Lumpur Pelanggaran HAM

 lump4.jpg

 

Menko Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie memastikan pemerintah tidak akan menambah jumlah desa dalam peta daerah terkena dampak walaupun ribuan warga korban semburan Lumpur Lapindo dari sembilan desa di kabupaten Sidoarjo,  Jawa Timur, menuntut pencantuman desa mereka dalam peta. Alasan Bakrie sederhana: “belum ada laporannya” Di bagian lain dari berita itu Gubernur Jawa Timur Imam Utomo menyatakan ‘Peta terdampak tidak mungkin bisa dimasuki desa  (baru) lagi,’ …. Menurut Imam sulit mengubah luasan peta yang sudah dituangkan dalam peraturan Presiden itu. Lagi pula peta itu memiliki keterikatan dengan Lapindo Brantas Inc. ……. ‘Kalau dimasukkan, Lapindo pasti tidak mau,’ ujarnya” (Koran Tempo, Rabu 26 Maret 2007).

 lump2.jpg

 

 

Penggalan berita berjudul “Kasus Lumpur Lapindo – Pemerintah Pertahankan Peta” pada Koran Tempo tersebut sunguh membingungkan. Ada banyak kejanggalan-kejanggalan “khas Indonesia”  yang secara tersirat dapat kita baca dalam berita itu. Pertama, bagaimana mungkin seorang pemegang saham perusahaan Lapindo yang terkait dalam kasus Lumpur ini  masih tetap aktif menjabat sebagai menko yang mengurus kesejahteraan rakyat – sekaligus berkomentar mengenai kasus Lumpur itu. Pertanyaannya adalah : Dalam kapasitas apakah dia memberikan pernyataan tersebut:  Menteri atau pemegang saham Lapindo? Secara etis seharusnya Presiden menonaktifkan Bakrie agar tidak terjadi bias kepentingan. Keanehan kedua, adalah alasan Bakrie “belum dapat laporan.”  Pertanyaannya, demikian miskin-informasi kah seorang Menteri? Kalaupun dia sudah membaca di media massa, seharusnya tak perlulah menunggu laporan pejabat berwenang lainnya. Sudah seharusnya sebagai Menko Kesra bersikap proaktif. Keanehan ketiga, Gubernur Jawa Timur menyatakan bahwa kalau peta diperluas, “Lapindo pasti tidak mau.” Apakah Utomo adalah juru bicara Lapindo, sehingga lebih memperhatikan kemauan perusahaan penyebab semburan lumpur, daripada kemauan rakyatnya?

 lump9.jpg

 

Sementara itu, di pengungsian ribuan jiwa terlunta-lunta tanpa ada yang mau bertanggungjawab. Sungguh sebuah peristiwa pelanggaran Hak Asasi Manusia terbesar di era pasca-Soeharto, ketika ribuan kepala keluarga tercerabut dari hak mencari nafkahnya secara paksa. Adapun pemerintahan SBY – JK tak mampu melindungi mereka, bahkan membela korporasi besar dengan mengatakan bahwa semburan lumpur adalah bencana alam. Sungguh negeri yang aneh!

 lump10.jpg 

 

Catatan:

Foto-foto di atas adalah karya Tugas Akhir desainer/fotografer Glenn Stefanus, sebagai persyaratan lulus dari program studi Desain Komunikasi Visual – Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Tarumanagara, Jakarta.  Yang bersangkutan terbuka untuk bekerjasama dengan pihak-pihak yang satu visi untuk memamerkan atau menerbitkan foto-foto itu dalam bentuk buku. 

3 responses to “Lumpur Pelanggaran HAM

  1. Bangsa ini memang benar2 keblenger. Bos perusahaan yang menyebabkan bencana, jadi menteri yang bertanggungjawab untuk ngurusi korban bencana. Konflik kepentingan yang sangat vulgar dan kasat mata ini ternyata tidak menjadikan kita sebagai bangsa malu dan menuntut si bos/menteri untuk mundur (karena berharap si menteri untuk mundur sendiri adalah mimpi di siang bolong). Apatah lagi berharap agar pemerintah berpihak kepada kepentingan korban, halah…

    Salam bingung dari Sidoarjo,

    korban lapindo

  2. Foto-foto yang saya lihat sudah baik, dari kompsisi, dan lightingnya, karena di olah sedikit,foto tersebut seperti bersuara dan mengandung arti di setiap gambar, Hebat gleen, salam

  3. Salut kepada Glen. Tahun lalu dia membuat project Tugas Akhir bidang fotografi dengan mengambil tema; lumpur Lapindo. Hasilnya ternyata luar biasa. Apabila ada pihak yang berminat untuk menerbitkan akan sangat ideal.

    Salam, Kurnia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s