jurnal grafisosial

Entries from June 2008

Plesetan iklan rokok

June 22, 2008 · 6 Comments

Ada sebuah website menarik, berisi plesetan iklan-iklan rokok, namanya rokok.komunikasi.org Website ini disebut oleh pembuatnya sebagai Salah satu dari sekian banyak situs anti rokok di Indonesia. Perancangnya adalah Kuncoro Wastuwibowo  

Categories: Tembakau adalah Racun

Hari Pengungsi Sedunia

June 20, 2008 · Leave a Comment

Tanggal 20 Juni adalah Hari Pengungsi sedunia, sebagaimana dicanangkan UNHCR. Pengungsi adalah mereka yang tercerabut dari tanah tempat tinggal mereka secara terpaksa, karena bencana alam maupun bencana sosial (perang, kerusuhan sosial, bencana akibat kesalahan manusia, dan sebagainya). Di hari Pengungsi sedunia ini saya teringat akan nasib saudara saudara kita warga Sidoarjo yang terpaksa mengungsi akibat Lumpur Lapindo, sebuah tragedi keserakahan manusia Indonesia. Silakan lihat Iklan Layanan Masyarakat \”Give Refugees a Hand\”  dengan duta Angelina Jolie.

Categories: Dokumen · Korban Lumpur Lapindo

Agama siapa punya?

June 20, 2008 · 7 Comments

 

Agama (dan keyakinan) adalah wilayah hati dan pikiran individu, berhubungan secara vertikal dengan zat yang Maha Tinggi. Sedangkan yang bersifat horisontal adalah aplikasi dan kesalingberkaitan sesama manusia untuk saling menghargai kepercayaan masing-masing. Di Indonesia keberadaan agama (dan keyakinan) dijamin oleh konstitusi. Untuk menyatakan “sesat” ataupun “taat”, bahkan pindah agama atau tidak, seharusnya di luar wilayah kekuasaan manusia dan negara. Agama adalah urusan masing-masing yang hanya bisa di approve oleh Tuhan. Desainer grafis Enrico Halim menyatakan hal itu dalam bentuk visual, melalui media desain grafis di www.aikon2.com. Desain ini dapat di unduh, diperbanyak, diterbitkan (dalam bentuk sticker, t-shirt, atau apapun), oleh siapapun yang minat.

 

Categories: Ulasan · design 4free

Website Korban Lumpur

June 14, 2008 · 3 Comments

Bila ada yang ingin tahu lebih banyak mengenai tragedi lumpur lapindo, silakan buka websitenya: http://www.korbanlumpur.info

(Berita ini kami kutip dari http://www.korbanlapindo.blogspot.com)

……

Website ini dibuat oleh kawan-kawan satudunia dan Yayasan Airputih .Semangat untuk benar-benar bisa menjadi lawan tanding yang sepadan (meskipun jelas bukan sekelas), bagi media dan corong korporasi bernilai puluhan triliun rupiah. Mereka yang sedang mencoba dengan segala daya, untuk membuat silap dunia akan dosa sejarah yang mereka lakukan yang telah melukai hati dan penghidupan ratusan ribu rakyat Indonesia.

Dengan adanya wahana berupa situs internet ini, harapannya semakin banyak materi yang bisa ditampilkan kepada publik tentang bencana ini, dan bagaimana Lapindo dan Bakrie Group telah menelantarkan korban. Sehingga, sementara mereka dengan bebas melenggang mengembangkan bisnisnya, korban lapindo semakin terpuruk oleh ketidakpastian menghadapi masa depan.

Situs ini juga bisa diimpikan berfungsi sebagai clearing house atau information center bagi semua pihak (mahasiswa, akademisi, peneliti, aktivis, jurnalis, pendeknya public, Indonesia maupun dunia) yang tertarik untuk mengetahui apa yang SEBENARNYA terjadi, bukan apa yang oleh perusahaan dan pemerintah DIBERITAKAN atau DIKAMPANYEKAN terjadi di Sidoarjo.

Akan ada dokumen, foto, kliping, video dan berbagai materi yang selama ini tidak terwadahi oleh media mainstream. Ke depan, isi website juga akan dibuat dalam versi bahasa Inggris, sehingga bisa menjangkau public yang lebih luas.

Pendek kata, penghargaan setinggi-tingginya atas dukungan nyata kawan2 komunitas satudunia dan yayasan airputih. Moga2 semakin banyak bentuk kepedulian yang bisa digalang untuk membantu perjuangan korban lapindo!

Ngomong-ngomong, relawan untuk membantu mengelola admin situs juga sangat diharapkan, lho, karena keterbatasan sumberdaya (hehehe, masalah klasik, pengetahuan dan bandwith) yang dihadapi oleh korban lapindo.

 

 

Portal Korban Lumpur Lapindo
Sumber : http://www.airputih.or.id/home.php?dir=news&file=detail&id=127    

 

Portal Korban Lumpur Lapindo merupakan media informasi tentang kondisi luapan lumpur di Porong, Kabupaten Sidoarjo dan dampaknya. Portal ini lahir dengan informasi yang mungkin berbeda dengan mainstream media pada umumnya atau juga berbeda dengan versi yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Harapannya dengan adanya portal ini, masyarakat luas bisa lebih obyektif dalam menilai dengan menerima informasi dari portal ini. Yayasan AirPutih memberikan dukungan hosting sebagai rumah dari data-data portal korban lumpur.info. 

