Category Archives: Ulasan

13 Tahun Gugurnya 4 Pahlawan Reformasi

13 Tahun sudah 4 pahlawan reformasi, Elang Surya Lesmana, Hafidhin Royan, Hendriawan Sie, dan Hery Hertanto, ditembak oleh peluru aparat. Namun tak pernah ada kejelasan hukum seputar kasus ini. Peringatan gugurnya keempat pahlawan Reformasi di Trisakit tahun 2011 ini dilengkapi pula dengan penempelan poster-poster protes di dinding samping jalan layang depan Trisakti, Poster-poster karya para streetartist anonim itu diperbanyak dengan teknik foto kopi, menggunakan kertas berwarna putih dan coklat. Beberapa terlihat dikerjakan tanpa teknik yang baik. Beberapa lainnya dikerjakan dengan sangat baik. Sebagai upaya pengingat media-media tersebut merupakan teaser yang patut dihargai. Awalnya kami menuliskan bahwa poster atau wheatpaste ini dikerjakan oleh mahasiswa Trisakti, namun ternyata Jurnal Grafisosial mendapat ralat bahwa itu dikerjakan oleh streetartist dari Jakarta Selatan dengan identitas e-mail “slatanis”.

Bulan Februari lalu Ikatan Alumni Trisakti mengusulkan keempat mahasiswa Trisakti tersebut sebagai pahlawan reformasi. Ingatan terhadap keempat pahlawan yang gugur dalam demonstrasi untuk menurunkan Soeharto kini tinggal lamat-lamat. Saat ini para wakil rakyat yang menikmati hasil reformasi sibuk dengan pembangunan gedung baru DPR yang mewah. Sebagian lagi sibuk dengan urusan pengadilan akibat kasus korupsi. Semoga bangsa kita takkan lupa jasa dan makna dari gugurnya keempat pahlawan Reformasi.

Hidup itu Indah – Sebuah Cergam Kritis

Sampul Muka

Tahun 2010 baru saja berlalu. beberapa peristiwa di tahun 2010 berkait dengan insiden tindak kekerasan oleh organisasi massa (ormas) agama mayoritas (dari segi jumlah) terhadap umat agama atau kepercayaan lainnya. Tentu menjadi sangat disayangkan mengingat Negeri kita masih berasaskan Pancasila sebagai dasar negara.

Mayoritas memiliki kekuasaan

Permasalahan inilah yang coba diangkat dan rekam oleh komikus (Cergamis) Aji Prasetyo, melalui komiknya (Cergam) “Hidup itu Indah” (Penerbit Cendana Art Media, 2010). Tebal 215 halaman dengan ukuran: 14X20cm. Digarap dengan teknik yang sangat baik. Bentuk Cergam ini cukup unik, karena menggabungkan gambar dan tulisan sebagai sarana penyampai pendapat. Terdiri dari lima Bab dan tulisan opini dari sang Cergamis. Tulisannya sangat tajam dan kritis dalam menanggapi berbagai kekerasan atas nama Agama yang berlangsung di tengah masyarakat Indonesia, bahkan di depan hidung aparat Kepolisian. hal ini secara tegas diungkapkan Aji pada sampul muka cergam. Terlihat seorang Polantas menghentikan sebuah motor dinaiki oleh 3 (tiga orang tanpa helm. Mereka menjawab: “Melanggar? Ayat yang mana, Hadits yang mana?”

Front Pencemar Islam

Sebagai sebuah cerita bergambar maka komik ini menampilkan gabungan menarik antara kemampuan teknis dengan wawasan dan sikap kritis yang sangat kuat pada diri Aji Prasetyo, diwarnai sedikit sarkasme, dan sedikit bias-gender (sebagaimana disinggung oleh Ayu Utami di pengantarnya). Ditengah-tengah tindak-kekerasan dan represi dari kaum fundamentalis agama mayoritas terhadap kaum minoritas, maka cergam Aji Prasetyo menjadi sangat berharga, mengajak kita untuk berhenti sejenak dan berpikir ulang tentang dominasi mayoritas, apakah mayoritas identik dengan otoritarianisme. Apakah mayoritas boleh bersikap tidak adil pada minoritas?

Sebuah komik yang sangat penting untuk bangsa yang sedang bingung. Cergam Hidup itu Indah berhasil menjadi sebuah pamflet politik dari sang cergamis, Aji Prasetyo. Mewakili dan mendorong mayoritas-diam utk lebih berpartisipasi mencegah timbulnya negara agama.

Enam tahun Munir dibunuh

koleksi Rusdi Marpaung

Tanggal 7 September 2010 ini genap enam tahun sudah Munir, pejuang Hak Asasi Manusia itu dibunuh. Dia diracun dalam pesawat terbang Garuda Indonesia menuju Belanda. Hingga kini kasus itu belum juga terungkap tuntas. Selain Polycarpus sebagai pelaku langsung, tak ada dalang yang dapat ditangkap. terakhir Muchdi PR – mantan pejabat intelijen negara yang dicurigai sebagai salah-satu dalang – dibebaskan dari berbagai tuntutan oleh pengadilan.

Desain grafis yang pernah dirancang oleh lembaga-lembaga penegakkan HAM seperti Kasum, Kontras, dan sebagainya penting untuk terus disebarkan, walau sebatas di ruang internet, sebagaimana dilakukan oleh Rusdi Marpaung melalui album foto miliknya di jejaring sosial facebook. Dari rangkaian media-media yang berhasil kami kumpulkan itu, maka terlihat sebuah rangkaian media penyadaran yang menarik. Beberapa poster hitam putih, sementara dua poster lainnya berwarna penuh dan dua warna. Namun dari berbagai poster yang sangat menarik itu, tetaplah dua poster berwarna yang paling mudah dikenal. Poster pertama berjudul “Tegakkan Keadilan”. Poster kedua berjudul “Kita harus takut kepada rasa takut itu sendiri karena rasa takut menghilangkan akal sehat dan kecerdasan kita”.

Kekuatan dua poster berwarna tersebut di atas lebih pada ikon wajah Munir yang dibuat dengan sangat baik, dimana tatapan matanya langsung bertemu dengan tatapan kita. Poster “Tegakkan Keadilan” sangat kuat, karena menggunakan warna merah sebagai warna latar belakang. Judulnya pun sederhana dan langsung. Dengan sedikit olahan tipografi yang lebih baik, poster ini akan menjadi sebuah desain yang sangat unggul. Adapun poster berwarna kedua, memiliki kalimat yang terasa terlalu panjang untuk sebuah poster. Namun kelebihannya, poster ini dapat menjadi medium yang bersifat reflektif mendalam mengenai sosok Munir secara keseluruhan – bukan media pengingat yang dapat menggugah secara cepat.

Kesadaran dalam bentuk gerakan untuk terus mengingat Munir penting untuk dipertahankan dan dijalankan. Dengan cara ini desain grafis dapat menjadi sebuah media komunikasi yang akan terus-menerus tampil dari ruang publik hingga kedalam ruang memori publik. Dengan kampanye yang didukung oleh berbagai medium seni rupa dan desain grafis, maka kita akan selalu terjaga dan tersadar diantara berbagai pesan visual lainnya yang bersifat komersial – menawarkan berbagai barang dagangan yang tak kita butuhkan.

