Category Archives: Liputan

Berita Duka Cita

Sumber foto asli: Priyambodo (Kompas)

Aktivis Hak Asasi Manusia, Asmara Nababan telah meninggal dunia pada hari Kamis 28 Oktober di Rumah Sakit Fuda, Guangzou, Cina. Asmara pernah menjabat sebagai Sekjen Komnas HAM, Anggota Tim Gabungan Pencari Fakta Tragedi Mei 1998, dan pendiri Elsam.
Kami, Grafisosial, berduka cita yang mendalam.

Aksi Keprihatinan 1000 Lilin Lintas-Agama

Merah-Putih harus melindungi semua agama (foto oleh Nina Masjhur)

Malam itu, sejumlah orang memegang nyala lilin, sejumlah lainnya membiarkan lilin-lilin tegak menyala di lantai pinggiran bunderan tugu Selamat Datang, Jakarta. Sejumlah lain berorasi menyuarakan pentingnya hidup dalam keberagaman keyakinan. Unjuk Rasa yang dinamakan Aksi Keprihatinan 1000 Lilin Lintas-Agama, yang diadakan pada 16 September 2010, dimulai pukul 19.00 selama kurang-lebih dua jam. Unjuk-rasa ini merupakan sebuah reaksi atas terjadinya kekerasan (yang besar kemungkinan) berlatar-belakang agama, ketika terjadi penusukan terhadap seorang pendeta HKBP Bekasi pada 12 September lalu. Tersangka pelaku penusukan adalah oknum Front Pembela Islam (FPI) cabang Bekasi.

Sangat disayangkan media desain grafis yang digunakan dalam aksi unjuk-rasa ini tidak tergarap dengan baik, sehingga efek penyebaran isu dan tuntutan tidak terkomunikasikan dengan jelas, baik secara langsung terlihat oleh warga yang melintas, maupun ketika foto aksi ini dimuat di media massa.

1000 lilin untuk kebebasan beragama (Foto oleh Eva Joewono).

Salah satu pangkal permasalahan dari kekerasan berlatar-belakang agama ini terkait dengan masalah pendirian rumah ibadat Gereja. Oleh karena itu dalam unjuk rasa di bunderan tugu Selamat Datang juga tercetus pemikiran untuk menghapuskan Surat Keputusan Bersama (SKB) 2 menteri yang berisi pengaturan pendirian rumah ibadah. SKB 2 menteri ini cenderung membatasi dan mempersulit pendirian rumah ibadah bagi umat non-Muslim.

Nampaknya pemerintah bersama seluruh bangsa ini perlu mengkaji-ulang bagaimana kita memandang hubungan antar-agama, serta bagaimana kita menyikapi Sila pertama Pancasila dan pasal 29 UUD 45 tentang kebebasan beragama. Pemerintah SBY harus bersikap adil dan konsisten dalam menegakkan UUD 45 dan menjaga Sila pertama Pancasila. Negara ini bukanlah milik sekelompok golongan yang mayoritas, sehingga dapat meminggirkan golongan lain – yang minoritas. Negara ini didirikan bersama untuk kehidupan kita bersama, sejak dulu, sekarang, dan seterusnya.

Obrolan Santai dengan Seorang Street Artist – Robo Wobo

Robo Wobo dan karyanya (foto oleh Arip Hidayat)

Nama lengkapnya RM. Herwibowo atau Bowo. ‘Nama jalanan’ dia dalam berkarya di ruang publik adalah Robo Wobo. Icon yang sering dia gunakan dalam berkarya, nampaknya terkait dengan nama itu – bentuknya seperti sebuah robot – berwajah dari besi, kadang bermata satu atau dua, sering mengeluarkan asap. Nama ini pula yang dia gunakan di jejaring sosial Facebook.

Dia adalah mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Jurusan Pendidikan Seni Rupa – Universitas Negeri Jakarta. Walau dia masuk ke UNJ tahun 2000, namun hingga kini masih tercatat sebagai mahasiswa setelah melalui proses pemutihan tahun 2007. Nampaknya, aktivitas seni rupa jalanan yang dia tekuni bersama kawan-kawannya cukup menyita waktu kuliahnya. Hingga kini dia sangat aktif, malang-melintang sebagai perupa di ruang publik, bersama komunitas seni rupa Propagraphic dan Serrum.

Di bawah ini adalah obrolan ringan Arief Adityawan S. (AAS) dengan Robo Wobo (RW) pada suatu malam larut, melalui jejaring sosial Facebook.

AAS
Hai bow

Robo Wobo (RW):
Yo

AAS:
Itu teknik yang pakai kertas elo tempel terus dikasih kanji sebagai pelapis (betul ya?) tekniknya disebut apa bow?

RW:
Wheatpaste. Teknisnya sama aja kaya maen poster yang ditempel – wheatpaste lebih bebas, ga tergantung format kertas seperti poster dan secara teknis penggarapnnya bisa lebih variatif fotokopi, print out, stencil, lukis, dll

AAS:
Tapi kan elo gambar dulu di kertas kan? bukannya itu jadi tergantung format kertas?

RW:
Kalo maen posterkan ada formatnya, minA3-A0, kalo maen wheatpaste terserah bisa segala macem ukuran, wheatpaste lebih deket ke karya stiker

AAS:
Ooh, kalo wheatpaste elo gambar biasanya di kertas jenis apa? kertas semen disambung2? atau apa?

RW:
Bedanya lemnya terpisah. untuk kertas bisa macem-macem jenisnya, pake kertas koran juga bisa, tapi gampang sobek. gw biasanya pake kertas hvs 100 gr. gak terlalu tipis biar gak gampang sobek pas penempelan

Lokasi: dekat jembatan Semanggi / bawah jembatan penyeberangan Polda (foto: Arief Adityawan)

AAS:
Ooh ya ya.. kalo karya karya elo di ruang publik itu elo anggap sebagai karya seni atau karya desain?

