Advertorial Lapindo Menyesatkan?

 Lumpur Lapindo terjadi akibat pengeboran sumur Banjar-Panji-1, bukan bencana alam/ gempa bumi. Demikian hasil penelitian terkini dari Profesor Richard Davies dari Universitas Durham, bersama sejumlah ahli dari Indonesia, Australia dan Amerika Serikat, yang dimuat di jurnal ilmiah Earth Planetary Science and Letters (Baca: Koran Tempo, Rabu 11 Juni 2006).

Professor Richard Davies yang mengambil gelar PhD dari Edinburgh University tahun 1995, bukanlah akademisi dan ahli yang tidak berpengalaman  Selain menjabat profesor di Universitas Durham Inggris, Davies adalah ahli yang sering bekerja untuk berbagai perusahaan eksplorasi minyak besar dunia.  Selain itu disebutkan dalam situs Universitas Durham – http://www.dur.ac.uk/earth.sciences/staff :   “Richard Davies has spear headed the use of 3D seismic reflection data and visualisation in geoscience research, through publishing papers in highly regarded journals on a range of subjects as diverse as soft sediment deformation, igneous intrusions, silica diagenesis, continent-ocean fracture zones, petroleum geology and mud volcanism”.  Adapun jurnal yang memuat penelitian ilmiah oleh para ahli ini, menurut website penerbit Elsevier adalah sebuah jurnal terkemuka yang telah berusia lebih dari empat dasawarsa: “……Earth and Planetary Science Letters has built up an enviable reputation. Its successful formula of presenting high-quality research articles with minimal delay has made it one of the most important sources of information in its field. The articles published reflect the great impact made on research in the geosciences by the use of successful research methods…..” (http://www.elsevier.com). 

Ini adalah kabar baik bagi para korban lumpur Lapindo yang selama ini telah dirugikan dan terpaksa menjual tanah dan rumah mereka. Selama ini Lapindo Brantas Inc, diperkuat pengadilan pengadilan negeri bersikeras menyatakan Luapan lumpur itu akibat gempa Bumi.  Selama ini ahli geologi Dr.Ir. Rudi Rubiandini telah menyatakan dengan jelas bahwa Lumpur Lapindo akibat human error. Temuan terkini yang telah dimuat dalam jurnal ilmiah bergengsi itu dapat digunakan sebagai alat bukti baru bagi para korban untuk naik banding di pengadilan.  Pada berita di Koran Tempo di atas juga dimuat pendapat Kepala Divisi Hubungan Masyarakat PT Lapindo Yuniwati Teryana yang menyatakan bahwa Lapindo telah melakukan kajian dengan para ahli, yang menyimpulkan bahwa pengeboran yang dilakukan telah sesuai dengan standar nasional maupun internasional. Sayangnya Reporter Koran Tempo tidak merinci berita itu lebih lanjut dengan mempertanyakan siapakah yang memilih, menugaskan, dan membayar “para ahli” tersebut. Berdasarkan temuan ilmiah Prof. Davies di atas, sebaiknya pemerintah membuat kajian dan audit ulang seluruh prosedur pengeboran Lapindo di Sidoarjo, yang dilakukan oleh tim independen yang tidak memiliki relasi kerja apapun dengan Lapindo Brantas Inc. Temuan ini juga menjadi sebuah ‘pukulan telak’ bagi citra yang dibangun oleh rangkaian iklan-iklan perusahaan yang pernah dimuat di media massa, yang di buat oleh Lapindo Brantas Inc, atau Minarak Lapindo Jaya. 

 

Lapindo Brantas Inc, melalui PT Minarak Lapindo, telah berulangkali memasang iklan di media massa mengenai apa-apa yang telah mereka lakukan, untuk meningkatkan citra perusahaan, dalam menghadapi isu lumpur ini. Iklan jenis ini biasa disebu sebagai corporate advertisment. Iklan terakhir, adalah iklan advertorial (di majalah Tempo disebut Inforial) berjudul “Dua Tahun Komitmen Sosial Lapindo di Sidoarjo” (Tempo 2-8 Juni 2008, hal.116-117) sepanjang dua halaman berwarna.

Objective dari iklan ini jelas: meningkatkan citra positif Lapindo Brantas Inc. Caranya, dengan menekankan bahwa Perusahaan ini telah berbaik hati menjalankan komitmen sosial selama dua tahun. Dalam rangka mencapai tujuan itu, tentunya mulai dari headline, body copy, hingga ilustrasi harus mendukung objective di atas. Beberapa hal yang menarik untuk dikritisi oleh pembaca setidaknya ada tiga hal:

1. Penggunaan kata “bantuan”: Pada alinea ketiga terdapat kalimat “Pemberian bantuan sosial bagi warga…menurut Perpres No.14 2007 dibebankan kepada Lapindo…” Pertanyaannya: apakah istilah “bantuan” berasal dari Perpres? kalau ya, seharusnya pembuat Perpres lebih berhati-hati untuk memilih kata bantuan. Kata “bantuan” seharusnya hanya digunakan untuk sesuatu yang sukarela atau tidak wajib. Apabila Perpres menggunakan istilah itu, seharusnya sifat aturan itu tidak boleh mengikat. Ataukah istilah itu berasal dari penulis naskah/ copy writer iklan ini?

