Category Archives: Tragedi Mei 98

13 Tahun Gugurnya 4 Pahlawan Reformasi

13 Tahun sudah 4 pahlawan reformasi, Elang Surya Lesmana, Hafidhin Royan, Hendriawan Sie, dan Hery Hertanto, ditembak oleh peluru aparat. Namun tak pernah ada kejelasan hukum seputar kasus ini. Peringatan gugurnya keempat pahlawan Reformasi di Trisakit tahun 2011 ini dilengkapi pula dengan penempelan poster-poster protes di dinding samping jalan layang depan Trisakti, Poster-poster karya para streetartist anonim itu diperbanyak dengan teknik foto kopi, menggunakan kertas berwarna putih dan coklat. Beberapa terlihat dikerjakan tanpa teknik yang baik. Beberapa lainnya dikerjakan dengan sangat baik. Sebagai upaya pengingat media-media tersebut merupakan teaser yang patut dihargai. Awalnya kami menuliskan bahwa poster atau wheatpaste ini dikerjakan oleh mahasiswa Trisakti, namun ternyata Jurnal Grafisosial mendapat ralat bahwa itu dikerjakan oleh streetartist dari Jakarta Selatan dengan identitas e-mail “slatanis”.

Bulan Februari lalu Ikatan Alumni Trisakti mengusulkan keempat mahasiswa Trisakti tersebut sebagai pahlawan reformasi. Ingatan terhadap keempat pahlawan yang gugur dalam demonstrasi untuk menurunkan Soeharto kini tinggal lamat-lamat. Saat ini para wakil rakyat yang menikmati hasil reformasi sibuk dengan pembangunan gedung baru DPR yang mewah. Sebagian lagi sibuk dengan urusan pengadilan akibat kasus korupsi. Semoga bangsa kita takkan lupa jasa dan makna dari gugurnya keempat pahlawan Reformasi.

Catatan dari 13 tahun yang lalu

Desain Poster: Adit Jerome Wardoyo

Mulai dari empat mahasiswa Trisakti ditembak tentara, lalu, korban berjatuhan, dibakar, dibunuh, diperkosa, dan dianiaya. Banyak pula hilang tak tentu rimbanya. 13 tahun sudah peristiwa itu berlalu. Tragedi Mei melanda Jakarta dan sekitarnya serta beberapa kota lain, berlangsung pada 12, 13, dan 14 Mei, 1998.

Banyak diantara kita yang meragukan gunanya mengungkit dan menggali ingatan masa lalu. Tak produktif, menyakitkan, lebih baik menatap masa depan, begitu mereka berujar. Tentu saja itu ada benarnya. Terutama bila itu terkait dengan memori buruk, trauma, rasa sakit, yang pernah kita alami. Namun sebagian lagi menyatakan bahwa berupaya melupakan pun hanyalah kepura-puraan, toh kita tak mungkin juga melupakan. Bagaimana kita dapat menata dan menatap masa depan dengan jernih, bila kita berpijak pada masa lalu yang kita represi dengan rapuh? (Pura-pura) melupakan hanyalah tanda bahwa kita tak pernah belajar dari masa lalu.

Mengingat dan memperingati adalah cara penting untuk tidak mengulangi masa lalu. Bangsa Jerman belajar menatap masa depan dengan mendirikan museum pembantaian terhadap orang Yahudi oleh Nazi. Bukannya (pura-pura) melupakan Auschwitz, dan kamp-kamp konsentrasi lainnya. Sayang bangsa kita masih harus belajar utk memahami masa lalu, walau itu memang tidak pernah menyenangkan, agar dapat melangkah ke masa depan dengan teguh. Mari kita memperingati masa lalu untuk menjahit luka.