RW:
Karya seni / karya desain gw ga pernah mikirin itu. yang penting bikin dan menginformasikan apa yang gw cerna dari fenomena yang ada di sekitar gw ga pernah mencoba untuk melebih”kan sebagai suatu karya yang masterpiece.

AAS:
Karya elo selalu berpesan dengan eksplisit, artinya pesan mudah dicerna? pernah gak karyamu tanpa pesan pesan yang informatif, tapi lebih “sekedar” nilai estetik aja?

RW:
Mungkin udah jadi kebiasaan kali ya, bikin karya propaganda yang selalu berpesan, sebenernya pengen si bikin yang seperti itu yang lebih nampilin segi estetisnya aja, nanti deh gw coba. kadang suka kepikiran kalo karya yang gw bikin cuma gw doang yang ngerti terus gw tempelin di jalan, sayang aja ga ada hasilnya

AAS
Artinya unsur komunikasi, gimana si pelihat memahami dan terpengaruh oleh karya elo, jadi pertimbangan elo berkarya?

RW
Dalam proses penyampaian pesan biasanya gw selalu memperhatikan situs/tempat yang pengen gw tempelin. sama perkembangan pemberitaan yang di bahas di media dan gw coba memutar persepsi gw sebagai orang yang melihat. dan gw berusaha engga menjadi hakim terhadap suatu kondisi, gw cuma sebagai reminder untuk mereka yang melihat

AAS
Elo yakin gak orang akan terpengaruh oleh karya elo itu?

RW
Untuk mempengaruhi gw ga berharap banyak, karena publik punya persepsi sendiri terhadap karya gw. Biar mereka aja memutuskan menerima atau menolak, gw sebatas mengingatkan. Kalo mereka sependapat, baguslah…hehehe

AAS
Apa yang membuat kawan kawan Propagraphic memilih mural dan wheatpaste sebagai medium utama dalam berkarya?

salah-satu foto profil Robo Wobo di jejaring sosial facebook

RW
Untuk Propagraphic sebenernya ga pernah mengkhususkan medium berkarya, yang penting dalam berkarya temen-temen punya kesadaran ruang dan perkembangan informasi yang berkembang.

AAS
Pernah mencoba dan menikmati berkarya dengan media lain diluar mural/poster? misal yang lebih komersial spt kanvas? kan mural gak laku dijual?

RW
Kalo untuk produksi dikanvas gw rasa temen-temen pasti punya, kadang jenuh juga bikin karya yang bisa dipajang di rumah atau ikutan pameran bersama. untuk masalah karya mural laku ga laku gw rasa ga jadi permasalahan besar. Yang penting bisa menghilangkan penat

AAS
Jadi mural sebagai medium ekspresi sekaligus propaganda juga ya?

RW
Begitulah, yang penting suka sama suka. Ga ada paksaan dalam aksinya

AAS
Hahaha,..Satu lagi pertanyaan: kalo orang bilang Mural itu ngotorin pemandangan gimana?

RW
Gw rasa untuk mural yang merusak pemandangan gara-gara si artisnya ga punya kesadaran ruang dan kurang cerdas mengolah visual yang akan ditampilin di jalan.
….……
AAS
…. kalo nempel-nempel gitu pake ijin ga? atau hajar bleh…

RW
Selama ini Propagraphic ga pernh minta ijin. paling kita kerja sama komunitas / artis sekitar daerah yang mau kita bom.
Itung-itung berkarya bareng aja, sama akamsinya

AAS
Sedaap… ok bow. trims sekali lagi yee.. sampe ketemu di pameran… met malem

RW
Daagh

Bebaskan Buku! – kampanye visual melawan pelarangan buku

Poster, karya Alit Ambara

Selama masa pemerintahan presiden Habibie dan Gus Dur, tak pernah ada pelarangan buku oleh pemerintah. Namun antara 2006 dan 2009 – dalam masa pemerintahan SBY, Kejaksaan Agung telah melarang 22 buku – kebanyakan buku akademis – menggunakan UU No. 4/PNPS/1963. Pelarangan buku justru kembali terjadi enam tahun setelah disahkannya Perubahan Kedua UUD 1945 yang mencantumkan kebebasan berpendapat sebagai bagian dari hak asasi manusia yang harus dilindungi, dimajukan, dan ditegakkan oleh negara, terutama oleh pemerintah. Hal tersebut di atas dikemukakan dalam siaran pers para pemohon judicial review kepada Mahkamah Konstitusi tertanggal. Para pemohon adalah, Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) dan Rhoma Dwi Aria Yuliantri, penerbit dan penulis yang buku-bukunya dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung.

Sticker, oleh Isroltriono

Menggugat Kejaksaan Agung
Tanggal 23 Februari lalu, permohonan uji materi (judicial review) terhadap UU No. 4/PNPS/1963 didaftarkan oleh tim pengacara yang tergabung dalam Tim Pembela Kebebasan Berekspresi, dan didukung oleh Koalisi Masyarakat Sipil Pembela Kebebasan Berekspresi. Permohonan ini dipicu oleh tindakan Kejaksaan Agung Republik Indonesia yang melarang peredaran lima judul buku pada tanggal 22 Desember 2009. Dua diantaranya adalah karya John Roosa, berjudul Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, diterbitkan oleh ISSI dan Hasta Mitra (2008), dan karya Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan, berjudul Lekra Tak Membakar Buku Suara Senyap Lembar Kebudayaan, Harian Rakjat 1950-1965, diterbitkan oleh Merahkesumba (2008).

Sampul muka oleh Alit Ambara

Kejaksaan Agung mendasarkan pelarangan buku-buku tersebut pada UU No. 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-Barang Cetakan yang Isinya dapat Mengganggu Ketertiban Umum dan UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI Pasal 30 ayat (3) huruf (c). UU No. 4/PNPS/1963 adalah Penetapan Presiden yang dijadikan undang-undang melalui UU No. 5 Tahun 1969 tentang Pernyataan Berbagai Penetapan Presiden dan Peraturan Presiden sebagai Undang-Undang. Bayangkan saja, bagaimana sebuah pelarangan buku yang terjadi di era reformasi didasarkan oleh sebuah Undang-undang tahun 1963 – di era demokrasi terpimpinnya bung Karno.