Poster Munir, koleksi digital Rusdi Marpaung

Poster koleksi digital Rusdi Marpaung

Pembunuhan Munir adalah sebuah teror dan propaganda untuk mematikan gerakan penegakkan hukum. Impunitas terhadap kasus Munir adalah kemenangan bagi kekuasaan hitam di negeri ini untuk menindas gerakan HAM. Sebelum kasus ini diungkap maka aparat penegak hukum sebagai aparatus negara tak punya hak untuk menyebut dirinya “penegak hukum”. Karenanya upaya untuk terus mengungkap kebenaran dalam kasus pembunuhan Munir harus terus dijalankan. Pembunuhan tak terungkap ini adalah hutang negara, hutang bangsa, hutang kita semua. Upaya melawan lupa harus terus dijalankan.

Lawan pelarangan buku: membangun opini publik terus-menerus

Malam hari, di awal bulan Maret – mereka bergerak di ruang-ruang publik ibu kota mengendarai sepeda-motor. Diam-diam mereka melakukan ‘aksi pemboman’ di berbagai sudut kota Jakarta. Untungnya kelompok perupa itu melakukan aksi-nya tidak menggunakan bom sungguhan. Mereka menggunakan karya seni rupa, mulai dari mural, poster, sticker, stencil dan cat semprot, dan sebagainya. ‘nge-bom’ adalah istilah di antara para perupa-perupa tersebut, untuk menyebut kegiatan berkarya di ruang publik.

'Nge-bom' di terowongan Dukuh-Atas (foto: Arip Hidayat).

Ranggalawe beraksi di Semanggi (foto: Arip Hidayat)

Syaiful Ardiyanto dan karyanya (Foto: Arip Hidayat)

Wildigda Sunu dan karyanya (Foto: Arip Hidayat)

Street Art membutuhkan kreativitas dalam pemasangan. Nampak Isrol Triono dengan bantuan kawan-kawan sedang beraksi (foto: Arip Hidayat)

Lawan Pelarangan Buku: Iqra

Pelarangan buku pakai UU jaman dahulu kala (tahun 1963) - Sticker di lantai karya Toni Malakian

Di depan ruang pameran ada sablon kaos gratis oleh komunitas Atap Alis

Beberapa perupa muda menggunakan cat tembok, langsung menggambari dinding. Beberapa lagi menempeli poster. Beberapa lagi, membantu seorang perupa menempel kertas HVS 100 gram yang telah digambar-tulisi. Pertama lem kanji diratakan ke bagian belakang kertas menggunakan rol. Setelah kertas ditempel ke dinding, permukaan gambar dilapisi pula oleh lem kanji itu sebagai pelapis yang melindungi gambar dari hujan. Robowobo demikian ‘nama jalanan’ salah satu perupa itu, menyebut teknik tersebut wheatpaste (baca: “Obrolan Ringan dengan Robowobo”). Mereka adalah para perupa-aktivis yang tergabung dalam beberapa komunitas seni rupa, diantaranya adalah komunitas Atap Alis, Propagraphic, Sakit Kuning, Semur-Jengkol. Kelompok-kelompok perupa ini terkenal aktif berkarya di ruang-ruang publik menggunakan berbagai media komunikasi luar-ruang. Karya-karya yang mereka tempelkan, semua memiliki tema yang sama: Memprotes pelarangan buku oleh Kejaksaan Agung.

Infografik karya Alit Ambara

Pesan dari kampanye ini sederhana saja: Pelarangan buku yang semena-mena oleh aparat negara merupakan sebuah kemunduran peradaban di jaman reformasi. Masyarakat sipil di negeri ini harus aktif untuk terlibat mengendalikan negara secara kolektif, agar negara tak menjadi berkuasa berlebihan – mengkooptasi warga.

Aktivitas berkarya dari para perupa-aktivis tersebut di atas adalah bagian dari tahap Pra-kondisional dalam program kampanye bertajuk : “Pelarangan Buku – menutup jendela dunia” – dimana pameran merupakan salah satu medium, sekaligus event pertanggungjawaban kepada publik. Pameran tersebut telah berlangsung di Taman Ismail Marzuki Jakarta, pada tanggal 14 – 17 Maret baru lalu. Dari Jakarta, pameran rencananya akan dilanjutkan ke Yogyakarta dan Surabaya. Tidak tertutup pula dilanjutkan di berbagai daerah dan kota lain, apabila ada permintaan.

Di bawah jembatan penyeberangan Polda - semanggi (foto: Arief Adityawan S).

Karya Nikasius - bawah jembatan penyeberangan Polda - Semanggi (foto: Arief Adityawan S)

karya isrol Triono - Atap Alis.

Pameran ini hanya salah-satu medium dalam kampanye sosial melawan pelarangan buku. Sesungguhnya pameran dapat dibilang sebagai media komunikasi yang spesifik; target audience sangat terbatas, karena hanya kalangan tertentu yang mengunjungi galeri-galeri khusus seperti di Taman Ismail Marzuki. Kecuali berpameran di ruang-ruang yang lebih terbuka seperti mal, stasiun, atau perpustakaan umum. Oleh sebab itu untuk membangun opini publik, penyebaran media dan pelibatan berbagai komunitas lintas-disiplin, serta tiap individu yang peduli pada hak warga untuk mengelola informasi, adalah sebuah keniscayaan. Tidak saja melalui jejaring sosial di dunia maya, atau mural-mural di dinding kota, namun juga berbagai media cetak dan elektronik.

Langkah berikutnya adalah melibatkan para pemilik media pers untuk mau sumbangkan slot 15 detik atau satu halaman majalah atau surat kabarnya, demi kebebasan berpendapat serta hak mengelola informasi tanpa tekanan kekuasaan. Hal ini harus terus dilakukan untuk mengawal proses persidangan di Mahkamah Konstitusi, hingga wewenang Kejaksaan Agung melarang buku dapat dihapuskan.

BEBERAPA MEDIA UNTUK KAMPANYE “MELAWAN PELARANGAN BUKU”

Poster “Membumihanguskan Buku”, karya Arip Hidayat

Poster, “Konstitusi Dilanggar”, karya Yayak Yatmaka

Poster, “Bebaskan Buku”, karya Eka Sofyan Riza

Poster, “Stop Pelarangan Buku”, karya Yayak Yatmaka

Iklan Cetak, “Bebaskan Buku”, karya Agus Danarto

Poster, “Kemunduran Peradaban Manusia”, karya Yayak Yatmaka

Meninjau ulang Strategi Kampanye Anti-Korupsi oleh KPK

Iklan KPK pertama setelah Bibit-Chandra dibebaskan

Isu Cicak yang mendukung Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah versus si-Buaya telah lama usai. Kita masih ingat saat rekaman yang berbau kolusi antara ‘markus’ dan oknum Kepolisian dan Kejaksaan membuat masyarakat berang. masyarakat meradang ketika terlihat ada upaya-upaya melemahkan KPK – sebagai benteng terakhir bangsa ini melawan kanker korupsi. kemudian sempat muncul mural-mural di jalan raya yang mengkritik upaya kriminalisasi KPK. Di berbagai media kini sedang hot isu Bank Century dan siapa yang akan dijadikan tumbal oleh SBY.