Di Posting di AirPutih pada Rabu, 28 Mei 2008, 18:46 WIB 

Selain portal-portal di atas masih terdapat satu lagi portal berbentuik webblog yang cukup baik , mengenai tragedi lumpur lapindo; yaitu http://gebraklapindo.wordpress.com/ 

Categories: Korban Lumpur Lapindo

Kisah Eef dan Lowie, dan anak2 korban lapindo

June 14, 2008 · Leave a Comment

 

Artikel dan foto di bawah ini ini kami salin dari blog Korban Lapindo

Senin 7 April 2008
Sepasang backpacker dari Belanda, pada akhir November tahun lalu, secara tidak sengaja membagi setitik kegembiraan bagi anak2 Taman kanak-kanak korban Lapindo, dan ngajari sesuatu tentang kepedulian

===

Eef dan Lowie (baca: if dan lui), demikian pasangan muda ini memperkenalkan diri, tengah dalam perjalanan keliling Indonesia ketika mereka mendengar tentang bencana Lapindo. Karena rasa ingin tahu, mereka kemudian mampir melihat-lihat ke lokasi semburan lumpur dalam perjalannya ke Bali. melihat tanggul dan desa-desa yang tenggelam, mereka tanya tentang bagaimana nasib warga yang sebelumnya tinggal disana. Oleh pemandunya, mereka diarahkan ke Pasar baru Porong (selanjutnya sy sebut paspor), karena disanalah sebagian besar warga yang mengungsi masih tinggal.

Hal pertama yang menjadi pertanyaan mereka ketika berada di pasar adalah, bagaimana nasib anak2?Bagaimana sekolah mereka? Apakah mereka bisa bermain dengan normal? Dan berbagai pertanyaan seputar anak2, yang justru tidak pernah saya dengar dari pejabat ketika mereka datang ke Paspor.

 

Dari si guru yang menemui, mbak Lilik Kaminah, meluncurlah cerita tentang sekolah TK Paspor yang serba darurat dan ala kadarnya. Kurang lebih begini tutur mbak Kami, demikian dia biasa dipanggil :

Selepas lumpur menenggelamkan desa mereka (Desa Renokenongo), sebagian warga disana mengungsi ke paspor. Salah satu perhatian para orang tua yang mempunyai anak usia sekolah adalah, bagaimana nasib sekolah anak2 mereka, khususnya usia TK dan SD, yang sekolahan mereka ikut tenggelam oleh lumpur.

Ternyata di pengungsian Paspor, sarana pendidikan, seperti halnya dengan banyak kebutuhan lainnya, tidak disediakan oleh pemerintah maupun Lapindo. Setelah beberapa lama meminta dan menunggu tanpa ada kejelasan kapan akan disediakan fasilitas sekolah, akhirnya para orang tua mencari sendiri2 sekolah lain di desa terdekat.

Bagi anak usia SD maupun SMP, untuk pindah ke sekolah lain ini mungkin tidak masalah, karena mereka bisa berangkat sendiri. Disamping itu, proses adaptasi dengan teman2 sebaya dan guru2 yang baru dikenal juga relatif mudah. Namun bagi anak usia TK yang masih terlalu kecil terdapat beberapa kesulitan bagi mereka untuk pindah ke TK lain.

Orang tua tidak mungkin mereka melepas anak2 itu berangkat sendirian, sementara mengantar dan nungguin di sekolah juga sulit. Dalam banyak kasus juga sebagian dari mereka kesulitan untuk adaptasi dengan teman2 dan guru2 baru. Pada beberapa kasus ditemui bahwa teman2 baru mereka mengolok2 anak2 tersebut dengan, ”…hei anak lumpur,” atau ”hei anak Lapindo” atau ”hei anak pengungsi”, sehingga membuat anak2 korban itu jadi tertekan

Karena itu, setelah beberapa waktu, para warga pengungsi di Paspor memutuskan untuk membuka sendiri sekolah TK. Bagaimana dengan guru dan fasilitas sekolah? Guru diambil dari warga yang punya anak usia TK, yang tahu kira-kira cara mengelola sekolah TK dari mengamati selama mereka mengantar anak2 sekolah, dulunya sewaktu sebelum ada semburan lumpur.

Sedangkan peralatan dan buku2 diambil dari sumbangan, dan sebagian perabotan dibikin sendiri oleh warga. Maka demikianlah, sekolah TK paspor yang serba sukarela dan seadanya ini mulai berjalan dan mendidik sekitar 60 orang anak2.

= = =

Mendengar cerita ini, Eef dan Lewis menyatakan ingin melihat sekolah TK itu keesokan harinya (karena hari itu sudah sore, sehingga sekolah tutup). Kenapa mereka begitu tertarik dengan anak2 TK ini, pikir saya. Usut punya usut, ternyata mereka, khususnya si cewek, Eef adalah mahasiswi yang tengah belajar menjadi guru olahraga bagi anak2, dan tertarik dengan masalah-masalah pendidikan anak usia dini.

Dan di beberapa negara yg pernah mereka kunjungi, kerap mereka melakukan kegiatan dengan anak-anak usia prasekolah sampai sekolah dasar. ”Lalu bagaimana dengan faktor bahasa”, tanya saya, ”kalian kan gak bisa bahasa Indonesia, sedangkan anak2 itu gak mungkin ngomong Inggris.” ”Jangan khawatir, lihat saja sendiri,” tukas mereka.