Sticker, karya Isroltriono

Proses pelarangan dilakukan setelah buku-buku itu diteliti oleh suatu kelompok yang disebutkan pihak Kejagung sebagai “clearing house”. Lembaga dalam Kejagung yang bernama clearing house hingga kini tak pernah jelas siapa anggotanya, bagaimana kredibilitas anggotanya, bagaimana sistem kerjanya, dan sebagainya. Bahkan hingga kini pihak penulis dan penerbit yang buku-bukunya dilarang itu, tidak pernah tahu persis, bagian mana saja dari buku mereka yang dianggap dapat “mengganggu ketertiban umum”. Adalah sebuah hal yang tidak masuk akal, bahwa sebuah buku karangan John Roosa, Dalih Pembunuhan Masal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, (Jakarta: ISSI dan Hasta Mitra,2008) dianggap dapat mengganggu ketertiban umum. Salah satu bentuk perlawanan yang dilakukan oleh pihak penerbit adalah dengan memberikan akses seluas mungkin agar buku Dalih Pembunuhan Massal dapat dibaca publik. Buku itu kini dapat di download melalui situs Institut Sejarah Sosial Indonesia. Selain itu buku juga dapat di download melalui blog milik John Roosa

Sejarah Kelam Bangsa Kita
Buku hasil penelitian ilmiah yang mendalam ini telah terbit dua tahun yang lalu tanpa menimbulkan gangguan “ketertiban umum” apapun. Bahkan telah mendapat penghargaan dalam sebuah forum ilmiah internasional sebagai buku hasil penelitian terbaik. Nampaknya satu-satunya “kesalahan” buku Dalih Pembunuhan Massal ini adalah karena telah memberikan tafsir sejarah mengenai G30S, secara berbeda dari apa yang dipropagandakan oleh Soeharto. Propaganda Soeharto itu terbukti ampuh, mengingat kepercayaan terhadap tafsir G30S karangan Soeharto masih tetap bertahan walau sang pengarang sejarah itu telah tiada.

Tafsir bahwa G30S dilakukan oleh sebuah partai – bukan oleh segelintir individu dari partai itu, adalah sebuah tafsir yang ingin terus dipertahankan. Demikian pula kenyataan bahwa Pembunuhan Massal terhadap ratusan ribu jiwa oleh bangsa kita sendiri telah terjadi, hendak ditutup-tutupi. Nampaknya kita sebagai bangsa masih harus terus belajar untuk mampu melihat dan mengakui sejarah kelam diri kita, kekejaman yang pernah kita lakukan, secara apa adanya. Hanya dengan cara demikianlah maka kita dapat berharap untuk tidak mengulangi sejarah kelam kita itu.

Kampanye Visual
Sebagai sebuah bentuk dukungan terhadap Judicial Review yang dilakukan oleh para penulis dan penerbit tersebut, dua buah grup di jejaring sosial Facebook telah dibuat. Grup pertama bernama “Cabut Kewenangan Kejagung Melarang Buku” . Grup ini telah berhasil mengumpulkan dukungan sejumlah lebih dari 9.500 anggota. Kemudian grup kedua adalah Tolak Pembredelan Buku oleh Kejagung RI . Kelompok kedua ini beranggotakan sekitar 6000 anggota.

Selain jejaring sosial di dunia maya, sekelompok seniman dan desainer telah mencoba membuat beberapa karya desain dan seni yang merupakan sebuah respons terhadap pelanggaran HAM yang dilakukan melalui pelarangan buku. Beberapa karya yang masuk ke kami adalah karya-karya Alit Ambara dan Isrol Triono. Diharapakan pada tanggal 14-17 Maret mendatang berbagai hasil karya seni dan desain ini dapat dipamerkan di Taman Ismail Marzuki Jakarta, selain juga akan disebarkan di berbagai ruang publik. Kepada siapa pun yang ingin berpartisipasi dalam pameran ini dapat mengirimkan karya-karya digitalnya dapat menghubungi Alit Ambara (alitambara@gmail.com) dan Arief Adityawan S (arifaditya@yahoo.com).

Poster, karya Alit Ambara

Awal dari sebuah kampanye sosial Masyarakat Bebas-Bising

Logo dan tag-line Masyarakat Bebas-Bising

Menurut penelitian kedokteran, gaya hidup masyarakat di berbagai kota besar di Indonesia, khususnya Jakarta, sangat rawan bila dilihat dari tingkat kebisingannya. Contoh: di mal, banyak pusat permainan yang ditujukan bagi anak-anak dengan bising yang seharusnya tidak boleh didengar lebih dari 15 menit. Atau music player yang harusnya punya batas aman tertentu, namun di Indonesia dibiarkan dipakai konsumen remaja tanpa aturan pemerintah yang menjaga kesehatan telinga. Selain itu kebisingan di tempat kerja, terkait dengan pengoperasian mesin dengan bising tinggi harus menjadi perhatian pemilik perusahaan bersama karyawan. Demikian pula dengan bising yang ditimbulkan oleh suara moda transportasi seperti knalpot motor, kendaraan umum, dan lain sebagainya. Termasuk pula penggunaan alat pengeras suara secara tidak tepat di rumah-rumah ibadah.

Memang membicarakan bising, pada akhirnya harus dikaitkan dengan masalah peraturan dan penegakkan UU atau Perda. Namun hal yang lebih penting adalah bagaimana meningkatkan kesadaran warga utk lebih bijaksana dan kritis dalam menjaga kesehatan pendengaran dirinya, ataupun keluarga terdekat mereka.

T-Shirt Masyarakat Bebas-Bising, dijual untuk pengumpulan dana.

