Category Archives: Ulasan

13 Tahun Gugurnya 4 Pahlawan Reformasi

13 Tahun sudah 4 pahlawan reformasi, Elang Surya Lesmana, Hafidhin Royan, Hendriawan Sie, dan Hery Hertanto, ditembak oleh peluru aparat. Namun tak pernah ada kejelasan hukum seputar kasus ini. Peringatan gugurnya keempat pahlawan Reformasi di Trisakit tahun 2011 ini dilengkapi pula dengan penempelan poster-poster protes di dinding samping jalan layang depan Trisakti, Poster-poster karya para streetartist anonim itu diperbanyak dengan teknik foto kopi, menggunakan kertas berwarna putih dan coklat. Beberapa terlihat dikerjakan tanpa teknik yang baik. Beberapa lainnya dikerjakan dengan sangat baik. Sebagai upaya pengingat media-media tersebut merupakan teaser yang patut dihargai. Awalnya kami menuliskan bahwa poster atau wheatpaste ini dikerjakan oleh mahasiswa Trisakti, namun ternyata Jurnal Grafisosial mendapat ralat bahwa itu dikerjakan oleh streetartist dari Jakarta Selatan dengan identitas e-mail “slatanis”.

Bulan Februari lalu Ikatan Alumni Trisakti mengusulkan keempat mahasiswa Trisakti tersebut sebagai pahlawan reformasi. Ingatan terhadap keempat pahlawan yang gugur dalam demonstrasi untuk menurunkan Soeharto kini tinggal lamat-lamat. Saat ini para wakil rakyat yang menikmati hasil reformasi sibuk dengan pembangunan gedung baru DPR yang mewah. Sebagian lagi sibuk dengan urusan pengadilan akibat kasus korupsi. Semoga bangsa kita takkan lupa jasa dan makna dari gugurnya keempat pahlawan Reformasi.

Hidup itu Indah – Sebuah Cergam Kritis

Sampul Muka

Tahun 2010 baru saja berlalu. beberapa peristiwa di tahun 2010 berkait dengan insiden tindak kekerasan oleh organisasi massa (ormas) agama mayoritas (dari segi jumlah) terhadap umat agama atau kepercayaan lainnya. Tentu menjadi sangat disayangkan mengingat Negeri kita masih berasaskan Pancasila sebagai dasar negara.

Mayoritas memiliki kekuasaan

Permasalahan inilah yang coba diangkat dan rekam oleh komikus (Cergamis) Aji Prasetyo, melalui komiknya (Cergam) “Hidup itu Indah” (Penerbit Cendana Art Media, 2010). Tebal 215 halaman dengan ukuran: 14X20cm. Digarap dengan teknik yang sangat baik. Bentuk Cergam ini cukup unik, karena menggabungkan gambar dan tulisan sebagai sarana penyampai pendapat. Terdiri dari lima Bab dan tulisan opini dari sang Cergamis. Tulisannya sangat tajam dan kritis dalam menanggapi berbagai kekerasan atas nama Agama yang berlangsung di tengah masyarakat Indonesia, bahkan di depan hidung aparat Kepolisian. hal ini secara tegas diungkapkan Aji pada sampul muka cergam. Terlihat seorang Polantas menghentikan sebuah motor dinaiki oleh 3 (tiga orang tanpa helm. Mereka menjawab: “Melanggar? Ayat yang mana, Hadits yang mana?”

Front Pencemar Islam

Sebagai sebuah cerita bergambar maka komik ini menampilkan gabungan menarik antara kemampuan teknis dengan wawasan dan sikap kritis yang sangat kuat pada diri Aji Prasetyo, diwarnai sedikit sarkasme, dan sedikit bias-gender (sebagaimana disinggung oleh Ayu Utami di pengantarnya). Ditengah-tengah tindak-kekerasan dan represi dari kaum fundamentalis agama mayoritas terhadap kaum minoritas, maka cergam Aji Prasetyo menjadi sangat berharga, mengajak kita untuk berhenti sejenak dan berpikir ulang tentang dominasi mayoritas, apakah mayoritas identik dengan otoritarianisme. Apakah mayoritas boleh bersikap tidak adil pada minoritas?