Rangkaian acara Peringatan Tragedi Mei 98 (dikutip dari aikon2

Desain Poster: Enrico Halim

Jumat
6 Mei 2011
Roadshow Media – Kompas
Kontras

Selasa
10 Mei 2011
10.00 WIB: Roadshow Media- Koran Tempo. Kontras (tentatif)
14.00 WIB: Roadshow Media. Media Indonesia (tentatif)

Selasa-Jumat
10 – 13 Mei 2011
10.00 – 15.00 WIB: Pameran, Talkshow dan Peluncuran Koran Beta. Solidaritas Nusa Bangsa & Universitas Kristen Indonesia

Rabu
11 Mei 2011
14.00 – 16.00 WIB: Peluncuran kegiatan Peringatan Tragedi Mei 1998 dan Konferensi Pers Bersama di Komnas Perempuan serta peluncuran hasil survey Jaringan Tionghoa Muda
15.00 -17.00 WIB: Talkshow dan peluncuran Koran Beta. Solidaritas Nusa Bangsa
14.00 -selesai: Roadshow Media-The Jakarta Post. Kontras + Komunitas Korban

Kamis
12 Mei 2011
10.00 WIB: Roadshow Media-Poskota. Komnas Perempuan
10.00 WIB: Audiensi ke Kejaksaan Agung di Kejaksaan Agung. Kontras (tentatif)
13.00 – selesai: Audiensi ke Komisi III DPR
16.00-17.00 WIB di depan Istana Pameran Korban, Aksi Kamisan Mei

Jumat
13 Mei 2011
09.00-10.00 WIB: Tabur Bunga & Ziarah ke TPU Pondok Rangon. Kontras dan Paguyuban Korban Mei
19.00 – selesai Malam Budaya. Solidaritas Nusa Bangsa & Universitas Kristen Indonesia
19.00 WIB: Malam Renungan; Pengajian (tentatif)

Minggu
15 Mei 2011
08.00 Wib – selesai: Napak Reformasi. Komnas Perempuan
09.00-10.00 WIB: Jalan Santai “Melawan Lupa”. Kontras

Senin
16 Mei 2011
10.00 – 18.00 WIB di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia
Pemutaran (2 Film) dan Diskusi Film (Narasumber: Mugiyanto, Dosen Sejarah, Efendi Simbolon*)+ Pameran: mural Kontras, instalasi dr mahasiswa
Klub Studi Sejarah Universitas Indonesia

Kamis
19 Mei 2011: Launching Analisa Media ttg Perdebatan UU Pornografi. Komnas Perempuan

Sabtu
21 Mei 2011: Konvoi sepeda gowes to remember 98: trisakti – semanggi dan panggung ekspresi. Kontras (tentatif)

Senin
23 Mei 2011
13.00 – selesai: Pemutaran dan diskusi film ” Cinta” di Universitas Tarumanagara. Universitas Tarumanegara
Launching Analisa Media 2010 kaitannya dengan Kekerasan Seksual. Komnas Perempuan (tentatif)

Senin – Rabu
23 – 25 Mei 2011
16.00- selesai: Perayaan Kebergaman: Boneka, Foto, Poster, Maket, dll. di Universitas Tarumanagara

Rabu
25 Mei 2011
13.00 – selesai: Pemutaran dan diskusi film di Universitas Tarumanagara
14.00 WIB di MK: Teleconference dengan kawan2 berbagai daerah untuk diskusi Keberagaman. Komnas Perempuan (tentatif)

