I see Indonesia, renungan seorang desainer grafis

 

Buku i see indonesia sesungguhnya adalah sebuah graphic essay mengenai sebuah bangsa, dimana kita menjadi salah satu manusia di dalam kumpulan yang disebut “bangsa” itu.

Buku ini dibuat oleh seorang perupa, desainer grafis, yang tinggal di Bali, Ayip. Dia juga memiliki sebuah biro desain yang bernama matamera communication. Bukunya sendiri sangat unik karena, walaupun minim kata, kecuali sebuah pengantar penutup oleh Sugi Lanus, namun merupakan sebuah renungan yang mengajak pembaca merefleksikan kembali makna bangsa ini. Mengajak kita merenungkan kembali apa yang tengah dialami bangsa ini. Mengapa bangsa ini serasa belum cukup menderita selama tiga setengah abad dijajah bangsa asing, tigapuluhdua tahun dijajah Soeharto, dan kini, sepuluh tahun dijajah koruptor. Pada pengantarnya, Ayip menulis:

“Isi buku ini, Awalnya adalah koleksi lepasan karya pribadi yang dituangkan suka-suka dalam goresan, foto maupun desain. Membiasakan merespon sesuatu apalagi kejadian barangkali yang melatari hadirnya karya- karya diluar pekerjaan mendesain atau non komersil ini. Bagi saya kebiasaan ini penting sebagai catatan bebas merespon sesuatu lewat kepekaan dan kacamata profesi.”

Sebagaimana dikemukakan Ayip pada pengantarnya, Buku ini memang terasa sebagai sebuah kumpulan semburat ide lepas, kadang terasa berulang-ulang, hanya dengan desain yang berbeda. Namun “kelemahan” ini (kalaupun itu disebut kelemahan) tetap termaafkan oleh kekayaan desain yang berhasil dieksplorasi oleh Ayip. Bahkan dengan perulangan ide-ide tersebut dapat menumbuhkan pola komunikasi interaktif, ketika pembaca diajak memilih, desain mana yang paling menarik.

    

Walaupun ‘sekedar’ kumpulan ide atau catatan harian, namun kita sebagai pembaca diajak menyusuri kembali makna pulau pulau dari Sabang sampai Merauke yang dijemur pada seutas tali. Seandainya saja menghilangkan korupsi di DPR dan Kejaksaan Agung semudah kita mencuci pakaian. Desain menjemur kepulauan Indonesia tentu menjadi salah satu desain terbaik dalam buku itu. Memang ada beberapa karya dengan gagasan “biasa-biasa saja” misalnya memainkan penggalan “one” dari kata “indonesia”

Namun kalau itu boleh kita sebut sebagai “kelemahan”, masih dapat kita anggap wajar karena terbayar oleh berbagai ide menarik dan menggugah yang tersebar pada halaman halaman buku ini. Demikian pula tafsiran Ayip mengenai para pahlawan yang sudah sangat umum kita kenal, Bung Karno, Kartini. Namun dengan rancangan grafis yang menarik memberi ajakan pada kita untuk mengapresiasi kembali apa yang telah mereka lakukan.

Sungguh, secara keseluruhan – dengan beberapa “kekurangan” di atas, buku ini merupakan buku yang luar biasa menarik mengingat tidak banyak buku yang berbasis desain grafis – kalau bukan tidak ada – yang berupaya menggambarkan kecintaan terhadap negerinya seperti yang dilakukan Ayip. Kehadiran buku ini menjadi sangat penting bagi bangsa Indonesia yang sedang didera oleh kenyataan betapa hebatnya korupsi di negeri ini, mulai dari pejabat kejaksaan agung hingga anggota DPR melakukan korupsi kolektif. Atau kepiluan mengenai betapa anehnya negeri ini, ketika seorang Menko Kesejahteraan Rakyat selalu bersikap dan mengeluarkan pernyataan yang lebih menguntungkan perusahaan pertambangan yang menyengsarakan ribuan rakyat Sidoarjo, ketimbang membela rakyat yang kalah. Betapa anehnya Presiden SBY yang tidak berani pada menteri itu.

Buku ini seharusnya menjadi buku bacaan “wajib” di sekolah-sekolah dasar hingga Sekolah Menengah Umum, juga bagi kita bangsa yang sebentar lagi akan melakukan Pemilu 2009, untuk merenung apakah ada partai yang pantas untuk kita pilih. Sungguh buku yang sangat menarik, sangat enak dan perlu dibaca.

 

CATATAN PENTING

Rabu 6 Agustus pukul 16.00 – 18.00 dalam Pameran Ekonomi Kreatif – Indonesia Bisa! di Senayan City, akan diadakan “Ngobrol dengan Desainer” bertema ‘Desain Grafis dan Semangat Kebangsaan’ membahas buku “i see indonesia”, dengan menghadirkan Ayip matamera, serta Kampanye “Indonesia Bertindak” karya Iwan Esjepe dan isterinya, Indah (lihat artikel Jurnal Grafisosial sebelumnya atau http://indonesiabertindak.multiply.com).

Kamis, 7 Agustus pukul 18.30 – 20.30 di tempat yang sama: talkshow “Desain Grafis dalam Ekonomi Kreatif Indonesia, bersama Arief Budiman (ADGI chapter Yogyakarta), Eka Sofyan Rizal (FDGI), Lans Brahmantyo (Afterhours Group), Hastjarjo Wibowo (Indonesian Design Power).

Minggu, 10 Agustus jam 13.00 – 15.00, masih di tempat yang sama: Ngobrol bersama Wedha, Ilustrator, desainer grafis ternama majalah Hai: “Wedha’s Pop Art painting.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s