerjasama Elsam, Kontras, Grafisosial, Institut Sejarah Sosial Jakarta, dan Dewan Kesenian Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s