Untuk itulah Masyarakat Bebas-Bising yang diketuai oleh Slamet Abdul Syukur, berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat melalui kampanye anti-bising. Komunitas ini didirikan pada tanggal 23 Januari 2010 baru lalu oleh berbagai kalangan masyarakat sipil yang peduli. Kampanye ini dimulai dari perancangan logo bersama-sama, dimana M. Sigit Budi S. dari komunitas Serrum membantu mendesain hingga logo itu mewujud. Logo komunitas yang ingin membentuk sebuah gerakan ini sederhana dan jelas: ikon pengeras suara dengan gelombang suara yang terlihat maksimum, diberikan tanda atau rambu larangan merah. Sesungguhnya tidak tertutup kemungkinan menciptakan garis-garis yang lebih ekspresif untuk ciptakan kesan darurat dan penting. Namun dengan logo yang ada pun sesungguhnya telah memenuhi fungsinya. Terlebih bila logo ini ditempatkan pada latar belakang berwarna putih, akan memberi kekuatan kontras yang tinggi.

Sigit pula yang kemudian merancang t-shirt putih Masyarakat Bebas-Bising – yang rencananya akan dijual sebagai salah-satu merchandize untuk pengumpulan dana. Selanjutnya komunitas itu membuka sebuah grup di jejaring sosial Facebook dengan nama\"Dukung Masyarakat Bebas-Bising\" Tahap Berikutnya kita semua sebaiknya bersiap-siap menerima edukasi berupa kampanye sosial tentang pentingnya menjaga telinga dari bising yang mengganggu kesehatan. Tidak tertutup kemungkinan bila ada insan periklanan yang berminat menjadi sukarelawan membantu perancangan kampanye sosial melawan kebisingan tersebut. Ayo kita dukung Masyarakat Bebas-Bising!

SIARAN PERS MASYARAKAT BEBAS-BISING

Kebisingan kota-kota besar di Indonesia sudah melewati ambang batas, sehingga tidak hanya menyebabkan gangguan pendengaran dan ketulian, tetapi juga membahayakan kesehatan fisik dan psikis masyarakat maupun lingkungan secara umum, terlihat dari fakta-fakta sebagai berikut:
Angka gangguan pendengaran telah mencapai 16,8 % dari jumlah penduduk Indonesia.
10,7 % anggota masyarakat yang melakukan aktivitas di sekitar jalan raya di Jakarta (pedagang kaki lima, polisi lalu lintas, tukang parkir, tukang koran, dan lain-lain) mengalami gangguan pendengaran akibat bising.
Pekerja pabrik baja usia 30-46 tahun, 61,8 % mengalami gangguan pendengaran akibat bising.
Kebisingan di jalan raya kota-kota besar Indonesia telah mencapai 80 dB (desibel), sementara ambang batas yang diperkenankan hanya 70 dB.
Kebisingan di banyak mal dan fasilitas rekreasi keluarga telah mencapai 90-97 dB, sementara ambang batas yang diperkenankan hanya 70 dB.
Perubahan perilaku menjadi mudah marah dan agresif, sehingga menjadi pemicu tindak kekerasan yang kerap terjadi di ruang-ruang publik ditengarai sebagai akibat dari kebisingan.
Hal tersebut diakibatkan oleh makin meningkatnya sumber-sumber polusi kebisingan di sekitar kita, antara lain:
Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor di kota-kota besar (di Jakarta saat ini jumlah kendaraan bermotor hampir sama dengan jumlah penduduknya).
Penggunaan perangkat pengeras suara di ruang-ruang publik (mal, tempat rekreasi keluarga, tempat-tempat ibadah, bandara, terminal bis dan kereta api yang tidak mengindahkan ambang batas kebisingan serta penataan akustik dari bangunan yang tidak memenuhi syarat.
Gaya hidup masa kini (penggunaan alat-alat teknologi yang menghasilkan kebisingan) yang tidak bijaksana dan tidak memperhitungkan risiko gangguan pendengaran, seperti stereo system, knalpot modifikasi, balap motor liar, pemutar rekaman digital, telpon genggam, peralatan rumah tangga elektronik, dan lain-lain.
Aktivitas masyarakat yang meningkat dari waktu ke waktu di berbagai bidang, sehingga tingkat kebisingan lingkungan juga meningkat, misalnya pada malam hari sekalipun, saat ini sulit menemukan kawasan yang hening.
Kegiatan konstruksi di kawasan-kawasan tertentu (pemukiman, sekolah, rumah sakit, dan lain-lain) yang tidak mengindahkan peraturan yang berlaku.
Kegiatan industri (kecil, menengah maupun besar) yang berada di sekitar kawasan pemukiman dan tidak mengindahkan peraturan yang berlaku.
Bencana besar sudah dapat dibayangkan di masa depan:
Rendahnya kualitas hidup masyarakat karena kebisingan yang makin menggila.
Masyarakat yang kacau batinnya sehingga menimbulkan sikap agresif dan kekerasan di mana-mana.
Manusia Indonesia yang sehat lahir, batin dan sejahtera seperti dicita-citakan tidak akan pernah tercapai.
Oleh karena itu dibutuhkan upaya-upaya intensif oleh berbagai pihak untuk menanggulanginya segera dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Untuk itu Masyarakat Bebas-Bising didirikan, sebuah kelompok masyarakat yang terdiri dari individu, organisasi dari berbagai disiplin, yang seluruh kegiatannya ditujukan untuk meningkatkan kesadaran dan prakarsa masyarakat serta kepedulian pihak pengambil keputusan untuk bersama-sama menanggulangi masalah tersebut.
Beberapa kegiatan yang segera akan dilakukan oleh Masyarakat Bebas-Bising antara lain:
1.Kampanye publik mengenai bahaya dari polusi kebisingan, baik bagi individu maupun masyarakat dan lingkungan secara umum.
2.Mendesak pemerintah untuk segera melengkapi kebijakan atau regulasi serta meningkatkan pengawasan pelaksanaan peraturan yang sudah ada, dalam rangka mewujudkan lingkungan bebas bising dan perlindungan masyarakat.
3.Menggerakkan keterlibatan masyarakat secara luas untuk bersama-sama mewujudkan lingkungan bebas bising, kesehatan dan kenyamanan masyarakat.
Masyarakat Bebas-Bising percaya bila ada kemauan dan kerja akan ditemukan solusi, sebab ada cukup pengetahuan dan pengalaman yang dapat dimanfaatkan.

