jurnal grafisosial

Humor Propaganda Caleg

December 1, 2008 · 2 Comments

100_8841

 

Efektivitas pesan dalam media propaganda tidak hanya dilihat dari segi desain grafis, namun juga dari segi lokasi – dimana media propaganda itu diletakkan. Relasi antara satu media dengan media lain di dekatnya dapat menimbulkan asosiasi yang beragam. Propaganda Caleg Partai Amanat Nasional di daerah Depok yang diletakkan di bawah mini billboard bergambar simpanse dapat menciptakan relasi dan interpretasi tanda yang beragam. Penggunaan gambar close-up Simpanse sebagai model iklan, menjadi pelengkap yang mengelikan bagi “propaganda bergaya pasfoto” yang kini marak digunakan oleh para politisi. Penafsiran tanda yang menyimpang menimbulkan pertanyaan humor: Apakah dalam Pemilu kali ini Simpanse diijinkan mencalonkan diri? Masih banyak pertanyaan menyimpang dapat dikembangkan dari foto di atas.

Pertanyaannya, efektifkah cara propaganda pasfoto melalui poster, billboard dan baliho? Mengapa para politisi tidak mengunakan uangnya untuk melakukan silaturahmi atau menciptakan program-program kongkrit yang dirasakan publik – daripada sekedar memajang wajahnya di ruang publik. Kita semua sangat paham bahwa komunikasi tatap-muka adalah komunikasi yang paling ampuh dibandingkan media-media komunikasi lainnya.

Categories: Liputan
Tagged:

Mega Di bawah Bayangan Sang Ayah

December 1, 2008 · 3 Comments

spanduk-mega

Bila kita berjalan melalui depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat, akan kita lihat terpasang sebuah spanduk (lebih tepat disebut baliho) dari partai PDI-P. Ada dua pertanyaan yang dapat dimunculkan: Pertama, tepatkah sekretariat atau bagian rumah tangga DPR mengijinkan (ataumembiarkan?) PDI-P memasang media propaganda di pagar DPR yang harusnya netral? Seharusnyalah pagar DPR menjadi kawasan netral. Kedua, Mengapa seorang pemimpin partai selalu memanfaatkan figur ayahnya sebagai strategi komunikasi? Bayangkan bila seorang Megawati melepaskan diri dari citra Soekarno, apakah yang akan “dijual” untuk menarik hati rakyat  konstituen? Tampaknya tim komunikasi PDI-P perlu bekerja lebih kreatif dan lebih keras. Mengapa? karena jauh lebih mudah “menjual” pemimpin muda yang belum berpengalaman namun cerdas, dibandingkan “menjual” tokoh yang sudah pernah mendapat kesempatan menjadi Presiden tanpa prestasi yang mengagumkan.

Foto: Arief Adityawan S.

Categories: Liputan
Tagged: ,