Sebuah komik yang sangat penting untuk bangsa yang sedang bingung. Cergam Hidup itu Indah berhasil menjadi sebuah pamflet politik dari sang cergamis, Aji Prasetyo. Mewakili dan mendorong mayoritas-diam utk lebih berpartisipasi mencegah timbulnya negara agama.

Enam tahun Munir dibunuh

koleksi Rusdi Marpaung

Tanggal 7 September 2010 ini genap enam tahun sudah Munir, pejuang Hak Asasi Manusia itu dibunuh. Dia diracun dalam pesawat terbang Garuda Indonesia menuju Belanda. Hingga kini kasus itu belum juga terungkap tuntas. Selain Polycarpus sebagai pelaku langsung, tak ada dalang yang dapat ditangkap. terakhir Muchdi PR – mantan pejabat intelijen negara yang dicurigai sebagai salah-satu dalang – dibebaskan dari berbagai tuntutan oleh pengadilan.

Desain grafis yang pernah dirancang oleh lembaga-lembaga penegakkan HAM seperti Kasum, Kontras, dan sebagainya penting untuk terus disebarkan, walau sebatas di ruang internet, sebagaimana dilakukan oleh Rusdi Marpaung melalui album foto miliknya di jejaring sosial facebook. Dari rangkaian media-media yang berhasil kami kumpulkan itu, maka terlihat sebuah rangkaian media penyadaran yang menarik. Beberapa poster hitam putih, sementara dua poster lainnya berwarna penuh dan dua warna. Namun dari berbagai poster yang sangat menarik itu, tetaplah dua poster berwarna yang paling mudah dikenal. Poster pertama berjudul “Tegakkan Keadilan”. Poster kedua berjudul “Kita harus takut kepada rasa takut itu sendiri karena rasa takut menghilangkan akal sehat dan kecerdasan kita”.

Kekuatan dua poster berwarna tersebut di atas lebih pada ikon wajah Munir yang dibuat dengan sangat baik, dimana tatapan matanya langsung bertemu dengan tatapan kita. Poster “Tegakkan Keadilan” sangat kuat, karena menggunakan warna merah sebagai warna latar belakang. Judulnya pun sederhana dan langsung. Dengan sedikit olahan tipografi yang lebih baik, poster ini akan menjadi sebuah desain yang sangat unggul. Adapun poster berwarna kedua, memiliki kalimat yang terasa terlalu panjang untuk sebuah poster. Namun kelebihannya, poster ini dapat menjadi medium yang bersifat reflektif mendalam mengenai sosok Munir secara keseluruhan – bukan media pengingat yang dapat menggugah secara cepat.

Kesadaran dalam bentuk gerakan untuk terus mengingat Munir penting untuk dipertahankan dan dijalankan. Dengan cara ini desain grafis dapat menjadi sebuah media komunikasi yang akan terus-menerus tampil dari ruang publik hingga kedalam ruang memori publik. Dengan kampanye yang didukung oleh berbagai medium seni rupa dan desain grafis, maka kita akan selalu terjaga dan tersadar diantara berbagai pesan visual lainnya yang bersifat komersial – menawarkan berbagai barang dagangan yang tak kita butuhkan.

Poster Munir, koleksi digital Rusdi Marpaung

Poster koleksi digital Rusdi Marpaung

Pembunuhan Munir adalah sebuah teror dan propaganda untuk mematikan gerakan penegakkan hukum. Impunitas terhadap kasus Munir adalah kemenangan bagi kekuasaan hitam di negeri ini untuk menindas gerakan HAM. Sebelum kasus ini diungkap maka aparat penegak hukum sebagai aparatus negara tak punya hak untuk menyebut dirinya “penegak hukum”. Karenanya upaya untuk terus mengungkap kebenaran dalam kasus pembunuhan Munir harus terus dijalankan. Pembunuhan tak terungkap ini adalah hutang negara, hutang bangsa, hutang kita semua. Upaya melawan lupa harus terus dijalankan.