Maka kemudian, ketika mereka kembali keesokan harinya, saya benar-benar terperangah. Ternyata mereka benar-benar bisa berinteraksi secara langsung dengan anak2 TK itu. Saya tentu saja tidak tahu apa yang ada dibenak anak2 TK itu terhadap dua bule tersebut. Apakah mereka menanggap dua orang itu londo edan, atau mereka merasa bahwa dua orang asing ini memang tulus bermain dengan mereka.

Yang jelas, mereka saling bermain, bernyanyi (yup, menyanyi…!) dan melakukan berbagai permainan yang mengedepankan unsur senang-senang dan olah raga. Ternyata untuk anak2 TK itu, betapa bahasa bukan menjadi halangan bagi mereka untuk bisa bersenang-senang dan bermain. Selama dua jam penuh sampai waktu sekolah habis, mereka masih asik bermain2.

= = =

Maka yang awalnya dua orang backpacker tadi cuman mampir dalam perjalanannya ke pulau Bali, menjadi tinggal selama beberapa hari dan berinteraksi dengan anak2 TK paspor. Yang awalnya dua orang turisbokek dan gak bawa duit, akhirnya membelikan seperangkat buku ajar dan alat2 peraga lainnya yang membantu berjalannya kelas dengan lebih baik.

Dan sayapun termangu ketika menyadari bahwa kenapa yang punya kepedulian semacam ini adalah 2 orang pengelana, dari ujung bumi, dan terjadi setelah anak2 TK itu ada disitu hampir setahun. Tidak adakah relawan-relawan di negeri ini yang bisa membantu sekolah TK kami yang serba darurat itu dan membantu dan mengajak anak2 kami bermain2, sehingga mereka bisa merasakan rasa kenormalan, barang sehari atau dua hari.

Atau, tidak seperti kepada si Eef dan Lowie, sedemikian sulitnyakah ternyata menggerakkan kepedulian anak bangsa sendiri terhadap kondisi-kondisi seperti yang dihadapi anak2 di Paspor.
Atau pembentukan opini dan kampanye yang dilakukan pemerintah dan pemodal bahwa Lapindo sudah bertanggungjawab, (termasuk menyediakan pendidikan bagi anak2 kami) sudah sedemikian merasuk, sehingga orang kemudian enggan membantu.

Atau jangan-jangan sesederhana bahwa karena publik memang tidak tahu ada situasi-situasi seperti ini di lapangan yang dialami korban lapindo, karena tersisihnya masalah ini dari hiruk pikuk isu lain yang lebih serius (ganti rugi, tanggul jebol, jalanan macet, dsb) dalam bencana multi dimensi ini. Atau, jangan…jangan…

Tau ah, bingung…

Tiba-tiba, mbak Kami, si guru dadakan tadi mendatangi dan sambatan ke saya. ”Mas, besok -besok ajak orang bule lagi ya, siapa tahu bisa bantu biaya foto dan buku raport anak2, sebab kalo ndak ada itu, nanti anak2 gak bisa nerusin ke SD.” Nah lho….!

IIFFFFF… LUUIIIII… Ternyata mereka sudah kembali ke negerinya.

Dan TK kami masih di Pasar Porong, masih seperti setahun yang dulu, tetap sedikit yg peduli…

Categories: Korban Lumpur Lapindo

Lima Kesalahan Politik yang Fatal

June 12, 2008 · 2 Comments

Nono Anwar Makarim

Rabu, 11 Juni 2008 | 01:06 WIB


Setidaknya ada lima kesalahan fatal dalam politik kebangsaan di Indonesia sejak awal terbentuknya Republik Indonesia hingga perkembangannya dewasa ini.

…..

Kesalahan kelima: Mengambil sikap untuk ”tidak bersikap” adalah bijaksana. Dari semua kesalahan politik yang fundamental, mungkin inilah kesalahan terbesar.

Malapetaka terjadi jika mayoritas berdiam menyaksikan hal-hal yang tidak benar.

 

Tahun-tahun menjelang Oktober 1965 sekelompok surat kabar angkat bicara tentang penyelewengan terhadap doktrin Sukarno dan Pancasila. Mereka menggabungkan diri dalam organisasi yang diberi nama Badan Pendukung Sukarnoisme (BPS). Atas desakan PKI, Sukarno membubarkan BPS. Mayoritas diam. Manifesto Kebudayaan lahir dan berupaya membebaskan ungkapan seni-budaya dari politik sebagai panglima. Atas desakan PKI, Manifes dilarang. Mayoritas diam. Masyumi dibubarkan, PSI dibubarkan, Partai Murba dibubarkan; mayoritas berdiam.

Lalu peruncingan keadaan melangkah lebih jauh: PKI menuntut dibentuknya angkatan ke-5 agar buruh dan tani dipersenjatai. Lalu RRC menawarkan sejumlah besar senjata ringan untuk tujuan itu. Keberangkatan rahasia DN Aidit ke China, disusul keberangkatan Sukarno ke China dan pembicaraan rahasia dengan Chou En Lai. Desas-desus Dewan Jenderal dan penemuan bukti oleh Chaerul Saleh bahwa PKI akan merebut kekuasaan. Sukarno jatuh sakit dan ketidakpastian serta rumor politik mencekam warga negara dalam ketakutan. Semua itu pengantar ke malam hari tanggal 30 September 1965……..