Jakarta, 23 Januari 2010

Ahmad Syafii Maarif – Akademi Jakarta
Nh. Dini – Akademi Jakarta
Slamet Abdul Sjukur – Akademi Jakarta
Marco Kusumawijaya – Dewan Kesenian Jakarta
Luthfi Assyaukanie – Freedom Institute
Bulantrisna Djelantik – SE Asia Society for Sound Hearing
Damayanti Soetjipto – Komnas PGPKT
Abduh Aziz – Dewan Kesenian Jakarta
Ronny Suwento – THT Komunitas FKUI-RSCM
Soegijanto – Teknik Fisika ITB
Soe Tjen Marching – Majalah Bhinneka
Upik Rukmini – praktisi
Bayu Wardhana – Penggiat Peta Hijau Jakarta
Sigit – SERRUM
Arief Adityawan/Genep Sukendro – Grafisosial
Atieq SS Listyowati – AppreRoom
Rizal Abdulhadi – Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat
Dyah Okty Moerpratiwi/Agnes Elita Anne/David Imanuel Sihombing – Garuda Youth Community

Alamat kontak: Ati-Nefa. Dewan Kesenian Jakarta. Komplek Taman Ismail Marzuki Jakarta. Jl. Cikini Raya No. 73. Telp: 021 – 3162780. Fax: 021 – 31924616. Email: bebas-bising@yahoo.com

Pameran Komik Rada Lucu – Eko S. Bimantara

Sambutan Eko di depan Serrum Galeri

Akhir tahun 2009 yang lalu, kota Jakarta mendapat kehormatan karena menjadi tempat kelahiran sebuah galeri baru yang kecil dan relatif sederhana di bilangan Jakarta Timur. Serrum Galeri namanya, didirikan oleh sebuah organisasi seni rupa berbasis komunitas yang bernama sama, Serrum. “Serrum adalah sebuah organisasi nirlaba yang terdiri dari guru dan seniman yang bergerak dalam lingkup sosial-pendidikan melalui medium seni rupa”. Demikian penjelasan singkat pada bagian belakang katalog sederhana dari sebuah pameran tunggal Eko S. Bimantara, yang berlangsung dari tanggal 12 Desember hingga 27 Desember 2009 lalu di Serrum Galeri, jalan Kayu Manis II no. 12, Jakarta Timur.

Memasuki galeri Serrum yang baru diresmikan, jangan membayangkan kita memasuki sebuah galeri seni rupa yang gemerlap di bilangan Kemang ataupun galeri-galeri seni rupa komersial besar di kota metropolitan ini. Galeri Serrum terletak di pemukiman warga yang padat, di samping rel kereta api sekitar Pasar Burung daerah jalan Pramuka. Galeri itu berada di sebuah rumah yang dikontrak beramai-ramai oleh komunitas Serrum, sehingga galeri itu juga merangkap sebagai tempat tinggal dan kantor, selain juga sebuah kafe kecil di depannya. Hampir seluruh anggota Komunitas Serrum ini terdiri dari seniman dengan latar belakang mahasiswa dan lulusan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Namun dari pameran pertamanya, telah nampak idealisme dan semangat aktivisme yang tinggi – mengingatkan saya pada militansi galeri-galeri di kota Yogya.

Mural di salah satu sisi ruang galeri

Menempati ruang pamer kecil berukuran sekitar 3 X 5 meter, pameran komik Eko tampil dengan menarik. Dua sisi dinding pameran di jadikan tembok mural yang menghidupkan suasana pameran. Sedangkan dua sisi lainnya berisi beberapa kanvas putih yang digambari komik secara langsung – bukan cetak digital sebagaimana dugaan penulis. Pameran tunggal Eko S. Bimantara ini berjudul Komik Rada Lucu – Edisi Khusus “Baca Komik”. Isi pameran menguraikan berbagai sisi dalam praktik membaca komik di masyarakat. Mulai dari anggapan masyarakat bahwa komik tidak bermutu, bagaimana komik mempengaruhi perilaku pembacanya, komik dibandingkan dengan sinetron, hingga relasi komik dengan kegiatan yang dianggap bertentangan diametral – belajar.

Salah-satu karya Eko S. Bimantara

Salah-satu karya pameran Eko S. Bimantara

Salah-satu karya Eko S. Bimantara

Format komik yang dipamerkan dalam satu kanvas berisi sebuah strip komik terdiri dari empat frame atau bingkai gambar. Tiap kanvas menceritakan dengan lucu berbagai sisi praktik baca komik di masyarakat, mulai dari yang sering kita temui sehari-hari, hingga yang tidak pernah kita temui dalam kehidupan – karena di dramatisir oleh Eko. Format karya Eko yang dibuat di sebuah kanvas ini cukup unik. Di satu sisi memberi kesempatan pada komik untuk dikoleksi dan ditampilkan “setara” dengan lukisan, namun sayangnya, di sisi lain menggambarkan sikap submisif seniman komik terhadap dunia seni lukis.

Namun bagaimanapun format dan ukuran dari pameran di galeri Serrum ini, pameran tunggal Eko S. Bimantara ini tetaplah memberikan sebuah penyegaran bagi dunia seni rupa. Pameran perdana dari Serrum Galeri ini merupakan sebuah langkah awal yang sangat penting bagi berkembangnya sebuah komunitas seni rupa yang peduli terhadap berbagai permasalahan sosial di masyarakat. Selamat untuk Eko S. Bimantara untuk pameran tunggalnya, dan juga selamat untuk Serrum Galeri, agar terus memberi pencerahan pada publik di negeri ini.