Lawan pelarangan buku: membangun opini publik terus-menerus

Malam hari, di awal bulan Maret – mereka bergerak di ruang-ruang publik ibu kota mengendarai sepeda-motor. Diam-diam mereka melakukan ‘aksi pemboman’ di berbagai sudut kota Jakarta. Untungnya kelompok perupa itu melakukan aksi-nya tidak menggunakan bom sungguhan. Mereka menggunakan karya seni rupa, mulai dari mural, poster, sticker, stencil dan cat semprot, dan sebagainya. ‘nge-bom’ adalah istilah di antara para perupa-perupa tersebut, untuk menyebut kegiatan berkarya di ruang publik.

'Nge-bom' di terowongan Dukuh-Atas (foto: Arip Hidayat).

Ranggalawe beraksi di Semanggi (foto: Arip Hidayat)

Syaiful Ardiyanto dan karyanya (Foto: Arip Hidayat)

Wildigda Sunu dan karyanya (Foto: Arip Hidayat)

Street Art membutuhkan kreativitas dalam pemasangan. Nampak Isrol Triono dengan bantuan kawan-kawan sedang beraksi (foto: Arip Hidayat)

Lawan Pelarangan Buku: Iqra

Pelarangan buku pakai UU jaman dahulu kala (tahun 1963) - Sticker di lantai karya Toni Malakian

Di depan ruang pameran ada sablon kaos gratis oleh komunitas Atap Alis

Beberapa perupa muda menggunakan cat tembok, langsung menggambari dinding. Beberapa lagi menempeli poster. Beberapa lagi, membantu seorang perupa menempel kertas HVS 100 gram yang telah digambar-tulisi. Pertama lem kanji diratakan ke bagian belakang kertas menggunakan rol. Setelah kertas ditempel ke dinding, permukaan gambar dilapisi pula oleh lem kanji itu sebagai pelapis yang melindungi gambar dari hujan. Robowobo demikian ‘nama jalanan’ salah satu perupa itu, menyebut teknik tersebut wheatpaste (baca: “Obrolan Ringan dengan Robowobo”). Mereka adalah para perupa-aktivis yang tergabung dalam beberapa komunitas seni rupa, diantaranya adalah komunitas Atap Alis, Propagraphic, Sakit Kuning, Semur-Jengkol. Kelompok-kelompok perupa ini terkenal aktif berkarya di ruang-ruang publik menggunakan berbagai media komunikasi luar-ruang. Karya-karya yang mereka tempelkan, semua memiliki tema yang sama: Memprotes pelarangan buku oleh Kejaksaan Agung.

Infografik karya Alit Ambara

Pesan dari kampanye ini sederhana saja: Pelarangan buku yang semena-mena oleh aparat negara merupakan sebuah kemunduran peradaban di jaman reformasi. Masyarakat sipil di negeri ini harus aktif untuk terlibat mengendalikan negara secara kolektif, agar negara tak menjadi berkuasa berlebihan – mengkooptasi warga.

Aktivitas berkarya dari para perupa-aktivis tersebut di atas adalah bagian dari tahap Pra-kondisional dalam program kampanye bertajuk : “Pelarangan Buku – menutup jendela dunia” – dimana pameran merupakan salah satu medium, sekaligus event pertanggungjawaban kepada publik. Pameran tersebut telah berlangsung di Taman Ismail Marzuki Jakarta, pada tanggal 14 – 17 Maret baru lalu. Dari Jakarta, pameran rencananya akan dilanjutkan ke Yogyakarta dan Surabaya. Tidak tertutup pula dilanjutkan di berbagai daerah dan kota lain, apabila ada permintaan.

Di bawah jembatan penyeberangan Polda - semanggi (foto: Arief Adityawan S).

Karya Nikasius - bawah jembatan penyeberangan Polda - Semanggi (foto: Arief Adityawan S)

karya isrol Triono - Atap Alis.