Tahun 2006, tulisan Sabam Siagian di Suara Pembaruan mengutip pendapat seorang sarjana yang menyatakan bahwa di negara-negara sedang berkembang ada yang berkultur membantu kemajuan dan ada juga yang berkultur menghambat kemajuan. Sabam membandingkan Vietnam dan Indonesia. Pada dekade 1960-an para sarjana sosial, politik, dan ekonomi meratapi perkembangan di Indonesia. Istilah yang digunakan adalah stranded society (masyarakat yang terdampar), lost opportunities (kesempatan yang dibiarkan berlalu), dan descent into vagueness (kemerosotan dalam kekaburan).

Detik-detik itu kembali hadir di tengah kita. Sekarang. Di depan mata. Masyarakat madani Indonesia harap bersiap-siap untuk merosot lagi, dan lagi, tiada henti…

Nono Anwar Makarim Mantan Pemimpin Redaksi Harian KAMI

Silakan lihat artikel lengkap melalui link:

Lima Kesalahan Politik yang Fatal

Categories: Kutipan

Advertorial Lapindo Menyesatkan?

June 11, 2008 · 5 Comments

 Lumpur Lapindo terjadi akibat pengeboran sumur Banjar-Panji-1, bukan bencana alam/ gempa bumi. Demikian hasil penelitian terkini dari Profesor Richard Davies dari Universitas Durham, bersama sejumlah ahli dari Indonesia, Australia dan Amerika Serikat, yang dimuat di jurnal ilmiah Earth Planetary Science and Letters (Baca: Koran Tempo, Rabu 11 Juni 2006).

Professor Richard Davies yang mengambil gelar PhD dari Edinburgh University tahun 1995, bukanlah akademisi dan ahli yang tidak berpengalaman  Selain menjabat profesor di Universitas Durham Inggris, Davies adalah ahli yang sering bekerja untuk berbagai perusahaan eksplorasi minyak besar dunia.  Selain itu disebutkan dalam situs Universitas Durham - http://www.dur.ac.uk/earth.sciences/staff :   “Richard Davies has spear headed the use of 3D seismic reflection data and visualisation in geoscience research, through publishing papers in highly regarded journals on a range of subjects as diverse as soft sediment deformation, igneous intrusions, silica diagenesis, continent-ocean fracture zones, petroleum geology and mud volcanism”.  Adapun jurnal yang memuat penelitian ilmiah oleh para ahli ini, menurut website penerbit Elsevier adalah sebuah jurnal terkemuka yang telah berusia lebih dari empat dasawarsa: “……Earth and Planetary Science Letters has built up an enviable reputation. Its successful formula of presenting high-quality research articles with minimal delay has made it one of the most important sources of information in its field. The articles published reflect the great impact made on research in the geosciences by the use of successful research methods…..” (http://www.elsevier.com). 

Ini adalah kabar baik bagi para korban lumpur Lapindo yang selama ini telah dirugikan dan terpaksa menjual tanah dan rumah mereka. Selama ini Lapindo Brantas Inc, diperkuat pengadilan pengadilan negeri bersikeras menyatakan Luapan lumpur itu akibat gempa Bumi.  Selama ini ahli geologi Dr.Ir. Rudi Rubiandini telah menyatakan dengan jelas bahwa Lumpur Lapindo akibat human error. Temuan terkini yang telah dimuat dalam jurnal ilmiah bergengsi itu dapat digunakan sebagai alat bukti baru bagi para korban untuk naik banding di pengadilan.  Pada berita di Koran Tempo di atas juga dimuat pendapat Kepala Divisi Hubungan Masyarakat PT Lapindo Yuniwati Teryana yang menyatakan bahwa Lapindo telah melakukan kajian dengan para ahli, yang menyimpulkan bahwa pengeboran yang dilakukan telah sesuai dengan standar nasional maupun internasional. Sayangnya Reporter Koran Tempo tidak merinci berita itu lebih lanjut dengan mempertanyakan siapakah yang memilih, menugaskan, dan membayar “para ahli” tersebut. Berdasarkan temuan ilmiah Prof. Davies di atas, sebaiknya pemerintah membuat kajian dan audit ulang seluruh prosedur pengeboran Lapindo di Sidoarjo, yang dilakukan oleh tim independen yang tidak memiliki relasi kerja apapun dengan Lapindo Brantas Inc. Temuan ini juga menjadi sebuah ‘pukulan telak’ bagi citra yang dibangun oleh rangkaian iklan-iklan perusahaan yang pernah dimuat di media massa, yang di buat oleh Lapindo Brantas Inc, atau Minarak Lapindo Jaya. 

 

Lapindo Brantas Inc, melalui PT Minarak Lapindo, telah berulangkali memasang iklan di media massa mengenai apa-apa yang telah mereka lakukan, untuk meningkatkan citra perusahaan, dalam menghadapi isu lumpur ini. Iklan jenis ini biasa disebu sebagai corporate advertisment. Iklan terakhir, adalah iklan advertorial (di majalah Tempo disebut Inforial) berjudul “Dua Tahun Komitmen Sosial Lapindo di Sidoarjo” (Tempo 2-8 Juni 2008, hal.116-117) sepanjang dua halaman berwarna.