2. Sub Judul “Kepedulian Moral dan Kemanusiaan”: Di atas alinea ke-6 terdapat subjudul “Kepedulian Sosial dan Kemanusiaan”.  Penggunaan kalimat ini seakan-akan ingin menciptakan image bahwa apa-apa yang dilakukan oleh Lapindo terkait dengan kewajiban yang diatur oleh Perpres No.14 adalah suatu hal yang sukarela semata. “Kewajiban” dan “Kepedulian” adalah dua hal yang sangat berbeda. Menurut kami penggunaan istilah “kepedulian moral dan kemaniusiaan” tidak akan dipilih oleh penulis naskah iklan ini, kalau saja dia mau mengingat betapa banyak penderitaan yang ditanggung oleh begitu banyak penduduk Sidoarjo. Penderitaan yang tidak dapat ditutupi oleh transaksi jual-beli yang terpaksa dilakukan oleh para penduduk.

3. Penggunaan kata FAKTA: penggunaan kata “FAKTA” untuk menyatakan bahwa pemikiran yang diungkapkan sudah sangat benar. Misalnya pada alinea kesembilan: “Fakta pada tanggal 27 Mei 2006 telah terjadi gempa Yogya, fakta semburan lumpur Sidoarjo terjadi sekitar pukul 09.00 pagi, Senin 29 Mei 2006”. Kedua fenomena (gempa dan semburan) disebutkan dengan diawali kata “FAKTA” kemudian disusun berurutan, seakan-akan dua fakta yang benar terjadi ini terkait prinsip sebab-akibat. Untuk memperkuat kedua “Fakta” itu, kalimat berikutnya menjelaskan bahwa lokasi semburan berjarak 200 meter dari lokasi pengeboran: “Lumpur panas menyembur di area persawahan di Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, persisnya di satu titik yang berjarak 200 meter dari lokasi sumur eksplorasi Banjarpanji-1 yang terletak di desa Renokenongo.”

Sesunguhnya kalimat terakhir di atas melecehkan intelektual pembaca. Seakan-akan logika pembaca tidak mungkin dapat memahami bagaimana sebuah penggalian disatu titik, dapat berhubungan dengan titik lain di permukaan tanah yang berjauhan, dihubungkan melalui jalur atau retakan-retakan di bawah tanah. Alinea tersebut kemudian ditutup dengan kalimat “….faktanya sebagian besar ahli justru berkesimpulan bahwa semburan lumpur itu merupakan fenomena alam yang disebut mud volcano”. Kata “FAKTA”, lagi-lagi digunakan untuk menjelaskan bahwa seakan-akan pembuat iklan ini sudah membuat sensus  diantara para ahli geologi (di seluruh Indonesia atau seluruh dunia?) untuk menemukan “FAKTA” bahwa lebih banyak ahli yang mendukung pendapat semburan lumpur Lapindo bukan human error. Mungkin yang dimaksud dengan kata “sebagian besar ahli” didasarkan pada seminar yang diadakan oleh pemasang iklan dengan mengundang dan mengekspose ahli-ahli geologi – yang tentunya telah diseleksi sesuai sesuai kepentingan panitia. Apakah para ahli seperti Professor Davies di atas termasuk dalam kategori “sebagian besar” itu?

 

4. Ilustrasi Pintu Gerbang Resettlement: Ilustrasi yang dipilih oleh iklan ini menggunakan artist impression, yang biasa dibuat untuk menampilkan sebuah desain dari proyek yang belum jadi. Tampilan gambar pun memperlihatkan pemandangan yang tidak kalah indah dengan sebuah pasar malam, dengan kembang api yang indah. Masalah lain, pada caption dari ilustrasi itu hanya tertulis: “Pintu gerbang resettlement warga korban lumpur”. Secara etika seharusnya ditulis “Artist impression dari pintu gerbang….” sehingga pembaca dapat menyadari bahwa obyek yang sesungguhnya belum jadi, atau dapat berbeda dari gambar tersebut.

