Selamat Hari Anak (Tembakau) Indonesia!

 

 


Kepada para anak di seluruh Indonesia, selamat hari anak! Maafkan kami para orang tua dan orang dewasa di negeri ini yang belum mampu melindungi kalian dari paparan bahaya tembakau. Kami belum juga sanggup mendesak pemerintahan negeri ini untuk mengambil tindakan-tindakan yang perlu dalam rangka melindungi kesehatan rakyatnya – khususnya anak – dari bahaya tembakau. Kami malu bila mengajak anak-anak bepergian – entah itu ke stasiun, atau ke berbagai pertunjukan, pasti dipenuhsesaki oleh iklan rokok. Bahkan iklan rokok di stasiun-stasiun demikian merajalela tidak kepalang tanggung. Sebagai contoh, foto di atas di ambil di stasiun Tanah Abang Jakarta, dimana terlihat billboard yang sangat besar dipasang di peron, dekat kursi duduk.

 

Demikian besarnya billboard itu hingga anak kecil pun kepalanya akan mudah terantuk billboard tersebut. jangan-jangan inilah mungkin yang disebut di dalam wacana periklanan dengan “menyasar target audience secara tepat”. Sungguh disayangkan pihak biro iklan dan produsen tidak memikirkan pemasangan seperti apa yang “aman” bagi lingkungan. Sunguh disayangkan pula kecerobohan pihak stasiun yang menyetujui pemasangan iklan rokok demikian. Di stasiun Tanah Abang, seperti juga stasiun lainnya, iklan dipasang mendampingi sign system (penunjuk arah stasiun). Demikian miskinnya kah pemerintah sehingga untuk membuat sistem penunjuk arah harus dibuatkan oleh perusahaan rokok? Akibatnya tulisan “Kepala Stasiun” di muka ruang kantornya, tidak terbaca sejelas iklan rokoknya. Padahal Pemda DKI memiliki aturan perundangan yang melarang masyarakat merokok di ruang publik.

Bahkan iklan rokok kini berhasil menembus lingkungan kampus-kampus melalui pertunjukan film atau musik “goes to campus”. Industri rokok memanfaatkan model iklan yang semakin muda – atau berkesan muda. Dalam hal media placement, titik-titik pemasangan billboard iklan rokok semakin mendekati lokasi sekolah dan kampus.

Tampak nyata bahwa anak-anak dan remaja adalah target iklan terbaik, untuk melanggengkan bisnis tembakau. Usia tersebut adalah usia anak senang mencoba hal baru, serta giat mencari identitas. Identitas didapat dari idola. Masalahnya idola didapat melalui tokoh-tokoh macho dalam iklan rokok. Tentunya ini juga jadi refleksi bagi para orang tua yang kalah bersaing dari iklan – sehinga tidak dipilih jadi idola. Remaja (dan anak) jadi penting bagi industri rokok karena begitu para dewasa tutup usia – sebagian tentu akibat masalah penyakit pernapasan – maka tidak bisa tidak harus ada generasi penerus pencinta tembakau. Kalaupun iklan rokok ditujukan untuk orang dewasa, maka itu hanyalah upaya untuk menjaga brand loyalty dari para perokok.  Tidak percaya? tanyakanlah pada para perokok dewasa: pada usia berapa mereka pertama kali mencoba untuk merokok. Oleh karena itu, wahai anak Indonesia, bersikap kritislah pada iklan rokok. Karena iklan (rokok) itu akan mudah menyesatkan anak dan remaja.

 

 

Baca artikel di Kompas:

Selamatkan Anak Indonesia! 

……….

Komnas Perlindungan Anak Aris Merdeka Sirait mengatakan, kekerasan pada anak ibarat fenomena gunung es yang susah mencair. Pada momentum peringatan Hari Anak yang akan berlangsung di Taman Mini Indonesia Indah, sejumlah perwakilan anak dari seluruh Indonesia akan menyerahkan hasil suara mereka kepada Presiden SBY.

“Tujuannya agar ada perhatian dari pemerintah pusat untuk membuat kebijakan, baik di pusat maupun daerah, yang ramah terhadap hak anak. Isu ini sudah kita angkat setiap tahun, tapi ternyata belum punya efek jera. Bahkan kasusnya lebih besar,” kata Aris saat dihubungi Kompas.com, Selasa (22/7). Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Masnah Sari pun mengungkapkan keprihatinan yang sama. Menurutnya, kondisi anak Indonesia tak menunjukkan sesuatu yang lebih baik, meskipun ada anak-anak yang berprestasi di level nasional dan internasional.

“Tapi jauh lebih banyak anak-anak yang terpapar hal-hal negatif seperti narkoba, mengalami kekerasan sebagai dampak kemajuan teknologi, gangguan kesehatan akibat rokok, dan kurang gizi,” ujar Masnah kepada Kompas.comkemarin.

Ia memberikan contoh, pada tahun 2001 survei menunjukkan, perokok pemula di Indonesia berusia belasan tahun. Pada tahun 2007, survei yang dilakukan di Jabodetabek memperlihatkan hasil yang mencengangkan. “Perokok pemula itu usianya 5 sampai 7 tahun. Bayangkan, anak sekecil itu sudah merokok dan persentasenya 45 persen dari jumlah anak di Jabodetabek,” katanya.

……………..

Berita selengkapnya baca di: www.kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s