Objective dari iklan ini jelas: meningkatkan citra positif Lapindo Brantas Inc. Caranya, dengan menekankan bahwa Perusahaan ini telah berbaik hati menjalankan komitmen sosial selama dua tahun. Dalam rangka mencapai tujuan itu, tentunya mulai dari headline, body copy, hingga ilustrasi harus mendukung objective di atas. Beberapa hal yang menarik untuk dikritisi oleh pembaca setidaknya ada tiga hal:

1. Penggunaan kata “bantuan”: Pada alinea ketiga terdapat kalimat “Pemberian bantuan sosial bagi warga…menurut Perpres No.14 2007 dibebankan kepada Lapindo…” Pertanyaannya: apakah istilah “bantuan” berasal dari Perpres? kalau ya, seharusnya pembuat Perpres lebih berhati-hati untuk memilih kata bantuan. Kata “bantuan” seharusnya hanya digunakan untuk sesuatu yang sukarela atau tidak wajib. Apabila Perpres menggunakan istilah itu, seharusnya sifat aturan itu tidak boleh mengikat. Ataukah istilah itu berasal dari penulis naskah/ copy writer iklan ini?

2. Sub Judul “Kepedulian Moral dan Kemanusiaan”: Di atas alinea ke-6 terdapat subjudul “Kepedulian Sosial dan Kemanusiaan”.  Penggunaan kalimat ini seakan-akan ingin menciptakan image bahwa apa-apa yang dilakukan oleh Lapindo terkait dengan kewajiban yang diatur oleh Perpres No.14 adalah suatu hal yang sukarela semata. “Kewajiban” dan “Kepedulian” adalah dua hal yang sangat berbeda. Menurut kami penggunaan istilah “kepedulian moral dan kemaniusiaan” tidak akan dipilih oleh penulis naskah iklan ini, kalau saja dia mau mengingat betapa banyak penderitaan yang ditanggung oleh begitu banyak penduduk Sidoarjo. Penderitaan yang tidak dapat ditutupi oleh transaksi jual-beli yang terpaksa dilakukan oleh para penduduk.

3. Penggunaan kata FAKTA: penggunaan kata “FAKTA” untuk menyatakan bahwa pemikiran yang diungkapkan sudah sangat benar. Misalnya pada alinea kesembilan: “Fakta pada tanggal 27 Mei 2006 telah terjadi gempa Yogya, fakta semburan lumpur Sidoarjo terjadi sekitar pukul 09.00 pagi, Senin 29 Mei 2006″. Kedua fenomena (gempa dan semburan) disebutkan dengan diawali kata “FAKTA” kemudian disusun berurutan, seakan-akan dua fakta yang benar terjadi ini terkait prinsip sebab-akibat. Untuk memperkuat kedua “Fakta” itu, kalimat berikutnya menjelaskan bahwa lokasi semburan berjarak 200 meter dari lokasi pengeboran: “Lumpur panas menyembur di area persawahan di Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, persisnya di satu titik yang berjarak 200 meter dari lokasi sumur eksplorasi Banjarpanji-1 yang terletak di desa Renokenongo.”

Sesunguhnya kalimat terakhir di atas melecehkan intelektual pembaca. Seakan-akan logika pembaca tidak mungkin dapat memahami bagaimana sebuah penggalian disatu titik, dapat berhubungan dengan titik lain di permukaan tanah yang berjauhan, dihubungkan melalui jalur atau retakan-retakan di bawah tanah. Alinea tersebut kemudian ditutup dengan kalimat “….faktanya sebagian besar ahli justru berkesimpulan bahwa semburan lumpur itu merupakan fenomena alam yang disebut mud volcano”. Kata “FAKTA”, lagi-lagi digunakan untuk menjelaskan bahwa seakan-akan pembuat iklan ini sudah membuat sensus  diantara para ahli geologi (di seluruh Indonesia atau seluruh dunia?) untuk menemukan “FAKTA” bahwa lebih banyak ahli yang mendukung pendapat semburan lumpur Lapindo bukan human error. Mungkin yang dimaksud dengan kata “sebagian besar ahli” didasarkan pada seminar yang diadakan oleh pemasang iklan dengan mengundang dan mengekspose ahli-ahli geologi – yang tentunya telah diseleksi sesuai sesuai kepentingan panitia. Apakah para ahli seperti Professor Davies di atas termasuk dalam kategori “sebagian besar” itu?

 

4. Ilustrasi Pintu Gerbang Resettlement: Ilustrasi yang dipilih oleh iklan ini menggunakan artist impression, yang biasa dibuat untuk menampilkan sebuah desain dari proyek yang belum jadi. Tampilan gambar pun memperlihatkan pemandangan yang tidak kalah indah dengan sebuah pasar malam, dengan kembang api yang indah. Masalah lain, pada caption dari ilustrasi itu hanya tertulis: “Pintu gerbang resettlement warga korban lumpur”. Secara etika seharusnya ditulis “Artist impression dari pintu gerbang….” sehingga pembaca dapat menyadari bahwa obyek yang sesungguhnya belum jadi, atau dapat berbeda dari gambar tersebut.