Tentang Komik Rada Lucu.

Komik Rada Lucu adalah sebuah serial karya komik yang dibuat oleh Eko S. Bimantara, anggota komunitas Serrum. Serial Komik ini awalnya muncul sebagai sebuah karya seni rupa di ruang publik untuk mengedukasi masyarakat pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek (Jakarta – Bogor – Depok – Tanggerang – Bekasi) agar tidak menumpang kereta di atap KRL. Itu sebabnya komik ini dinamakan Komik Rada Lucu, sebagai nama plesetan dari Kereta Rel Listrik. Komik tersebut disebarkan gratis pada para penumpang KRL di stasiun-stasiun hingga di Stasiun Jakarta Kota pada awal tahun 2009. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari perhelatan seni rupa akbar Jakarta Biennale 2009 yang diadakan oleh Dewan Kesenian jakarta. Tanggapan masyarakat sangat antusias, penumpang senang membacanya. Serial KRL ini kemudian diterbitkan rutin dengan ukuran setengah A4 dengan teknik foto kopi. Kemudian Serrum membuat grup Komik Rada Lucu di jejaring sosial Facebook yang kini anggotanya telah mencapai 4.170 orang penggemar. KRL edisi khusus “Baca Komik” diterbitkan dalam bentuk pameran, sedangkan KRL edisi “Guru Berdiri Murid Berlari” diterbitkan dalam bentuk buku komik oleh sebuah penerbit di Yogyakarta pada tahun 2009 juga, bersamaan dengan pameran Eko di atas.

Lintasan Saujana Jiwa: Keberpihakan pada penderitaan

KAKI LANGIT BUMI YANG MIRING_Lampase - Aceh (Oscar Motuloh)

KAKI LANGIT BUMI YANG MIRING_Lampase - Aceh (Oscar Motuloh)

Sebuah judul yang unik dan puitis untuk sebuah pameran foto jurnalistik. Menurut sang fotografer, Oscar Motuloh, ”Panorama, saujana, dalam hal ini, sesungguhnya adalah petualangan mata dari segala sudut subyektivitasnya. Nan menelisik setiap perlambang alam sekaligus menjadi pertanda dan metafora bagi peradaban kita….Saujana nestapa, kemudian, menjadi visi yang lebih dari sekadar penglihatan. Dia menghubungkan noktah-noktah lintang dan bujur di peta bumi. ”

Atlantis Van Java #2 (Oscar Motuloh)

Atlantis Van Java #2 (Oscar Motuloh)

Atlantis Van Java #4 (Oscar Motuloh)

Atlantis Van Java #4 (Oscar Motuloh)

Pameran diadakan di Galeri Salihara – Pasar Minggu pada 2-9 Oktober yang lalu. Salihara adalah kompleks bangunan yang mempunyai desain khas, berseni dan menampilkan kejujuran material. Ruang pameran foto berbentuk bundar tanpa dekorasi, sunyi dan sepi dengan jejeran foto hitam putih di sekeliling dinding. Aura mistis dan reflektif masuk melalui foto – foto bencana di Indonesia hasil bidikan jeli Oscar Motuloh, didukung oleh setting ruang pameran.

Ruang Galeri Salihara (Foto oleh Kurnia Setiawan)

Ruang Galeri Salihara (Foto oleh Kurnia Setiawan)

Penyusunan foto yang apik (Foto oleh Kurnia Setiawan)

Penyusunan foto yang apik (Foto oleh Kurnia Setiawan)

Semua foto ditampilkan hitam-putih, tanpa warna, bahkan cenderung muram (banyak warna hitam dan abu – abu, hanya sedikit warna putih/ cerah). Penataan foto teratur di dinding sekeliling ruang dengan ukuran besar. Ada 2 buah foto yang diatur (seolah dibiarkan tergeletak) di lantai tengah pameran sebagai aksen, merupakan upaya yang jeli karena sesuai dengan isi foto di dalamnya (seolah ada barang yang rusak, tergeletak di dalam bingkai).

Oscar Motuloh sekali lagi menyihir para pengunjung, berbicara melalui medium fotografi untuk menyampaikan suatu narasi tentang bencana alam yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Pameran ini, tidak bisa tidak akan membuat pengunjungnya melakukan refleksi tentang kehidupan dan kematian manusia, beserta lingkungan hidupnya. Pameran ini juga menunjukkan keberpihakannya pada penderitaan para korban

Ada sederetan foto yang berjejer berdampingan, seolah menampilkan perwakilan 3 agama di Indonesia. Foto pertama menampilkan pengeras suara dari mesjid menghadap ke tanah kosong, foto kedua menampilkan patung – patung Budha yang sebagian rusak terbakar, dan foto ketiga menampilkan foto patung Yesus yang tergeletak/ jatuh. Manusia yang dipisahkan oleh sekat – sekat ideologi, kepercayaan, agama, etnis, suku/ daerah, menjadi satu kembali ke Sang Pencipta berhadapan dengan alam yang murka.
Ada pula foto Atlantis Van Java, yang pernah dipamerkan di Galeri Nasional bersama karya – karya para seniman se-Indonesia tahun 2008. Foto tersebut menampilkan secara grafis bencana (bukan alam) lumpur Lapindo.
Salut kepada Bang Oscar, mari kita tunggu bersama pameran berikutnya.
Teks dan Foto oleh Kurnia Setiawan, Grafisosial

RIWAYAT HIDUP OSCAR MOTULOH
Dilahirkan pada 17 Agustus 1959 di Surabaya, Indonesia. Memulai karir di bidang jurnalistik sebagai reporter di Kantor Berita Antara pada 1988. Dua tahun kemudian dia memperkuat divisi pemberitaan foto Kantor Berita Antara sebagai pewarta foto. Belajar fotografi secara otodidak. Selain masih aktif sebgai pewarta foto, yang bersangkutan dewasa ini juga memimpin Kantor Berita Foto Antara, mengepalai Museum Jurnalistik Antara serta Galeri Foto Jurnalistik Antara. Ikut mendirikan Pewarta Foto Indonesia, suatu organisasi profesi yang menghimpun seluruh pewarta foto di tanah air. Mengajar di FFTV Institut Kesenian Jakarta, dan menjadi dosen terbang disejumlah perguruan tinggi di tanah air. Aktif menyelenggarakan pameran, seminar dan workshop fotografi, pameran fotografi, serta menerbitkan sejumlah buku fotografi. Menjadi juri dan kurator disejumlah event fotografi di dalam dan luar negeri.