Dukungan masyarakat sipil yang kuat menjadi salah satu faktor penting yang membuat upaya kriminalisasi KPK melemah – paling tidak untuk saat ini. Pembebasan Bibit dan Chandra menjadi sebuah klimaks yang menggembirakan kita semua. Kekuatan anti korupsi dari berbagai pihak dan lapisan bersatu melawan para koruptor. Bersatunya kekuatan anti-korupsi untuk membebaskan kedua pimpinan KPK yang jujur dan penuh dedikasi itu tak tertandingi dan tak mungkin ditandingi oleh kasus Bank Century sekalipun. Bila dalam kasus Bibit dan Chandra, hitam dan putih terlihat jelas. Sedangkan dalam kasus Bank Century pihak-pihak yang mengklaim diri bersih dan putih pun ditengarai memiliki kepentingan politik. Tak jelas siapa putih dan siapa hitam.

Sayangnya KPK sebagai sebuah institusi anti-korupsi tidak memanfaatkan klimaks dukungan masyarakat terhadap dirinya sebagai momentum untuk memperkuat benteng perlawanan serta mengorganisir pasukan infanteri untuk memberantas korupsi – meminjam perumpamaan klasik dalam Marketing Warfare. Dalam strategi periklanan kondisi ini adalah saat ketika awareness dari khalayak sedang berada pada titik tertinggi. Hingga hari ini KPK tidak memelihara kesetiaan terhadap brand (brand loyalty) yang terbangun di masyarakat.

Seingat dan sepengetahuan penulis, KPK hanya mengeluarkan satu seri iklan yang ditampilkan di berbagai media, tidak lama setelah Bibit-Chandra dibebaskan. Iklan itu berbunyi: “Pemberantasan Korupsi Jalan Terus!”. Iklan tersebut terasa berbau sloganistik dan redundant. Bahkan bila dicermati lebih dalam, iklan tersebut tidak menyebutkan satupun kalimat yang bernada ucapan terima kasih atas dukungan masyarakat – kecuali kalimat “bersama rakyat KPK siap berantas korupsi hingga tuntas!”. Sesungguhnya sebuah iklan yang khusus bertema sebuah ucapan terima kasih akan tampak lebih rendah-hati, yang akan memperkuat empati khalayak. Setelah ucapan terima kasih yang tulus diiklankan, segera kampanye yang bertujuan untuk konsolidasi pasukan gabungan anti-korupsi ditampilkan.

Kini, upaya membangun brand loyalty terhadap KPK pasti lebih alot. Namun bukannya berarti tidak mungkin dan tidak dibutuhkan. Karena ancaman terhadap KPK masih berlangsung. Niatan Tifatul Sembiring sebagai Menkominfo yang ingin melucuti hak KPK dalam penyadapan nampaknya masih akan berlanjut. Masyarakat harus disiagakan, jangan sampai larut dalam gorengan isu Bank Century yang sarat kepentingan politik berbagai pihak. Pasukan Koruptor terus-menerus berkoordinasi, antara koruptor berbaju pengusaha, birokrat, maupun wakil-rakyat saling perkuat barisan. Karena itu KPK harus menyiapkan pasukan gabungan untuk terjun dalam medan pertempuran melawan para koruptor, awareness harus ditingkatkan kembali.

The Erased Time – Pameran FX Harsono

FXH1

FX Harsono berpameran di Galeri Nasional hingga 14 November 2009

“Begitu menjelang magrib pukul enam, banyak sekali anak-anak dari kampung agak jauh, mereka pergi ke mesjid lewat kampung sini. Kalau kami masih duduk-duduk di situ, selalu dikata-katain, ‘Cina, Cina, Cina…. ayo pulang….’ Kadang-kadang dilempar batu kecil. Sehingga kami selalu merasa bahwa pukul enam sore itu sudah harus masuk rumah…” (lihat kata pengantar Hendro Wiyanto, dalam The Erased Time, hal 8).

Di keluarganya, anak yang sering diledek dan ditimpuki itu biasa dipanggil “Ong” – lengkapnya Oh Hong Boen, anak dari Oh Hok Tjoe. Karena peraturan pemerintah Republik ini, keduanya dipaksa ganti nama yang “lebih pribumi” – sang ayah jadi Hendro Subagyo, dan si anak jadi FX Harsono. Si Ayah juru foto di Blitar, memiliki sebuah studio foto “Atom” sekitar tahun 50an hingga 60an. Harsono kecil ingat ayahnya punya satu album foto berisi foto-foto dokumentasi penggalian kembali tulang belulang sebuah kuburan massal. Harsono kecil tak

FXKurnia

Penelitian sebelum berkarya (Foto: Kurnia Setiawan)

pernah diberi tahu apa konteks foto-foto dokumentasi tersebut. Saat besar Harsono baru tahu, tulang belulang dalam album foto itu terkait dengan pembunuhan massal sekitar tahun 47-48. Saat itu terjadi politik bumi-hangus oleh pihak Republik, menghadapi agresi militer Belanda. Harsono membaca dalam buku Benny G. Setiono (2008), bahwa politik bumi hangus pihak Republik berakibat terjadinya penjarahan, pembunuhan, dan pemerkosaan terhadap orang Tionghoa di sekitar Jawa Timur. (Wiyanto, hal. 12).

FXH2FXH2a

Setengah abad kemudian Harsono menelusuri kembali tempat tempat tulang-belulang dalam album foto ayahnya itu digali. Harsono meneliti, mewawancara dan merekam lokasi dan saksi mata, maupun korban yang selamat dari peristiwa pembantaian massal terhadap orang Tionghoa tahun 47-48 tersebut. Terdapat 191 nama yang jadi korban pembantaian massal, yang tulang tengkoraknya dimakamkan kembali di sebuah daerah di Blitar.

Pameran The Erased Time ini berlangsung di Galeri Nasional, jalan Medan Merdeka Timur no.14 Jakarta hingga tanggal 14 November 2009. Sebagian dari karya-karyanya ini kemungkinan akan dipamerkan di Singapura. Harsono dalam pameran ini memanfaatkan secara optimal foto-foto karya ayahnya dalam berbagai bentuk. Mulai dari lukisan (cat akrilik dan cat minyak di atas kanvas), neon box, instalasi, maupun seni video, dan video dokumenter.