 

Kesimpulan

Bila dikritisi dengan seksama nampak bahwa iklan perusahaan yang berbentuk advertorial (istilah yang berasal dari advertising dan editorial) “Dua Tahun Komitmen Sosial Lapindo di Sidoarjo” mengandung kelemahan-kelemahan yang cenderung menyesatkan persepsi pembaca mengenai apa-apa yang terjadi di Sidoarjo. Tentunya hal ini adalah wajar dalam bisnis periklanan, bahwa tidak ada iklan yang secara obyektif berusaha menampilkan plus-minus/ strength- weakness dari produk atau lembaga yang diiklankan secara imbang. Hal ini secara manusiawi tentulah wajar, mengingat takkan ada orang yang mau mengeluarkan uang untuk membeli space di media untuk menunjukkan kelemahan atau kekurangannya. Apapun istilah strateginya, Unique Selling Proposition/ USP ataupun Positioning, sebuah iklan pastilah berusaha menampilkan sesuatunya menguntungkan bagi sang klien pemasang iklan. Namun bila ada iklan yang berupaya menyesatkan persepsi publik harusnya tidak layak untuk kita anggap wajar.  Apakah iklan-iklan yang -setidaknya “dicurigai berpotensi” – menyesatkan persepsi publik seperti di atas, dapat dikategorikan melanggar Etika Periklanan yang disusun oleh Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I)? Mungkin hanya P3I lah yang layak untuk menilai lebih lanjut

Arief Adityawan S.

Baca juga artikel lain yang membahas tentang iklan Lapindo ini:

Lapindo berdusta lagi 

Dalam artikel “Lapindo berdusta lagi” yang dimuat di situs www.satudunia.net ini tertulis:

BPK menemukan dokumen Berita Acara Penanggulangan Kejadian Semburan Lumpur di keitar lokasi sumur Banjar Panji -1 (BJP-1) tanggal 8 Juni 2006 yang telah ditandatangani oleh Lapindo dan BP Migas. Dokumen itu menyebutkan bahwa BP. Migas maupun Lapindo telah sepakat bahwa semburan tersebut akibat underground blow out.

Selain itu BPK juga menemukan fakta berupa surat dari Dinas Survei dan Pemboran BP Migas yang dilampiri penjelasan tertulis dari Edi Sutrisno, Senior Drilling Manager PT. Energy Mega Persada, Tbk. Fakta itu menjelaskan bahwa proses pencabutan pipa dan mata bor dari kedalaman 7.415 kaki pada tanggal 28 Mei 2006 pagi telah menyebabkan well kick (Tekanan zat alir dari formasi terhadap sumur) yang terlambat diantisipasi. Kick, erupsi atau dorongan aliran lumpur pemboran akibat masuknya tekanan zat alir dari formasi ke lubang sumur, baru diidentifikasi pada kedalaman 4.241 kaki.

Baca juga berita tentang penelitian Richard Davies di:

reuters.com

sciencedially.com

Categories: Korban Lumpur Lapindo · Ulasan

9808 Versus Lupa

June 8, 2008 · 2 Comments

Namanya Sugiharti Halim. Dia dilahirkan di Indonesia dari kedua orang tua yang berasal dari suku Tionghoa. Setelah mengkudeta Soekarno, salah satu peraturan pemerintah yang diterbitkan pertama kali oleh Soeharto adalah mewajibkan penduduk Indonesia dari suku Tionghoa untuk mengganti nama mereka dengan nama yang berbunyi, berkesan Indonesia. Sebagai contoh misalnya, orang Tionghoa dari marga Liem harus mengganti namanya menjadi Halim. Sugiharti Halim bercerita bagaimana dia selalu ditanya oleh para petugas kelurahan ataupun imigrasi, “siapa nama asli kamu”. Mereka tak percaya ketika dikatakan bahwa nama aslinya Sugiharti Halim. Kemudian dia ditanya tentang Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia (SBKRI). Dia tidak memiliki SBKRI karena ayahnya telah memilikinya,  sayangnya SBKRI tak pernah ditemukan setelah ayah Sugiharti wafat. Tentu saja pada akhirnya uang juga lah yang dituju oleh sang petugas. Sungguh ironis bahwa hanya suku Tionghoa sajalah yang diminta untuk berganti nama, sedangkan suku bangsa lain seperti Arab dan India tak pernah diminta mengganti nama mereka menjadi nama yang berbunyi nama Indonesia.

 

Film berjudul Sugiharti Halim – disutradarai oleh Ariani Darmawan – menggambarkan seorang perempuan yang berbicara langsung menghadap kamera, seakan-akan dia berbicara pada penonton. Fokus pembicaraan hanya satu: Bagaimana dirinya mendapat nama “Sugiharti Halim”, serta apa dampak dari pemberian nama itu. Baru kemudian penonton tahu bahwa Sugiharti ternyata sedang berbincang dengan pacarnya di sebuah restoran. Hampir seluruh film ‘Sugiharti Halim” berisi tentang perbincangan yang hampir bersifat satu arah. Hanya pada beberapa shot terakhir saja sang pacar – yang telah berganti beberapa kali – diberi kesempatan berbicara. Film ini sangat kuat dalam dialognya. Kalimat-kalimat yang digunakan oleh Sugiharti (diperankan oleh Nadia Maria) sangat menarik dan persuasif. Nadia sebagai pemeran Sugiharti pun membawakannya dengan gaya yang sangat alamiah. Teknik editing dari Astu Prasidya pun sedemikian rupa mulusnya sehingga mampu mengusir kebosanan penonton.