 

Kesimpulan

Bila dikritisi dengan seksama nampak bahwa iklan perusahaan yang berbentuk advertorial (istilah yang berasal dari advertising dan editorial) “Dua Tahun Komitmen Sosial Lapindo di Sidoarjo” mengandung kelemahan-kelemahan yang cenderung menyesatkan persepsi pembaca mengenai apa-apa yang terjadi di Sidoarjo. Tentunya hal ini adalah wajar dalam bisnis periklanan, bahwa tidak ada iklan yang secara obyektif berusaha menampilkan plus-minus/ strength- weakness dari produk atau lembaga yang diiklankan secara imbang. Hal ini secara manusiawi tentulah wajar, mengingat takkan ada orang yang mau mengeluarkan uang untuk membeli space di media untuk menunjukkan kelemahan atau kekurangannya. Apapun istilah strateginya, Unique Selling Proposition/ USP ataupun Positioning, sebuah iklan pastilah berusaha menampilkan sesuatunya menguntungkan bagi sang klien pemasang iklan. Namun bila ada iklan yang berupaya menyesatkan persepsi publik harusnya tidak layak untuk kita anggap wajar.  Apakah iklan-iklan yang -setidaknya “dicurigai berpotensi” – menyesatkan persepsi publik seperti di atas, dapat dikategorikan melanggar Etika Periklanan yang disusun oleh Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I)? Mungkin hanya P3I lah yang layak untuk menilai lebih lanjut

Arief Adityawan S.

Baca juga artikel lain yang membahas tentang iklan Lapindo ini:

Lapindo berdusta lagi 

Dalam artikel “Lapindo berdusta lagi” yang dimuat di situs www.satudunia.net ini tertulis:

BPK menemukan dokumen Berita Acara Penanggulangan Kejadian Semburan Lumpur di keitar lokasi sumur Banjar Panji -1 (BJP-1) tanggal 8 Juni 2006 yang telah ditandatangani oleh Lapindo dan BP Migas. Dokumen itu menyebutkan bahwa BP. Migas maupun Lapindo telah sepakat bahwa semburan tersebut akibat underground blow out.

Selain itu BPK juga menemukan fakta berupa surat dari Dinas Survei dan Pemboran BP Migas yang dilampiri penjelasan tertulis dari Edi Sutrisno, Senior Drilling Manager PT. Energy Mega Persada, Tbk. Fakta itu menjelaskan bahwa proses pencabutan pipa dan mata bor dari kedalaman 7.415 kaki pada tanggal 28 Mei 2006 pagi telah menyebabkan well kick (Tekanan zat alir dari formasi terhadap sumur) yang terlambat diantisipasi. Kick, erupsi atau dorongan aliran lumpur pemboran akibat masuknya tekanan zat alir dari formasi ke lubang sumur, baru diidentifikasi pada kedalaman 4.241 kaki.

Baca juga berita tentang penelitian Richard Davies di:

reuters.com

sciencedially.com

6 responses to “Advertorial Lapindo Menyesatkan?

  1. sampai detik ini saya masih heran. apa susahnya bagi pak Bakrie itu untuk membayar Lapindo. sebagai oorang terkaya se Asia Tenggara hal tersebut tidak akan membuat dia miskin.
    *geleng geleng kepala*

  2. hai, slam kenal kpd grafis sosial

    saya hage anak ilmu komunikasi undip’07

    sebenarnya tau blog ini karena tugas kampus, tp ternyata asik juga,…
    selanjutnya..
    begini pd awalnya saya dan temen2 sekelas dapat tugas dari seorang dosen untuk membuka web ini dan menganialis mengenai iklan advertorial lapindo di tabloid tempo (seperti yang diatas) terhadap krisis yang dihadapi lapindo, namun ternyata tumnailnya klo dibuka tulisannya/isinya ngga kelihatan untuk dibaca…
    saya telah berusaha mencari majalah dengan edisi tersebut, dari toko buku, agen majalah, hingga pasar loak buku bekas, tapi kok tetep g ada, (karena udah lama kali ya, ngga terlalu lama deng)…

    terus…

    apakah saya boleh meminta file asli dari advertorial
    tersebut, yang sekiranya bisa dibaca isinya…

    terimakasih sebelumnya bagi para admin blog ini…

    alamat email saya teguh.alfi@gmail.com

  3. grafisosial

    Besok Kami akan coba kirim ke anda file hi-res nya ya.
    Terima kasih untuk perhatiannya.

  4. Mas, mas…

    tulisannya menarik… boleh kah saya meminta advertorialnya untuk dijadikan materi take home UAS.

    Sedang membahas etika jurnalisme vs etika periklanan, nih mas… hehe buat besok (15 desember jam 12 siang).
    semoga dirimu masih OL siaga…

    boleh minta kirimkan lewat email tak yah?

    email saya di emelia_lionhearty@yahoo.com

    tgkyuuuu

    salam.

  5. silakan, selama Emelia menyebutkan sumber referensi, dan hasil UAS nya jauh lebih baik dari bahasan yang ada di jurnal ini. terima kasih.

  6. Pingback: (Mungkin) Foto Jurnalis Paling Dramatis Tahun Ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s