Deklarasi Gerakan Nasional Tidak Pilih Politisi Busuk: Sebuah Tantangan Komunikasi dengan Publik

 

Politikus busuk adalah  Politikus yang:

  1. Boros, tamak dan korup
  2. Penjahat dan pencemar lingkungan
  3. Pelaku kekerasan HAM, atau yang memberikan perlindungan bagi pelanggar HAM
  4. Pelaku kekerasan terhadap KDRT dan diskriminasi terhadap hak-hak perempuan
  5. Pemakai Narkoba dan pelindung bisnis Narkoba
  6. Pelaku penggusuran dan tindakan yang tidak melindungi hak-hak ekonomi, sosial dan politik kaum petani, buruh dan rakyat miskin kota

Oleh karena itu Gerakan Nasional Tidak Pilih Politikus Busuk  (GANTI POLBUS) meminta:

  1. Elit politik dan partai politik untuk sesegera mungkin membenahi mekanisme rekruitmen internal, menghilangkan praktek “dagang sapi” dan mencalonkan kader-kadernya yang berintegritas.
  2. Elit politik dan Partai politik untuk sesegera mungkin memproses kader-kadernya yang diduga bermasalah dan busuk dengan sanksi yang tegas. Parpol yang diam, akan mewarisi aroma kebusukan yang sama. Mekanisme internal harus berjalan dan Parpol harus mendukung proses hukum atas kader-kadernya yang bermasalah.
  3. Masyarakat pemilih untuk memberikan sanksi bagi politikus busuk dalam bentuk tidak mendukung, mendanai dan memilihnya di dalam Pemilu 2009 nanti.

Butir-butir pemikiran diatas tercantum dalam pamflet deklarasi  yang dibagikan pada Kamis siang, 22 April 2008 di Tugu Proklamasi Jakarta. Jerry Sumampouw sebagai koordinator gerakan menambahkan kriteria Polbus di atas, dalam wawancaranya dengan Koran Tempo (Jumat 23 April 2009),  dengan sifat antipluralisme sebagai sifat busuk yang harus diwaspadai.

 

Menurut Sumampouw dalam pengantar undangannya, agenda terpenting menyongsong Pemilu 2009 adalah memberdayakan pemilih. Pemilih harus memiliki informasi yang cukup guna memilih secara rasional. Disinilah perlunya rekam jejak terhadap calon legislatif dan partai politik, yang akan melihat sejauhmana integritas mereka dalam berbagai isu penting.  Pelaksanaan pemilu yang jurdil serta penyaringan politisi busuk supaya tidak menduduki jabatan publik, diharapkan bisa menjadi pintu masuk bagi mempercepat transisi menuju demokrasi dan keadilan sosial. Teten Masduki, koordinator Badan Pekerja  Indonesia  Corruption Watch yang juga salah-seorang deklarator Ganti Polbus, dalam wawancara dengan Koran Tempo menyatakan bahwa ”Perjuangan untuk melahirkan demokrasi tak boleh dibajak politikus busuk”.

 

Merancang media komunikasi Ganti Polbus

Ada beberapa permasalahan krusial yang harus dijawab oleh Ganti Polbus ini: pertama,  bagaimana pemilih dapat membedakan antara Polbus dengan politikus “baik” dan “segar”. Ganti Polbus, khususnya yang berada di daerah, memang akan merilis daftar nama para Polbus itu. Namun hal ini harus didukung oleh data dengan akurasi tinggi, agar tidak terjadi pembunuhan karakter orang atau politikus yang tidak busuk. Selain itu juga Ganti Polbus harus dapat meyakinkan masyarakat pemilih bahwa Gerakan ini tidak memiliki kepentingan politik tertentu, selain kepentingan tercapainya cita-cita reformasi 1998. Untuk itu masih tersedia waktu satu tahun bagi Ganti Polbus agar dapat merangkul semakin luas, dan semakin beragam tokoh-tokoh masyarakat yang mewakili berbagai kepentingan dan latar belakang sosial politik dan budaya.

 

Permasalahan kedua adalah komunikasi politik. Seindah-indahnya cita-cita Ganti Polbus, tidak akan efektif apabila masyarakat pemilih tidak memahami dan, bahkan,  tidak mengetahui isu yang diusung oleh Ganti Polbus. Dari sekarang, selain tugas investigasi dan pendataan, Polbus harus terus-menerus mempropagandakan cita-cita luhur yang diusungnya.  Hal ini apat dilakukan melalui berbagai jenis media konvensional seperti media cetak: iklan cetak, iklan TV dan radio, poster, pamflet. Hingga media-media mutakhir bergaya viral seperti website, blog, dan berbagai forum-forum diskusi di ruang maya. Tentunya perancangan media edukasi publik ini harus disesuaikan dengan karakteristik pemilih di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui pemilih yang adalah warganegara Indonesia, sebagian besar adalah perempuan. Hal ini juga penting untuk dijadikan dasar  perancangan pesan komunikasi. Khalayak peserta komunikasi sebagaimana dalam proses marketing komersial, secara umum dibagi dalam tiga kelompok status  ekonomi sosial (SES): Menengah-atas (A), menengah (B), menengah-bawah (C). Kelompok kelompok ini memiliki kebiasaan atau perilaku bermedia (media habit) yang berbeda-beda.

