Partai Demokrat kini gencar beriklan. Baik di media cetak, khususnya surat kabar, maupun media elektronik – televisi dan radio. Iklannya di surat kabar Kompas, misalnya tampil sebagai sisipan di halaman terdepan. Cara tampil demikian cukup menarik perhatian, namun juga sekaligus merepotkan pembaca surat kabar. Isi iklan itu sendiri secara visual memfokuskan perhatian pembaca pada angka 31 sebagai nomor urut Partai. Berikutnya pandangan kita akan tertuju pada wajah Presiden Soesilo B. Yudhoyono dengan latar belakang bendera merah putih berkibar. Pada bagian bawah terpampang besar gambar logo Partai Demokrat yang berentuk bendera itu. Pada bagian paling atas, dengan latar belakang bendera merah putih, tertera “Empat Tahun Pemerintahan SBY 2004 – 2008. Kemudian pada bagian tengah tertera tulisan “Partai Demokrat terus Mendukung Presiden SBY Melanjutkan Pemerintahan Bersih yang Berjuang untuk Rakyat”. Pada bagian paling bawah tertera tagline “Berjuang untuk Rakyat.” Pada bagian belakang dari iklan ini terpampang testimoni dari 10 kader partai, baik yang terkenal maupun tidak, yang menyatakan berbagai pencapaian pemerintahan SBY selama empat tahun.
Interpretasi
Entah mengapa iklan partai Demokrat menggunakan latar belakang yang didominasi oleh foto langit berawan. Demikian pula, entah apa yang dipikirkan oleh penulis naskah iklan, dengan kata-kata sloganistik seperti “Berjuang Untuk Rakyat” yang berulang tiga kali dalam dua halaman iklan tersebut. Seringkali untuk menyampaikna sesuatu yang tidak nyata, atau sesuatu yang tidak diyakininya, seseorang merasa harus untuk mengucapkan atau menyatakannya berulang kali. Cobalah para juru kampanye Partai Demokrat menyatakan slogan “berjuang untuk rakyat” itu di hadapan ribuan warga korban lumpur Lapindo yang terpaksa mengungsi. Sementara SBY tidak sekalipun pernah menegur – apalagi memberhentikan sementara – Menko Kesra Aburizal Bakrie yang sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan berbau conflict of interest, antara dirinya sebagai pejabat publik atau dirinya sebagai pemegang saham Lapindo Brantas Inc.
Dalam menafsir sebuah rangkaian tanda visual berbentuk iklan, akan muncul banyak makna. Makna pertama gambar langit berawan dapat menggambarkan bahwa bendera Indonesia akan berkibar tinggi dan jaya di langit. Namun makna lainnya adalah bahwa iklan ini menunjukkan sesuatu yang mengawang-awang dan tidak membumi. Atau bahkan SBY sebagai pemimpin adalah sosok yang eksklusif, tidak merakyat. Namun hal tersebut masih belum seberapa bermasalah dibandingkan halaman belakangnya yang berisi testimoni para kader Partai Demokrat.
Testimoni Kader
Pada halaman testimonial pernyataan para pendukung partai Demokrat yang mengungkap hal-hal yang meragukan serta bukan menjadi keahlian dirinya. Roy Suryo misalnya, publik yang terbiasa mendengar dia membahas masalah telematika, akan sulit memahami kaitan pakar telematika bergelar bangsawan Yogyakarta itu dengan masalah hutang luar negeri Indonesia. Sementara kita juga tahu bahwa pernyataan Angelina Sondakh tentang menurunnya angka pengangguran dan kemiskinan adalah sesuatu yang meragukan, ketika kita tahu bahwa demikian banyak orang miskin dan pengangguran diberbagai pelosok negeri ini. Berapa besaran penghasilan seseorang sehingga dia dapat disebut berada di atas garis kemiskinan, adalah sesuatu yang sering diperdebatkan oleh para ahli ekonomi. Dalam iklan ini Angelina Sondakh menyatakannya secara ringan tanpa dukungan atau catatan data apapun. Sementara kita juga tahu bahwa keputusan menaikkan anggaran pendidikan menjadi 20 persen dari APBN harus melalui perdebatan sengit, dan bukan sesuatu yang direncanakan dari awal sebagai kebijakan SBY – JK. Masih banyak lagi permasalahan negeri ini yang tidak terungkap secara jujur dalam iklan ini.
Penutup
Demikian banyak biaya iklan dihamburkan oleh partai-partai politik. Mereka semua berbicara dengan bahasa sloganistik yang merdu di telinga: “memberantas kemiskinan”, “berjuang untuk (bukan “bersama” dan “untuk”) rakyat”, ataupun “hidup adalah perbuatan”. Kesemuanya adalah pernyataan propaganda yang seperti gelembung, sebuah bubble communication – merdu namun tanpa isi. Pertanyaannya adalah bagaimana mereka akan mencapai hal tersebut, tidaklah pernah dapat dijelaskan secara terang benderang.
Sesungguhnya iklan partai Demokrat ini dapat tampil lebih jujur dan tulus. Seandainya saja iklan ini berbicara sangat sederhana serta terang-benderang bahwa demikian banyak problem negeri ini, namun salah satu problem terbesar yaitu korupsi, mulai dapat diatasi dengan baik oleh pemerintahan SBY. Nampaknya kita harus mengakui bahwa pemberantasan korupsi adalah salah satu pencapaian terbesar pemerintahan SBY. Artinya belajarlah untuk menghargai satu pencapaian dan manfaatkan itu seoptimal mungkin, daripada mengakui dan menyatakan banyak hal sebagai hasil kerja namun tidak didukung oleh kenyataan atau petanda yang sesungguhnya – sebuah kemasan atau penanda (signifier) tanpa isi atau petanda (signified).
Memang ada satu strategi komunikasi yang cukup tajam dilakukan oleh salah satu partai, yaitu partai Gerindra – terlepas dari tampilan logo partai yang menyedihkan – yang secara spesifik mengajak publik untuk membeli hasil bumi para petani Indonesia. Walaupun juga patut dipertanyakan, bagaimana strategi partai Gerindra dan Prabowo selain mengajak masyarakat untuk membeli hasil pertanian petani dalam negeri. Mengharap perubahan sikap konsumen tanpa memperbaiki sistem pertanian negeri ini, belum dapat menyelesaikan masalah besar negeri agraris ini. Demikian juga Partai Keadilan Sejahtera, yang menjelang Idul Fitri sempat menyebarkan spanduk bertema “gerakan peduli tetangga”. Kedua partai ini menyatakan sebuah pesan yang sederhana, spesifik dan kongkrit.
Rakyat Indonesia sudah bosan dengan bahasa-bahasa propaganda yang telah tiga dasawarsa diperkenalkan oleh Orde Baru. Pekerjaan rumah dari think tank SBY -sebagaimana juga think tank calon Presiden lainnya, untuk isi kampanye menjelang Pemilu 2009 adalah merumuskan dengan tepat dan jelas bagaimana strategi mereka mengatasi berbagai problem besar negeri ini, untuk dikomunikasikan melalui iklan-iklan partai dan berbagai media kampanye lainnya. Selain juga, yang terpenting, berbicara pada publik secara jujur dan akuntabel. Kampanye tanpa kecerdasan dan kejujuran hanyalah akan menjadi komunikasi yang berbuih, bubble communication, komunikasi gelembung kosong-melompong: menarik namun sulit dipercaya.