FXH3

Memelihara Hidup, Menghentikan Hidup # 2 (Foto Katalog Pameran)

Dua karya di atas kanvas (200Cm X 350Cm – dua panel) menampilkan foto tua pernikahan ayah-ibu Harsono, disandingkan dengan foto penggalian tulang-belulang. Keduanya berjudul “Memelihara Hidup, Menghentikan Hidup #1” dan “Memelihara Hidup, Menghentikan Hidup #2”. Ditengah tengahnya ditulis dengan huruf merah: “Perkawinan meneruskan kehidupan/ kematian menghentikannya/ perkawinan bisa direncanakan/ tapi kematian tak seorangpun bisa menduga/ Blitar 1948”. Pada kanvas lain tertulis: “Perkawinan dibina dan membuahkan kehidupan dan terus berkembang/ Manusia tak seharusnya menghentikan kehidupannya sendiri atau orang lain/ Blitar, 1951”

FXKurnia2

Darkroom (foto: Kurnia Setiawan)


FXKurnia3

Darkroom (foto: Kurnia Setiawan)

Lukisan ini secara kreatif mengaitkan dua gambar dengan konteks berbeda menjadi sebuah kontradiksi yang dipertajam dengan kekuatan verbal. Hasilnya mengingatkan kita bahwa Harsono memang akrab dengan dunia grafis dan periklanan, sebuah karya seni rupa yang menggugah dan sangat komunikatif. Nampaknya tak ada hal baru secara visual yang diciptakan oleh Harsono, seakan karya karya yang diciptakan Harsono hanya bersifat “ilustratif” belaka – meminjam pendapat seorang kawan. Namun sesungguhnya penggabungan dua tanda tersebut – foto pernikahan dan foto pembongkaran makam – mampu memberi konteks baru – yang dipertajam dan ditekankan pada teks verbal yang digunakannya. Kuatnya teks teks visual yang dirangkai oleh Harsono dalam pameran ini tampaknya merupakan buah dari penelitian Harsono yang cukup mendalam mengenai kasus pembunuhan massal ini. Terlebih kedekatan Harsono dengan data data foto karya ayahnya itu.

Lebih lanjut, secara keseluruhan pameran ini cukup berhasil mengangkat dan menggugah perhatian dan ingatan orang akan adanya sepenggal waktu yang dihapus – atau setidaknya sengaja tidak diungkapkan kembali. Sepenggal waktu berisi kekerasan rasis yang mencoreng perjuangan kemerdekaan negeri ini.

Teks: Arief Adityawan S.
Foto: FX Harsono (katalog), Kurnia Setiawan

Sebuah Metafor: Cicak dan Buaya

Cicak022

Akhirnya Selasa menjelang tengah malam, dua pimpinan Komisi Pemerantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Riyanto dan Chandra M. Hamzah mendapat penangguhan penahanannya. Hal ini merupakan sebuah angin segar bagi upaya masyarakat sipil dalam memperjuangkan pemberantasan korupsi di negeri ini. Penangguhan penahanan ini tidak bisa dilepaskan dari aksi unjuk rasa pada Senin 2 November 2009 di Bundaran Tugu Selamat Datang Jakarta hingga ke depan Istana Negara. Warga masyarakat turun ke jalan dibawah terik matahari menuntut pembebasan Bibit dan Chandra. Hal ini disebabkan sikap arogansi lembaga kepolisian yang dianggap publik bersikap tidak adil karena memiliki conflict of interest.

Cicak9a

Spanduk unjuk rasa yang menggunakan metafor Cicak-Buaya

Cicak1

Media unjuk rasa menggunakan teknik manual namun efektif

Warga pengunjuk rasa terdiri dari berbagai kalangan, sebagian besar adalah mahasiswa dan aktivis HAM dan anti-korupsi, sebagian lagi pekerja kantor, dan lain sebagainya. Mereka mengenakan ikat kepala bertuliskan slogan dengan semangat melawan korupsi. Sebagian mengenakan t-shirt bertuliskan “Menuntut Keadilan”. Sebagian lagi membawa kertas karton yang dengan tulisan tangan mengekspresikan kegeraman melawan buaya korup.

Istilah cicak dan buaya pertama kali diangkat oleh Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Komisaris Jenderal Susno Duadji. Ungkapan ini tercetus olehnya sebagai bentuk kegusaran Susno setelah mengetahui bahwa KPK menyadap pembicaraan telpon dirinya. Setelah pernyataan itu muncul di media massa, maka para aktivis anti-korupsi memanfaatkan istilah cicak menjadi sebuah kependekan dari “Cinta Indonesia Cinta KPK”. Para aktivis itu memanfaatkan posisi sebagai pihak lemah yang tertindas oleh kekuatan besar yang arogan dan otoriter. Secara visual pun simbol cicak dan buaya sangat mudah untuk menggugah dan menumbuhkan empati untuk mendukung sosok yang ‘dilemahkan’ dan tertekan. Logo gerakan Cicak pun dibuat dengan sederhana namun ternyata cukup ampuh untuk mewakili semangat solidaritas mendukung KPK.

Cicak9

Desain yang kuat dan komunikatif pada t-shirt dan spanduk

Istilah yang digunakan Susno menempatkan lembaga kepolisian sebagai sebuah lembaga besar dan kuat, yang diwakilkan dengan sosok buaya. Sementara untuk perumpamaan KPK, yang dianggap lembaga kecil dan lemah, digunakanlah sosok cicak. Dalam ilmu bahasa istilah Cicak dan Buaya adalah sebuah metafora. Kata “metafora” berasal dari bahasa Yunani yang artinya “mentranfer” atau “membawa dari satu tempat ke tempat lain”. Metafora adalah sebuah upaya imajinatif untuk menciptakan hubungan antara dua hal yang berbeda, namun memiliki sebuah kesamaan. Secara fisik-anatomis, cicak dan buaya memang memiliki kesamaan, sebagaimana lembaga kepolisian dan KPK, keduanya adalah lembaga penegak hukum.

Cicak8

dua spanduk dijital yang dirancang dengan baik

Menggunakan cicak dan buaya sebagai metafora pembeda kekuatan memang sangat tepat. Namun Susno tampaknya tidak mampu memahami konten moral dari perumpamaan buaya, sebagai binatang buas yang mematikan, selain pemalas, pemakan segala, memangsa dengan cara mengendap-endap. Lebih jauh Susno tampaknya lupa dengan istilah buaya yang sering dipadankan dengan kata “darat” pada idiom “Buaya darat”. Menggunakan pendekatan Barthes, selain makna mitos di atas, sosok buaya sebagai sebuah penanda, memiliki makna ideologis yang negatif, sebagai sebuah sifat manipulatif. Atau jangan-jangan penggunaan metafor buaya, merupakan refleksi bawah-sadar dirinya yang merasa bahwa kepolisian memang memiliki kemiripan dengan sifat-sifat buaya? Tentu hanya Susno Duadji lah – sebagai pencipta, yang tahu.

Teks dan Foto: Arief Adityawan S.

Dua Hajatan Penting Bulan Agustus: OK Video dan IVAA

OK Video keempat: Komedi

OK Video keempat: Komedi


Bulan Agustus lalu di Galeri Nasional Jakarta berlangsung dua acara sangat penting dalam dinamika dunia seni rupa: OK Video – 4th Jakarta International Video Festival dan peluncuran arsip digital IVAA Indonesian Visual Art Archive. Keduanya menjadi penting karena berjalan di jalur lambat diantara arus lalu lintas jalur cepat dari Seni Rupa kontemporer yang laris manis dikalangan kolektor. Video art sebagai lahan utama dalam OK Video yang diadakan oleh Ruangrupa ini nyaris tidak dilirik oleh kolektor Indonesia. Nasib yang sama juga terjadi pada pengarsipan, penelitian dan pengembangan studi seni rupa yang ditelantarkan oleh banyak pihak di dalam negeri sendiri.