9808 Versus Lupa

Namanya Sugiharti Halim. Dia dilahirkan di Indonesia dari kedua orang tua yang berasal dari suku Tionghoa. Setelah mengkudeta Soekarno, salah satu peraturan pemerintah yang diterbitkan pertama kali oleh Soeharto adalah mewajibkan penduduk Indonesia dari suku Tionghoa untuk mengganti nama mereka dengan nama yang berbunyi, berkesan Indonesia. Sebagai contoh misalnya, orang Tionghoa dari marga Liem harus mengganti namanya menjadi Halim. Sugiharti Halim bercerita bagaimana dia selalu ditanya oleh para petugas kelurahan ataupun imigrasi, “siapa nama asli kamu”. Mereka tak percaya ketika dikatakan bahwa nama aslinya Sugiharti Halim. Kemudian dia ditanya tentang Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia (SBKRI). Dia tidak memiliki SBKRI karena ayahnya telah memilikinya,  sayangnya SBKRI tak pernah ditemukan setelah ayah Sugiharti wafat. Tentu saja pada akhirnya uang juga lah yang dituju oleh sang petugas. Sungguh ironis bahwa hanya suku Tionghoa sajalah yang diminta untuk berganti nama, sedangkan suku bangsa lain seperti Arab dan India tak pernah diminta mengganti nama mereka menjadi nama yang berbunyi nama Indonesia.

 

Film berjudul Sugiharti Halim – disutradarai oleh Ariani Darmawan – menggambarkan seorang perempuan yang berbicara langsung menghadap kamera, seakan-akan dia berbicara pada penonton. Fokus pembicaraan hanya satu: Bagaimana dirinya mendapat nama “Sugiharti Halim”, serta apa dampak dari pemberian nama itu. Baru kemudian penonton tahu bahwa Sugiharti ternyata sedang berbincang dengan pacarnya di sebuah restoran. Hampir seluruh film ‘Sugiharti Halim” berisi tentang perbincangan yang hampir bersifat satu arah. Hanya pada beberapa shot terakhir saja sang pacar – yang telah berganti beberapa kali – diberi kesempatan berbicara. Film ini sangat kuat dalam dialognya. Kalimat-kalimat yang digunakan oleh Sugiharti (diperankan oleh Nadia Maria) sangat menarik dan persuasif. Nadia sebagai pemeran Sugiharti pun membawakannya dengan gaya yang sangat alamiah. Teknik editing dari Astu Prasidya pun sedemikian rupa mulusnya sehingga mampu mengusir kebosanan penonton.

 

Selain film pendek berjudul Sugiharti Halim, juga terdapat sembilan buah film-film pendek lainnya yang bercerita seputar kejadian reformasi dan tragedi Mei 1998. Menurut penuturan Prima Rusdi – salah seorang penggagas dan produser, film 9808 ini adalah proyek mendadak dan spontan, sehingga tidak memiliki dana khusus dan besar. Kesepuluh sutradara membiayai filmnya sendiri demi sebuah keinginan untuk menceritakan kembali apa yang mereka alami dan seputar tragedi 13-14 Mei 1998 (Untuk memahami lebih jauh tentang latar belakang film ini silakan baca pada link http://www.9808films.wordpress.com).

 

Film ini dibuka oleh sebuah film berjudul “Sedang apa saya saat itu”, yang disutradarai (sekaligus produser dan penulis) Anggun Priambodo. Film pendek ini juga menarik karena dituturkan oleh “orang biasa”, mereka yang selama ini namanya tidak pernah muncul di media massa sebagai selebritis politik ataupun selebritis entertainment. Mereka bercerita dari sudut pandang masing-masing pada Mei 1998 itu, mulai dari pelajar SMP, Mahasiswa di dalam negeri, mahasiswa di luar negeri, pekerja biro iklan multinasional, dan lain sebagainya. Karena menggunakan sudut pandang “orang biasa” itulah maka film ini dengan mudah mengajak penonton untuk menanyakan hal yang sama pada dirinya: “Sedang apa saya saat itu?”.

 

Film “Yang belum Usai” adalah sebuah film dokumenter karya sutradara Ucu Agustin. Film ini bercerita tentang perjuangan seorang ibu dari mahasiswa Atmajaya yang tewas dalam peristiwa Semanggi II pada tahun 1998. Ibu Sumarsih adalah nama dari ibunda Wawan mahasiswa yang ikut berdemonstrasi dan ditembak oleh Polisi di bawah jembatan Semanggi. Film ini mampu menyentuh empati karena berhasil menangkap ketulusan seorang ibu dalam memperjuangkan keadilan bagi buah hati kesayangannya.