 

Tentunya media televisi masih menjadi primadona bagi iklan untuk rakyat pemilih. Hal ini disebabkan karena penyebaran TV yang meluas hingga pelosok desa, ditonton oleh anak-anak hinga orang tua, laki dan perempuan. TV juga dapat mengatasi keterbatasan khalayak yang memiliki budaya baca rendah, karena dengan televisi penonton lebih “dilayani” oleh gambar-gerak, musik, dan suara kata. dalam mengkonsumsi pesan, dibandingkan dengan membaca media cetak. Kendalanya beriklan di media TV adalah biaya airtime yang sangat tinggi.

 

Untuk komunikasi tingkat akar-rumput, tidak bisa tidak komunikasi langsung, tatap-muka masih penting dilakukan untuk mendampingi TV-sang primadona. Akan sangat ideal apabila jaringan kerja Ganti-Polbus dapat merekrut relawan-relawan yang berasal dari kalangan masyarakat madani yang telah jenuh dengan booming politikus-politikus dadakan dan oportunis, maupun politikus lama yang masih bermimpi memimpin (lagi). Mereka tentunya paling banyak ditemui di kantong-kantong perguruan tinggi, melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) maupun organisasi pemuda dan lembaga swadaya  lainnya.

 

Kita dapat membayangkan, berdasarkan pengalaman Pemilu 2004, akan terjadi polusi pesan politik yang sedemikian tinggi di berbagai media komunikasi. Terlebih lagi demikian banyak media-media komunikasi yang dimiliki oleh partai, atau setidaknya tokoh-tokoh partai bermodal besar. Bahkan sebagaimana kita ketahui media-media ini didirikan khusus untuk menyambut Pemilu 2009. Ketika terjadi kejenuhan terhadap pesan politik maka Ganti Polbus harus kreatif menciptakan berbagai media-media alternatif yang murah-meriah  untuk digunakan. Dalam komunikasi periklanan komersial kini dikenal istilah media ambient, yaitu media yang di ciptakan untuk menghadang khalayak sasaran di tempat-tempat mereka berkegiatan. Di mal-mal kita biasa dihadang dengan iklan shampoo hingga di pintu dan di dalam lift. Bahkan di ruang toilet pun iklan siap menghadang.  Ketika kita sedang berjalan dilorong-lorong swalayan pun tak luput dari serbuan iklan. Bahkan media ambient dapat menghadang kita di taman-taman, kolong jalan layang, transportasi publik, serta bebagai sarana publik lainnya. Biro-biro iklan menyadari bahwa khalayak sasaran seringkali menghindar dari terpaan iklan di media cetak hingga TV, berkat teknologi remote control.

 

Penutup

Luasnya lahan komunikasi yang dapat dimanfaatkan oleh Ganti Polbus secara kreatif memang, tidak-bisa tidak membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Hal ini hanya dapat diatasi oleh kerja bersama seluruh lapisan masyarakat sipil yang telah jenuh oleh kebohongan-kebohongan politik yang dilakukan oleb berbagai kalangan, mulai dari eksekutif, legislative hingga yudikatif. Untuk itu jelas, Ganti Polbus harus membangun kepercayaan publik lebih dulu sebagai sebuah gerakan yang membela kepentingan rakyat, bukan kepentingan segolongan kelompok.  Setelah tingkat kepercayaan didapatkan, maka upaya gotong-royong dalam mengedukasi publik akan jauh lebih mudah. Upaya ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh mengingat Ganti Polbus akan bersaing dalam wacana komunikasi massa dengan berbagai pesan-pesan lainnya yang akan dikumandangkan atas nama kepentingan-kepentingan partai politik, individu, bahkan atas nama bangsa, dan rakyat miskin.

Arief Adityawan S. 

Foto-foto hasil reportase Kurnia Setiawan  

 

 

7 responses to “Deklarasi Gerakan Nasional Tidak Pilih Politisi Busuk: Sebuah Tantangan Komunikasi dengan Publik

  1. senang menemukan blog ini. teruslah berkarya, kawan-kawan. salam, y.

  2. grafisosial

    Terimakasih bung Yanuar. Kami siap mendukung GANTI POLBUS. Kita tidak mau negeri ini dibajak oleh Polbus, sebagaimana Senayan dibajak Polbus!

  3. kita tahu.. menyongsong tahun 2009, dimana akan terdapat banyak sekali pembohong-pembohong ‘cap jempol’..

    iklan lewat tv, radio, poster, spanduk, dll akan ada dimana-mana

    mungkin teman-teman di grafisos dapat membantu menemukan media tolak yang efektif? sebuah media komunikasi visual akar rumput yang akut, barangkali?

    tetap semangat!

  4. thanks atas kehadiran blogg ini, lanjutkan

  5. bikin media-media kampanye anti POLBUS yukkk!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s