Pilkada dan Fenomena Budaya Visual: Hade euy!

Kompas Rabu, 16 April 2008 | 01:01 WIB

Matematika Politik Hade

Boni Hargens

 

Pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat mematahkan hitungan para peneliti dan amatan pakar politik. Tidak sedikit pengamat dan lembaga survei mengunggulkan Agum Gumelar-Nu’man.

Kita lihat, polling pra-pilkada selalu mengunggulkan Agum Gumelar-Nu’man (Aman) yang diusung PDI-P dan PPP sebagai pasangan populer. Akan tetapi, kenyataannya, yang unggul adalah pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf (Hade) yang diusung Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

 

Baca Opini Boni Hagens yang bernas, tentang Pilkada Jabar di:

http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.16.01012762

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fenomena Budaya Visual

Kemenangan pasangan Ahmad Heriyawan dan Dede Yusuf menurut Boni Hagens – pengajar Ilmu Politik UI dan Direktur Parrhesia Institute – memunculkan beberapa dugaan penyebab kemnangan: 1) Bukti kemenangan kaum muda, 2) Kaum selebriti berpeluang jadi Politikus, 3) keruntuhan partai tua, 4) keunggulan partai ideologis, 5) Dominasi parokial. Boni Hagens tampaknya cenderung pada kemungkinan terakhir, Politik parokial. Jenis ini ditandai oleh kesadaran politik rendah, pengetahuan kandidat minim, mobilisasi kuat. Hal ini memudahkan selebritis, uang, dan jaringan bosisme menjadi mudah bermain.

 

Hal ini diperkuat pula oleh ulasan di Koran Tempo (Selasa 15 April 2007) yang menceritakan bagaimana ibu-ibu pemilih cenderung pada Dede Yusuf (calon wakil gubernur), tanpa tahu siapa itu Ahmad Heryawan (sang calon gubernur). Dede Yusuf yang akhir akhir ini sering muncul sebagai bintang iklan obat pusing, dianggap sebagai obat pusing bagi ibu-ibu dalam menghadapi keruwetan hidup. 

 

Kemenangan pasangan  Hade ini memang mungkin saja bukan sekedar karena penokohan selebritis, namun dapat karena gabungan variabel-vasriabel yang diungkapkan Boni Hagens.  Kejenuhan masyarakat pada partai tua juga mungkin terjadi. Namun apabila disebutkan sebagai kebangkitan kaum muda, hal ini dapat dipertanyakan, mengingat Indonesia adalah masyarakat feodal dan patriarkal.

Faktor partai tentu menjadi salah satu unsur terpenting – pertama partai yang bersifat ideologis keagamaan PKS memiliki basis massa yang sangat militan.  Hal ini semakin kuat ketika digabungkan dengan PAN yang “membelot”  dari positioning partai intelektual menjadi partai hijau. Kedua, Hade adalah pasangan underdog, yang hanya diusung oleh dua partai yang relatif kecil. Hal mana bisa jadi menimbulkan rasa belas-kasihan dan simpati padas pemilih.

Bila dilihat dari naiknya selebritis lain seperti Rano Karno, Marissa Haque, Angelina Sondaakh, dan Ajie Massaid, maka ini merupakan sebuah cerminan dari kuatnya budaya visual mempengaruhi pemilih – dimana pemilih terbanyak adalah kaum perempuan. Faktor popularitas digabungkan dengan faktor rendahnya pendidikan dan sikap kritis masyarakat Indonesia pada umumnya menjadi sebuah ramuan yang tepat untuk mengangkat pamor para selebritis ke dunia politik. Tinggal masalahnya seberapa baik para selebritis ini melakukan introspeksi diri dan mempersiapkan kualitas dirinya untuk mengemban amanat rakyat yang sedang menderita ini. Akan sangat menyedihkan kalau ternyata mutu para selebritis Indonesia saat ini tidak jauh beda dengan mutu dan tema-tema film dan sinetron Indonesia yang dipenuhi oleh tema-tema horor sundel bolong dan kawan-kawannya (AAS).

One response to “Pilkada dan Fenomena Budaya Visual: Hade euy!

  1. jika perlu diskusi lanjut, saya titipkan no hp 0813.1460.1322 (boni hargens). salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s