Kedua kegiatan tersebut berhasil tampil mandiri berhadapan dengan sistem pasar dalam dunia seni rupa indonesia – kecuali penampilan logo sponsor pada display TV dalam OK Video Festival. Kedua acara ini menjadi penting karena sangat bermanfaat bagi gerak dunia seni rupa kontemporer di Indonesia yang kini nampak melulu berkutat pada nilai investasi bagi kolektor. Tidak berarti bahwa nilai jual sebuah karya seni adalah masalah tabu ataupun remeh, karena itu berarti tingginya apresiasi sehingga menambah enerji berkarya bagi para pegiat seni rupa. Namun dunia seni rupa pastinya akan berkembang lebih dinamis bila mampu menyerap kepentingan-kepentingan lain yang lebih beragam diluar kepentingan para kolektor dan kolekdol.


OK VIDEO – 4th Jakarta International Video Festival

OK Video Festival adalah sebuah festival internasional di Indonesia yang diadakan oleh Ruangrupa (akrab disebut Ruru), sebuah komunitas seni rupa yang mengusung secara konsisten penggunaan video sebagai medium dan teknik berkarya seni rupa. Acara dua tahunan ini – dimulai pertama kali tahun 2003 makin menyadarkan publik pada umumnya – maupun dunia seni rupa khususnya bahwa, seperti ditulis oleh kurator Aminudin TH. Siregar, seni rupa dapat dicapai melalui medium video. Lebih jauh dalam pernyataan kuratorialnya, ‘Ucok’ sang kurator menyatakan bahwa “…secara militan OK Video tidak saja berhasil menularkan sikap yang terbuka di dalam memahami arena baru bagi praktik seni rupa, dia juga mampu mengakomodasi jenis seni yang kemunculannya pada akhir 1990an ke awal 2000an terbilang jarang kita jumpai di galeri-galeri”.

OK Video berhasil menciptakan karya seni paling kreatif yang pernah dipamerkan di Galeri Nasional - Facade polkadot

OK Video berhasil menciptakan karya seni paling kreatif yang pernah dipamerkan di Galeri Nasional - Facade polkadot

Video sebagai sebuah medium seni rupa nampaknya makin populer diantara kaum muda urban, mengingat teknologi dijital video makin murah-meriah. Peran kamera video bagi seni rupa sama dengan peran kamera foto pada awal kelahirannya terhadap dunia seni lukis, memberi aura keterbukaan melawan elitisme seni. Sifat alamiah dari teknologi media audio visual yang mempermudah proses pembuatan maupun proses reproduksinya membuat nilai tukarnya tidak setinggi karya seni rupa berbasis kanvas yang kuno – namun memiliki aura keaslian yang tinggi. Menurut Direktur Ruangrupa Ade Darmawan, walaupun seni video di luar negeri – yang memiliki sejarah seni video lebih lama – sudah mencapai harga yang cukup mahal, namun tetap dibawah harga tertinggi dari seni lukis.

Kita tahu ada beberapa seniman yang terus berkarya seni secara kolektif sebagai bentuk kegiatan pengembangan komunitas. Para seniman tersebut menempatkan seni rupa dalam fungsi profetiknya sebagai media penyadaran dan katarsis. Sekedar menyebut sebuah contoh, Jogja Mural Forum yang digerakkan oleh Samuel Indratma melakukan aktivisme seni rupa melibatkan warga kampung-kampung di kota Jogya untuk bersama-sama melukisi dinding dan mengubah’ kampung mereka sendiri menjadi “galeri hidup” (Indratma, 2008). Dalam konteks seni video Ruangrupa bersama forum Lenteng dalam OK Video ke-3 (Militia) mengajak berbagai komunitas masyarakat di berbagai daerah menggunakan kamera video sebagai medium berekspresi. Sayangnya sebagaimana kita tahu hasil karya seni video ataupun mural yang dikerjakan secara kolektif oleh seniman dan warga demikian tak dilirik oleh para kolektor seni rupa. Karena demand pasar rendah maka tidak heran kegiatan aktivisme seni rupa demikian sangat jarang dilakukan oleh para seniman.

Satu hal yang disayangkan dari OK Video Festival ke-4 ini adalah berkurangnya lokasi penayangan seni video di ruang publik. Dalam OK Video Festival tahun ini penayangan seni video di luar Galeri Nasional hanya ada pada TV terbatas di Bandara Soekarno-Hatta. Hal ini lebih disebabkan karena masalah biaya dan tenaga yang akan jauh membesar, demikian ungkap Ade Darmawan. Idealnya pola pameran atau pemutaran seni video yang menyebar di berbagai ruang publik Ibukota harus menjadi ciri penting dalam penyelenggaraan OK Video Festival di masa mendatang. Memang mengurus sebuah hajatan yang tersebar di banyak titik metropolitan jauh lebih rumit dibandingkan hajatan di satu tempat saja. Hal ini makin sulit bila pemerintah pusat maupun daerah punya prosedur yang amat birokratis dan rumit. Bagaimanapun OK VIDEO Festival ke-4 ini tetaplah menyegarkan dunia seni rupa kontemporer kita – terlebih ketika tema festival yang dipilih pun jauh dari kesan ingin memperberat “harga” sebuah hajatan seni video: Komedi.

iClick.IVAA


iClick.IVAA: Pusat Informasi Digital IVAA Online & Onstage

Acara berikutnya yang amat-sangat penting, walaupun diselenggarakan di sayap kanan yang sempit dari Galeri Nasional, adalah peluncuran arsip online http://www.ivaa-online.org/archive/ dan pameran multimedia. Di tengah budaya instan yang makin tersedot ke arus komodifikasi, tiba-tiba Indonesian Visual Art Archive seakan menyeruak seperti oase ditengah padang gurun. Pembukaan dan penyelenggaraan pameran IVAA ini nyaris bersamaan dengan Jogya Art Fair (JAF) #2, serta pameran ulang tahun Edwin’s Gallery – yang menempati ruang pameran utama dan ruang sayap kiri dari Galeri Nasional.

IVAA dulunya berdiri dengan nama Yayasan Seni Cemeti pada tahun 1995 di Yogyakarta dan beubah nama menjadi IVAA pada tahun 2007. Deskripsi IVAA sebagaimana tercantum dalam publikasi pameran adalah sebagai berikut: “…sebuah lembaga nirlaba yang berbasis di Yogyakarta, yang melakukan pemberdayaan infrastruktur seni visual di Indonesia. Bidang utamanya adalah dokumentasi, riset, perpustakaan serta penyelenggaraan program edukasi dan ekplorasi seni visual…. IVAA juga berfungsi sebagai sebuah think-tank atau laboratorium kreatif untuk menggagas berbagai pemikiran serta kegiatan yang mendukung perkembangan seni visual dan budaya kontemporer, baik secara praktek maupun wacana.”

