Hapus Tuntas Impunitas

payung11.jpg

Ini adalah cerita yang kita semua sudah tahu: Ratusan ribu hingga 1.5 juta orang tewas terbunuh atau hilang tak tentu rimbanya sesudah peristiwa pembunuhan tujuh jenderal di tahun 1965. Selama tiga dasawarsa peristiwa pembantaian massal terhadap warga yang dituduh sebagai anggota PKI itu ditutup rapat, dikubur dalam-dalam di bawah ingatan kita semua. Sesudah itu yang terjadi adalah pembatasan hak hidup, penghinaan dan penyiksaan psikis terhadap anak, juga anak dari anak, dari orang-orang yang dituduh PKI – baik yang termasuk dalam “1.5 juta orang” di atas atau yang ada di pulau Buru. Diluar dinding kegelapan tadi, kita semua terlarut berpesta dan bernyanyi merayakan kemenangan sang pahlawan hingga bertahun-tahun kemudian. Hal ini masih terus berlanjut dengan kasus lainnya, seperti Tanjung Priok, Talangsari, Semangi I dan II, dan lain sebagainya.

Beberapa hari yang lalu Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menyatakan akan mengusut tuntas peristiwa peristiwa yang dicurigai adalah pelanggaran HAM oleh Soeharto. Termasuk didalamnya adalah pengusutan terhadap penembakan misterius, Daerah Operasi Militer di Aceh dan di Papua – selain pembantaian massal pasca 1965 di atas. Tentu saja ini adalah kabar gembira dan merupakan kemajuan yang sangat berarti Sangat berarti karena sikap yang diambil Komnas HAM dapat menjadi titik masuk bagi upaya penghapusan impunitas (impunity) atau tindak kejahatan tanpa hukuman, dengan kata lain “kebal hukum”.harus segera dihapus melalui upaya Komnas HAM di atas. Pengusutan tuntas pelanggaran HAM di masa lalu pastinya – dan harus dipastikan – bukan untuk balas dendam. Pelanggaran HAM dimasa lalu penting dubuka untuk mengobati luka luka jiwa para korban. Juga penting diketahui oleh generasi kini dan mendatang sebagai bentuk pelurusan sejarah bangsa. Bahkan paling penting agar pembunuhan politik dan pelanggaran HAM lainnya, jangan lagi terulang. Hanya dengan membuka tuntas kita bisa berdamai dengan masa lalu dan memaafkan, dan berjanji untuk tidak mengulangi.   

rep-amnesia-3.jpg
 

Sayangnya tidak semua pemimpin, para politisi dan wakil rakyat terpilih punya semangat sama untuk menghapus tuntas impunitas di Indonesia. Ketua Fraksi Golkar Priyo Budhi Santoso, misalnya, secara halus menolak mendukung rencana Komnas HAM dengan menyatakan Komnas sebaiknya mencegah terjadinya pelanggaran HAM di waktu mendatang. “Komnas harus memandang ke depan. Jangan terjebak politisasi”. Juga Ketua Fraksi Partai Demokrat Syarief Hasan berpendapat kesejahteraan rakyat lebih utama dibanding mengusut kasus yang terjadi di masa lalu: “Yang Lalu sudahlah. Itu merupakan bagian dari proses demokrasi.” (Koran Tempo Rabu 12 Maret 2008). Mungkin kedua orang wakil rakyat tersebut sekali-kali perlu berbincang dengan keluarga korban pelanggaran HAM semasa rezim Soeharto, yang setiap Kamis sore pukul 16.00 -17.00 selalu hadir di luar Istana Negara untuk meminta kejelasan atas nasib keluarga mereka tercinta yang menjadi korban kekerasan oleh Negara.Dalam upaya kita mengembangkan budaya demokrasi, satu hal penting yang harus kita lakukan adalah terus mengontrol sikap dan kinerja wakil rakyat kita. Wakil rakyat harus dipastikan untuk selalu mengedepankan nilai kemanusiaan dan kebenaran hakiki – bukan kepentingan kelompok dan golongan yang sempit. Paling lemah yang dapat kita lakukan sederhana saja: jangan pilih kembali wakil rakyat kita yang berkinerja buruk. Kenali wakil rakyat dan partai yang menolak penghapusan impunitas dan, apa boleh buat, jangan pilih mereka lagi. Untuk itulah lembaga-lembaga publik perlu merancang bersama rekam jejak dari tiap parpol bahkan tiap politisi selama mereka bertugas sebagai wakil rakyat. Sehinga pada tiap masa kampanye Pemilu, publik dapat menilai rekam jejak dari sikap dan kebijakan yang diambil oleh tiap wakil rakyat pada tiap isu atau komisi kerja. Sehingga bila ada wakil rakyat yang menghambat kerja Komnas HAM dalam menghapus Impunitas, misalnya, akan kecil kemungkinannya untuk terpilih kembali dalam Pemilu mendatang.(A.A.S.)

One response to “Hapus Tuntas Impunitas

  1. Sebenarnya sya setuju dengan komitmen Pak Harto, seperti menumpas penyakit sebelum penyakit itu mencrokoti kita dan mati. Pak Harto Tau mana yg baik dan buruk untuk rakyatnya. Kalo lah G30S PKI tidak pernah terjadi, apa anda mau hidup berdampingan dengan Komunis. Sedangkan sekarang aja kita ribut dengan 1 agama !!! mkn sebahagian org selalu menyalahkan pak harto. Mkn kalo PKI tidak di tumpas, anda mungkin tidak pernah lahir ke dunia ini. mungkin anda udah di jadikan sop utk obat kuat seperti di RRC (Forum Bebas) karna apa ? karna komunis Tidak ber Tuhan, tidak ada hak azazi, tidak punya pri kmanusiaan, dan mungkin anda juga akan jadi PKI. kenapa ? anda tahu thn 65 PKI merupakan Partai terbesar pengikutnya dan menjadi urut 3 di dunia. anda mampu melawannya ? bagi mereka mengawini ibu, saudara anda itu sah2x aja. dan bila anda menyembah Tuhan maka anda akan di gorok lehernya, mau ? saya juga tidak tahu saya ini apa anak PKI, apa cucu PKI tapi yg pasti saya tidak mendukung PKI. seperti tanjung priok, penembakan misterius, mereka tu kan pemberontak, trus penembakan misterius tu terjadi karna sudah banyaknya kejahatan, mungkin kalo anda kenak rampok baru tau rasa. Nah…..marilah kita mengkaji lebih jauh apa yg telah diperbuat pendahulu kita, tanpa harus mengatakan pelanggaran HAM. Karna dalam sebuah perdamaian harus ada yang jadi korban, itu udah hukum alam ketika Adam dan Hawa jatuh ke Dunia. Dan marilah kita menghargai, menghormati dan memperbaiki kesalahan para pendahulu kita, mereka patut kita jadikan Pahlawan (Soeharto) agar Negri ini Damai maka maafkanlah kesalahan orang, ingat selama masih ada dendam kita tak akan pernah maju dan akan hancur karena perang saudara, Hindari itu !!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s