Mereka yang Hilang, Hadir disini

Setangkai Mawar merah dari Sumarsih untuk Ibu Plaza de Mayo

Setangkai Mawar merah dari Sumarsih untuk Ibu Plaza de Mayo

Aksi Ibu-ibu di Plaza de Mayo, Buenos Aires Argentina (Foto: www.madres.org)

Aksi Ibu-ibu di Plaza de Mayo, Buenos Aires Argentina (Foto: http://www.madres.org)

Pada satu sore di Tahun 1977, di depan Istana kepresidenan Argentina di Buenos Aires sekelompok ibu-ibu dengan kerudung kepala berwarna putih melakukan sebuah aksi damai – yang kemudian akan berlangung terus selama lebih dari tiga puluh tahun. Ibu-ibu Plaza de Mayo itu, demikian nama plaza di depan istana kepresidenan itu, melakukan aksi protes atas hilang dan dibunuhnya anak-anak mereka oleh Junta Militer Argentina saat itu.

Dua buah pin yang digunakan ibu dari Plaza de Mayo

Dua buah pin yang digunakan ibu dari Plaza de Mayo

Kelompok ibu-ibu tersebut kemudian menamakan dirinya Asociacion Madres de Plaza de Mayo. Aksi mereka itu bahkan mengakibatkan salah satu pendirinya diculik dan dibunuh oleh Junta Militer. Namun keteguhan dan cinta akhirnya berhasil menembus benteng militer. banyak kasus yang terungkap melalui pengakuan para jenderal pelaku tindak kejahatan. Ibu-ibu Plaza de Mayo ini kemudian menggunakan logo bergambarl kerudung kepala putih, simbol yang selalu mereka gunakan saat berdiri di Plaza de Mayo.

Dua buah pin: satu pin untuk korban yang dicintai, satu pin untuk Asosiasi Ibu Plaza de Mayo.

Dua buah pin: satu pin untuk korban yang dicintai, satu pin untuk Asosiasi Ibu Plaza de Mayo.

Kemarin, Kamis sore 16 April, di lapangan Monumen Nasional di depan Istana Kepresidenan, Medan Merdeka utara – Jakarta, dua orang ibu dari Argentina itu turut hadir memberi dukungan para korban dan keluarga korban pelanggaran HAM di Indonesia – yang tergabung dalam Jaringan Solidaritas Korban dan Keluarga Korban (JSKK). Aksi diam Kamisan yang dilakukan JSKK di depan istana Merdeka memang diinspirasi oleh aksi Plaza de Mayo itu. Aksi Kamisan Sore Kemarin adalah aksi Kamis ke 106 yang dilakukan oleh JSKK.

Suciwati mengkritik para Jenderal yang kini berebut kursi Presiden RI

Suciwati mengkritik para Jenderalyang sedang berebut kursi

Suciwati – isteri dari pejuang HAM Munir almarhum – sebagai salah seorang koordinator JSKK berorasi sebagai sebuah refleksi Kamisan. Suciwati menyatakan kemarahan dan kepedihannya ketika para pelanggar HAM di masa Orde Baru kini malah menjadi politisi yang berteriak-teriak tentang demokrasi dan HAM. Hadir di aksi diam Kamisan itu Fadjroel Rahman dan Romo Sandyawan, dan para pendukung lainnya. Fadroel Rahman, yang selama ini sangat aktif memperjuangkan ide Calon Presiden Independen hingga ke Mahkamah Konstitusi, adalah seorang aktivis yang sangat peduli pada perjuangan para korban pelanggaran HAM. Fadjroel menyatakan bahwa aksi Kamisan ini membuat dia tergugah dan merinding ketika dia mendengar seruan para Ibu Plaza de Mayo menyerukan dalam bahasa Spanyol: “sMereka yang hilang, hadir disini!”.

Fadjroel Rahman dan Romo Sandyawan

Fadjroel Rahman dan Romo Sandyawan

Tampak dalam aksi ini JSKK memanfaatkan spanduk, spanduk yang di rancang dengan baik, huruf yang digunakan memiliki legibilitas tinggi. Untuk menambah sarana aksi, digunakan kentongan bambu yang dipukul-pukul agar menarik perhatian pengguna jalan. sementara itu payung hitam sebagai simbol bagi JSKK tampak di tulisi dengan seruan “Usut Tuntas Tragedi Trisakti”, “Usut Kasus Talangsari..”, “Hapus Impunitas” dan lain sebagainya. Sementara dress code berupa baju berwarna hitam, dan T-shirt yang pada umumnya digunakan mengandung

Sakitnya mengingat, susahnya melupakan

Sakitnya mengingat, susahnya melupakan

Payung adalah media komunikasi (1)

Payung adalah media komunikasi (1)

Payung adalah media komunikasi (2)

Payung adalah media komunikasi (2)

pesan sosial, menjadi media kampanye sosial yang sangat kuat. Kesemua media disini bersifat mendukung dan mengkomunikasikan pesan-pesan yang diperjuangkan JSKKK. Namun bagaimanapun harus diakui media utama yang paling kuat dalam aksi ini bukanlah media media desain grafis – namun media performance dari para pendukung aksi Kamisan – yang telah bertahan selama dua tahun lebih ini. Kehadiran para korban di muka istana negara adalah sebuah simbol protes yang paling kuat.