Lobby pameran IVAA Online

Lobby pameran IVAA Online

Sejak 2008 lembaga nirlaba pimpinan Farah Wardani ini membangun Pusat Informasi Digital IVAA yang menampung seluruh koleksi arsip IVAA dalam format digital. Menurut Tim Riset dan Pengembangan Arsip IVAA (Surat vol. 35, 2009), tujuan utamanya adalah untuk preservasi data tersebut, dan kemudian menyimpannya ke jaringan online, membuat sistem baru klasifikasi data IVAA serta meningkatkan kemudahan aksesibilitas dan pemanfaatan data IVAA bagi publik. Database IVAA kini memiliki 13.000 item data berisi khusus tentang seni rupa mencakup buku, majalah, jurnal, katalog, foto, slide, video, makalah, materi promosi, sampai kliping media massa yang terkumpul selama 12 tahun. Secara kronologis data yang tersedia mencakup kurun waktu tahun 1960 hingga kini. Secara tematis database itu dibingkai dalam konteks: 1) Seni Rupa Publik, 2) Isu Sosial, 3) Ruang Alternatif, 4) Budaya Anak Muda dan Industri Kreatif, 4) Multimedia, dan Identitas. Selain pencarian online, IVAA menyediakan sarana pencarian secara fisik (on stage) berupa perpustakaan di jalan Patehan Tengah No.37 Yogyakarta.

pojok lain dari ruang pameran iClick.IVAA

pojok lain dari ruang pameran iClick.IVAA

Keseriusan dan kedalaman pengarsipan informasi mengenai dunia seni di Indonesia yang dilakukan oleh IVAA nyaris tak tertandingi – setidaknya hingga saat ini. Upaya membangun infrastruktur senirupa sebagai pelengkap bagi pengembangan wacana seni rupa di indonesia yang pastinya juga akan berimbas pada pengembangan praktek seni rupa kontemporer Indonesia. Proses pengadaan infrastruktur seni rupa demikian, termasuk program program penelitian dan pengembangan kesenirupaan, adalah ranah yang nyaris luput dikerjakan oleh pemerintah. Untungnya Dewan Kesenian Jakarta telah melakukan proses dijitalisasi arsip arsip seni – mencakup seni rupa, teater, sastra, tari, musik dan film yang bertarikh sejak tahun 1963. Menurut Jabatin Bangun, sekretaris Pengurus Harian DKJ yang bertanggung jawab langsung pada pengelolaan arsip DKJ tersebut, koleksi data milik DKJ itu mencakup data audio, video, negtif film, foto, kliping, naskah drama, lukisan dan benda seni lainnya. Rencananya akhir tahun ini arsip tersebut akan dapat diakses secara online. Tentunya akan sangat ideal bila tiap-tiap Dewan Kesenian di seluruh Indonesi memiliki pusat arsip online, sebagaimana yang direncanakan oleh DKJ.

Upaya pengarsipan dan penyebaran yang dilakukan oleh lembaga nirlaba seperti IVAA akan memperkuat pertumbuhan dunia seni rupa di Indonesia. Langkah langkah pengarsipan yang terencana dan tertata baik pastinya dapat memperkuat mutu perkembangan seni dan budaya di negeri ini. Dalam konteks yang lebih aktual, langkah pengarsipan menghindarkan kita dari kekhawatiran penjiplakan serta pengakuan dan pencurian aset budaya bangsa oleh negeri jiran.

suasana ruang pamer iClick.IVAA

suasana ruang pamer iClick.IVAA

Penutup
Di dalam dinamika dunia seni rupa kontemporer yang kini dipenuhi dengan proses komodifikasi maka terselenggaranya peristiwa seni rupa OK VIDEO ke-4 dan peluncuran situs IVAA-online menjadi sangat signifikan. Perkembangan dunia seni rupa kontemporer yang masih didominasi oleh seni lukis membutuhkan upaya diversifikasi terus menerus, sejalan dengan teknologi komunikasi visual yang terus berkembang di luaran dunia seni rupa.

Perkembangan dunia seni rupa sebagaimana kita semua sadari, tidak dapat terlepas dari upaya upaya penelitian dan pengembangan, hal mana berarti dibutuhkan kesiapan infrastruktur dunia kesenian termasuk pendidikan dan pusat data yang lengkap dan mudah di akses. Apa yang telah dilakukan ruangrupa maupun IVAA merupakan sebuah kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan dunia seni rupa di Indonesia.

Desain Grafis Memperebutkan Ruang Publik: Sebuah Refleksi usai Pilpres 2009

Di ruang publik individu berkegiatan dan berinteraksi secara fisik, bersendiri maupun berkelompok. Karena itu ruang publik selalu dijadikan ruang untuk menempatkan berbagai jenis media komunikasi untuk mempengaruhi publik. Dalam Pemilu legislatif 2009 kita telah menyaksikan betapa ruang publik menjadi arena perebutan pengaruh. Mulai dari billboard, bendera, spanduk, baliho, poster, pamflet, selebaran, sticker, hingga t-shirt. Media media ini bekerja dalam ruang publik yang bersifat fisik, untuk mendapat pesan pesan dalam media itu seseorang harus hadir secara fisik. Sementara itu di ruang publik yang bersifat maya, dengan menggunakan media digital internet pun perhatian publik diperebutkan. Setelah Pemilihan Presiden 2009 usai kita sekali lagi menyaksikan bagaimana ruang publik – baik ruang fisik maupun maya – menjadi medan pertarungan ide dan ideologi.

MEDIA DESAIN GRAFIS MEDIA KAMPANYE CAPRES/CAWAPRES NOMOR URUT 1: MEGAWATI-PRABOWO

L100_2307

Poster Megawati Prabowo

Poster Megawati Prabowo

Baliho Megawati Prabowo

Baliho Megawati Prabowo

Mobil iklan keliling Megawati dan Prabowo (tampak samping)

Mobil iklan keliling Megawati dan Prabowo (tampak samping)


Ruang Nyata

Pihak yang berebut pengaruh politis di ruang publik adalah caleg dari partai politik, lembaga swadaya masyarakat, hingga individu ataupun kelompok yang memiliki kepedulian dan sikap kritis. Pihak paling banyak membanjiri ruang publik dengan media kampanye pemilu tentu saja adalah caleg parpol, karena terdapat lebih dari empat puluh partai peserta pemilu 2009. Di seluruh Indonesai partai partai tersebut memperebutkan kursi Wakil rakyat di tingkat DPR Pusat, DPRD Tingkat I dan DPRD Tingkat II. Sayang tidak semua calon legislatif (caleg) mampu merumuskan keunggulan diri – bila dia memilikinya – dan dikemas menjadi sebuah media kampanye yang mampu mempengaruhi calon pemilih. Media desain grafis untuk propaganda Pemilu yang tersebar di ruang publik secara fisik, sudah mulai menampakkan kehadirannya pada Pemilu 2004 yang lalu. Sebagaimana kita tahu, dalam skala yang lebih masif – baik karena pemahaman, keuangan, maupun teknologi, hal ini muncul kembali di Pemilu 2009 yang lalu – bahkan hingga Pilpres yang baru saja usai. Sayangnya kekuatan modal dari tiap partai atau pasangan Capres dan Cawapres tidak diimbangi dengan strategi kreatif yang memadai dan mencerdaskan konstituen. Dalam merancang grafis untuk media kampanyenya, ketiga pasangan masih berkutat diseputar figur, bendera merah-putih, dan simbol keagamaan. Bahkan yang paling parah adalah ketika isu jilbab dari isteri Jusuf Kalla dan Wiranto dianggap memiliki daya juali tinggi, maka muncullah desain baliho dimana gambar pasangan JK-Wiranto berada disamping gambar pasangan isteri mereka yang berjilbab. Bahkan gambar pasangan isteri mereka itu memiliki proporsi yang lebih besar dari gambar JK-Wiranto. Bagaimana mungkin mendidik masyarakat bila kampanye pasangan itu hanya didasarkan argumentasi bahwa isteri-isteri dari para kandidat berjilbab, sehingga JK-Wiranto pantas dipilih..