Pameran ini hanya salah-satu medium dalam kampanye sosial melawan pelarangan buku. Sesungguhnya pameran dapat dibilang sebagai media komunikasi yang spesifik; target audience sangat terbatas, karena hanya kalangan tertentu yang mengunjungi galeri-galeri khusus seperti di Taman Ismail Marzuki. Kecuali berpameran di ruang-ruang yang lebih terbuka seperti mal, stasiun, atau perpustakaan umum. Oleh sebab itu untuk membangun opini publik, penyebaran media dan pelibatan berbagai komunitas lintas-disiplin, serta tiap individu yang peduli pada hak warga untuk mengelola informasi, adalah sebuah keniscayaan. Tidak saja melalui jejaring sosial di dunia maya, atau mural-mural di dinding kota, namun juga berbagai media cetak dan elektronik.

Langkah berikutnya adalah melibatkan para pemilik media pers untuk mau sumbangkan slot 15 detik atau satu halaman majalah atau surat kabarnya, demi kebebasan berpendapat serta hak mengelola informasi tanpa tekanan kekuasaan. Hal ini harus terus dilakukan untuk mengawal proses persidangan di Mahkamah Konstitusi, hingga wewenang Kejaksaan Agung melarang buku dapat dihapuskan.

BEBERAPA MEDIA UNTUK KAMPANYE “MELAWAN PELARANGAN BUKU”

Poster “Membumihanguskan Buku”, karya Arip Hidayat

Poster, “Konstitusi Dilanggar”, karya Yayak Yatmaka

Poster, “Bebaskan Buku”, karya Eka Sofyan Riza

Poster, “Stop Pelarangan Buku”, karya Yayak Yatmaka

Iklan Cetak, “Bebaskan Buku”, karya Agus Danarto

Poster, “Kemunduran Peradaban Manusia”, karya Yayak Yatmaka

Meninjau ulang Strategi Kampanye Anti-Korupsi oleh KPK

Iklan KPK pertama setelah Bibit-Chandra dibebaskan

Isu Cicak yang mendukung Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah versus si-Buaya telah lama usai. Kita masih ingat saat rekaman yang berbau kolusi antara ‘markus’ dan oknum Kepolisian dan Kejaksaan membuat masyarakat berang. masyarakat meradang ketika terlihat ada upaya-upaya melemahkan KPK – sebagai benteng terakhir bangsa ini melawan kanker korupsi. kemudian sempat muncul mural-mural di jalan raya yang mengkritik upaya kriminalisasi KPK. Di berbagai media kini sedang hot isu Bank Century dan siapa yang akan dijadikan tumbal oleh SBY.

Dukungan masyarakat sipil yang kuat menjadi salah satu faktor penting yang membuat upaya kriminalisasi KPK melemah – paling tidak untuk saat ini. Pembebasan Bibit dan Chandra menjadi sebuah klimaks yang menggembirakan kita semua. Kekuatan anti korupsi dari berbagai pihak dan lapisan bersatu melawan para koruptor. Bersatunya kekuatan anti-korupsi untuk membebaskan kedua pimpinan KPK yang jujur dan penuh dedikasi itu tak tertandingi dan tak mungkin ditandingi oleh kasus Bank Century sekalipun. Bila dalam kasus Bibit dan Chandra, hitam dan putih terlihat jelas. Sedangkan dalam kasus Bank Century pihak-pihak yang mengklaim diri bersih dan putih pun ditengarai memiliki kepentingan politik. Tak jelas siapa putih dan siapa hitam.

Sayangnya KPK sebagai sebuah institusi anti-korupsi tidak memanfaatkan klimaks dukungan masyarakat terhadap dirinya sebagai momentum untuk memperkuat benteng perlawanan serta mengorganisir pasukan infanteri untuk memberantas korupsi – meminjam perumpamaan klasik dalam Marketing Warfare. Dalam strategi periklanan kondisi ini adalah saat ketika awareness dari khalayak sedang berada pada titik tertinggi. Hingga hari ini KPK tidak memelihara kesetiaan terhadap brand (brand loyalty) yang terbangun di masyarakat.

