Lima Kesalahan Politik yang Fatal

Nono Anwar Makarim

Rabu, 11 Juni 2008 | 01:06 WIB


Setidaknya ada lima kesalahan fatal dalam politik kebangsaan di Indonesia sejak awal terbentuknya Republik Indonesia hingga perkembangannya dewasa ini.

…..

Kesalahan kelima: Mengambil sikap untuk ”tidak bersikap” adalah bijaksana. Dari semua kesalahan politik yang fundamental, mungkin inilah kesalahan terbesar.

Malapetaka terjadi jika mayoritas berdiam menyaksikan hal-hal yang tidak benar.

 

Tahun-tahun menjelang Oktober 1965 sekelompok surat kabar angkat bicara tentang penyelewengan terhadap doktrin Sukarno dan Pancasila. Mereka menggabungkan diri dalam organisasi yang diberi nama Badan Pendukung Sukarnoisme (BPS). Atas desakan PKI, Sukarno membubarkan BPS. Mayoritas diam. Manifesto Kebudayaan lahir dan berupaya membebaskan ungkapan seni-budaya dari politik sebagai panglima. Atas desakan PKI, Manifes dilarang. Mayoritas diam. Masyumi dibubarkan, PSI dibubarkan, Partai Murba dibubarkan; mayoritas berdiam.

Lalu peruncingan keadaan melangkah lebih jauh: PKI menuntut dibentuknya angkatan ke-5 agar buruh dan tani dipersenjatai. Lalu RRC menawarkan sejumlah besar senjata ringan untuk tujuan itu. Keberangkatan rahasia DN Aidit ke China, disusul keberangkatan Sukarno ke China dan pembicaraan rahasia dengan Chou En Lai. Desas-desus Dewan Jenderal dan penemuan bukti oleh Chaerul Saleh bahwa PKI akan merebut kekuasaan. Sukarno jatuh sakit dan ketidakpastian serta rumor politik mencekam warga negara dalam ketakutan. Semua itu pengantar ke malam hari tanggal 30 September 1965……..

Tahun 2006, tulisan Sabam Siagian di Suara Pembaruan mengutip pendapat seorang sarjana yang menyatakan bahwa di negara-negara sedang berkembang ada yang berkultur membantu kemajuan dan ada juga yang berkultur menghambat kemajuan. Sabam membandingkan Vietnam dan Indonesia. Pada dekade 1960-an para sarjana sosial, politik, dan ekonomi meratapi perkembangan di Indonesia. Istilah yang digunakan adalah stranded society (masyarakat yang terdampar), lost opportunities (kesempatan yang dibiarkan berlalu), dan descent into vagueness (kemerosotan dalam kekaburan).

Detik-detik itu kembali hadir di tengah kita. Sekarang. Di depan mata. Masyarakat madani Indonesia harap bersiap-siap untuk merosot lagi, dan lagi, tiada henti…

Nono Anwar Makarim Mantan Pemimpin Redaksi Harian KAMI

Silakan lihat artikel lengkap melalui link:

Lima Kesalahan Politik yang Fatal

2 responses to “Lima Kesalahan Politik yang Fatal

  1. Artikel di Blog ini bagus dan berguna bagi para pembaca.Anda bisa lebih mempromosikan artikel anda di http://www.infogue.com dan jadikan artikel anda topik yang terbaik bagi para pembaca di seluruh Indonesia.Telah tersedia plugin/widget.Kirim artikel dan vote yang terintegrasi dengan instalasi mudah dan singkat.Salam Blogger!!!

    http://politik.infogue.com/l
    http://politik.infogue.com/lima_kesalahan_politik_yang_fatal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s