Bakrie dalam Sampul Muka Majalah Tempo

tempo

Aburizal Bakrie mengajukan somasi terhadap majalah Tempo terkait liputan majalah berita itu dalam edisi 17-23 November 2008 terhadap bisnis keluarga Bakrie, khususnya dalam hal saham PT Bumi Resources dan masalah Lumpur Lapindo. Pemberitaan Tempo menyebutkan bahwa Aburizal Bakrie adalah penyumbang besar bagi pasangan SBY – JK dalam kampanye Pemilihan Presiden yang lalu, sehingga pemerintah kini selalu membela kepentingan Bakrie. JK memang mengakui bahwa Aburizal Bakrie memang memberikan sumbangan saat Kampanye Pemilu 2004 – sesuai batasan undang-undang Pemilu. Bakrie juga mempermasalahkan sampul muka majalah Tempo yang bergambar dirinya. Menurut Koran Tempo Rabu 19 November 2008, ilustrasi tersebut tidak bermaksud menjelekkan karakter Bakrie. Angka 666 yang tertera pada gambar wajah itu – yang dipermasalahkan Bakrie – juga tidak dimaksud agar terkait dengan konotasi dan mitos satanik.

Bila kita perhatikan sampul muka Tempo itu, menurut diskusi internal di Jurnal Grafisosial, angka 666 hanya menjadi bagian dari upaya membuat efek gelap-terang semata. Bentuk lengkungan dari angka 666 juga sesuai untuk mengisi bagian pelipis wajah Bakrie tersebut. Bahkan bila tidak ada pemberitaan tentang somasi Bakrie itu, pembaca sulit atau tidak akan melihat adanya angka 666 di sampul muka Tempo. Apa yang ditampilkan pada sampul muka majalah Tempo itu , adalah sebuah wajah Bakrie yang “meleleh” menggambarkan fenomena harga saham PT Bumi Resources yang terus terjun bebas. Proses meleleh itu menyebabkan angka-angka berjatuhan.  Sementara pada tangan Bakrie terlihat lelehan, yang kemungkinan dimaksud sebagai lelehan lumpur Lapindo. Kita semua tahu, bahwa bagaimanapun Bakrie memang terkait dengan permasalahan  lumpur Lapindo. Secara umum gaya simbolik dan hiperbol dalam bahasa visual adalah hal yang biasa – sebagai suatu teknik estetik untuk menarik perhaitan. Bahkan pada masa Soeharto majalah DR menampilkan wajah Soeharto sebagai raja dalam kartu “King”. Mungkin karena dianggap “hanya” sebagai sebuah gaya bahasa visual dalam desain grafis, maka kasus sampul DR tak jadi dibawa ke meja hijau.

majalah-dr1

Sayangnya sebagai pejabat tinggi negara, Bakrie tidak menghargai keberadaan UU Pers dan Dewan Pers sebagai perangkat penting negara Demokrasi moderen. Walhasil pengacara Bakrie langsung membawa kasus ini ke Polisi dengan menggunakan hukum Pidana untuk pencemaran nama baik dan fitnah. Berbeda dengan seorang Presiden SBY yang pernah mendapat pemberitaan negatif. Tindakan terpuji SBY adalah membawa kasusnya ke Dewan Pers untuk diselesaikan sesuai UU Pokok Pers – hal mana menunjukkan: bahkan SBY sebagai presiden pun menghargai Pers sebagai pilar keempat dari Demokrasi.

About these ads

6 responses to “Bakrie dalam Sampul Muka Majalah Tempo

  1. Sebagai praktisi grafis, buat saya kover itu menarik! Witty, smart & menghibur.. Krn selain harus komunikatif & berisi, kover media cetak haruslah tetap menghibur…tidak hanya sekedar memancing rasa ingin tau saja.. Saya suka!

    Sebagai warga negara Indonesia, buat saya kasus ini seperti mengkonfirmasi saja bahwa Indonesia (sekarang ini) memang hanya milik (dan untuk) sekelompok orang saja..

    Masa Or-Ba itu buruk…tapi sekarang ini perilaku (dan pola berpikir) para pengelola negara itu makin ndak karuan! Mabuk kekuasaan dan.. Ah, sudahlah..sepertinya mau bicara dari A sampai Z juga rasanya percuma.. Manusia2 di atas sana itu hanya perduli pada kelompok mereka masing-masing.. Menghormati kebebasan PERS? Hati nuari untuk memikirkan rakyat saja tidak punya!

  2. demikianlah ‘art’, serba “elusive” tidak hitam-putih dan tidak mudah disimpulkan. saya sendiri enggak melihat si “666” itu, dan penjelasan Tempo group sendiri ‘make sense.’ kalau ada sidang pembaca yg merasa ada ‘666’ tersirat di artwork ini, senimannya hanya bisa menjelaskan karena demikianlah ‘power’ dari seni – justru karena tidak jelas malah bisa kemana-mana. Saya bukan ahli hukum, tapi cover itu kayaknya bukan seperti foto jurnalistik yg bagian dr produk jurnalistik… cover macam Tempo itu lebih ke seni yg dipakai utk menjual berita dan menjual majalah, bukan termasuk liputan. Penyelesaian via Dewan Pers memang merupakan ‘gesture’ yg baik dan ngga “ngajak perang”. Tapi proses dimana orang2 yang merasa dirugikan bisa memperkarakannya, siapapun itu, apakah presiden atau tukang ojek, harus dipelihara – karena pers sbg pilar ke empat melindungi kita sbg warganegara, tapi siapa yg melindungi kita dari pers? Pemilik pers sendiri kan sekarang warna-warni latarblkgnya, ‘driver’nya tidak selalu tanggungjawab sbg pilar ke empat. kalau temanya lifestyle, ya jelas bukan bagian dr peran pilar ke empat tsb. kalau sumber permodalannya dari dunia usaha non-jurnalistik, lebih lagi.

  3. uhm…gue gatel gatel liat tu covernya tempo gambarin seseorang yang dulunya pernah menjabati keluarga terkaya di dunia (versi forbes) huhu…jadi garuk2 sendiri neh gatau karena memang visualnya ituloh bikin sugesti…apa emang kasus2 nya yang bikin gue sugesti jadi gatel2 hahahaha… just joking ^^

  4. Bakrie seharusnya diperiksa KPK mengenai banyak hal dalam permainan spekulatif di bursa, lumpur lapindo, penggelapan royalty batubara, dll…..dimana hukum dan keadilan?

  5. Inilah pembuktian hukum alam bahwa setiap ada aksi pasti ada reaksi. Kenapa harus diributkan, biarkan ini berjalan apa adanya..yang mau menuntut dan dituntut ikuti saja, kenapa harus dipolemikkan. Toch, masing-masing pihak sudah tahu apa yang mesti diperbuat. Begitu aja koq repot..susah jadi manusia

  6. jangan melecehkan seseorang melalui gambar atu tulisan budayakan menghargai seseorang cari gambar lain yg menghibur itu lebih baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s