Seingat dan sepengetahuan penulis, KPK hanya mengeluarkan satu seri iklan yang ditampilkan di berbagai media, tidak lama setelah Bibit-Chandra dibebaskan. Iklan itu berbunyi: “Pemberantasan Korupsi Jalan Terus!”. Iklan tersebut terasa berbau sloganistik dan redundant. Bahkan bila dicermati lebih dalam, iklan tersebut tidak menyebutkan satupun kalimat yang bernada ucapan terima kasih atas dukungan masyarakat – kecuali kalimat “bersama rakyat KPK siap berantas korupsi hingga tuntas!”. Sesungguhnya sebuah iklan yang khusus bertema sebuah ucapan terima kasih akan tampak lebih rendah-hati, yang akan memperkuat empati khalayak. Setelah ucapan terima kasih yang tulus diiklankan, segera kampanye yang bertujuan untuk konsolidasi pasukan gabungan anti-korupsi ditampilkan.

Kini, upaya membangun brand loyalty terhadap KPK pasti lebih alot. Namun bukannya berarti tidak mungkin dan tidak dibutuhkan. Karena ancaman terhadap KPK masih berlangsung. Niatan Tifatul Sembiring sebagai Menkominfo yang ingin melucuti hak KPK dalam penyadapan nampaknya masih akan berlanjut. Masyarakat harus disiagakan, jangan sampai larut dalam gorengan isu Bank Century yang sarat kepentingan politik berbagai pihak. Pasukan Koruptor terus-menerus berkoordinasi, antara koruptor berbaju pengusaha, birokrat, maupun wakil-rakyat saling perkuat barisan. Karena itu KPK harus menyiapkan pasukan gabungan untuk terjun dalam medan pertempuran melawan para koruptor, awareness harus ditingkatkan kembali.

The Erased Time – Pameran FX Harsono

FXH1

FX Harsono berpameran di Galeri Nasional hingga 14 November 2009

“Begitu menjelang magrib pukul enam, banyak sekali anak-anak dari kampung agak jauh, mereka pergi ke mesjid lewat kampung sini. Kalau kami masih duduk-duduk di situ, selalu dikata-katain, ‘Cina, Cina, Cina…. ayo pulang….’ Kadang-kadang dilempar batu kecil. Sehingga kami selalu merasa bahwa pukul enam sore itu sudah harus masuk rumah…” (lihat kata pengantar Hendro Wiyanto, dalam The Erased Time, hal 8).

Di keluarganya, anak yang sering diledek dan ditimpuki itu biasa dipanggil “Ong” – lengkapnya Oh Hong Boen, anak dari Oh Hok Tjoe. Karena peraturan pemerintah Republik ini, keduanya dipaksa ganti nama yang “lebih pribumi” – sang ayah jadi Hendro Subagyo, dan si anak jadi FX Harsono. Si Ayah juru foto di Blitar, memiliki sebuah studio foto “Atom” sekitar tahun 50an hingga 60an. Harsono kecil ingat ayahnya punya satu album foto berisi foto-foto dokumentasi penggalian kembali tulang belulang sebuah kuburan massal. Harsono kecil tak

FXKurnia

Penelitian sebelum berkarya (Foto: Kurnia Setiawan)

pernah diberi tahu apa konteks foto-foto dokumentasi tersebut. Saat besar Harsono baru tahu, tulang belulang dalam album foto itu terkait dengan pembunuhan massal sekitar tahun 47-48. Saat itu terjadi politik bumi-hangus oleh pihak Republik, menghadapi agresi militer Belanda. Harsono membaca dalam buku Benny G. Setiono (2008), bahwa politik bumi hangus pihak Republik berakibat terjadinya penjarahan, pembunuhan, dan pemerkosaan terhadap orang Tionghoa di sekitar Jawa Timur. (Wiyanto, hal. 12).

