Jual Kecap di Hari Kebangkitan Nasional

   

Para politikus sibuk berupaya menampilkan citra dirinya sebagai seorang pemimpin yang berwibawa. Berbagai kesempatan digunakan untuk tampil. Hari kebangkitan Nasional 20 Mei yang lalu misalnya, menjadi sarana Soetrisno Bachir untuk menampilkan dirinya. Dia memanfaatkan penggalan kata-kata dari puisi Chairil Anwar yang berbunyi “Sekali berarti sudah itu mati”. Iklan ini kemudian disambung dengan iklan lain dengan judul “Hidup adalah perbuatan”. Berbagai media komunikasi dimanfaatkan, mulai dari iklan cetak (di surat kabar dengan ukuran satu halaman penuh berwarna) hingga kemudian juga billboard di beberapa titik di ibu kota Jakarta. Namun ironisnya beberapa hari kemudian pihak Pemda DKI mencopot billboard PAN itu karena belum mengurus ijin dan membayar pajak pemasangan.

 

Pertanyaannya, apakah pertimbangan PAN menampilkan citra wajah sang pemimpin sedemikian masif? Apakah dengan penampilan demikian akan meningkatkan citra partai atau justeru menjadi bahan cemooh: “perbuatan” signifikan apa yang telah dilakukan oleh PAN? Andaikan saja wakil rakyat dari PAN terkenal sebagai wakil rakyat yang selalu menolak ‘uang amplop’ pada tiap-tiap pembahasan RUU di DPR, andaikan saja para politikus PAN terkenal paling keras memperjuangkan nasib korban lumpur Lapindo baik secara politis maupun fisik di tempat-tempat pengungsian mereka. Bila telah banyak sikap dan komitmen pada nasib rakyat ditunjukkan oleh PAN, maka bolehlah PAN memasang iklan yang heroik itu.

 

 

Pertanyaan lainnya, adalah siapa yang ingin diiklankan: seorang Soetrisno Bachir kah, atau partai yang dipimpinnya? Mengingat kini demikian banyak figur-figur politikus, baik yang sedang, pernah, maupun belum menjabat di pemerintahan, mulai tebar-pesona melalui desain grafis di media massa. Bisa jadi itu adalah investasi citra untuk Pemilu 2009, atau bahkan Pemilu 2014.

 

Selain PAN, tidak ketinggalan PDI-P menampilkan Megawati Soekarnoputri juga memanfaatkan momentum Kebangkitan Nasional untuk “berjualan kecap”. Sebuah baliho besar dimuka gedung DPR Senayan terpasang menampilkan wajah Megawati. Pada latar-belakang tampak citra Soekarno sang Proklamator. Strategi yang memanfaatkan citra besar ayah dari Megawati untuk disandingkan dengan citra mantan presiden Megawati, tampaknya masih dianggap ampuh oleh PDI-P. Tentunya strategi propaganda demikian akan mudah berhasil apabila kapasitas dan kehebatan keduanya sangat mirip. Namun bila kesenjangan diantara keduanya sangat lebar, maka strategi demikian dapat menjadi bumerang. Tidak berapa lama muncullah iklan dari partai pecahan PDI-P, yaitu PartaiDemokrasi Pembaruan (PDP). Iklan satu halaman koran itu berbunyi: “Anak muda, saatnya melawan kepemimpinan berbudaya feodal”. Mungkinkah iklan tersebut merupakan upaya-upaya untuk mengkritik kepemimpinan Mega di PDI-P? Entahlah.

 

Arief Adityawan S.

2 responses to “Jual Kecap di Hari Kebangkitan Nasional

  1. sepertinya perlu diadakan kampanye non partai..
    kampanye yang mengingatkan hati nurani!

  2. Ayo bung kita ramaikan dunia desain grafis menjelang Pemilu 2009, agar menjadi penawar dari propaganda dan pembodohan yang dilakukan oleh para politikus busuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s