 

Selain film pendek berjudul Sugiharti Halim, juga terdapat sembilan buah film-film pendek lainnya yang bercerita seputar kejadian reformasi dan tragedi Mei 1998. Menurut penuturan Prima Rusdi – salah seorang penggagas dan produser, film 9808 ini adalah proyek mendadak dan spontan, sehingga tidak memiliki dana khusus dan besar. Kesepuluh sutradara membiayai filmnya sendiri demi sebuah keinginan untuk menceritakan kembali apa yang mereka alami dan seputar tragedi 13-14 Mei 1998 (Untuk memahami lebih jauh tentang latar belakang film ini silakan baca pada link http://www.9808films.wordpress.com).

 

Film ini dibuka oleh sebuah film berjudul “Sedang apa saya saat itu”, yang disutradarai (sekaligus produser dan penulis) Anggun Priambodo. Film pendek ini juga menarik karena dituturkan oleh “orang biasa”, mereka yang selama ini namanya tidak pernah muncul di media massa sebagai selebritis politik ataupun selebritis entertainment. Mereka bercerita dari sudut pandang masing-masing pada Mei 1998 itu, mulai dari pelajar SMP, Mahasiswa di dalam negeri, mahasiswa di luar negeri, pekerja biro iklan multinasional, dan lain sebagainya. Karena menggunakan sudut pandang “orang biasa” itulah maka film ini dengan mudah mengajak penonton untuk menanyakan hal yang sama pada dirinya: “Sedang apa saya saat itu?”.

 

Film “Yang belum Usai” adalah sebuah film dokumenter karya sutradara Ucu Agustin. Film ini bercerita tentang perjuangan seorang ibu dari mahasiswa Atmajaya yang tewas dalam peristiwa Semanggi II pada tahun 1998. Ibu Sumarsih adalah nama dari ibunda Wawan mahasiswa yang ikut berdemonstrasi dan ditembak oleh Polisi di bawah jembatan Semanggi. Film ini mampu menyentuh empati karena berhasil menangkap ketulusan seorang ibu dalam memperjuangkan keadilan bagi buah hati kesayangannya.

Hingga kini Ibu Sumarsih terus berjuang menuntut keadilan hingga kasus penembakan oleh aparat negara ini dapat terkuak. Sang ibu beserta suami dan bersama Jaringan Solidaritas Keluarga Korban telah 65 kali melakukan aksi damai tiap Kamis sore, berdiri diam di muka Istana Merdeka sebagai ungkapan protes (baca tentang aksi damai kamisan di rubrik/kategori “Aksi Damai Kamisan” – pada Jurnal Grafisosial ini). 

 

Terakhir film 9808 ditutup oleh sebuah film karya sutradara Steven Pillar berjudul “Sekolah Kami, Hidup Kami”. Film ini bercerita tentang bagaimana siswa-siswa OSIS sebuah SMU di Surakarta – sekian tahun sesudah reformasi – berjuang memberantas korupsi yang dilakukan oleh Kepala Sekolah dan beberapa guru mereka. Dengan kepolosannya, siswa-siswa SMU ini menceritakan bagaimana perjuangan mereka hingga berhasil mengadakan unjuuk rasa dalam bentuk “sidang terbuka” terhadap para guru mereka. Secara simbolik film penutup ini berupaya memberikan semangat optimis bahwa reformasi 1998 memberikan hasil yang positif dikalangan generasi muda indonesia. Mereka berani dan mampu melawan aksi KKN yang dilakukan oleh pihak berwenang dalam lingkup yang terdekat dan nyata disekitar mereka.

 

Secara keseluruhan Film 9808 sangat menarik untuk ditonton oleh siapapun yang tidak ingin tertelan lupa. Tanpa mengurangi rasa kagum dan apresiasi penulis pada film-film lainnya, mengingat keterbatasan ruang penulis hanya dapat menceritakan empat film pendek saja dari sepuluh film pendek dalam 9808. Namun jelas bahwa film 9808 menjadi tonggak pengingat siapapun, bahkan mereka yang masih kecil ataupun belum lahir pada tahun 1998, bahwa ada peristiwa penting yang tak boleh dilupakan, yang mengubah nasib banyak orang di Indonesia – nasib bangsa ini. Selain karena ini adalah satu-satunya film yang muncul untuk memperingati tragedi kemanusiaan 13-15 Mei 1998, juga karena semangat dan mutu film ini sulit untuk diabaikan dan dilupakan, walau bulan Mei telah berlalu satu minggu.

 

Arief Adityawan S.

 


  Keppres No. 127/U/Kep/12/1966

Categories: Resensi Film · Tragedi Mei 98

Jual Kecap di Hari Kebangkitan Nasional

June 8, 2008 · 2 Comments

   

Para politikus sibuk berupaya menampilkan citra dirinya sebagai seorang pemimpin yang berwibawa. Berbagai kesempatan digunakan untuk tampil. Hari kebangkitan Nasional 20 Mei yang lalu misalnya, menjadi sarana Soetrisno Bachir untuk menampilkan dirinya. Dia memanfaatkan penggalan kata-kata dari puisi Chairil Anwar yang berbunyi “Sekali berarti sudah itu mati”. Iklan ini kemudian disambung dengan iklan lain dengan judul “Hidup adalah perbuatan”. Berbagai media komunikasi dimanfaatkan, mulai dari iklan cetak (di surat kabar dengan ukuran satu halaman penuh berwarna) hingga kemudian juga billboard di beberapa titik di ibu kota Jakarta. Namun ironisnya beberapa hari kemudian pihak Pemda DKI mencopot billboard PAN itu karena belum mengurus ijin dan membayar pajak pemasangan.