Upaya mereka yang menjadi korban kekerasan, penghilangan paksa, dan pelanggaran HAM, yang kemudian tergabung dalam Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI), KontraS, didukung didukung oleh Madres de the Plaza de Mayo, Argentina, AFAD dan Amnesty Internasional kemudian mengeluarkan pernyataan bersama pada tanggal 17 April 2009 kemarin. Isi pernyataan adalah: meminta Komnas HAM memberikan perhatian khusus terhadap lambannya proses penandatanganan Konvensi Perlindungan Semua Orang dari Penghilangan Paksa sebagaimana dijanjikan Pemerintah Indonesia dalam sidang Dewan HAM PBB, Maret 2007 lalu.

Payung adalah media komunikasi (3)

Payung adalah media komunikasi (3)

payung adalah media komunikasi (4)

payung adalah media komunikasi (4)

Payung adalah media komunikasi (5)

Payung adalah media komunikasi (5)

ARSIP DARI MEDIA LAIN YANG TERKAIT DENGAN TULISAN DI ATAS

Majalah Tempo Edisi 20-26 April 2009 (hlm 35).

Majalah Tempo Edisi 20-26 April 2009 (hlm 35).

Mesra di Atas Luka (oleh Budi Riza, Akbar Tri Kurniawan, Agung Sedayu)
Tulisan di bawah dikutip dari majalah Tempo edisi 20-26 April 2009
……
Dua belas tahun lalu, Yani hilang. Diduga ia menjadi bagian dari aktivis prodemokrasi yang diculik militer Orde Baru. Walujo Djati, korban penculikan oleh Tim Mawar Komando Pasukan Khusus, meyakini Yani bagian dari korban. ”Saya menempati sel yang sebelumnya dihuni Yani,” katanya kepada Tempo. Ia mengetahui itu dari Pius Lustrilanang—kini pengurus pusat Gerindra— yang mendiami sel di samping kirinya. Pius tahu, ”Karena, sebelum saya masuk, Pius sudah masuk duluan.” Dalam pembicaraan lewat telepon dengan Tempo, Pius mengakuinya.

Dari 22 orang korban penculikan, hanya sembilan yang hidup. Anggota Tim Mawar telah dihukum. Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus, Letnan Jenderal Prabowo Subianto, telah pula diberhentikan dari dinas militer. Baik Prabowo maupun anggota Tim Mawar menyatakan hanya menculik sembilan aktivis yang kini selamat.

……..

Beragam langkah telah ditempuh Mami untuk meminta kejelasan tentang nasib anaknya. Bersama Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) serta Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia, ia mendesak pemerintah mengungkap penculikan itu. Namun, saat Megawati menjadi presiden, Mami merasa tidak mendapat bantuan apa pun, termasuk dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Untuk menyampaikan unek-unek ke Presiden Megawati, ia bersama keluarga korban penculikan tak diizinkan masuk Istana. ”Semua cuma omong besar,” katanya.

……..

Ketika televisi menayangkan Megawati bersalaman akrab dengan Prabowo Subianto, Mami kian bingung. Mega dari PDI Perjuangan dan Prabowo dari Partai Gerindra sepekan terakhir memang tengah mengusahakan membangun koalisi menghadapi pemilu presiden. Dalam pertemuan di rumah Mega di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta itu, tampak pula mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Purnawirawan Wiranto, yang kini memimpin Partai Hanura.

Branding Partai di Situ Gintung

Posko partai Golkar

Posko partai Golkar

Branding adalah sebuah hal sangat penting dalam strategi pemasaran perusahaan perusahaan komersial dewasa ini. Branding bukan hanya merancang logo (atau corporate identity) dan mengaplikasikannya dimanapun. Branding adalah bagaimana sebuah perusahaan menjiwai, menjalankan, dan menghidupi “baju” dan peran, serta visi-misi yang diakui oleh perusahaan atau lembaga itu. Partai politik kini melakukan proses branding yang sangat intensif. Hal ini dilakukan dalam konteks kompetisi yang sangat ketat diantara partai-partai lain.

Posko PDI-P

Posko PDI-P

Bahkan dalam konteks bencana alam di Situ Gintung pun partai-partai melakukan proses branding, melalui program bantuan kemanusiaan sambil memasang bendera-bendera partai. Tentu saja bantuan-bantuan – dari siapapun – akan sangat dibutuhkan dan perlu disyukuri. Namun ketika para sukarelawan non-partai, bekerja banting-tulang siang dan malam membantu para korban, maka banyak orang bertanya-tanya akan niat baik dan ketulusan partai-partai itu. Dalam konteks demikian maka proses branding partai dapat menjadi bumerang yang akan merusak citra partai itu sendiri. Partai dapat dianggap tidak peka, dan membuat orang bertanya: kok tega-teganya, kampanye ditengah-tengah bencana dan penderitaan orang?

Posko PKS

Posko PKS

Posko Partai Demokrat

Posko Partai Demokrat

Posko PAN

Posko PAN

Posko Partai Bulan Bintang

Posko Partai Bulan Bintang

Mencintai Tugu (bazaar) Proklamasi

proklamasi22

Tugu Proklamasi, dengan patung Soekarno-Hatta tampak berdiri megah. Sayang disekelilingnya tampak kotor tak terawat. Saat penulis berkunjung pada hari Minggu 29 Maret 2009, tampak digunakan untuk lahan bazaar yang berjualan tanaman hias, dan lain-lain, serta playground berbayar bagaikan pasar malam. Di satu sisi hal ini patut disyukuri, karena dengan demikian tugu proklamasi menjadi hidup dan dikunjungi warga, tua dan muda. Namun pertanyaannya apakah hanya dengan cara demikian saja kita dapat ‘menghidupkan” suasana Tugu Proklamasi? Kita sebagai bangsa yang mudah lupa memang perlu berupaya mencari cara untuk terus menghayati perjuangan para pendiri Republik Indonesia.