Hingga kini Ibu Sumarsih terus berjuang menuntut keadilan hingga kasus penembakan oleh aparat negara ini dapat terkuak. Sang ibu beserta suami dan bersama Jaringan Solidaritas Keluarga Korban telah 65 kali melakukan aksi damai tiap Kamis sore, berdiri diam di muka Istana Merdeka sebagai ungkapan protes (baca tentang aksi damai kamisan di rubrik/kategori “Aksi Damai Kamisan” – pada Jurnal Grafisosial ini). 

 

Terakhir film 9808 ditutup oleh sebuah film karya sutradara Steven Pillar berjudul “Sekolah Kami, Hidup Kami”. Film ini bercerita tentang bagaimana siswa-siswa OSIS sebuah SMU di Surakarta – sekian tahun sesudah reformasi – berjuang memberantas korupsi yang dilakukan oleh Kepala Sekolah dan beberapa guru mereka. Dengan kepolosannya, siswa-siswa SMU ini menceritakan bagaimana perjuangan mereka hingga berhasil mengadakan unjuuk rasa dalam bentuk “sidang terbuka” terhadap para guru mereka. Secara simbolik film penutup ini berupaya memberikan semangat optimis bahwa reformasi 1998 memberikan hasil yang positif dikalangan generasi muda indonesia. Mereka berani dan mampu melawan aksi KKN yang dilakukan oleh pihak berwenang dalam lingkup yang terdekat dan nyata disekitar mereka.

 

Secara keseluruhan Film 9808 sangat menarik untuk ditonton oleh siapapun yang tidak ingin tertelan lupa. Tanpa mengurangi rasa kagum dan apresiasi penulis pada film-film lainnya, mengingat keterbatasan ruang penulis hanya dapat menceritakan empat film pendek saja dari sepuluh film pendek dalam 9808. Namun jelas bahwa film 9808 menjadi tonggak pengingat siapapun, bahkan mereka yang masih kecil ataupun belum lahir pada tahun 1998, bahwa ada peristiwa penting yang tak boleh dilupakan, yang mengubah nasib banyak orang di Indonesia – nasib bangsa ini. Selain karena ini adalah satu-satunya film yang muncul untuk memperingati tragedi kemanusiaan 13-15 Mei 1998, juga karena semangat dan mutu film ini sulit untuk diabaikan dan dilupakan, walau bulan Mei telah berlalu satu minggu.

 

Arief Adityawan S.

 


  Keppres No. 127/U/Kep/12/1966

Wall Graphic Mei 98

Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Tarumanagara Jakarta

Karya Dosen dan Mahasiswa FSRD Untar Jakarta

10 Tahun Tragedi Mei 98

Poster ini meminjam sebuah karya seni grafis dari seniwati Jerman Kaethe Kolwitz sebagai ilustrasi. 

Poster ini bisa digunakan untuk memperingati 10 tahun tragedi Mei 98, dengan ijin pada Grafisosial

Kampus Trisakti Melawan Lupa

trisakti11.jpg 

 

Hampir 10 tahun yang lalu, tepatnya 12 Mei 1998, terjadi penembakan terhadap empat mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta: Elang Maulana, Hafidin Royan. Hendrawan Sie, Hery Hartanto. Keempatnya gugur sebagai pahlawan reformasi, bersama sepuluh mahasiswa lainnya: Dortheys Hiyo Eluway, Muhammad Yusuf Rizal, Yun Hap, Bernadus R. Norma Irawan, Engkus Kusnadi, Heru Sudibyo, Lukman Firdaus, Sigit Prasetyo, Teddy Wardani Kusuma, Moses Gatotkaca. Ke-14 pahlawan reformasi gugur di beberapa kota di Indonesia (baca: www.semanggipeduli.com).

