Unjuk Rasa Tolak Kenaikan Harga BBM

Rabu 21 Mei 2008 adalah sepuluh tahun turunnya Soeharto dari kekuasaannya. Namun pada hari itu di Jakarta dan di banyak kota seluruh Indonesia diwarnai dengan aksi unjuk rasa masyarakat untuk menolak kenaikan harga BBM. Di Jakarta aksi unjuk rasa dipusatkan di depan Istana Negara.  Dalam aksi tersebut terjadi beberapa bentrokan terbatas antara pengunjuk rasa dengan polisi.  Perlu dipuji cara penanganan Polisi dalam demonstrasi di muka Istana Negara yang relatif profesional, sehingga aksi unjuk rasa tetap berjalan hinga menjelang matahari terbenam.   Namun pada aksi unjuk rasa di kampus Universitas Nasional, pada Sabtu pagi 24 Mei yang lalu, pecah konflik terbuka antara Polisi dan Mahasiswa. Bahkan bentrokan itu menyebabkan polisi menyerbu kampus Unas sehingga terjadi kerusakan parah pada berbagai fasilitas kampus – diperkirakan mencapai Rp.600juta. Ujungnya terjadi penahanan puluhan demonstran, yang dituduh anarkis dan memiliki granat nanas, serta berbagai jenis Narkoba dan minuman keras – entah benar atau tidak.  Sementara itu  Menko Politik, Hukum, dan Keamanan, Laksamana (Purn.) Widodo A.S. menyatakan “ada pihak-pihak yang mendorong terjadinya aksi anarkis dan tindak kekerasan  untuk membenturkan pengunjuk rasa dengan aparat demi kepentingan tertentu.” Sebaliknyaa juru bicara mahasiswa Unas, Ali Nugroho, dalam dengar pendapat dengan komisi Hukum DPR menyatakan bahwa “Kami benar-benar murni menyalurkan  aspirasi persoalan rakyat”.  Komnas HAM kemudian membentuk Tim Pemantauan dan Penyelidikan yang diketuai anggota Komisi Nurcholis. (Koran Tempo  27 Mei 2008). Aktivis HAM dari LBH Jakarta, Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia, dan LBH Masyarakat dalam jumpa Pers di Jakarta meminta Kepala Polres Jakarta Selatan Kombes Chairul Anwar dinonaktifkan karena tidak mampu menguasai keadaan (Kompas, Selasa 27 Mei 2008).

Dari sudut pandang sosial ada dua hal yang perlu diungkapkan, Pertama tentu saja kejadian ini sangat disayangkan, mengingat kampus adalah sarana pendidikan publik yang meriupakan wilayah kebebasan intelektual dan akademis. Sehingga para penegak hukum bersama para wakil rakyat, atau pihak lain yang berwenang merancang UU, perlu duduk bersama untuk merancang undang-undang atau prosedur tetap bagi polisi untuk menangani kasus pidanan di kampus. Ada baiknya pihak pihak pemerintah, khususnya aparat keamanan, tidak lagi berlindung dibalik alasan “kondisi psikologis pasukan yang lelah dan emosinya tersulut provokasi mahasiswa” menyebabkan pasukan menyerbu dan merusak kampus.  Bagaimana pun mahasiswa tidak dapat disamakan dengan penjahat, terlebih lagi dalam aksi unjuk rasa yang membela kepentingan bangsa ini.

 

Kedua, sudah bukan waktunya pemerintah mengunakan alasan “demo ditungangi pihak lain” karena hal itu sama saja dengan menghina intelektual mahasiswa. Kerjasama dan saling mempengaruhi dalam peristiwa reformasi 98 tidak bisa dipungkiri pasti terjadi dan memang terlihat nyata. Hal tersebut sudah wajar dalam sebuah proses pembentiukan  wacana publik. Oleh karena itu pemerintah tidak perlu lagi mengunakan istilah represif dari jaman Orde Baru itu, kecuali masih ingin disebut sebagai pemerintah penerus Orde Baru.

 

Ketiga, Kepada mahasiswa kembali perlu ditekankan pentingnya aksi tanpa kekerasan (non-violence act). Diduga sebagian elemen dalam aksi unjuk rasa sengaja menggunakan strategi chaos dan konflik secara langsung demi menciptakan publikasi media massa yang sangat penting. Namun sesungguhnya strategi demikian dapat menjadi bumerang bagi tujuan penting demonstrasi. Aksi kekerasan dalam demonstrasi hanyalah akan menciptakan lingkaran kekerasan yang tak berujung pangkal. Pada dasarnya aksi unjuk rasa yang bersifat anarkis bukanlah cara yang humanis untuk dilakukan.

 

 

Desain Grafis untuk Unjuk Rasa

Media propaganda yang digunakan mulai dari bendera-bendera organisasi dan gerakan, kostum demonstran (jaket almamater kampus, kaos/ t-shirt organisasi, ikat kepala), poster, spanduk, hingga baliho yang dicetak digital. Salah satu media propaganda yang menarik, karena tampaknya diproduksi dalam jumlah cukup banyak, adalah poster-poster yang dibuat atas nama Front Pembebasan Nasional.

 

Poster-poster ini direproduksi di atas kertas coklat dan putih. Desainnya pun terdiri dari, setidaknya, tiga jenis. Sesungguhnya perbedaan desain disini lebih kepada perbedaan judul dan teks dari poster tersebut. Misalnya, poster pertama berjudul “Gagalkan Kenaikan Harga BBM!!!”, dengan sub-judul “Ambil Alih Industri Migas di Bawah Kontrol Rakyat”, dan “Penjajahan Modal, Elit Politik & Parpol, Menyingkirlah!!!”. Sesuai dengan fungsinya judul dan sub-judul dibuat sangat provokatif, singkat dan lantang. Pada desain poster lainnya, su-judul pada poster pertama dijadikan sebagai judul: “Ambil Alih Industri Migas… Di Bawah Kontrol Rakyat!!! Kemudian desain poster ketiga berjudul “Penjajahan Modal, Elit Politik & Parpol, Menyingkirlah!!!”. Namun ketiga jenis poster di atas, menggunakan ilustrasi yang sama – gambar stilasi dari sekelompok orang sedang berdemonstrasi. Disinilah masalahnya, karena poster ini dirancang sebagai poster untuk kebutuhan demonstrasi maka terjadilah pengulangan yang tak perlu dan mubazir (redundant). Nilai simbolik dari ilustrasi tersebut menjadi hilang sama-sekali ketika disandingkan dengan realita yang dasyhat: massa yang berdemonstrasi – bukan sekedar representasi demonstran. 

 

Tampaknya berbagai elemen masyarakat perlu berkoordinasi dalam merancang desain grafis untuk unjuk rasa sehingga dapat menciptakan desain  yang komunikatif sekaligus kreatif. Diharapkan desain-desain yang dirancang dengan baik dapat menjadi “official icon” untuk tiap isu yang diusung dalam sebuah aksi unjuk-rasa. Kerjasama dapat dilakukan dengan memanfaatkan jaringan mahasiswa dari tiap perguruan tinggi yang memiliki fakultas seni rupa dan desain, khususnya program studi atau jurusan Desain Grafis. Hal ini adalah salah satu cara meningkatkan mutu ‘seni komunikasi’ dalam aksi unjuk rasa.

Teks: Arief Adityawan S. | Foto: Kurnia Setiawan 

GALERI FOTO UNJUK RASA (1) OLEH KURNIA SETIAWAN

 

 

GALERI FOTO  UNJUK RASA (2) OLEH ARIEF ADITYAWAN S.

Ikat kepala ibu dan anak   

   

  

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s