Propaganda hitam untuk Islam

Foto dari: http://www.aksidamai.blogspot.com

 

Berita duka tanggal 1 Juni 2008 malam ketika seorang kawan mengirim SMS tentang aksi anarkis berupa penganiayaan oleh organ Front Pembela Islam (FPI) terhadap warga yang tergabung dalam Aliansi Kebangsaan  untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang sedang melakukan aksi damai. Akibatnya sejumlah orang dari AKKBB mengalami luka yang cukup serius dan dirawat di berbagai rumah sakit. Hal yang lebih menyedihkan, walaupun Polisi hadir ditempat kejadian, namun tidak berhasil mencegah atau menangkap langsung pelaku tindak anarki dan penganiayaan. Informasi dari salah seorang anggota AKKBB menyatakan bahwa satu truk berisi Polisi meninggalkan lokasi sebelum terjadinya serangan. Tampaknya kredibilitas Polisi perlu dipertanyakan. Kita dapat membandingkan dengan aksi yang dilakukan oleh Polisi terhadap mahasiswa yang berunjukrasa di Universitas nasional beberapa waktu yang lalu – padahal tidak terbukti melakukan penganiayaan dan anarki terhadap warga sekitar.

Dari sudut pandang komunikasi sosial, hal ini adalah propaganda hitam yang mencoreng nama Islam sebagai agama damai. Mengapa? pertama karena penanda yang digunakan oleh FPI, khususnya kata “ISLAM” sebagai nama kelompok atau organisasi, kedua penanda berupa pakaian yang selama ini dekat dengan citra keislaman yaitu sorban dan baju santri/ ghamis . Sementara itu dalam prakteknya – yang sering dianggap sebagai esensi atau petanda – kelompok FPI melakukan tindak  anarkis. Hal ini menjadi pukulan berat bagi citra keislaman yang sedang terpuruk oleh berbagai aksi terorisme yang juga banyak mengatasnamakan Islam. Terakhir dari negeri Belanda terdengar propaganda hitam yang dilakukan oleh orang Belanda berupa film berjudul Fitna. Belum lagi dengan tindakan perusakan yang dilakukan atas nama Islam terhadap berbagai rumah ibadat Ahmadiyah, ataupun sebuah gereja di sekitar Parung – Bogor. Bahkan tindak kekerasan FPI pun sempat membuahkan aksi kekerasan lain – walaupun dalam skala kecil – dari Ormas dalam lingkup Nahdatul Ulama yang terkenal pluralis.

Setiap agama memang terdapat sayap-sayap yang ‘aliran keras’ seperti juga di Irlandia misalnya. Namun apa yang terjadi pada agama Islam sebagai agama perdamaian dan agama jalan tengah sangatlah berat sejak peristiwa 9/11 di AS. Tampaknya seluruh umat Islam perlu bekerja keras bersama untuk kembali menampilkan citra Islam sesungguhnya: sebagai agama/din perdamaian. Jangan sampai citra Islam dibajak oleh aksi preman-preman yang mengatasnamakan agama. Kerja keras untuk melakukan kontra propaganda tidak bisa dilakukan hanya melalui media komunikasi biasa, namun perlu diaplikasikan dalam bentuk tindakan dan praktek yang mencerminkan Islam sebagai agama damai pembawa rahmatan lilalamin – rahmat dan kebaikan bagi seluruh manusia dan semesta. Karena seampuh-ampuhnya desain grafis sebagai media komunikasi, tetaplah tindakan nyata memiliki kemampuan pencitraan yang paling besar. Namun setiap individu warga Indonesia tampaknya perlu terus-menerus mempropagandakan kehidupan tanpa kekerasan melalui bidang profesi dan keilmuan masing-masing – dalam konteks Jurnal ini adalah profesi desain grafis.

Bagi Pemerintah dan aparat penegak hukum, perlu bekerja keras untuk membuktikan bahwa republik dibawah pimpinan SBY-JK ini adalah republik hukum dan beradab, bukan republik anarki. Bahkan bila perlu SBY harus menegur Kapolda yang terbukti tidak mampu menegakkan supremasi hukum di ibukota, apalagi kejadiannya hanya beberapa ratus meter dimuka Istana negara, simbol kekuasaan dan pemerintahan SBY. Memang pada akhirnya – setelah desakan dan pernyataan SBY di media massa – Polisi berani bertindak menangkap para tersangka pelaku tindak anarkis dari FPI.

Kesimpulannya, agar tercipta negeri Indonesia yang terbuka, toleran dan demokratis, dibutuhkan tidak saja kemampuan dialog dan sikap toleran dari tiap warga, namun juga kemampuan pemerintah, khususnya para penegak hukum, untuk mencegah, mengendalikan, dan menindak tegas aksi kekerasan/anarki yang dilakukan sewenang-wenang. Sosiolog dan direktur yayasan Nurani Dunia Imam B. Prasodjo dalam sebuah acara TV, menyatakan bahwa Pembubaran FPI bukan solusi. Organisasi bisa berganti nama dengan mudah sebagaimana Partai Demokrasi Indonesia (PDI) menjadi PDI-Perjuangan atau Partai Keadilan (PK) menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Masalahnya adalah bagaimana konsistensi Polisi dalam menindak tegas tiap tindak kekerasan dan kejahatan. Dari sudut edukasi publik perlu dipikirkan bagaimana menanamkan budaya anti-kekerasan diseluruh lapisan masyarakat Indonesia, agar budaya amuk tidak lagi menjadi ciri khas bangsa Indonesia, baik masyarakat umum maupun aparat penegak hukum. Mungkinkah profesi desain grafis dapat berperan untuk membangun masyarakat yang plural, terbuka, dan cinta damai?

Arief Adityawan S.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s