Hingga kini kasus-kasus penembakan itu masih kabur. Kalaupun ada pelaku yang telah dijatuhi hukuman, hanyalah prajurit-prajurit pelaku lapangan. Kesungguhan pemerintah dalam penanganan kasus-kasus penembakan mahasiswa selama reformasi masih harus terus dipertanyakan. Keluarga para pahlawan Reformasi masih berharap bahwa para petinggi yang menjadi dalang penembakan dapat dimejahijaukan (baca kategori Jurnal ini: Aksi Diam Kamisan). Memang hanya dengan cara itulah, praktek kekerasan oleh negara dan praktek impunitas dapat dihindari terulangnya kembali lembaran hitam sejarah bangsa. Dibutuhkan kekuatan masyarakat madani untuk terus mendesak pemerintah menuntaskan kasus-kasus diatas, sebagai sebuah upaya melawan lupa.

 trisakti2.jpg

Hari ini di kampus Trisakti Jakarta telah terpampang baliho besar berwarna merah, sebagai sebuah desain grafis untuk memperingati 10 tahun tragedi Semanggi. Tertulis teks “Kami menangis bukan karena gas air mata, kami menangis karena kami kecewa” Karena warna merah yang dominan serta ukurannya yang besar, baliho ini  menarik perhatian mata. Ilustrasi baliho ini adalah wajah keempat pahlawan Reformasi. Nampaknya desain grafis yang tampil bertujuan untuk mengungkapkan rasa kecewa, dan marah akibat kasus yang tak kunjung tuntas. Dalam penilaian kami gagasan utama (pengusutan tuntas) dari desain grafis ini dapat dikembangkan lebih kreatif agar terbangun empati pada publik. Menampilkan wajah keempat pahlawan tentu saja tidaklah salah, namun perlu dipertimbangkan kemungkinan untuk menciptakan ikon atau bahkan simbol lain yang lebih mampu menggugah ingatan publik. Hal ini agak berbeda dengan tampilan ikon Munir yang wajahnya lebih mudah diingat. Terlepas dari itu upaya pemasangan media untuk melawan lupa ini sungguh patut dihargai.

 trisakti4.jpg

Lebih lanjut kalau kita berjalan masuk ke area parkir kampus itu, terlihat menjulang sebuah monumen untuk kita semua mengingat tragedi 12 Mei itu. Di beberapa titik lain dekat monumen, terlihat lingkaran logam menempel di aspal, sebagai penanda robohnya tubuh para pahlawan. Lingkaran logam itu dirancang sedemikian rupa sehingga mengingatkan kita pada bagian bawah peluru. Dan sentuhan terakhir adalah rangkaian bunga duka cita yang tiap hari selalu diganti dengan rangkaian bunga segar. Upaya-upaya simbolik yang demikian simpatik, diharapkan dapat terus menggugah sikap kritis dan aktivisme mahasiswa Trisakti untuk peduli keadilan dan nasib bangsa ini. Hal mana menjadi tantangan bagi gerakan mahasiswa di berbagai kampus di kota-kota metropolitan seperti Jakarta yang dikelilingi oleh berbagai kemudahan artifisial.

 trisakti3.jpg

Akan sangat berarti bila upaya menciptakan media simbolik yang berfungsi melawan amnesia politik  juga dibangun dalam skala yang lebih luas di luar kampus Trisakti. Misalnya saja pada salah satu titik di lapangan Monas dibangun sebuah monumen peringatan bagi para pahlawan reformasi. Apa gunanya? Monumen pada dasarnya adalah sebuah media komunikasi, sebuah upaya simbolik untuk melawan lupa. Monumen akan mengingatkan kita agar menyelesaikan hutang-hutang sejarah, sehingga kita semua dapat memaafkan kebodohan kita di masa lalu sebagai bangsa, tanpa melupakannya. Hanya dengan mengingatnya kita boleh berharap untuk tidak mengulangi kebodohan di masa lalu. (teks dan foto: a.a.s)