Kampus Trisakti Melawan Lupa

trisakti11.jpg 

 

Hampir 10 tahun yang lalu, tepatnya 12 Mei 1998, terjadi penembakan terhadap empat mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta: Elang Maulana, Hafidin Royan. Hendrawan Sie, Hery Hartanto. Keempatnya gugur sebagai pahlawan reformasi, bersama sepuluh mahasiswa lainnya: Dortheys Hiyo Eluway, Muhammad Yusuf Rizal, Yun Hap, Bernadus R. Norma Irawan, Engkus Kusnadi, Heru Sudibyo, Lukman Firdaus, Sigit Prasetyo, Teddy Wardani Kusuma, Moses Gatotkaca. Ke-14 pahlawan reformasi gugur di beberapa kota di Indonesia (baca: www.semanggipeduli.com).

Hingga kini kasus-kasus penembakan itu masih kabur. Kalaupun ada pelaku yang telah dijatuhi hukuman, hanyalah prajurit-prajurit pelaku lapangan. Kesungguhan pemerintah dalam penanganan kasus-kasus penembakan mahasiswa selama reformasi masih harus terus dipertanyakan. Keluarga para pahlawan Reformasi masih berharap bahwa para petinggi yang menjadi dalang penembakan dapat dimejahijaukan (baca kategori Jurnal ini: Aksi Diam Kamisan). Memang hanya dengan cara itulah, praktek kekerasan oleh negara dan praktek impunitas dapat dihindari terulangnya kembali lembaran hitam sejarah bangsa. Dibutuhkan kekuatan masyarakat madani untuk terus mendesak pemerintah menuntaskan kasus-kasus diatas, sebagai sebuah upaya melawan lupa.

 trisakti2.jpg

Hari ini di kampus Trisakti Jakarta telah terpampang baliho besar berwarna merah, sebagai sebuah desain grafis untuk memperingati 10 tahun tragedi Semanggi. Tertulis teks “Kami menangis bukan karena gas air mata, kami menangis karena kami kecewa” Karena warna merah yang dominan serta ukurannya yang besar, baliho ini  menarik perhatian mata. Ilustrasi baliho ini adalah wajah keempat pahlawan Reformasi. Nampaknya desain grafis yang tampil bertujuan untuk mengungkapkan rasa kecewa, dan marah akibat kasus yang tak kunjung tuntas. Dalam penilaian kami gagasan utama (pengusutan tuntas) dari desain grafis ini dapat dikembangkan lebih kreatif agar terbangun empati pada publik. Menampilkan wajah keempat pahlawan tentu saja tidaklah salah, namun perlu dipertimbangkan kemungkinan untuk menciptakan ikon atau bahkan simbol lain yang lebih mampu menggugah ingatan publik. Hal ini agak berbeda dengan tampilan ikon Munir yang wajahnya lebih mudah diingat. Terlepas dari itu upaya pemasangan media untuk melawan lupa ini sungguh patut dihargai.

 trisakti4.jpg

Lebih lanjut kalau kita berjalan masuk ke area parkir kampus itu, terlihat menjulang sebuah monumen untuk kita semua mengingat tragedi 12 Mei itu. Di beberapa titik lain dekat monumen, terlihat lingkaran logam menempel di aspal, sebagai penanda robohnya tubuh para pahlawan. Lingkaran logam itu dirancang sedemikian rupa sehingga mengingatkan kita pada bagian bawah peluru. Dan sentuhan terakhir adalah rangkaian bunga duka cita yang tiap hari selalu diganti dengan rangkaian bunga segar. Upaya-upaya simbolik yang demikian simpatik, diharapkan dapat terus menggugah sikap kritis dan aktivisme mahasiswa Trisakti untuk peduli keadilan dan nasib bangsa ini. Hal mana menjadi tantangan bagi gerakan mahasiswa di berbagai kampus di kota-kota metropolitan seperti Jakarta yang dikelilingi oleh berbagai kemudahan artifisial.

 trisakti3.jpg

Akan sangat berarti bila upaya menciptakan media simbolik yang berfungsi melawan amnesia politik  juga dibangun dalam skala yang lebih luas di luar kampus Trisakti. Misalnya saja pada salah satu titik di lapangan Monas dibangun sebuah monumen peringatan bagi para pahlawan reformasi. Apa gunanya? Monumen pada dasarnya adalah sebuah media komunikasi, sebuah upaya simbolik untuk melawan lupa. Monumen akan mengingatkan kita agar menyelesaikan hutang-hutang sejarah, sehingga kita semua dapat memaafkan kebodohan kita di masa lalu sebagai bangsa, tanpa melupakannya. Hanya dengan mengingatnya kita boleh berharap untuk tidak mengulangi kebodohan di masa lalu. (teks dan foto: a.a.s)

One response to “Kampus Trisakti Melawan Lupa

  1. Pingback: 12 Mei | Azaxs Dot Net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s