FXH2FXH2a

Setengah abad kemudian Harsono menelusuri kembali tempat tempat tulang-belulang dalam album foto ayahnya itu digali. Harsono meneliti, mewawancara dan merekam lokasi dan saksi mata, maupun korban yang selamat dari peristiwa pembantaian massal terhadap orang Tionghoa tahun 47-48 tersebut. Terdapat 191 nama yang jadi korban pembantaian massal, yang tulang tengkoraknya dimakamkan kembali di sebuah daerah di Blitar.

Pameran The Erased Time ini berlangsung di Galeri Nasional, jalan Medan Merdeka Timur no.14 Jakarta hingga tanggal 14 November 2009. Sebagian dari karya-karyanya ini kemungkinan akan dipamerkan di Singapura. Harsono dalam pameran ini memanfaatkan secara optimal foto-foto karya ayahnya dalam berbagai bentuk. Mulai dari lukisan (cat akrilik dan cat minyak di atas kanvas), neon box, instalasi, maupun seni video, dan video dokumenter.

FXH3

Memelihara Hidup, Menghentikan Hidup # 2 (Foto Katalog Pameran)

Dua karya di atas kanvas (200Cm X 350Cm – dua panel) menampilkan foto tua pernikahan ayah-ibu Harsono, disandingkan dengan foto penggalian tulang-belulang. Keduanya berjudul “Memelihara Hidup, Menghentikan Hidup #1” dan “Memelihara Hidup, Menghentikan Hidup #2”. Ditengah tengahnya ditulis dengan huruf merah: “Perkawinan meneruskan kehidupan/ kematian menghentikannya/ perkawinan bisa direncanakan/ tapi kematian tak seorangpun bisa menduga/ Blitar 1948”. Pada kanvas lain tertulis: “Perkawinan dibina dan membuahkan kehidupan dan terus berkembang/ Manusia tak seharusnya menghentikan kehidupannya sendiri atau orang lain/ Blitar, 1951”

FXKurnia2

Darkroom (foto: Kurnia Setiawan)


FXKurnia3

Darkroom (foto: Kurnia Setiawan)

Lukisan ini secara kreatif mengaitkan dua gambar dengan konteks berbeda menjadi sebuah kontradiksi yang dipertajam dengan kekuatan verbal. Hasilnya mengingatkan kita bahwa Harsono memang akrab dengan dunia grafis dan periklanan, sebuah karya seni rupa yang menggugah dan sangat komunikatif. Nampaknya tak ada hal baru secara visual yang diciptakan oleh Harsono, seakan karya karya yang diciptakan Harsono hanya bersifat “ilustratif” belaka – meminjam pendapat seorang kawan. Namun sesungguhnya penggabungan dua tanda tersebut – foto pernikahan dan foto pembongkaran makam – mampu memberi konteks baru – yang dipertajam dan ditekankan pada teks verbal yang digunakannya. Kuatnya teks teks visual yang dirangkai oleh Harsono dalam pameran ini tampaknya merupakan buah dari penelitian Harsono yang cukup mendalam mengenai kasus pembunuhan massal ini. Terlebih kedekatan Harsono dengan data data foto karya ayahnya itu.

Lebih lanjut, secara keseluruhan pameran ini cukup berhasil mengangkat dan menggugah perhatian dan ingatan orang akan adanya sepenggal waktu yang dihapus – atau setidaknya sengaja tidak diungkapkan kembali. Sepenggal waktu berisi kekerasan rasis yang mencoreng perjuangan kemerdekaan negeri ini.

Teks: Arief Adityawan S.
Foto: FX Harsono (katalog), Kurnia Setiawan

Sebuah Metafor: Cicak dan Buaya

Cicak022

Akhirnya Selasa menjelang tengah malam, dua pimpinan Komisi Pemerantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Riyanto dan Chandra M. Hamzah mendapat penangguhan penahanannya. Hal ini merupakan sebuah angin segar bagi upaya masyarakat sipil dalam memperjuangkan pemberantasan korupsi di negeri ini. Penangguhan penahanan ini tidak bisa dilepaskan dari aksi unjuk rasa pada Senin 2 November 2009 di Bundaran Tugu Selamat Datang Jakarta hingga ke depan Istana Negara. Warga masyarakat turun ke jalan dibawah terik matahari menuntut pembebasan Bibit dan Chandra. Hal ini disebabkan sikap arogansi lembaga kepolisian yang dianggap publik bersikap tidak adil karena memiliki conflict of interest.

