9808 Versus Lupa

Namanya Sugiharti Halim. Dia dilahirkan di Indonesia dari kedua orang tua yang berasal dari suku Tionghoa. Setelah mengkudeta Soekarno, salah satu peraturan pemerintah yang diterbitkan pertama kali oleh Soeharto adalah mewajibkan penduduk Indonesia dari suku Tionghoa untuk mengganti nama mereka dengan nama yang berbunyi, berkesan Indonesia. Sebagai contoh misalnya, orang Tionghoa dari marga Liem harus mengganti namanya menjadi Halim. Sugiharti Halim bercerita bagaimana dia selalu ditanya oleh para petugas kelurahan ataupun imigrasi, “siapa nama asli kamu”. Mereka tak percaya ketika dikatakan bahwa nama aslinya Sugiharti Halim. Kemudian dia ditanya tentang Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia (SBKRI). Dia tidak memiliki SBKRI karena ayahnya telah memilikinya,  sayangnya SBKRI tak pernah ditemukan setelah ayah Sugiharti wafat. Tentu saja pada akhirnya uang juga lah yang dituju oleh sang petugas. Sungguh ironis bahwa hanya suku Tionghoa sajalah yang diminta untuk berganti nama, sedangkan suku bangsa lain seperti Arab dan India tak pernah diminta mengganti nama mereka menjadi nama yang berbunyi nama Indonesia.

 

Film berjudul Sugiharti Halim – disutradarai oleh Ariani Darmawan – menggambarkan seorang perempuan yang berbicara langsung menghadap kamera, seakan-akan dia berbicara pada penonton. Fokus pembicaraan hanya satu: Bagaimana dirinya mendapat nama “Sugiharti Halim”, serta apa dampak dari pemberian nama itu. Baru kemudian penonton tahu bahwa Sugiharti ternyata sedang berbincang dengan pacarnya di sebuah restoran. Hampir seluruh film ‘Sugiharti Halim” berisi tentang perbincangan yang hampir bersifat satu arah. Hanya pada beberapa shot terakhir saja sang pacar – yang telah berganti beberapa kali – diberi kesempatan berbicara. Film ini sangat kuat dalam dialognya. Kalimat-kalimat yang digunakan oleh Sugiharti (diperankan oleh Nadia Maria) sangat menarik dan persuasif. Nadia sebagai pemeran Sugiharti pun membawakannya dengan gaya yang sangat alamiah. Teknik editing dari Astu Prasidya pun sedemikian rupa mulusnya sehingga mampu mengusir kebosanan penonton.

 

Selain film pendek berjudul Sugiharti Halim, juga terdapat sembilan buah film-film pendek lainnya yang bercerita seputar kejadian reformasi dan tragedi Mei 1998. Menurut penuturan Prima Rusdi – salah seorang penggagas dan produser, film 9808 ini adalah proyek mendadak dan spontan, sehingga tidak memiliki dana khusus dan besar. Kesepuluh sutradara membiayai filmnya sendiri demi sebuah keinginan untuk menceritakan kembali apa yang mereka alami dan seputar tragedi 13-14 Mei 1998 (Untuk memahami lebih jauh tentang latar belakang film ini silakan baca pada link http://www.9808films.wordpress.com).

 

Film ini dibuka oleh sebuah film berjudul “Sedang apa saya saat itu”, yang disutradarai (sekaligus produser dan penulis) Anggun Priambodo. Film pendek ini juga menarik karena dituturkan oleh “orang biasa”, mereka yang selama ini namanya tidak pernah muncul di media massa sebagai selebritis politik ataupun selebritis entertainment. Mereka bercerita dari sudut pandang masing-masing pada Mei 1998 itu, mulai dari pelajar SMP, Mahasiswa di dalam negeri, mahasiswa di luar negeri, pekerja biro iklan multinasional, dan lain sebagainya. Karena menggunakan sudut pandang “orang biasa” itulah maka film ini dengan mudah mengajak penonton untuk menanyakan hal yang sama pada dirinya: “Sedang apa saya saat itu?”.

 

Film “Yang belum Usai” adalah sebuah film dokumenter karya sutradara Ucu Agustin. Film ini bercerita tentang perjuangan seorang ibu dari mahasiswa Atmajaya yang tewas dalam peristiwa Semanggi II pada tahun 1998. Ibu Sumarsih adalah nama dari ibunda Wawan mahasiswa yang ikut berdemonstrasi dan ditembak oleh Polisi di bawah jembatan Semanggi. Film ini mampu menyentuh empati karena berhasil menangkap ketulusan seorang ibu dalam memperjuangkan keadilan bagi buah hati kesayangannya.

Hingga kini Ibu Sumarsih terus berjuang menuntut keadilan hingga kasus penembakan oleh aparat negara ini dapat terkuak. Sang ibu beserta suami dan bersama Jaringan Solidaritas Keluarga Korban telah 65 kali melakukan aksi damai tiap Kamis sore, berdiri diam di muka Istana Merdeka sebagai ungkapan protes (baca tentang aksi damai kamisan di rubrik/kategori “Aksi Damai Kamisan” – pada Jurnal Grafisosial ini). 

 

Terakhir film 9808 ditutup oleh sebuah film karya sutradara Steven Pillar berjudul “Sekolah Kami, Hidup Kami”. Film ini bercerita tentang bagaimana siswa-siswa OSIS sebuah SMU di Surakarta – sekian tahun sesudah reformasi – berjuang memberantas korupsi yang dilakukan oleh Kepala Sekolah dan beberapa guru mereka. Dengan kepolosannya, siswa-siswa SMU ini menceritakan bagaimana perjuangan mereka hingga berhasil mengadakan unjuuk rasa dalam bentuk “sidang terbuka” terhadap para guru mereka. Secara simbolik film penutup ini berupaya memberikan semangat optimis bahwa reformasi 1998 memberikan hasil yang positif dikalangan generasi muda indonesia. Mereka berani dan mampu melawan aksi KKN yang dilakukan oleh pihak berwenang dalam lingkup yang terdekat dan nyata disekitar mereka.

 

Secara keseluruhan Film 9808 sangat menarik untuk ditonton oleh siapapun yang tidak ingin tertelan lupa. Tanpa mengurangi rasa kagum dan apresiasi penulis pada film-film lainnya, mengingat keterbatasan ruang penulis hanya dapat menceritakan empat film pendek saja dari sepuluh film pendek dalam 9808. Namun jelas bahwa film 9808 menjadi tonggak pengingat siapapun, bahkan mereka yang masih kecil ataupun belum lahir pada tahun 1998, bahwa ada peristiwa penting yang tak boleh dilupakan, yang mengubah nasib banyak orang di Indonesia – nasib bangsa ini. Selain karena ini adalah satu-satunya film yang muncul untuk memperingati tragedi kemanusiaan 13-15 Mei 1998, juga karena semangat dan mutu film ini sulit untuk diabaikan dan dilupakan, walau bulan Mei telah berlalu satu minggu.

 

Arief Adityawan S.

 


  Keppres No. 127/U/Kep/12/1966

2 responses to “9808 Versus Lupa

  1. top markotop!

    makin ingin menonton mereka..
    dimana bisa mendapatkan ‘copy’nya ya? apakah sudah dipasarkan?

    saya dengar juga soal film ‘May’.. apakah sudah dapat dibuat resensinya? hihi

    tetap semangat!

  2. Banyak pertanyaan terkait format dvd. silakan hubungi Prima Rusdi di proyek.payung@gmail.com. Bisa mengundng screening film itu di tempat masing-masing. Untar misalnya, berniat mengundang screening bulan agustus/ terimakasih bung!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s