Monthly Archives: September 2010

Aksi Keprihatinan 1000 Lilin Lintas-Agama

Merah-Putih harus melindungi semua agama (foto oleh Nina Masjhur)

Malam itu, sejumlah orang memegang nyala lilin, sejumlah lainnya membiarkan lilin-lilin tegak menyala di lantai pinggiran bunderan tugu Selamat Datang, Jakarta. Sejumlah lain berorasi menyuarakan pentingnya hidup dalam keberagaman keyakinan. Unjuk Rasa yang dinamakan Aksi Keprihatinan 1000 Lilin Lintas-Agama, yang diadakan pada 16 September 2010, dimulai pukul 19.00 selama kurang-lebih dua jam. Unjuk-rasa ini merupakan sebuah reaksi atas terjadinya kekerasan (yang besar kemungkinan) berlatar-belakang agama, ketika terjadi penusukan terhadap seorang pendeta HKBP Bekasi pada 12 September lalu. Tersangka pelaku penusukan adalah oknum Front Pembela Islam (FPI) cabang Bekasi.

Sangat disayangkan media desain grafis yang digunakan dalam aksi unjuk-rasa ini tidak tergarap dengan baik, sehingga efek penyebaran isu dan tuntutan tidak terkomunikasikan dengan jelas, baik secara langsung terlihat oleh warga yang melintas, maupun ketika foto aksi ini dimuat di media massa.

1000 lilin untuk kebebasan beragama (Foto oleh Eva Joewono).

Salah satu pangkal permasalahan dari kekerasan berlatar-belakang agama ini terkait dengan masalah pendirian rumah ibadat Gereja. Oleh karena itu dalam unjuk rasa di bunderan tugu Selamat Datang juga tercetus pemikiran untuk menghapuskan Surat Keputusan Bersama (SKB) 2 menteri yang berisi pengaturan pendirian rumah ibadah. SKB 2 menteri ini cenderung membatasi dan mempersulit pendirian rumah ibadah bagi umat non-Muslim.

Nampaknya pemerintah bersama seluruh bangsa ini perlu mengkaji-ulang bagaimana kita memandang hubungan antar-agama, serta bagaimana kita menyikapi Sila pertama Pancasila dan pasal 29 UUD 45 tentang kebebasan beragama. Pemerintah SBY harus bersikap adil dan konsisten dalam menegakkan UUD 45 dan menjaga Sila pertama Pancasila. Negara ini bukanlah milik sekelompok golongan yang mayoritas, sehingga dapat meminggirkan golongan lain – yang minoritas. Negara ini didirikan bersama untuk kehidupan kita bersama, sejak dulu, sekarang, dan seterusnya.

Enam tahun Munir dibunuh

koleksi Rusdi Marpaung

Tanggal 7 September 2010 ini genap enam tahun sudah Munir, pejuang Hak Asasi Manusia itu dibunuh. Dia diracun dalam pesawat terbang Garuda Indonesia menuju Belanda. Hingga kini kasus itu belum juga terungkap tuntas. Selain Polycarpus sebagai pelaku langsung, tak ada dalang yang dapat ditangkap. terakhir Muchdi PR – mantan pejabat intelijen negara yang dicurigai sebagai salah-satu dalang – dibebaskan dari berbagai tuntutan oleh pengadilan.

Desain grafis yang pernah dirancang oleh lembaga-lembaga penegakkan HAM seperti Kasum, Kontras, dan sebagainya penting untuk terus disebarkan, walau sebatas di ruang internet, sebagaimana dilakukan oleh Rusdi Marpaung melalui album foto miliknya di jejaring sosial facebook. Dari rangkaian media-media yang berhasil kami kumpulkan itu, maka terlihat sebuah rangkaian media penyadaran yang menarik. Beberapa poster hitam putih, sementara dua poster lainnya berwarna penuh dan dua warna. Namun dari berbagai poster yang sangat menarik itu, tetaplah dua poster berwarna yang paling mudah dikenal. Poster pertama berjudul “Tegakkan Keadilan”. Poster kedua berjudul “Kita harus takut kepada rasa takut itu sendiri karena rasa takut menghilangkan akal sehat dan kecerdasan kita”.

Kekuatan dua poster berwarna tersebut di atas lebih pada ikon wajah Munir yang dibuat dengan sangat baik, dimana tatapan matanya langsung bertemu dengan tatapan kita. Poster “Tegakkan Keadilan” sangat kuat, karena menggunakan warna merah sebagai warna latar belakang. Judulnya pun sederhana dan langsung. Dengan sedikit olahan tipografi yang lebih baik, poster ini akan menjadi sebuah desain yang sangat unggul. Adapun poster berwarna kedua, memiliki kalimat yang terasa terlalu panjang untuk sebuah poster. Namun kelebihannya, poster ini dapat menjadi medium yang bersifat reflektif mendalam mengenai sosok Munir secara keseluruhan – bukan media pengingat yang dapat menggugah secara cepat.

Kesadaran dalam bentuk gerakan untuk terus mengingat Munir penting untuk dipertahankan dan dijalankan. Dengan cara ini desain grafis dapat menjadi sebuah media komunikasi yang akan terus-menerus tampil dari ruang publik hingga kedalam ruang memori publik. Dengan kampanye yang didukung oleh berbagai medium seni rupa dan desain grafis, maka kita akan selalu terjaga dan tersadar diantara berbagai pesan visual lainnya yang bersifat komersial – menawarkan berbagai barang dagangan yang tak kita butuhkan.

Poster Munir, koleksi digital Rusdi Marpaung

Poster koleksi digital Rusdi Marpaung

Pembunuhan Munir adalah sebuah teror dan propaganda untuk mematikan gerakan penegakkan hukum. Impunitas terhadap kasus Munir adalah kemenangan bagi kekuasaan hitam di negeri ini untuk menindas gerakan HAM. Sebelum kasus ini diungkap maka aparat penegak hukum sebagai aparatus negara tak punya hak untuk menyebut dirinya “penegak hukum”. Karenanya upaya untuk terus mengungkap kebenaran dalam kasus pembunuhan Munir harus terus dijalankan. Pembunuhan tak terungkap ini adalah hutang negara, hutang bangsa, hutang kita semua. Upaya melawan lupa harus terus dijalankan.