Cicak9a

Spanduk unjuk rasa yang menggunakan metafor Cicak-Buaya

Cicak1

Media unjuk rasa menggunakan teknik manual namun efektif

Warga pengunjuk rasa terdiri dari berbagai kalangan, sebagian besar adalah mahasiswa dan aktivis HAM dan anti-korupsi, sebagian lagi pekerja kantor, dan lain sebagainya. Mereka mengenakan ikat kepala bertuliskan slogan dengan semangat melawan korupsi. Sebagian mengenakan t-shirt bertuliskan “Menuntut Keadilan”. Sebagian lagi membawa kertas karton yang dengan tulisan tangan mengekspresikan kegeraman melawan buaya korup.

Istilah cicak dan buaya pertama kali diangkat oleh Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Komisaris Jenderal Susno Duadji. Ungkapan ini tercetus olehnya sebagai bentuk kegusaran Susno setelah mengetahui bahwa KPK menyadap pembicaraan telpon dirinya. Setelah pernyataan itu muncul di media massa, maka para aktivis anti-korupsi memanfaatkan istilah cicak menjadi sebuah kependekan dari “Cinta Indonesia Cinta KPK”. Para aktivis itu memanfaatkan posisi sebagai pihak lemah yang tertindas oleh kekuatan besar yang arogan dan otoriter. Secara visual pun simbol cicak dan buaya sangat mudah untuk menggugah dan menumbuhkan empati untuk mendukung sosok yang ‘dilemahkan’ dan tertekan. Logo gerakan Cicak pun dibuat dengan sederhana namun ternyata cukup ampuh untuk mewakili semangat solidaritas mendukung KPK.

Cicak9

Desain yang kuat dan komunikatif pada t-shirt dan spanduk

Istilah yang digunakan Susno menempatkan lembaga kepolisian sebagai sebuah lembaga besar dan kuat, yang diwakilkan dengan sosok buaya. Sementara untuk perumpamaan KPK, yang dianggap lembaga kecil dan lemah, digunakanlah sosok cicak. Dalam ilmu bahasa istilah Cicak dan Buaya adalah sebuah metafora. Kata “metafora” berasal dari bahasa Yunani yang artinya “mentranfer” atau “membawa dari satu tempat ke tempat lain”. Metafora adalah sebuah upaya imajinatif untuk menciptakan hubungan antara dua hal yang berbeda, namun memiliki sebuah kesamaan. Secara fisik-anatomis, cicak dan buaya memang memiliki kesamaan, sebagaimana lembaga kepolisian dan KPK, keduanya adalah lembaga penegak hukum.

Cicak8

dua spanduk dijital yang dirancang dengan baik

Menggunakan cicak dan buaya sebagai metafora pembeda kekuatan memang sangat tepat. Namun Susno tampaknya tidak mampu memahami konten moral dari perumpamaan buaya, sebagai binatang buas yang mematikan, selain pemalas, pemakan segala, memangsa dengan cara mengendap-endap. Lebih jauh Susno tampaknya lupa dengan istilah buaya yang sering dipadankan dengan kata “darat” pada idiom “Buaya darat”. Menggunakan pendekatan Barthes, selain makna mitos di atas, sosok buaya sebagai sebuah penanda, memiliki makna ideologis yang negatif, sebagai sebuah sifat manipulatif. Atau jangan-jangan penggunaan metafor buaya, merupakan refleksi bawah-sadar dirinya yang merasa bahwa kepolisian memang memiliki kemiripan dengan sifat-sifat buaya? Tentu hanya Susno Duadji lah – sebagai pencipta, yang tahu.

Teks dan Foto: Arief Adityawan S.