 

Pertanyaannya, apakah pertimbangan PAN menampilkan citra wajah sang pemimpin sedemikian masif? Apakah dengan penampilan demikian akan meningkatkan citra partai atau justeru menjadi bahan cemooh: “perbuatan” signifikan apa yang telah dilakukan oleh PAN? Andaikan saja wakil rakyat dari PAN terkenal sebagai wakil rakyat yang selalu menolak ‘uang amplop’ pada tiap-tiap pembahasan RUU di DPR, andaikan saja para politikus PAN terkenal paling keras memperjuangkan nasib korban lumpur Lapindo baik secara politis maupun fisik di tempat-tempat pengungsian mereka. Bila telah banyak sikap dan komitmen pada nasib rakyat ditunjukkan oleh PAN, maka bolehlah PAN memasang iklan yang heroik itu.

 

 

Pertanyaan lainnya, adalah siapa yang ingin diiklankan: seorang Soetrisno Bachir kah, atau partai yang dipimpinnya? Mengingat kini demikian banyak figur-figur politikus, baik yang sedang, pernah, maupun belum menjabat di pemerintahan, mulai tebar-pesona melalui desain grafis di media massa. Bisa jadi itu adalah investasi citra untuk Pemilu 2009, atau bahkan Pemilu 2014.

 

Selain PAN, tidak ketinggalan PDI-P menampilkan Megawati Soekarnoputri juga memanfaatkan momentum Kebangkitan Nasional untuk “berjualan kecap”. Sebuah baliho besar dimuka gedung DPR Senayan terpasang menampilkan wajah Megawati. Pada latar-belakang tampak citra Soekarno sang Proklamator. Strategi yang memanfaatkan citra besar ayah dari Megawati untuk disandingkan dengan citra mantan presiden Megawati, tampaknya masih dianggap ampuh oleh PDI-P. Tentunya strategi propaganda demikian akan mudah berhasil apabila kapasitas dan kehebatan keduanya sangat mirip. Namun bila kesenjangan diantara keduanya sangat lebar, maka strategi demikian dapat menjadi bumerang. Tidak berapa lama muncullah iklan dari partai pecahan PDI-P, yaitu PartaiDemokrasi Pembaruan (PDP). Iklan satu halaman koran itu berbunyi: “Anak muda, saatnya melawan kepemimpinan berbudaya feodal”. Mungkinkah iklan tersebut merupakan upaya-upaya untuk mengkritik kepemimpinan Mega di PDI-P? Entahlah.

 

Arief Adityawan S.

Categories: Ulasan

Beberapa kutipan tentang tindak anarki 1 Juni

June 6, 2008 · Leave a Comment

Hentikan Vigilantisme FPI

Penyerangan massal terhadap Aksi damai Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) oleh Laskar Pembela Islam, sayap organisasi Front Pembela Islam (FPI) di Monas, Jakarta pada tanggal 1 Juni lalu jelas merupakanm anarkisme. Selain menganiaya fisik para korban, penyerangan ini  mencederai akal sehat, melukai nurani, dan mencabikmoralitas yang dijunjung tinggi oleh setiap agama dan sistem keyakinan.

Kutipan tulisan oleh Achmad Munjid dalam rubrik Pendapat, di  Koran Tempo, Jumat 6 Juni 2008

Kewajiban Negara Lindungi Kebinekaan Warganya

Tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap sebuah keompok oleh yang lainnya akan berdampak pada melemahnya kohesifitas sosial-politik masyarakat yang ada di negara tersebut. Kesatuan sosial akan terancam dan rentan meletupkan konflik antarberbagai elemen yang berbeda. Pada tingkat kognitif kejadian tersebut secara tidak langsung akan memperlemah kesadaran sekaligus keyakinan warga negara atas prinsip dan filosofi bangsa dan negara tempat mereka lahir, tumbuh dan menghembuskan napas terakhir.

(Adapun implikasi) yang kedua adalah hilangnya kepercayaan warganegara terhadap kemampuan otoritas dalam melidnungi hak-hak warganegara terhadap keampuan otoritas dalam melindungi hak-hak kewargaannya. Ketika sebuah kelompok berani melakukan kekerasan di sebuah daerah yang secara simbolik dekat dengan otoritas formal tertinggi kenegaraan, maka itu akan menjadi poin signifikan dalam menurunkan kepercayaan warga negara yang menjadi obyek kekerasan, dan kaum minoritas secara umum terhadap otoritas negara. Mereka tidak lagi percaya pada kemauan sekaligus kemampuan otoritas kenegaraan dalam memproteksi warganya dari segala bentuk ancaman. Baik ancaman yang datang dari luar negeri, terlebih lagi ancaman yang muncul dari sesama warga (dalam negeri)

 

Dikutip dari artikel

Muhammad Ja’far

“Kewajiban Negara Lindungi Kebinekaan Warganya”

Media Indonesia Jumat 5 Juni 2008

 

Categories: Kutipan