MEDIA KAMPANYE CAPRES/CAWAPRES NOMOR URUT 2: SBY-BOEDIONO

Baliho SBY-Boediono

Baliho SBY-Boediono

Baliho SBY Boediono, dengan tampilan logo di kiri atas

Baliho SBY Boediono, dengan tampilan logo di kiri atas

Menonjolkan sikap sederhana (dari cawapres Boediyono)

Menonjolkan sikap sederhana (dari cawapres Boediyono)

Menonjolkan pemerintahan bersih, sebagai antitesa dari pemerintahan penuh kolusi

Menonjolkan pemerintahan bersih, sebagai antitesa dari pemerintahan penuh kolusi

MEDIA KAMPANYE CAPRES/CAWAPRES NOMOR URUT 3: JUSUF KALLA DAN WIRANTO

Iklancetak (koran) Jusuf Kalla-Wiranto

Iklancetak (koran) Jusuf Kalla-Wiranto

Billboard JK-Wiranto

Billboard JK-Wiranto

Baliho JK Wiranto untuk segmen pemilih muda

Baliho JK Wiranto untuk segmen pemilih muda

Baliho JK-Wiranto: foto kedua perempuan berjilbab dianggap sebagai nilai tambah, sedemikian rupa sehingga ditampilkan lebih besar

Baliho JK-Wiranto: foto kedua perempuan berjilbab dianggap sebagai nilai tambah, sedemikian rupa sehingga ditampilkan lebih besar

Baliho Jk-Wiranto dengan murid perempuan berjilbab

Baliho Jk-Wiranto dengan murid perempuan berjilbab

Baliho JK Wiranto

Baliho JK Wiranto

Beberapa fenomena menarik juga muncul ketika ada kelompok kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang atau kepekaan dalam bekerja dalam ranah budaya visual, juga memanfaatkan ruang publik untuk menyampaikan ekspresi dan sikap politiknya. Kelompok kelompok ini sangat beragam, mulai dari kelompok atau komunitas yang bersikap kritis, namun moderat – contohnya Propagraphic, hingga komunitas yang mengidealkan masyarakat tanpa pemerintahan. Kelompok terakhir ini bekerja secara mandiri (indie) dengan salah prinsip penting dalam hidup mereka: Do It Yourself (DIY). Dengan prinsip ini mereka mengidolakan adanya sebuah masyarakat tanpa pemerintahan. Ruang berekspresi mereka adalah ruang publik secara fisik – menghasilkan karya-karya mural yang menguasai ruang ruang kota. dan media berbiaya rendah, seperti foto copy, stensil, cetak saring, dan mural.

Ruang Maya
Fenomena baru yang tidak terdapat dalam Pemilu 2004 yang lalu adalah penggunaan media virtual internet untuk menyikapi Pemilu 2009. Media internet digunakan publik mengingat sifatnya yang mendalam sekaligus relatif meluas – dapat diakses di seluruh Indonesia atau seluruh dunia, sejauh orang tersebut memiliki akses intenet. Selain itu media ini dapat digunakan meluas karena sistem infrastruktur informasi dari media internet ini relatif berbiaya rendah. Kehadiran Facebook sebagai sebuah media komunikasi mampu menampilkan dan mengkomunikasikan pada kawan-kawannya setiap detik dari aktivitas seseorang. Facebook mampu berfungsi menampilkan diri, sebagaimana seseorang ingin dilihat dan dianggap oleh lingkungannya, Fungsi inilah yang dikritik oleh sebagian orang bahwa Facebook adalah media bagi orang-orang yang mencintai dirinya.

Namun ternyata Facebook memungkinkan setiap individu menulis dan berbagi dengan kawan- kawannya , atau kawan dari kawan-kawannya, dan seterusnya. Facebook, selain aplikasi permainan-permainannya, menggiatkan setiap individu menjadi penulis sekaligus penerbit media itu sendiri, sebuah kegiatan jurnalisme warga. Bahkan ternyata tidak saja jurnalisme warga, namun desain grafis warga – siapapun dapat menciptakan sebuah desain dan meng-upload nya di album masing-masing. Bahkan muncul kecenderungan menciptakan ikon-ikon untuk digunakan pada foto profil. Foto profil yang pada umumnya digunakan untuk menampilkan foto diri masing- masing orang, sering diganti dengan ikon bertema isu tertentu sebagai bentuk ekspresi diri.

Frances Polly1 Frances Polly2

Membawa spanduk Karya Frances Polly saat Tabur bunga di Klender dalam Peringatan Tragedi Mei 2009 (Foto: Koleksi KontraS)

Membawa spanduk Karya Frances Polly saat Tabur bunga di Klender dalam Peringatan Tragedi Mei 2009 (Foto: Koleksi KontraS)

sticker berasal dari ikon di Facebook

sticker berasal dari ikon di Facebook

Frances Poly misalnya, adalah salah seorang desainer yang cukup sering merancang ikon-ikon dengan isu sosial-politik serta menggunakannya sebagai foto profil. Foto profil hasil rancangannya inilah yang kemudian di gunakan dengan bebas oleh kawan, maupun kawan dari kawan, para pengguna facebook lainnya. Polly merancang sebuah ikon berjudul: Awas Pembunuh Disekitar Kita! Yang mengkritik dan mengingatkan warga pengguna Facebook, bahwa ada pembunuh-pembunuh politik yang masih belum dihukum (impunitas). Ikon tersebut berlatar belakang merah, menggunakan ikon siluet seseorang bertopi seorang perwira tentara sedang memegang pistol. Besar kemungkinan ikon yang digunakan adalah berasal dari foto Fidel Castro sedang menunjuk – namun belakangan siluet figur tentara dimodifikasi sehingga tidak lagi berdasarkan figur Castro. Ikon ini menyebar dengan cepat dan sempat digunakan secara meluas oleh beberapa kalangan pengguna Facebook. Demikian pula ketika peringatan 11 tahun terjadinya peristiwa Tragedi Mei ’98 berlangsung, juga terjadi hal yang sama.

