Efektivitas pesan dalam media propaganda tidak hanya dilihat dari segi desain grafis, namun juga dari segi lokasi – dimana media propaganda itu diletakkan. Relasi antara satu media dengan media lain di dekatnya dapat menimbulkan asosiasi yang beragam. Propaganda Caleg Partai Amanat Nasional di daerah Depok yang diletakkan di bawah mini billboard bergambar simpanse dapat menciptakan relasi dan interpretasi tanda yang beragam. Penggunaan gambar close-up Simpanse sebagai model iklan, menjadi pelengkap yang mengelikan bagi “propaganda bergaya pasfoto” yang kini marak digunakan oleh para politisi. Penafsiran tanda yang menyimpang menimbulkan pertanyaan humor: Apakah dalam Pemilu kali ini Simpanse diijinkan mencalonkan diri? Masih banyak pertanyaan menyimpang dapat dikembangkan dari foto di atas.
Pertanyaannya, efektifkah cara propaganda pasfoto melalui poster, billboard dan baliho? Mengapa para politisi tidak mengunakan uangnya untuk melakukan silaturahmi atau menciptakan program-program kongkrit yang dirasakan publik – daripada sekedar memajang wajahnya di ruang publik. Kita semua sangat paham bahwa komunikasi tatap-muka adalah komunikasi yang paling ampuh dibandingkan media-media komunikasi lainnya.


2 responses so far ↓
Uwi // December 4, 2008 at 5:31 am
Hihihi…mungkin niat dasar mereka memang ingin tampangnya dikenal aja.. Mmebuat program2 kongkrit? Apa ‘ada isinya’ mereka? Tujuan menjadi caleg atau apa sajalah itu kan sekarang melulu mencari uang, so..mana kepikir bikin membuat program2 segala.. Apalagi memikirkan desain poster yang sedikit lebih kreatif atau berisi ketimbang pasang pas foto!
Jujur aja, saya sih ragu apa masih ada setidaknya satu saja dari mereka-mereka itu yang niatnya tulus mau mengabdi pada rakyat & negara.. Kalaupun ada, ya mungkin simpanse di iklan XL itu
grafisosial // December 4, 2008 at 7:46 am
Terimakasih comment nya, memang simpanse itu lumayan bijaksana tampaknya.