Serial Sarkasme Pemilu 2009 - PDI-P (Karya Muhammad Amin)

Serial Sarkasme Pemilu 2009 - PDI-P (Karya Muhammad Amin)

Serial Sarkasme Pemilu 2009 - Partai Demokrat (Karya Muhammad Amin)

Serial Sarkasme Pemilu 2009 - Partai Demokrat (Karya Muhammad Amin)

Serial sarkasme Pemilu 2009) - Partai Golkar (Karya Muhammad Amin)

Serial sarkasme Pemilu 2009) - Partai Golkar (Karya Muhammad Amin)

Selain Frances Polly, masih terdapat seorang pengguna Facebook bernama Muhammad Amin. Dia adalah seorang Indonesia yang sedang menjalani kuliah di sebuah perguruan tinggi di negeri Belanda. Amin sering merancang ikon-ikon yang menjadi sindiran atau parodi terhadap logo-logo partai peserta Pemilu 2009 ini. Dia menyebutnya sebagai Serial Sarkasme Pemilu 2009. Sesuai dengan namanya, parodi-parodi yang diciptakan dalam rancangan Amin itu bernuansa sarkastik. Namun terlepas dari isi pesan yang dibawanya, hal tersebut merupakan bentuk dari sebuah kritik dan ekspresi ketidakpercayaan publik yang disuarakan oleh seorang perupa, serta dituangkan dalam sebuah media komunikasi (seni) rupa di ruang publik. Pada titik ini rancangan Muhammad Amin menjadi sebuah fenomena unik yang menggabungkan potensi teknologi informasi, khususnya struktur situs facebook, sikap kritis perupa sekaligus warga pengguna facebook.

ikon menyambut Pemilu (karya Enin Supriyanto)

ikon menyambut Pemilu (karya Enin Supriyanto)

Poster Pemilu versi Facebook, karya Enin Supriyanto

Poster Pemilu versi Facebook, karya Enin Supriyanto

Selain keduanya, Enin Supriyanto adalah salah sebuah fenomena lain dari sikap kritis dan desain grafis warga yang memanfaatkan laman Facebook. Enin adalah seorang aktivis ITB yang pernah mengalami penjara rezim Soeharto pada tahun 1989. Setelah bergelut dalam bidang periklanan, dia kemudian beralih menjadi seorang kurator seni rupa yang namanya berkibar di dalam dunia seni rupa kontemporer. Dalam beberapa rancangannya, dia menampilkan sikap politik pribadinya dengan merancang ikon untuk Golongan Oplos (oposisi polos), sebuah nama lain dari golongan putih, yang mungkin berkesan terlalu pasif. Beberapa rancangannya memberikan kesan sangat pop, ketika dia memanfaatkan gaya iklan dari sebuah produk minuman vodka yang cukup terkenal.

Secara umum Facebook telah menjadi sebuah galeri warga yang bersifat terbuka dan mudah untuk diakses para penggunanya di seluruh dunia. Facebook, selain mampu mengakomodasi potensi jurnalisme warga, juga mampu mengakomodasi potensi desain grafis warga. Facebook dengan prinsip nya Giving people the power to share and make the world more open and connected, kini telah digunakan oleh 3.675.111 penggemar.

Ruang publik fisik maupun maya, keduanya sama sama memberi kesempatan tiap orang untuk berbagi informasi dan saling mempengaruhi orang lain. Sebuah dunia paralel yang membuka berbagai kemungkinan berkomunikasi. Hal menarik terjadi, ketika sebuah ikon dari Frances Poly direproduksi oleh lembaga swadaya masyarakat KontraS dalam peringatan Tragedi Mei 98 baru lalu. Hal ini memberi sebuah peluang bagi media yang bersifat maya dapat direproduksi menjadi sebuah media kongkrit yang hadir secara fisik dalam bentuk cetak, baik spanduk, stiker, maupun t-shirt.

Apa yang telah dicapai oleh negeri ini dalam kebebasan berpendapat merupakan sebuah prestasi tersendiri. Demikian banyak ruang berkespresi dan berpendapat, yang pada jaman Orde Baru tidak akan terbayang dapat kita manfaatkan atau berani kita lakukan – kecuali dengan mengakibatkan pengorbanan kebebasan bahkan nyawa. Bagi pemerintahan baru yang akan memimpin negeri ini pada 2009 hingga 2014 ini, hal penting yang harus dilakukan adalah menjaga terus kebebasan berpendapat di ruang publik demi mekanisme kontrol yang akan membuat mesin pemerintahan tidak akan membusuk. Bilamana ada pihak yang dirugikan tentunya dapat menggunakan jalur hukum, sambil terus mereformasi hukum di negeri ini, agar menghilangkan seluruh pasal pasal peninggalan pemerintahan kolonial dahulu.

Spanduk Eros Djarot untuk Melawan Isu Komunis

eros-2

Beberapa waktu yang lalu di berbagai media, seperti harian  Harian Kompas, atau Tempo Interaktif, dan sebagainya, tersiar kabar bahwa Eros Djarot, sutradara dan ketua umum Partai Nasionalis Banteng Kerakyatan Indonesia (PNBKI) sedang membuat sebuah film dengan setting G30S. Namun hal yang memprihatinkan adalah bahwa film ini terhambat oleh ulah sekelompok warga yang tidak menyetujui pembuatan film itu. Sementara itu pihak Kepolisian RI dan Pemerintah Daerah setempat tidak dapat bertindak tegas terhadap aksi sepihak sekelompok warga terhadap warga lainnya. Fenomena ini menyiratkan dua hal: masih kuatnya kekhawatiran sebagian warga (dan juga pemerintah) terhadap berbagai hal yang membuka kasus PKI. Kedua, ketidaktegasan pemerintah dalam menegakkan hukum. Dikaitkan dengan fokus perhatian Jurnal Grafisosial, maka fenomena pertama tersebut membuktikan bahwa mesin propaganda Orde Baru masih terus bekerja mereproduksi secara terus menerus ketakutan dan fobia terhadap PKI. Mesin propaganda ini bekerja pertama kalinya pada tahun 1965, ketika kontrol terhadap informasi diberlakukan sehingga rakyat Indonesia hanya disuguhi satu versi peristiwa G30S, yaitu versi Soeharto dan Angkatan Darat. Kasus film Lastri ini sesungguhnya merupakan bukti paling aktual akan kerja mesin propaganda itu.

Untuk melawan upaya menghentikan pembuatan film. dan bahkan memojokkan pembuatnya, maka partai PNBKI memasang spanduk panjang (kurang-lebih 20 meter) di muka kantor PNBKI jalan Penjernihan I, Pejompongan, Jakarta Pusat. Bunyi spanduk itu adalah: “Eros Djarot Bukan Komunis”. Kalimat yang ditulis dengan huruf besar itu berbunyi langsung dan jelas, melawan isu bahwa Eros Djarot adalah Komunis. Walaupun cukup informatif, namun sayangnya desainnya kaku dan tidak bersifat persuasif. Spanduk lainnya menyatakan bahwa “Tuduhan terhadap Eros Djarot adalah upaya memecah belah bangsa”.

eros-1

Fobia terhadap komunisme memang masih menghinggapi sebagian rakyat Indonesia. Padahal kini keterlibatan, keterkaitan, serta peran PKI dan Soeharto, dalam peristiwa G30S terus dipertanyakan dalam berbagai publikasi kritis. Tampak sudah saatnya pemerintah segera meluruskan problem politik dan sejarah. Salah satu hal paling penting untuk dilakukan pemerintah SBY adalah dengan membentuk tim investigasi untuk penyusunan buku putih tentang G30S PKI versi SBY. Hanya dengan memahami sejarah secara seksama, menyenangkan atau tidak, maka Bangsa Indonesia dapat melangkah maju, tanpa terbebani sejarah dan tanpa melupakan sejarah.